Rabu, 21 Desember 2022

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya


Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membuatku malas, membuatku jengah, cuek dan tak peduli waktu yang telah kubuang percuma. Dalam hati aku kesal dengan keadaan ini, dengan diriku sendiri, dengan apa yang telah aku lakukan, yang aku alami minggu-miggu ini. Jujur, tak seharusnya aku begini. mengapa ini terjadi pada aku??

Bagai cerita dalam sinetron, bagai remaja yang kasmaran atau orang-orang yang lagi mabuk asmara, apakah yang kualami saat ini mengarah ke sana? Tanda-tanda aku suka dia ? 

Senin, 27 Juni 2022

Beri Aku Waktu (12)

"Pindah sekolah saja. Di SD Mekar Bangsa sini juga cukup bagus. Dulu Mbak Iin juga sekolah di situ", kata Pak Narji kakek Nicho.

"Kalau pindah sekolah berarti mendaftar lagi di kelas satu, Pak."

"Tidak apa-apa. Umur Nicho masih muda. Dulu waktu masuk sekolah juga belum genap tujuh tahun. Mumpung masih kecil biarlah Nicho matang dalam pendidikan dasarnya, daripada di tengah jalan di kelas empat atau lima dia kesulitan dalam belajar dan tertinggal kelas dengan teman-temannya, kan kasihan."

"Tapi pindah sekolah dan daftar lagi perlu biaya, Pak. Bayar uang gedung, bayar seragam dan lain-lain. "

"Sekolah di SD Mekar Bangsa juga lebih dekat daripada di SD Mulia Kasih sana. Kamu tidak terlalu repot untuk antar jemput dan aku atau ibumu bisa jemput Nicho. Di SD Mulia Kasih memang bagus, tapi pikirkan jauhnya, belum lagi kalau hujan, kalau ada kegiatan ekstra sore, kamu repot. Kalau di SD Mekar Bangsa ini Nicho cukup kamu antar dan bisa pulang sendiri. Coba pikirkan  lagi."

"Iya ya...Betul juga Pak. Hemat waktu dan tenaga. Baiklah nanti aku omong-omong sama maminya Nicho."

"Kamu sebagai seorang ayah, kepala keluarga harus bisa mengambil keputusan Bud. Boleh dibicarakan dengan istri. Itu memang harus. Segala permasalahan antara suami istri salaing terbuka, saling menghargai. Tapi keputusan tetap berada di tanganmu. Kamu pemimpin keluarga.  Jangan sampai istrimu mendominasi rumah tanggamu. Seorang lelaki sejati harus berani tampil ke depan, memimpin keluarga, menunjukkan tanggung jawab yang nyata, berani mengambil keputusan dan tidak tunduk di bawah ketiak istrinya."

Sore itu merupakan sore yang kesekian kalinya duduk bersama dua laki-laki berbeda generasi dalam permbicaraan yang hangat. Ditemani kopi dan sepiring lemper abon,  kudapan legit buatan Uti Mimi. Antara seorang bapak dan anak yang membicarakan masalah cucu kesayangan dari anak lelakinya yang bungsu. Nicho yang menjadi topik pembicaraan sore itu tidak naik kelas, setelah papinya Budi mengambil rapor di akhir pembelajaran. Ternyata Nicho selama ini di sekolah belum bisa mengikuti pembelajaran di kelas satu dan harus tinggal kelas untuk mengulang pembelajaran lagi. Dan Pak Narji, kakek Nicho memberi saran dan nasihat pada anaknya Budi dalam menyelesaikan masalah Nicho. 

Minggu, 26 Juni 2022

Beri Aku Waktu (11)

Penerimaan rapor dan mengetahui bila anaknya naik kelas adalah saat yang menggembirakan bagi orang tua. Keberhasilan dalam belajar di sekolah menjadi momen yang penting dalam kehidupan seorang anak. selain diukur secara kognitif, keterampilan dan psikomotoriknya, rapot seorang anak yang memiliki ranking terbaik di kelasnya masih menjadi prestice tersendiri bagi orang tua. Orang tua akan bangga bila anaknya mendapat peringkat tiga besar di kelas bahkan kalau bisa menduduki peringkat teratas.

"Pi, nanti jangan lupa ambil rapornya Nicho. Undangannya jam sepuluh. Aku nggak bisa keluar. Hari ini ada tamu dari rekanan kantor", kata Ervi pagi itu sambil merias wajahnya. Di depan cermin kecil pada bedak yang dia pakai, Ervi membentuk alis mata dengan pensil alisnya lalu menyikat dengan sikat alis. Wajahnya yang manis dan selalu tersenyum memang memiliki daya tarik tersendiri. Raut muka yang lebar, hidung yang tidak mancung dan tidak juga pesek, mata yang agak sipit membuat wajahnya tak bosan untuk memandang. Rambutnya sebahu, hitam dan ikal  menambah wajah perempuan itu anggun meski penampilannya sederhana.

"Meluangkan sebentar apa nggak bisa, Mi. Kamu bisa konsultasi perkembangan sekolahnya Nicho."

"Papi kan bisa keluar sebentar. Aku nggak bisa Pi."

Selesai merias wajah dan menyapukan sedikit blush on pada pipinya, tampilan Ervi ibu muda itu tampak segar. Sebagai seorang sales cutomer service pada perusahaan leasing otomotif terkemuka dia harus tampil menarik dan prima. Maka tak heran perusahaan menempatkan ibu muda yang masih langsing itu di posisi yang berhubungan dengan banyak orang. Sikapnya yang ramah tentu menarik pelanggan dan tamu untuk mendapatkan informasi dari perusahaannya.

"Biasanya ibu-ibu itu senang lho ambil rapor anaknya sambil ngerumpi  sesama kaum hawa. "

"Benar-benar nggak bisa, Pi. Aku berangkat dulu," kata Ervi mencium tangan suaminya. "Makasih...Papi mau mengambil rapor Nicho. Kelas satu B ya. Nanti aku WA."

"Hati-hati, Vi. Enggak usah ngebut. Jalanan padat enggak usah nerobos. Lewat jalan Soekarno-Hatta aja agak longgar, Jauh dikit gak papa", nasihat Budi Ervi. Dia tahu istrinya suka ngebut bila sudah mempet jam kantor. Budi selalu mengingatkan untuk berhati-hati di jalan. Jam kantor memang terkadang bikin jatungan. hitukpikik di jalan semua pengguna jalan saling berebut untuk bisa di empat tujuan dengan segera, sering melalaikan rambu lalu lintas, menerobos lampu kuning bahkan ada yang naik ke trotoar saat macet. 

Budi, seorang ayah sekaligus 'ibu' bagi Nicho anaknya. Sepanjang hari lebih banyak bersamanya dan kakek neneknya, daripada dengan maminya. Tak jarang Nicho kecil sudah tertelap saat maminya baru pulang dari kantor. Tapi Budi tak bisa melarang Ervi untuk tidak pulang malam ataupun berhenti bekerja. Penghasilannya jauh di bawah Ervi dan memang Ervi sangat membantu keuangan rumah tangganya. Maka Budi pun mengalah membereskan kebutuhan rumah tangga dan mengasuh Nicho. Karena posisinya finansial rumah tangganya hampir semuanya ditanggung Ervi.

Apakah dengan penghasilan istri yang lebih besar, Budi mau mengalah dan membiarkan istri lepas dari kewajibannya sebagai ibu? Apakah Ervi merasa Nicho sudah aman dan bahagia berada di sekeliling orang-orang yang mencintainya, sehingga dia 'njagake' ibu dan bapak mertuanya untuk mengasuh Nicho sementara dia bekerja? Toh selama ini adem ayem saja kehidupan rumah tangga yang sudah dijalaninya hampir tujuh tahun. Entahlah.

bersambung...


Beri Aku Waktu (10)

"Pi, besok ngantar aku agak gasik ya. Aku mau buat tugas kelompok sama temen aku di sekolah. Nanti pulangnya juga jemput agak sore nggak papa.", kata Nicho manja pada papinya.

Anak semata wayang Budi itu selalu menggelendot papinya. Seperti sore ini saat papinya duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton motor GP. Nicho lebih dekat dengan papinya ketimbang dengan Ervi, maminya. Meski usianya sudah remaja, anak umur lima belas tahun ini masih tampak kanak-kanak, dan senang bermanja dengan papinya, apalagi dia anak satu-satunya Budi, yang tentu saja Budi sangat menyayanginya

"Emang kamu mau berangkat jam berapa Cho?", tanya maminya. Mau bareng mami sekalian?"

"Mami berangkat jam berapa?"

"Kalau kamu mau gasik, mami bisa antar kamu dan mami akan ngantor sekalian. Kasihan kalau papimu bolak-balik, Cho."

"Tapi pulangnya dijemput papi ya. kemarin papi janji mau belikan Nicho HP baru."

"Nic HP mu kan masih bagus. Jangan banyak ngegame. Kamu sudah kelas sembilan. Waktunya bermain dikurangi. PAT sebentar lagi loh.."

"Tapi papi yang janji sendiri mau beliin Nicho HP baru, mam. Kan pakai uangnya papi. Nggak uangnya mami", rajuk Nicho.

"Iya, ya...besok papi jemput. Nontonnya jadi nggak seru nih.. Yang seru kalian berdua", sela Budi. 

"Makasih, Pi...Papi emang ganteng. Udah gitu baiiik banget sama Nicho. Nicho sayang ama Papi."

 Cup..cup..cup. Ciuman itu mendarat di pipi Budi. Sambil memeluk papinya. Nicho tak henti-hentinya mencium papinya. Kedekatan Nicho pada Budi lebih kentara daripada dengan Ervi maminya. Entah kenapa Ervi tak dapat menarik perhatian dari anaknya. 

Sebagai seorang ibu, apakah Ervi  tak merasa kalau anaknya lebih dekat dengan papinya ketimbang maminya sendiri. Sejak kecil, Ervi telah membentuk pola asuh yang salah pada anaknya. Dia terlalu sibuk bekerja mengejar kariernya daripada mengurus rumah. 

Sebelum memiliki rumah sendiri, Budi dan Ervi menumpang di rumah orang tua Budi. Budi yang anak ragil itu setelah menikah dengan Ervi memang belum memiliki rumah sendiri masih menumpang dengan kedua orang tuanya. Karena ketiga saudaranya sudah menikah semua dan tinggal di rumah mereka masing-masing maka kedua orang tuanya kesepian kalau ditinggal Budi. Maka mau tak mau Budi dan istrinya tinggal di rumah orang tua Budi.    

Nicho yang sejak kecil tinggal di keluarga itu, tentu menjadi cucu kesayangan nenek dan kakeknya. Sejak kecil menjadi pengasuhan nenek dan kakeknya. Apalagi Ervi yang sering lembur sampai malam, sedangkan Budi yang bekerja sebagai sales lebih banyak waktunya untuk merawat Nicho, maka tak heran kedekatan Nicho lebih condong ke papinya daripada Ervi maminya.

Mulai dari memandikan, menyuapi, mengantar sekolah sampai mau tidurpun, yang dicari Nicho kecil adalah papinya. Belajar ataupun membuat PR selalu bersama papinya. Dan dengan telaten dan penuh kasih sayang Budi mencurahkan perhatiannya pada Nicho. Bila papinya belum pulang atau ada meeting kantor, Nicho kecil selalu menanyakan pada neneknya kapan papinya pulang. Nicho kecil pun akhirnya lebih lengket sama papinya.

bersambung ...



Jumat, 24 Juni 2022

Beri Aku Waktu (9)

Seperti biasa, sehabis keliling kota untuk menagih  beberapa bengkel langganan kantornya, Budi akan pulang lebih awal. Sore itu sehabis Ashar, Budi sejenak mampir di warteg pinggir jalan yang biasa dia kunjungi. Namun karena sore itu waktu sudah menunjukkan pukul 15.10 WIB tentu warteg itu terlihat sepi. Hanya ada seorang laki-laki muda berumur 30 tahunan sedang membersihkan meja-meja warteg dan mengatur bangku dengan rapi. Rupanya laki-laki itu penjual warteg itu.

"Tumben Mas Budi sore amat mampir di sini", sapa lelaki itu dengan logat Tegal yang kental. Sampun dhahar apa belum Mas. Inyong ambilkan yah."

"Ehm..nggak usah Pak. Tadi sudah makan. Ini hanya mampir sebentar. Es teh aja saya mau."

"Cuaca panas begini memang enak minum es, Mas. Makan rasanya malas. Maunya minum terus. Apalagi Mas Budi dari kelilingan."

"Ha..ha..Iya tul Pak. Ini sudah jadi makanan sehari-hari. Sales kalau nggak keliling nggak dapat uang Pak. keliling aja kadang pusing, uang setoran pada nggak bayar. Tempo... aja mintanya."

"Sabar Mas. memang jaman sekarang lagi sulit. Stok barang habis suruh ngejok, eh..giliran ngangsur bilang uang gak ada, usaha sepilah, inilah, itulah..padahal duit ki ora kluruk ya, Mas. Nek deweke ngomong sepi, bisa sepi tenan yak, Mas" lanjutnya.

"Ha..ha..ha..Bapak bisa aja. Jangan nyepatanilah Pak. Mungkin memang lagi belum punya uang beneran. Kalau ada uang kan mungkin begitu. Pasti rak ketang sedikit kan ngangsur."

Itulah Budi. Dia tidak mau berprasangka buruk pada langganannya. Ibaratnya langganan juga ladangnya untuk bekerja. Kalau dia terlalu galak dan ngotot pada langganan bisa-bisa langganan pada lari meninggalkannya. Walau tak sedikit para bengkel langganan itu lebih dari tiga bulan baru lunas, melebihi waktu yang diberikan dari kantornya pada perjajian awal. Maka untuk menutupi setorannya Budi mau tidak mau memutar uang dengan meminjam pada bank atau teman kantornya dulu agar setoran dan target pelunasan dari kantornya tidak meleset. Dengan demikian reputasinya di kantor tetap baik, dan dia dapat bonus. Bonus yang dia peroleh nantinya dia gunakan untuk membayar hutang-hutangnya. 

Baginya bekerja adalah ibadah. Mencari nafkah adalah ibadah. Menolong orang juga bagian dari ibadah, maka dia tidak mau hidup yang hanya sebentar dibuat sulit, dia tidak mau menekan orang. Dia selalu nomboki dulu para langganannya agar dia mendapatkan bonus dan kantor tidak tahu kalau langganannya ada yang belum setor atau mengangsur. Bahkan sampai gaji bulanan yang dia gunakan untuk nomboki belum menutup target dan dia harus hutang  ke bank. Ambil kartu kredit, dan tentu saja ini berisiko. Karena mudahnya berbelanja, menggesek kartu kredit dan ambil uangnya dia lakukan, sekali, dua kali, sampai akhirnya dia terjerat lingkaran setan kartu kredit. Naudzubillah..

bersambung...

Selasa, 14 Juni 2022

Beri Aku Waktu (8)

 

Meski sudah divonis dokter bahwa kankernya memasuki stadium empat dan harapan untuk sembuh tipis, namun Budi tidak putus harapan. Dia tidak memperlihatkan rasa sa*kitnya meski terkadang saat rasa sakit itu menyerang, dia hanya menangis, memohon ampun pada Allah, memohon keikhlasan dan kesabaran dalam menerima ujian yang diberikan oleh Allah. 

Diambilnya air wudlu, dibasuhkan pada kedua mukanya seraya mengucapkan doa, Ya Allah seandainya sudah tiba waktuku untuk menghadapMu, seandainya harus aku tinggalkan kehidupan dunia beserta semua apa yang Engkau titipkan padaku, beri hamba keikhlasan dalam melepaskannya, beri hamba saat terbaik, amalan terbaik, dalam keadaan terbaik dan kondisi yang khusnul khotimah saat Engkau mencabut nyawaku. Ya Allah kapanpun Engkau akan memanggiiku, aku tak bisa menolak, namun selama masih ada waktu, mohon hamba bisa menambah amal yang akan hamba bawa menghadapMu. Ijinkan hamba untuk tetap bisa berbuat amal kebajikan pada sesama, ridloi setiap langkah dan perbuatan hamba. Dan senantiasa selalu berada di jalan yang Engkau benarkan.

*****

"Assalamualaikum...Besok minggu kamu di rumah nggak? Besok aku main ke rumahmu ya", kata Budi pada Nur kakaknya. 

"Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.. Iya, di rumah. Ada apa, Bud kok mau main ke rumah. Tumben". Jawab Nur kakak Budi. Nur Aisyah adalah kakak Budi yang nomor dua. Dia sudah menikah dan memiliki dua anak laki-laki. Dia tinggal bersama suaminya di pinggiran kota. Seorang guru SMP yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar.

"Nggak ada apa-apa, Kak. Pingin ketemu Kak Nur aja. Besok minggu aku libur. Boleh kan main?"

"Boleh...Ajak juga Nicho sama maminya. Biar main sama Mas Huda dan Mas Lana di sini. Sudah besar tentnya ya."

"Ervi mungkin nggak ikut. Biasa...akhir bulan lembur di kantor. Kalau Nicho mau pasti."

"Kamu pingin makan apa, Bud. Biar aku masakan. Ikan bakar bumbu acar apa ayam betutu?"

"Ah....itu dia. Kak Nur tahu aja yan kumau. Aku kesana dalam rangka pingin makan yang spesial masakan Kak Nur. Ikan bakar bumbu acar aja. Ha..ha..ha.."

"Ha..ha..ha.. kamu pingin makan enak tapi maunya yang gratis kan? Moduslah.."

"Bukan begitu, Kak. Masakan ini nggak ada di tempat lain. Ikan bakar bumbu kecap sudah biasa. Tapi ikan bakar bumbu acar buatan Kak Nur ini spesial. Tidak ada yang jual. Ha..ha.. bumbunya meresap dan nikmat luar biasa. Bisa dua piring nambahnya."

"Ah...bilang aja Ervi gak bisa masak itu. Lagian kamu pingin makan yang enak, yang gratis dan ada temennya kan?"

"Ya iyalah... Makan itu akan nikmat kalau ada temannya. Sayang, minggu besok Ervi ngantor, jadi pingin makan sama koki cantik dan baik hati, seperti kakakku ini."

"Oke..oke..Jam berapa ke rumah, biar aku siapkan Bos."

"Jam sepuluhan ya Kak. Nanti bayar pakai BCA ya. Bank Central Akhirat. Ha..ha..ha. Udah ya, Assalamualaikum.."

"Waalaikum salam warohmatulahi wabarokatuh."

Begitulah Budi. Pembawaannya selalu ceria. Seakan tak ada beban dalam pikirannya. Padahal sebenarnya, Ervi istrinya tidak pandai memasak, bahkan hampir tak pernah masak. Sekedar menemani makan di mejapun tak pernah. Tapi Budi tak mau membicarakan kekurangan istrinya, apalagi di depan orang lain. Budi selalu menutupi kekurangan istrinya dengan membicarakan hal-hal yang baik tentang istrinya. Walau sebenarnya semua saudara dan kakak-kakaknya tahu, keburukan dan sifat istrinya, tapi Budi berusaha untuk bersabar.

Kurang pandai dalam melayani suaminya, kurang perhatian dan terkesan cuek. Apalagi sekarang Budi sakit seperti ini. Yang seharusnya mendapat perhatian dan kasih sayang dari seorang istri, yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah dan berbagi cerita. Ervi yang semakin menjauh, menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan jarang memperhatikan suaminya juga anaknya. Keluarga yang hambar tak tergambar kehangatan  jauh dari kemesraan meski mereka baik-baik saja. Apa karena penyakit yang diderita Budi hingga Ervi bersikap seperti ini ?

Beri Aku Waktu (7)


Tiga hari menjalani kemoterapi di RS Karyadi dijalani Budi seperti biasanya. Teman-teman kantor, teman sekolah SD dan SMP dulu juga menjenguknya. Memang Budi adalah orang yang periang dan ramah, sehingga dia memiliki banyak teman.

Budi anak yang mudah bergaul dan ringan tangan untuk membantu teman yang membutuhkan bantuannya. Dia tidak memandang usia dan kedudukan, apa pekerjaannya, si kaya atau orang tidak punya semua berteman baik dengannya. Satu keyakinannya, bisa membantu orang lain bisa membuatnya bahagia. Budi tidak memaksa untuk membalas kebaikan yang dia berikan. Bila ada orang  yang meminjam uang padanya, kapan pun  dan berapa pun dia dibayar dia akan terima. Bahkan terkadang dia mengikhlaskan bila peminjam tak membayarnya. Dia berkeyakinan,  ketika kita menolong seseorang jangan terlalu berharap orang tersebut akan balik membalas menolong kita. Kita harus ikhlas, karena dimanapun dan kapanpun ketika kita membutuhkan pertolongan orang lain, bisa jadi yang menolong kita adalah orang lain yang tidak kita kenal. 

Budi anak yang taat menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Dia rajin beribadah, sholat lima waktu tak pernah dia tinggalkan. Sesibuk apapun dia selalu berusaha untuk sholat di awal waktu. Karena baginya sholat adalah kebutuhan manusia, bukan sekear menjalankan kewajiban, tetapi lebih dari itu sholat adalah panggilan dari Allah, dimana kita dipanggil oleh Sang Pemilik sesegera mungkin datang dan bersujud menghadapNya dan tak perlu menundanya. Dengan menundanya berarti kita lebih mementingkan urusan dunia daripada menuju kebahagiaan bertemu dengan Sang Pemilik alam raya. Berusaha menggapai urusan akhirat maka urusan duniapun akan tercapai juga. Ibaratnya dunia adalah tempat kita singgah sebentar sekedar minum sedangkan akhirat adalah negeri yang kita tuju selamanya. 

Tiga hari menjalani kemoterapi di RS Karyadi sudah menjadi makanan kesehariannya. Dia selalu siap bila dokter sudah menjadwalkannya untuk kemo. Kata dokter kita berusaha melawan penyakit, memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker dengan melakukan kemoterapi, namun semua takdir dan kesembuhan ada di tangan Allah SWT. Meski sudah dikatakan terlambat karena sudah mencapai stadium empat, namun teruslah berdoa memohon diberi kekuatan dan mukjizat dari Sang Khaliq. Tidak ada yang mustahil bila Allah sudah berkehendak maka apapun yang kita rasa tidak mungkin, amatlah mudah bagi Allah.


Senin, 16 Mei 2022

Beri Aku Waktu (6)

 


Menahan rasa sakit pada saat buang air besar membuat Budi mau tidak mau menjadi trauma. Dia sering menahan hasrat untuk buang air besar. Mama mengajurkan untuk memperbanyak makan buah dan sayur serta cukup minum air putih akan mudah saat buang air besar. Karena trauma jugalah yang membuat Budi mengurangi porsi makannya agar tidak banyak mengeluarkan feses. Hal ini membuat berat badannya turun drastis dari 80 kg menjadi 67 kg. 

"Asal sehat nggak papa mah", katanya. "Malah lebih enteng nggak kegemukan. Jadi aktivitasku lebih gesit. He..he.. Dan baju-baju lama bisa aku pakai lagi."

"Iya, Bud. Kamu harus banyak makan buah dan sayur, kurangi lemak dan tepung. Karena serat akan memudahkah dan melancarkan buang air besar. Kalau sedari kecil kamu suka buah dan sayur, tentu saluran pencernaanmu lsehat ."

"Benar, Ma. Kini aku harus belajar suka makan sayur dan buah. Juga mengurangi daging merah. Nicho mulai sekarang oleh maminya dilatih makan buah dan sayur, agar besok tidak mengalami sakit seperti aku."

Memang benar, makanan sehat harus gizinya seimbang, tidak hanya karbo saja yang masuk ke perut, tapi juga serat, vitamin dan mineral dari buah dan sayur  dibutuhkan oleh tubuh. Buah dan sayur juga mengandung aktioksidan yang akan menangkal hilangnya radikal bebas keluar dari tubuh kita."
 
"Kok kamu jadi pinter Om Budi, dapat ilmu dari mana?" tanya Lusi

"Ha..ha..wk..dari mbah Goolgle Mbak. Ini aku lagi browsing-browsing manfaat buah dan sayur. Penasaran aja kenapa sejak kecil nggak suka ya. Sukanya telur, ikan dan daging aja", tawanya renyah.

Begitulah, Budi anakku. Kebiasaan makan tanpa sayur sudah sejak kecil dilakukan. Bila aku memberinya sayur dia nggak mau makan, minta diganti piringnya. Atau dia pilih tidak mau makan bila ada sayurnya. Sudah berbagai cara aku lakukan agar dia gemar makan sayur mulai dari kuiris tipis-tipis, kublender halus atau kubuat variasi yang lebih menarik dengan dicampur telur atau bahan lain agar dia mau makan, tapi tetap saja dia nggak mau. Hanya sayuran tertentu yang dia mau, bayam, wortel atau kecambah itu saja yang dia mau. Itupun dalam porsi kecil.

"Wah..ramai sekali ya, ruang inap Pak Budi. Ibu dan saudara-saudaranya mengunjugi. " Tiba-tiba masuk seorang suster sambil membawa tensimeter dan satu ampul botol berisi cairan obat.

"Pak Budi saya periksa tensinya dulu ya. Obat yang tadi pagi sudah diminumkah?" tanya suster itu ramah.

"Sudah sus. Tapi saat menelan tadi rasanya mau muntah. Kok beda dengan kemo tempo hari ya, Sus"

"Iya, pak. Ini catatan dari dokter Uut, obatnya memang diganti. Besok saat kunjungan silakan konsultasikan keluhannya. Satu lagi pak, mungkin kemo kali ini ada efek sampingnya."


 
bersambung..

Sabtu, 14 Mei 2022

Beri Aku Waktu (5)

 


"Iya, barang akan kami kirimkan dua hari setelah pembayaran kami terima. Mohon maaf atas keterlambatan ini. Karena ini saya masih di luar kota, mungkin rekan saya yang nanti akan menemui bapak", kata Budi lewat smartphonenya pada seseorang di seberang sana.

"Ha..ha..Oke, pak terima kasih sebelumnya, nanti akan saya sampaikan pada bos saya. Silakan ditunggu ya, pak. Untuk tagihan selanjutnya akan saya konformasikan dulu ke bagian akunting. Mungkin dalam tiga hari ini akan saya kirim lewat email", lanjutnya  sambil tertawa. 

Budi, anakku memang begitu pembawaannya. Rajin bekerja. Dalam keadaan sakitpun saat seperti ini, dia masih bekerja. Melakukan transaksi jual atau menawarkan barang dagangan lewat gadgetnya. Memang zaman sekarang transaksi ataupun pembayaran dapat dilakukan dimana saja, kapan saja oleh siapa saja. Begitu mudahnya era digital ini. tidak seperti zaman mudaku dulu. semuanya harus lewat prosedur dan lama. Sekarang tinggal klik, langsung OK selesai.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Halo, Mama. Mama sama siapa ke sini?" jawab Asih kakak Budi, sulungku.

"Itu sama Lusi." jawabku.

"Dimana Lusinya sekarang?"

"Baru nelpon di luar. Tadi Hari tanya sudah sampai di ruang Rajawali, belum? Soalnya kemarin Budi bilang dirawat di Kepodang. Jadi takutnya salah kamar."

"Iya, Ma. Kemarin waktu persiapan kemo memang di Kepodang. Masuk Rajawali ini baru tadi pagi, " jawab Budi ceria.

Diraihnya telapak tanganku dan diciumnya. Kuelus rambutnya lalu kucium pipi kanan kirinya dengan penuh cinta. Bhdi Heru, anak ragilku ini tak pernah menampakkan rasa sedih atau sakit pada wajahnya. Dia selalu tersenyum dan tertawa manakala ditanya tentang penyakitnya. Hampir tiga tahun lalu divonis kanker usus dan sudah menjalani pengobatan hampir dua tahun. Memang agak terlambat diagnosis kankernya karena dokter sebelumnya mendiagnosis ambein pada anus yang ternyata adalah kanker.

Berobat pada dokter sebelumnya hanya dikatakan kalau ada tumor yang tumbuh pada anusnya. Saat buang air besar feses akan bersentuhan dan bergesekan dengan permukaan tumor itu, sehingga saat buang air besar akan sakit dan mengeluarkan darah. Gejala inilah yang didiagnosis dokter ada tumor atau ambein pada rectum dan anusnya.

Namun perkembangan selanjutnya diketahui semakin membesar dan tumbuh keluar dari anus. Tentu saja menimbulkan rasa yang lebih sakit. Bahkah dudukpun yak terasa nyaman apalagi saat buang air besar. Maka Budi pun pindah dokter spesialis dan membawa rekam medis sebelumnya untuk diagnosa lanjutan yang teliti.

Ternyata setelah pindah dokter dan konsultasi lebih intens diketahui adanya kanker pada ujung rectal yang berbtasan dengan anus. Inilah yang sering misdiagnosis antara ambeien dengan kanker. Untuk mempercepat penyembuhannya selain dengan kemoterapi juga harus dilakukan kolostomi yaitu memotong kolon dan dibuatkan lubang pengeluran (kolostom) untuk pembuangan feses.



Jumat, 13 Mei 2022

Beri Aku Waktu (4)


Setelah melakukan pemeriksaan seluruh kondisi organ dan darah (general chek up) dengan hasil yang baik dan memungkinkan untuk melakukan kolostomi, maka dokterpun siap melakukan kolostomi pada Budi. Dan Budi akan menjalani operasi. Sehari sebelum operasi Budi sudah di ruang perawatan dan menjalani puasa 12 jam. 

'Ya Allah... semoga ini jalan yang terbaik demi penyembuhan pengakit Budi. Berilah kelancaran dan kemudahan tim dokter  dalam melakukan operasi. Tolong beri kesembuhan Budi, anakku ya Allah. Hilangkan penyakitnya, beri umur panjang Ya Robb, beri kesembuhan dan tak kambuh lagi. Berilah kesehatan, keikhlasan dan kesabaran serta semangat untuk sembuh. Semoga setelah ini kehidupannya berjalan normal, hidup berbahagia, bisa mendampingi anak dan istrinya. Bisa mengantar anaknya satu-satunya meraih cita-citanya. Ya, Allah, ya Syifa, Ya Rahman ya Rahim hanya kepadaMu kami mohon ampun dan pertolongan, wahai Dzat Yang Maha Pengampun dan Pemberi. Amin.'

Bersimpuh. Dalam tahajud malam ini. Menyebut namaMU, kebesaranMu dan kuasaMu. Berurai air mata, pasrah dan ikhlas..aku memohon dengan segenap jiwa dan rasa. Kutumpahkan semua yang ada di hati, Engkau Maha Tahu segala isi hati, Ya Allah. Engkau tahu yang aku rasakan. Ya, Allah. sembuhkan anakku, beri yang terbaik untuknya, kasih sayangi dia, beri waktu padanya untuk bertobat, untuk berbuat kebaikan antar sesama, untuk mengisi hari-harinya lebih bermanfaat bagi keluarganya, bagi orang lain, bagi sesama. Di sisa hidupnya yang kami tak tahu entah sampai kapan, berilah kesempatan kami untuk membahagiakannya. Kami orang tuanya, saudaranya, keluarganya sangat menyayangi dan mencintainya.

***

Tuuut..

Gawaiku berdering..

"Oma, kita mau bezuk Om, Budi. Oma ikut nggak? Hari ini masuk ruang operasi jam delapan pagi. Selesai operasi dan keluar ruangan mungkin jam sepuluhan." 

"Iya, Lus. Aku ikut. Mbak Asih sudah di sagobatangna dari tadi pagi," sahut Oma. "Pagi ini Evi masuk kerja dan tidak bisa  menemani Budi. Dia tetap ngantor. Malamnya baru nginap di rumah sakit sampai pagi. Esoknya Mbak Asih gantian yang jaga Budi."

Lusiana adalah menantuku yang ketiga. Dia istri Hari, anakku. Lusi bekerja di salah satu bank swasta di kota ini. Menantuku ini cantik, pintar, sayang belum diberi momongan. Menikah dengan Haryanto anakku sembilan belas tahun yang lalu. Beberapa usaha untuk mendaptkan keturunan sudah dia tempuh, dari pijat ke dukun bayi, pengibatan tradisoinal, dokter spesialis kandungan hingga program bayi tabung sudah dijalaninya. Tapi semua belum berhasil. Allah belum menitipkan momongan untuk wanita cantik ini.

Evi, istri Budi memang tidak ijin untuk menunggu suaminya yang sedang operasi. Tidak tahu alasannya kenapa. Tetapi yang jelas aku rasakan menantuku satu itu memang kurang perhatian terhadap keluarganya. Leasing tempat dia bekerja memang baru-baru ini mengalami masa-masa pengurangan pegawai. Jadi mungkin dia takut kinerja dinilai atasan tidak loyal karena sering minta ijin meski alasan cukup urgen menunggui suami operasi. 

Selasa, 10 Mei 2022

Beri Aku Waktu (3)


 "Gimana, dok kondisi saya?"

"Pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh bapak sudah cukup jauh. Pertumbuhan ini bisa menyebar ke jaringan yang lain bahkan bisa ke organ yang di sekitarnya. Dengan kemoterapi kurang efektif karena sel kanker pada kolon anda ini termasuk yang pertumbuhannya cepat. Maka, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan kolostomi pada anda."

"Apakah nanti ada harapan sembuh dok."

"Sebagian besar orang akan hidup secara normal dengan kantong kolostom. Mereka bisa menjalani kehidupannya dan kemungkinan untuk sembuh tetap ada, tetap melakukan kemoterapi. Walau pada awal-awal pemakaian perlu adaptasi dan tubuh yang baik akan merespon keadaan ini tidak terlalu lama. tergantung sikap anda dan yang penting dukungan keluarga sangat membantu proses penyesuaian dan kesembuhan anda."

"Kemungkinan terburuk apa dok, seandainya tidak dilakukan kolostomi."

"Seperti yang saya katakan tadi, bahwa kolostomi ini bertujuan agar feses ataupun gas buangan hasil sisa pencernaan dapat dibuang melalui lubang kolostum yang dibuat dengan menarik rectum keluar dan dibuatkan lubang permanen keluar dari perut. Kolostum ini bertujuan agar feses tidak menuju ke anus. Karena beberapa senti diatas anus, di situlah pusat kankernya. Bila feses tetap keluar lewat anus, sementara feses adalah sisa-sisa atau kotoran yang harus keluar dari tubuh akan bergesekan dengan sel-sel kanker tadi, tentu akan memacu perdarahan dan juga sel-sel akan cepat berkembang."

"Apakah ada efek samping dari tindakan kolostomi ini, dok?"

"Secara umum, hal yang dialami pasca operasi kolostomi adalah rasa sakit di sekitar stoma (lubang) tang dibuat itu. Kadang-kadang disertai mual dan muntah. Pasien pelu penyesuaian tubuh terhadap stomanya dan perlu belajar memasang dan melepas kantung kolostum saat faeses penuh atau kantungnya membesar berisi gas buangan. Jangan sampai dibiarkan penuh feses, karena bisa meledak."

"Baik dok terima kasih penjelasannya."

"Sama-sama, Pak Budi. Silakan dibicarakan dengan keluarga. Bagaimanapun keputusan ada di Tangan Anda. Kami hanya memberi saran yang terbaik untuk anda."

"Permisi. Sekali lagi terima kasih."

Keduanya lalu berjabat tangan. Budi meninggalkan ruang praktek dokter Uut, dokter muda spesialis kemoterapi di RS Karyadi Semarang. Dia merasa nyaman bisa konsultasi ataupun curhat dengan dokter itu. Selain ramah, dokter Uut, sapaan dokter yang memiliki nama lengkap Selamet Utomo itu dikenal sebagai dokter yang memiliki jam terbang tinggi, menangani banyak kasus kanker yang pasiennya menjalani kemoterapi.

bersambung ...

Beri Aku Waktu (2)

 


"Mah..Evi nanti pulang malam karena ada meeting akhir bulan di kantor", kata Evi datar.

"Jam berapa pulangnya, Vi? "

"Mungkin jam sembilan atau sepuluh. Mama tidur di kamar Nicho ya. Sekalian nemeni Nicho. Dia masih sering minta ditemeni kalau mau bobok , Ma. Mau kan Mama nginap di sini?"

"Baiklah. Tapi hanya malam ini ya. Besok Mama kembali ke Mbak Asih."

"Mama nginap dua hari tiga harilah di sini. Mas Budi hari ini mau kontrol ke dokter. Biasanya ngantri sampai malam, Nicho kasihan nggak ada temennya, Ma", bujuk Evi pagi itu.

"Kamu bisa ambil ART untuk bersih-bersih rumah sekalian bisa nemeni Nicho pas papi maminya pulang malam seperti ini, Vi. Gajimu dan Budi lebih dari cukup untuk bayar aeorang ART."

"iya, Ma...tapi Evi belum menemukan yang cocok buat Evi. Kerjaan mereka ngobrol dan chattingan bila ditinggal majikan. Di depan majikan tampak rajin karena berniat ambil hati majikannya. Coba kalau majikannya tidak di rumah."

"Asal pekerjaannya beres kan nggak papa sekali-kali ART ngobrol sesama ART kan."

"Iya Ma nanti Evi ambil ART. Tapi hari ini mama di sini nemenin cucunya dulu ya. Lagian Mas Budi juga masih kangen sama Mama. Kita belum sempat ngobrol."

'Mana sempat ngobrol kalau tiap hari saja kamu pulang jam lima atau menjelang maghrib. Sampai rumah mandi langsung masuk kamar. Alasannya capek. Esoknya jam tujuh sudah siap ngantor lagi. Kapan kamu perhatikan Nicho? Mana kamu tahu perkembangan sekolahnya. Bagaimana nilai belajarnya. bagaimana pergaulannya dengan temannya atau kapan kamu dengar curhat anak lelakimu yang sudah remaja ini?'

"Nanti Nicho pulang jam berapa Vi? Mama mau masak makanan kesukaan Nicho."

"Mama enggak usah ke pasar, Ma. Nunggu tukang sayur lewat aja. Mamah nggak boleh capek. Di sini mam liburan bukan ngurus pekerjaan rumah," kata Budi anakku.

"Iya, Bud. Mamah nggak capek kok. Kamu juga nggak boleh capek. Nanti malam mau kontrol ke dokter jam berapa?"

"Mungkin jam enam sore, Ma."

"Kamu sama siapa? Minta diantar temanmu atau Evi. Kamu ada teman ngobrol saat nunggu antrian nanti."

"Evi nggak bisa nemeni Mas Budi, Ma. Evi nanti malam lembur. Mas Budi biasa sendiri, kok Ma. Iya kan, Mas," senyum Evi melirik Budi suaminya, sambil menyelesaikan riasan bedaknya. 

"Iya, Ma. Budi biasa sendiri kok. Mama nggak usah kawatir. Budi nggak capek."

'Ya, Allah. Anakku ini luar biasa sabarnya. Engkau beri ujian sakit dan kurang perhatian dari istrinya, tapi malah menjadikannya bersabar dan ikhlas. Ya Allah, sembuhkanlah sakitnya, berilah kekuatan dan semangat untuk sembuh.'

"Ma..Mama ngalamun. Evi berangkat dulu, ya." Bergegas Evi mencium tanganku lalu pipiku. 

'Ya Allah, baru dua hari aku di sini namun aku mulai melihat hubungan anakku dengan istrinya tak begiru hangat. Sepertinya  masing-masing tak saling mengenal. Sakit yang diderita Budi apakah penyebab ketidakharmonisan keluarga ini. Ataukah kesibukan Evi yang hampir melalaikan tanggung jawabnya atau ada yang lain yang menjadi penghalang keduanya? Entahlah. Semoga ini hanya prasangkaku saja.'


Senin, 09 Mei 2022

Beri Aku Waktu


'Mungkin ini jalan yang terbaik yang harus aku lakukan. Meninggalkan cucu dan menantuku agar dia bisa mandiri merawat dan membesarkan anaknya. Dan Nicho, akan lebih menyayangi maminya manakala nanti dekat dengan maminya. Meski aku ragu.'

"Oma, jam berapa nanti ke tempat Budhe? Nicho antar ya." 

Sapaan Nicholas, cucuku itu mengagetkan lamunanku. Sudah lebih tiga tahun ini aku tinggal bersama menantu dan anakku, Budi. Sejak Budi divonis sakit kanker usus, aku tinggal bersama mereka dan anaknya,  Nicholas. Menantuku Evi kerja di salah satu leasing otomotif besar di kota ini. Karena kesibukannya bekerja di bagian Customer Service mengharuskan datang lebih awal dan mempersiapkan diri seoptimal mungkin dalam memberikan pelayanan pada pelanggan.

Selain dituntut penampilan yang oke, sikap ramah dan wellbeing terhadap customer tentu harus bisa memuaskan bahkan menarik customer untuk membeli atau menggunakan produk jasa dari perusahaan tempatnya bekerja. Maka, aku maklum saja saat dia harus pagi-pagi benar berangkat bekerja, tidak pernah menemani Budi sarapan. Apalagi melayani di meja makan, hanya sekedar menyiapkan saja hampir tidak pernah. 

Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya ibu mertuanya. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anakku, meski hanya sekedar menegurnya untuk beberapa menit saja menemani suami sebelum berangkat kerja. Evi tak pernah bertanya mau makan apa hari ini atau nanti siang makan dimana atau sekedar basa-basi memintaku memasakan makanan kesukaan suami dan anaknya. Rasa-rasanya menantuku itu tak pernah sekalipun memikirkannya. 

Bagi Evi mungkin ini hal yang biasa dan lumrah. Sebagai wanita karier dia lebih banyak terfokus pada kariernya daripada perannya sebagai ibu dan istri dalam kehidupan rumah tangganya. Pernah suatu ketika Nicho sakit, Budi papinya lah yang lebih banyak merawatnya ketimbang Evi, sebagai ibunya. Dan Nicho lebih dekat dengan papinya daripada maminya. 

"Tidak usah, Cho. Nanti Budhe akan jemput Oma setelah ngantar pesanan kue Bu Parjono. Budhe sudah janji kok."

"Tapi Nicho pingin ngantar Oma. Boleh kan Oma? Sekalian mau ketemu Mas Yaya. Nicho sudah lama nggak ngobrol sama Mas Yaya sejak Mas Yaya magang. Mas Yaya pasti punya cerita lucu untuk Nicho." 

"Kamu mau diajak mami ke Hypermart Cho. Nanti kamu capek."

"Ke Hypermartnya kan sore, Oma. Nicho mau ketemu Mas Yaya dulu. Pingin ngobrol. Ayolah Oma, Nicho antar ya. Boleh kan, Mam?" kata Nicholas melirik maminya.

"Boleh. Tapi pulangnya jangan terlalu sore. Jam lima kita jalan. Jadi pulangnya nggak kemalaman. Mami juga mau mampir sebentar ke rumah temen Mami."

"Atau Nicho nggak usah ikut ke Hypermart aja, ya Mam. Kan mami hanya belanja bulanan."

"Iya..Mami mau ngajak kamu biar nggak suntuk seharian di rumah. Sekali-kali temeni Mami shoping Cho. Kita makan dan beli es cream kesukaanmu."

"Iya, deh...Ntar Nicho balik jam limaan."

"Sebelum jam lima Cho... Mami nggak mau kemalaman."

"iya, iya ..Mam."


bersambung...

Sabtu, 15 Januari 2022

Ujian Lima Tahun Perkawinan (15)

 


Suka duka menjadi guru honorer dengan gaji yang minim hanya cukup untuk membeli susu anakku. Kebutuhan lain dan makan sehari-hari aku mengharap ada sisa dari  uang setoran dari angkot yang dijalankan Mas Aro. Namun setiap hari uang dari naik angkot tidak cukup menutup setoran. Akhirnya mau tidak mau angkot bersama rekom trayek Tlogosari-Johar diambil alih bapak, dan dijual, daripada kami harus menanggung hutang untuk menutup setoran. Meski  bapak harus merelakan angkot itu dijual dengan harga murah, karena memang pasaran trayek itu semakin lama semakin sepi. Bagi yang tidak punya hutang di bank dan tidak bayar setoran, masih cukup penghasilan 100 ribu per hari. Tapi tidak bagi yang mobil angkotnya masih kredit.

Tapi Alhamdulillah, ada tetangga yang membutuhkan jasa Mas Aro sebagai driver pocokan pada kegiatan kampus LPMP Undip. Meski tidak setiap hari ada kegiatan kampus, paling tidak dua minggu sekali ada, dan pendapatannya cukup lumayan karena sering bertugas di luar kota. Apalagi bila tidak hanya sebagai driver tapi juga membantu sebagai tenaga ‘serabutan’ akan ditambah dengan tips. Aku berharap semoga rezeki yang didapatkan Mas Aro meski ada,  cukuplah untuk menyambung perekonomian keluarga tanpa harus terbebani hutang. Dan harapanku yang lain, semoga salah satu dari kita, aku atau Mas Aro memiliki pekerjaan tetap.

Sedikit demi sedikit sisa uang belanja bulanan aku tabung untuk bisa melunasi pinjaman Bu Widya. Meski Bu Widya tidak pernah menagih ke kami, tapi hutang harus tetap kami bayar. Aku tidak mau kebaikan Bu Widya aku sepelekan. Karena melunasi hutang secepatnya adalah targetku. Semakin cepat tentu semakin baik, sehingga aku bisa memikirkan kebutuhan yang lain, apalagi Alif kini sudah kelas tiga SD dan Huda tahun depan sudah mulai masuk TK.

Atas saran seseorang, kami dianjurkan untuk ‘membangun nikah’ atas segala apa yang sudah menimpa rumah tangga kami. Membangun nikah atau nikah ulang dimaksudkan untuk mengucapkan ijab qobul lagi dengan tujuan memperbaiki hubungan pasutri keduanya.

Ujian Lima Tahun Perkawinan (14)


 Hitungan weton dalam adat Jawa yang masih berlaku kala itu aku hiraukan. Dengan Bismillah tentu aku lebih mantap menjalani hari-hariku bersama Mas Aro calon suamiku. Apakah cinta telah membutakan mata hatiku? Tidak. Karena sebelum aku memutuskan aku mau menjadi istrinya, aku mohon petunjuk pada Allah agar aku dimantapkan bila Mas Aro adalah jodohku dan suami yang terbaik untukku melalui tahajud dan istikharahku.

Sudah tertuliskan kami menikah di hari minggu legi, aku dilahirkan di hari minggu wage, weton Mas Aro minggu kliwon, dan anakku Alif lahir di hari minggu pahing. Semua terjadi di hari minggu, sehingga satu hari ditempati  empat peristiwa penting, kelahiran dan pernikahan. Kata orang satu hari itu menopang empat kegiatan dan harus dibagi rata. Maka akan sangat berat ujian yang diterima bagi orang yang berada di dalam peristiwa hari minggu. Wallahu a’lam bishawab, hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

Menjadi sopir angkot memang butuh kesabaran. Mengumpulkan receh demi receh. Pada jam-jam tertentu, pagi pukul 05.30 sampai 09.00 WIB misalnya adalah saat-saat ramai orang berangkat ke sekolah atau bekerja. Namun setelah itu hanya dua atau tiga orang saja yang bepergian naik angkot. Tentu kalau tidak diperhitungkan dengan matang pada jam-jam seperti itu akan merugi karena sepi penumpang, malah bisa tekor pada bensinnya. Sore hari mulai pukul 16.00 WIB jam trayek mulai padat.

Bila dihitung-hitung tak banyak hasil bersih yang didapat dari menjalankan usaha angkot ini. Setelah dikurangi bensin, uang makan dan upah harian kernet, uang yang diterima berkisar 100 ribu sampai 125 ribu. Tentu ini belum cukup untuk membayar ansuran sebesar 4 jutaan per bulan. Agak lumayan bila dapat carteran, bisa dapat hasil bersih 150 ribu. Tapi kan tidak setiap hari ada carteran.

Sopir angkot pemula biasanya mengalami hal ini. Mereka belum mengenali peluang-peluang mana jam-jam sibuk yang membutuhkan angkot, dan mana jam-jam sepi yang tak perlu narik angkot. Atau mereka belum punya langganan anak sekolah,  ibu-ibu kantoran atau karyawan pabrik yang biasa naik angkot. Memang harus jeli dan mau jemput bola untuk ngetem agar angkot penuh terisi dan tak merugi. Biasanya angkot sudah ngetem berjejer rapi menunggu  saat bubaran pabrik, atau bubaran anak sekolah. Tak jarang ini memicu pertengkaran antar sesama sopir angkot.

Memang hidup di jalanan penuh dengan perjuangan dan kekerasan. Seharian dari pukul 05.30 sampai habis Isya baru pulang membuat Mas Aro kelelahan. Penghasilan yang tidak pasti dan penuh saingan karena jumlah angkot lebih banyak dibanding jumlah penumpang pada jalur trayek Tlogosari-Johar menjadikan pekerjaan ini mungkin tidak tepat bagi Mas Aro. Belum lagi dia sering terlambat sholat Ashar atau Maghrib karena kejar setoran atau pas mengantar ke suatu tempat. Setelah dipikir-pikir pekerjaan ini tidak cocok buat Mas Aro. Dia jadi jarang mengaji, sholat juga tak khusyu dan tumaninah, karena pikirannya kejar setoran, kejar duit, sehingga kadang-kadang hari minggu atau tanggal merah dia gunakan untuk istirahat, tidak narik. Dan tentu ini mengurangi pemasukan.

“Sabar, Mas. Memang belum ketemu jalannya. Rezeki meski dikejar sekalipun kalau itu bukan jatah kita ya enggak akan ketangkep. Tidak hari ini mungkin lain hari bisa dapat carteran,” hiburku sambil memijit kakinya. Tiap malam Mas Aro selalu minta dipijit sebelum tidur. Pijitanku menyegarkan badan dan pikiran katanya. Meski hanya beberapa sentuhan ringan tak sekuat tukang pijit beneran, cukup membuatnya nyaman.

Duh..Gusti Allah, sebenarnya aku pun lelah. Bekerja, beres-beres rumah  dan mengurus Huda, balitaku yang belum genap setahun. Tapi semua ini aku syukuri, karena  Alif sulungku tinggal bersama ibuku dan bersekolah di SD terdekat di sana dan Huda diasuh Budhe Kasminah di sini. Alif akan aku jemput bila weekend tiba, sabtu sore. Meski tiap hari masih mampir dan menengok Alif untuk mengetahui keadaannya, aku selalu merindukan hari segera berjalan menuju sabtu agar aku bisa menjemput buah hatiku. Aku tidak mau Alif keenakan dimanja nenek kakeknya dan tak mau tinggal bersama kami.

bersambung …


Ujian Lima Tahun Perkawinan (13)

 


Rasanya agak lega dan bisa bernafas setelah Bu Widya membantu melunasi hutang-hutang suamiku. Aku berharap ini tak akan terulang lagi selama perjalanan biduk rumah tangga kami. Hari-hari yang telah lewat biarlah menjadi pengingat bahwa untuk menuju keberhasilan, kesuksesan harus berjuang dan berdoa. Semua rintangan dan hambatan menjadikan cambuk agar kita  mawas diri, tapi terus semangat dan yakin, kita berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah digariskan. Sebagai orang yang beriman, tentu kita bertawakal kepadaNya dan berkhusnudon bahwa rencana Allah lebih indah dari yang kita kira.

Sudah lama kami tidak pulang mudik. Dua tahun terakhir dari lima tahun usia perkawinan kami, kami amat jarang pulang ke kampung. Entah kenapa tiba-tiba aku rindu emak mertua yang desa. Hampir dua lebaran ini kami tak mengunjunginya. Selain tidak ada ongkos untuk pulang ke desa, kami pun malu dengan apa yang dialami Mas Aro. Karena sanak saudara di kampung sudah mendengar tentang keadaan kami dan sangat menyayangkan apa yang dilakukan Mas Aro. Aku tidak ingin Mas Aro yang baru bangun dari keterpurukannya kembali sakit dan bersedih demi melihat sanak saudara di kampung menghujamnya dan memusuhinya. Aku ingin menjaga hatinya, ingin menjaga perasaannya.

Meski  perbuatan Mas Aro telah melukai hatiku, aku tak tega juga bila suamiku tersudut oleh pertanyaan-pertanyaan mereka yang tentu saja aku sebagai istrinya akan disangkutpautkan dan aku tidak mau terjadi kesalahpahaman antara aku, Mas Aro dan keluarga besar suamiku. Sesekali waktu kami hanya bisa telpon emak, mohon maaf dan minta doa restu dari beliau lewat Budhe Sarti, kakak tertua Mas Aro yang bisa kami percaya. Budhe Sarti tidak keberatan saat kami memintanya untuk menyampaikan permohanan maaf dan salam kami untuk emak saat kami  menelponnya. Kebetulan rumah Budhe Sarti berseberangan dengan rumah Emak. Maafkan kami, Mak. Kami belum bisa pulang, doakan anakmu ini, istri dan keluarganya selalu sehat, dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Doakan kami bisa pulang secepatnya. Kami rindu emak, kami sangat mencintai emak.

Pernah suatu malam aku bermimpi ketemu Emak. Emak datang ke rumah dan menyapu lantai rumah kami sampai ke halaman  depan. Ketika aku tanya, mengapa Emak menyapu rumahku? Jawab Emak sedih, “Biar bersih Nduk, rumahmu kotor. Biarlah Emakmu membantu menyapu.” Aku tak tak tahu arti dari mimpiku. Yang pasti saat itu sangat rindu Emak, sosok wanita yang telah melahirkan anak laki-laki yang kini menjadi suamiku. Sosok sederhana seorang ibu yang hingga usia separuh abad masih rajin bekerja di sawah, hidup menjanda sekian puluh tahun, semenjak Mas Aro duduk di kelas dua SD. Membesarkan enam orang anaknya sendiri. Sosok wanita yang kuat dan tegar, yang patut aku contoh. Bukti kesetiaan pada almarhum suamianya dan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya. Meski anak-anaknya tak bisa bersekolah tinggi, tak mengenyam pendidikan tinggi, tapi mengenyam pendidikan karakter dan pelajaran kehidupan yang luar biasa yang ditanamkannya.

Aku teringat kata-kata Emak saat sebelum aku dan Mas Aro menikah. “Jadilah istri yang bisa melayani suami, Nduk.”  Kehidupan rumah tanggaku akan penuh ujian, terlebih dalam soal keuangan.

“Kowe kudu pinter ngecake duit.  Senajan uripmu rekoso, sok mben uripmu mulyo, amarga daringanmu kebak. Mulo kowe kudu setiti, nyisihna duit supoyo bisa nyukupi kebutuhan liyane.”  kata Emak dalam Bahasa Jawa, yang artinya bahwa aku harus pintar mengelola keuangan rumah tangga kami. Meskipun hidupku susah sekarang, namun esok masa depanku bahagia dan mulia, karena  ‘daringan’ (Bahasa Jawa yang artinya tempat beras) yang kumiliki penuh. Jadi ini merupakan pertanda bahwa aku harus menyisihkan uang atau menabung sisa uang belanja agar dapat mencukupi kebutuhan atau membeli kebutuhan lain selain kebutuhan pangan dan sandang. Tentu ini bukan asal bicara, tapi berdasarkan perhitungan weton  (tanggal lahir) kami.

Dalam adat Jawa, apabila pasangan calon pengantin akan melangsungkan pernikahan, orang tua masing-masing akan mencari hari yang baik saat melakukan ijab qobul pernikahan dengan menghitung weton masing-masing. Mas Aro yang lahir hari Minggu Kliwon dan aku lahir Minggu Wage memiliki jumlah angka yang lebih tinggi.  Minggu wage jumlahnya song0 (sembilan) dan minggu kliwon jumlahnya telulas (tiga belas). Bila jumlah wetonku dan weton Mas Aro dijumlahkan hasilnya rolikur (dua puluh dua). Hitungan Jawa ini artinya suamiku akan menang dan tetap menjadi pemimpin keluarga.  Dan wetonku yang jumlahnya di bawah jumlah weton Mas Aro, akan banyak mengalah. Sehingga meskipun terjadi benturan dalam perjalanan rumah tangga kami, diantara kami ada salah satu akan memahami yang lain. Dan ini sisi baik menurut hitungan weton  tadi.

Angka dua puluh dua dalam rumah tangga disebut ‘topo’ (bertapa) yang artinya pasangan ‘topo’ akan mengalami kesusahan di awal pernikahan karena masih saling memahami tapi akan bahagia pada akhirnya. Masalah yang dihadapi bisa masalah ekonomi dan lainnya. Nah, setelah memiliki anak dan cukup lama berumah tangga akan sukses dan bahagia.

bersambung….

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...