Kamis, 21 Oktober 2021

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (6)


Sepuluh hari aku harus dirawat di RSU KMRT Wongonegoro. Meski masih agak pusing dan harus belajar menjaga keseimbangan tubuh, dokter sudah mengizinkan aku pulang ke rumah. Seminggu sekali kontrol dan rutin minum obat. Aku harus belajar untuk mengalahkan vertigo ini.

Aku mulai belajar duduk, pelan-pelan bangun sambil berpegangan pada sisi ranjang tidur. Dan belajar berbaring dengan posisi miring dan mata terpejam. Saat akan membaringkan tubuh selalu kepala ini berputar dan berputar. Tapi ini semua mau tidak mau harus kenikmati dan sedikit demi sedikit aku harus mampu menahan mual dan serangan putaran-putaran di kepalaku. Karena aku belum  bisa beraktivitas normal, maka ibu mertua diajak Mas Aro ke rumah, untuk merawat aku dan menjaga  anak-anakku.

Hari-hari kurasakan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Bangun, duduk dan tertatih-tatih belajar berjalan. Namun aku selalu bersyukur akan kehidupan  kedua yang kualami ini. Ya, aku diberi kesempatan hidup yang kedua. Aku mulai belajar sholat dengan duduk, sedikit demi sedikit mencoba berdiri dan ruku, belajar sujud dan bangun dari sujud,meski harus berjuang melawan sakit ini.

Aku ingin sembuh, Aku ingin hidup normal seperti dulu. Aku ingin melayani anak-anak dan suami dengan baik. Aku harus berjuang dan harus sembuh. Kasihan Mas Aro selama tiga bulan ini dia harus puasa karena aku tidak bisa melayaninya. Dan masa cuti sakitku pun telah habis. Aku harus kembali mengajar. karena belum berani naik motor maka aku langganan ojek untuk mengantar dan menjemputku pulang. Dan, Alhamdulillah pihak sekolah memberi keringanan padaku dengan mengajar sampai pukul 10 saja.

Setelah kurang lebih tiga bulan, aku sudah mulai bisa berjalan normal, sudah bisa beraktivitas, sudah bisa melayani suami. Ya, Allah terima kasih, Engkau telah memberi kesempatan aku untuk hidup yang kedua, Engkau memberi aku seorang suami yang penyabar, dan mertua yang baik yang telaten merawat aku dan anak-anak selama aku sakit. Ya, Allah semoga Mas Aro tak berhenti untuk selalu mencintaiku, kami saling mengerti dan saling menyayangi. Masa sakit ini memberi banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kami petik. Ya, Allah Engkau Maha Pemurah, memberi kesempatan kami untuk saling menguji sampai seberapa kesetiaan dan kadar cinta kami. Dan cinta bukan lagi pelampiasan nafsu, tapi cinta  lebih dari menyayangi dan menumbuhkan kasih yang tertanam erat,  menggenggam,  dan akhirnya memberi kekuatan, mengokohkan rumah tangga kami. Ya, Allah semoga ini selamanya. Amin.

bersambung...

Kamis, 07 Oktober 2021

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (5)

 


Minggu ini banyak tugas yang harus aku selesaikan. Setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri, tugas sekolah menanti. mempersiapkan pembelajaran dan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan administrasi laboratorium , yang kebetulan minggu depan akan diadakan supervisi laboratorium IPA. 

Rasa kantuk terasa amat menyerang karena semalam memang kurang tidur yang dikarenakan harus berjaga. Suhu badan Huda 38 derajad yang membuatku khawatir dan terus mengkompres dahinya dengan air dan lap yang setiap saat kuganti bila kering. Merawat anak yang sakit mengakibatkan tubuh juga terasa sangat penat, dan aku harus minum obat sakit kapala agar pusingnya berkurang.    

Hari ini Jumat kebetulan jam mengajar lebih awal, pulang pukul 10.00 WIB sehingga aku bisa segera pulang dan memeriksakan Huda ke dokter. Aku khawatir panasnya belum reda saat tadi pagi kutinggal berangkat ke sekolah.Walau tadi pagi sudah minum obat, rasa pusing ini masih agak terasa. 

Setiba di rumah segera kutemui Huda, dan memang panasnya sudah mereda, meski agak pucat, karena  beberapa hari ini memang susah makan. Huda  kuboncengkan dengan motor, dan dia duduk di depan. Belum jauh kami berjalan, tiba-tiba dunia terasa gelap, Aku sudah tak sadarkan diri.

*****

"Dimana aku..?", tersadar dan kepala terasa sangat pusing.  

"Alhamdulillah..Ibu sudah siuman. Tenang bu..Ibu ada di rumah sakit", kata perawat di sampingku.

"Di rumah sakit? Dimana Huda? Tadi dia bersama aku.." Dan dunia terasa gelap tiba-tiba. Aku pingsan lagi. 

Sayup-sayup kudengar dua orang bercakap-cakap tentang  aku namun aku tak mengenalnya. Dalam bawah sadarku, dua orang ini berdebat mempermasalah bahwa aku belum saatnya bersama mereka. Entah mengapa, dan siapa mereka aku tak melihat wajahnya. Yang aku lihat wajah mereka tertutup hoodie (penutup kepala) jaket yang berwarna hitam. Lalu mereka pergi meninggalkanku dan masih terus berdebat tentang aku.

"Ibu, anak ibu ada di IGD. Tapi tidak apa-apa. Dia hanya luka ringan dan sudah pulang", kata perawat itu lagi.

"Alhamdulillah... Allah masih melindungi Dik Nung. Tadi sekitar pukul 11.00 saat kamu memboncengkan Huda, kamu jatuh dari motor saat melintasi di pertigaan jalan depan Balai Bahasa. Bu Kris yang melihat kamu jatuh dan menabrak seorang pengendara motor. Lalu dia yang membawamu ke sini". jelas Mas Aro.

"Jam sebelas tadi? Ini jam setengah lima. Jadi dari tadi aku pingsan, Mas? Huda betul tidak apa-apa?"

"Betul, Bu. Tadi saat saya mau pergi ke pasar, di perempatan SLB depan Balai Bahasa saya lihat ada kecelakaan. Setelah saya dekati ternyata Ibu sama Huda. Segera saya stop angkot yang lewat, saya suruh bawa kemari. Saya coba cari kontak di HP Ibu, barangkali ada nomor yang bisa saya hubungi. Dan Alhamdulillah saya menemukan nomor kontak Pak Aro", kata Bu Kris. 

"Terima kasih, Bu Kris", kataku lemas. Jadi aku nabrak orang? Siapa, Mas?"

"Tidak Bu. Orang itu tadi saya ajak ke IGD sekalian. Tapi kami berpisah karena dia masuk poliklinik umum, sedangkan Huda masuk poliklinik anak. Tetapi kelihatannya dia hanya luka ringan dan mungkin sudah pulang", jelas Bu Kris.

Bu Kris adalah tetangga kami di kompleks perumahan yang sama. Memang perumahan kami terletak di perbukitan di pinggiran kota. Jalan menuju pusat kota melewati pertigaan Sendangmulyo Raya, Jalan Kedungmundu dan jalan Fatmawati menuju ke arah RSU Ketileng memang terkenal angker. Banyak kejadian aneh terjadi di kawasan pertigaan itu. Maka bila orang melewati kawasan itu dianjurkan membawa doa atau sholawat dan membunyikan klakson. 

Antara percaya dan tidak, tapi kejadian ini benar-benar kualami sendiri. Kata Huda anakku, "Mama tadi naik motornya harusnya di jalur kiri, tapi mama ke kanan dan nabrak orang. Muka mama berdarah-darah. Lalu ada ibu-ibu yang nolongin aku."

bersambung...

Rabu, 06 Oktober 2021

Ku Yakin Prahara Akan Berakhir (4)


Awal mulai kehidupan yang lebih baik dan tertata aku rasakan setelah perjalanan pernikahan kami memasuki usia lima tahun kedua. Nuru Huda sudah berumur  tahun, mulai masuk sekolah TK A waktu itu. Usia dimana masa keemasan dalam mencapai perkembangan otak yang maksimal. 

Anakku tumbuh menjadi anak yang tampan. Garis-garis ketampanan wajahnya mulai kelihatan. Dari hidungnya yang mancung, kulitnya bersih, bola matanya hitam berkilat. Bila bicara wajahnya tersungging senyum. Memang dulu aku menginginkan anak kedua ini perempuan, dengan harapan melengkapi sulungku yang laki-laki. Tapi, saat dianugerahi anak kedua laki-laki, ya tidak mengapa. Laki atau perempuan sama, bagiku laki-laki nanti akan membahagiakan kedua orang tuanya terutama ibunya. Karena dalam ajaran Islam, laki-laki harus berbakti pada kedua orang tuanya.dan kehidupan kedua orang tunya menjadi tanggungan anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan harus berbakti pada suaminya. 

Huda bersekolah di TK Bhayangkara yang terletak di Aspol Ketileng. Dia memang ingin bersekolah di sana, karena di TK tersebut pada hari sabtu memakai seragam khusus yaitu seragam polisi. Inilah yang menarik buat anak-anak, karena TK ini memang punya branding bahwa polisi adalah sahabat anak, dimana satu bulan sekali diajarkan tentang kepolisian, misalnya pengenalan rambu-rambu lalu lintas, tata tertib berkendara, tugas pak polisi sebagai aparat kemanan negara dan lain-lain. Tentu dikemas dalam nuansa pembelajaran yang menyenangkan dan gembira bagi anak-anak. dengan tujuan anak-anak tidak takut dengan polisi. 

Huda saat bersekolah di TK Bhayangkara sangat rajin dan selalu bersemangat setiap hari. Apalagi bila hari sabtu tiba. Selalu ada yang diceritakan pada mamanya tentang pembelajaran hari itu. Dia anak yang pemberani dan pintar. Awal masuk sekolah pertama dia tidak usah ditunggui seperti kebanyakan anak-anak lainnya saat baru pertama kali masuk sekolah. Dia mudah bergaul dan banyak omomg. Ini yang membuatnya cepat menyesuaikan diri di tempat yang baru, dan ini sangat membantu aku, karena aku tak perlu repot harus ijin beberapa hari untuk menjaga anak saat hari pertama masuk sekolah.

Setiap pagi aku mengantar Huda ke sekolah karena kebetulan TK Bhayangkara searah jalan ke tempat mengajarku di SMP Negeri 20. Pulangnya aku langganan mobil anatar jemput yang memang melayani rute sekolah-rumah bagi anak-anak yang berekolah di sana. Pak Man adalah sopir mobil antar jemput di sekolah itu yang aku mintai tolong untuk menjaga dan mengantar pulang Huda, Dia orang sabar dan penyayang anak-anak hingga aku tak perlu khawatir akan keselamatan ankku saat aku bekerja. 


Selasa, 14 September 2021

Ujian Lima Tahun Perkawinan (4)

 


Sore itu Mas Aro pulang dari kerja. Tidak seperti biasanya, dia langsung mandi dan masuk kamar. Sengaja kupendam amarahku. Melihatnya masuk kamar, segera kususul sambil kubawakan teh hangat untuknya. Kebetulan Si Kecil Alif main ke tetangga sebelah, jadi aku ada waktu untuk menanyakan keadaan Mas Aro hari ini.

"Tehnya masih hangat, Mas. Silakan diminum. Hari ini tentu capek, aku pijit ya", tawarku membuka percakapan sore itu.

"Terima kasih, Dik. Alif kemana?" tanyanya.

"Main ke tetangga sebelah" ,jawabku sambil memijit kakinya. Kucoba memancing agar dia cerita. "Mas, tadi Pak Pri  main ke sini. Dia menanyakan kamu. Katanya sudah lama dia nggak ketemu Mas. Bukannya dia satu bagian divisi sama kamu, Mas."

Mas Aro menarik nafas panjang. Seakan-akan hendak melepaskan beban berat yang menghimpitnya. Ditatapnya mataku, tangannya menarik lembut tanganku. Tak ada kata yang diucapkannya.

"Tadi pagi ada debt collector dari BPR. Dia menagih ansuran. Katanya sudah 3 bulan ini ansuranmu nunggak. Ansuran apa ya, Mas. Kok aku nggak tahu kalau Mas punya hutang."

"Maafkan aku Dik Nung, aku nggak berani cerita. Aku enggak mau kamu kepikiran."

"Ceritalah padaku, Mas. Apapun itu kesulitanmu, aku siap mendengarnya. Kalau aku dengar dari orang lain, ini lebih menyakitkan. Karena aku merasa suamiku membohongi aku. Kamu enggak jujur padaku, Mas" suaraku mulai serak, mataku mulai berkaca-kaca.

"Aku akan cerita tapi tidak sekarang, Dik Nung. Tunggu sampai aku mampu untuk cerita, aku akan jujur semuanya."

"Kenapa nunggu nanti. Bukankah suami istri harus saling terbuka, agar tidak ada suudzon satu sama lain. Kenapa tidak sekarang saja kamu cerita. Untuk apa hutang uang di BPR. Untuk apa  Mas? Ada wanita lainkah? Apakah selama ini aku belum baik dalam melayanimu?" berondongku sambil terisak. Sakit rasanya suamiku telah berbohong. Dan kebohongannya terbongkar orang lain.

"Dik Nung kamu salah menilaiku. Tidak ada wanita lain di hati aku. aku hutang bank karena aku harus mengembalikan uang kantor yang telah aku pakai."

"La uang kantor itu kamu pakai untuk apa Mas? Sepuluh juta itu banyak. Buat foya-foyakah? Mengapa kamu lakukan itu, Mas. Kita butuh uang untuk kelahiran anak kita, kamu malah foya-foya. "

"Dengar dulu, Dik. Sabar"

"Bagaimana aku bisa sabar, Mas. Kamu hutang sepuluh juta tanpa sepengetahuanku. Jaminan sertifikat rumah kita. Selama tiga bulan sudah diPHK. Aku enggak ngerti Mas. Kenapa kamu sembunyikan semua ini dari aku. Kamu nggak cerita. Kenapa aku harus dengar dari orang lain?" Tangisku semakin terisak. Kukeluarkan semua isi yang menyesakkan dadaku. Ini adalah pertama kalinya aku bertengkar hebat dengan suami selama hampir lima tahun kami menikah.

Kulihat wajah Mas Aro tenang, sepeti tak ada masalah. Dia biarkan aku menangis. Setelah agak mereda tangisku, beberapa saat kemudian, diraihnya tanganku. "Maafkan aku, Dik. Aku akan cerita. Tapi aku minta kamu tenang, tidak usah emosi. Aku butuh saranmu", katanya lirih.

Ujian Lima Tahun Perkawinan (3)


 Waktu itu usia penikahan kami belum genap 5 tahun dan anakku yang pertama, Alif baru berusia 4 tahun. Dia sudah duduk di bangku TK. Seperti anak-anak yang lain pada umumnya. Dia anak yang pintar dan periang meski sedikit pemalu. Kesehariannya aku titipkan pada ibu saat kami bekerja. Karena kami tak sanggup untuk membayar pembantu ataupun pengasuh anak. Lagi pula kedua orang tuaku tidak keberatan bila aku menitipkan Alif pada mereka. Kedua orang tuaku sangat menyayangi cucunya, bahkan rasa sayangnya melebihi aku, anaknya sendiri. Bahkan aku rasakan mereka sangat memanjakan cucunya, sehingga kadang-kadang aku berselisih pendapat dengan ibu atau ayahku sendiri. Meski itu hanya persoalan sepele tentang Alif

“Dik.., dua hari besok aku ditugaskan keluar kota. Dik Nung jaga diri baik-baik ya. Kalau capek, tidak usah  jemput Alif. Dek Nung dan Alif tidur di rumah ibu saja. Menginap barang semalam dua malam, nanti kalau Mas sudah pulang, Mas jemput sekalian silaturahmi. Sudah lama Mas tidak mengunjungi ibu,” kata suamiku.

“Baik, Mas. Hati-hati. Mas juga jaga diri “ jawabku.

Kecupan lembut mendarat di dahiku. Ah…, dia begitu bisa merebut hatiku. Diraihnya kedua tanganku, dan dilingkarkan di pinggangnya. Sementara kedua tangannya lembut mengangkat wajahku perlahan. Matanya tajam menatapku menusuk hingga ke jantungku. Meski kami sudah lima tahun menikah, tetap saja ada desiran halus saat mata kami saling bertaut.

“Aku akan merindukanmu  sayang..”, bisiknya di telingaku.

“Cuma dua hari kan, Mas. Masak iya sih kangen” godaku sambil tesenyum.

“Jangankan dua hari. Satu jam saja tak dengar suara Dek Nung rasanya setahun lamanya kemarau dalam hati. Apalagi dua hari meninggalkan kalian bertiga”, rayunya sambil mengusap perutku.

Memang saat itu aku tengah mengandung anak keduaku. Aku berharap bayi yang kukandung ini sehat dan sempurna. Kuat dan cantik. Aku ingin bayi perempuan karena sulungku sudah laki-laki. Meski tak USG karena kami tak memiliki uang untuk periksa USG, dan aku menganggap itu tidak perlu. Yang penting tidak ada keluhan ibu dan anaknya, cukup bagiku periksa di bidan tak jauh dari rumah kami. Meski hidup kami pas-pasan aku selalu cukup memperhatikan gizi anakku. Cukup asupan gizi dan istirahat membuat bayi yang kukandung ini tumbuh baik dalam rahimku. Aku tidak pernah pingin hal-hal aneh seperti kebanyakan orang hamil, ataupun bermanja-manja. Aku masih bekerja. Justru ini menjadi penyemangat aku dalam bekerja.

Begitulah kehidupan rumah tangga kami. Aku mengabdi  dengan menjadi guru wiyata bakti di salah satu SMP negeri di kota, sedang suami bekerja sebagai sales salah satu CV bahan bangunan. Tentram dan bahagia aku rasakan meski dalam kesederhanaan, sampai suatu ketika seseorang datang menagih hutang ke rumah.

“Ansuran bapak sudah terlambat 5 hari dari tanggal jatuh tempo, bu. Ini ansuran yang ketiga. Denda keterlambatannya per hari  0,02%  dari pokok pinjaman”, kata debt collector.

“Ansuran apa ya mas?”

“Ansuran pinjaman atas nama Bapak Aro di BPR kami.”

“Ansuran pinjaman? Kapan dan berapa besarnya?” tanyaku penuh selidik dan sedikit bingung.

“Iya ibu, beberapa waktu lalu bapak mengajukan pinjaman ke BPR kami. Dan ini sudah masuk ansuran ketiga. Ansurannya  378 ribu rupiah.”

Dia memperlihatkan catatan berupa lembaran tagihan beberapa konsumen kreditor dari sebuah BPR. Melihat kop surat berlogo dan stempel dari BPR menunjukkan keasliannya bahwa suamiku memang mengambil hutang di bank itu. Namun aku masih ragu dan bertanya lagi.

“Memangnya bapak pinjam berapa juta mas?”, tanyaku.

“Sepuluh juta, bu”, jawabnya lagi.

“Sepuluh juta??”

Mataku terbelalak seketika. Bagai  disambar petir di siang hari yang terik. Kaget bercampur heran dan penasaran. Uang sebanyak itu untuk apa? Bagaimana dia bisa mendapatkannya? Dengan agunan apa dia berhutang? Kapan dia berhutang? Kenapa tidak bilang ke aku? Bagaimana kami harus membayarnya? Beribu pertanyaan berkecamuk di dadaku. Suamiku yang selama ini kuanggap jujur ternyata menyimpan kebohongan besar yang aku tak tahu. Tiga bulan yang lalu. Dan ini sungguh membuat hatiku sakit. Sakit sekali.

“Bu, bagaimana? Bisa dibayar sekarang?’’ suara debt collector itu membuyarkan lamunanku.

“E..  i..iya mas. Anu..maaf mas, hari ini kami belum bisa bayar. Mungkin dua hari lagi kami bisa bayar.”

“Baik bu. Kami tunggu dua hari lagi. Tapi ingat, denda tiap hari keterlambatannya akan dihitung. Jadi ibu jangan mundur lagi”, katanya dengan nada tinggi yang tidak enak di telinga. Diapun bangkit dari duduknya, merapikan kertas-kertasnya ke dalam tas.

“Permisi. Saya akan datang dua hari lagi.” Orang itu berlalu dari hadapanku  dan meninggalkan beribu pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan akal sehatku. Seketika itu juga aku ingat masih punya barang berharga yang masih kusimpan. Satu-satunya barang yang masih kumiliki dan tak pernah terpikir olehku sebelumnya. Ya. Sertifikat rumah.

Segera kuperiksa lemari pakaian tempat kami menyimpan dokumen-dokumen dan sertifikat rumah di sana. Ijazah, album foto, sertifikat sengaja aku masukan dalam box dan kuletakan di dalam lemari itu. Kubolak-balik lembar demi lembar mencari sertifikat rumah. Entah sudah berapa kali aku memeriksa tumpukan kertas-kertas dalam box itu namun tak kutemukan juga apa yang aku cari. Marah, jengkel, kecewa berkecamuk memenuhi rongga dada dan mengaduk-aduk perasaanku. Mengapa dia tak membicarakan ini padaku. Adakah orang ketiga terlibat? Pandainya dia bersandiwara seolah-olah tak ada masalah. Pandainya dia menutup rahasia ini. Aku mulai curiga. Jangan-jangan…Ah, kutepis bayangan buruk yang mulai muncul di otakku. Tidak mungkin Mas Aro melakukan ini.

bersambung…

Sabtu, 04 September 2021

Ujian Lima Tahun Perkawinan (2)

 Aku sudah tidak mengajar lagi di Akademi Analis Kesehatan Nusaputera. Kini aku sebagai GTT di SMP Negeri 20 Semarang. Gaji yang kuterima sebagai GTT guru SMP sangat jauh dibanding mengajar sebagai dosen di AAK. Lokasi SMP Negeri 20 yang jauh di pinggiran kota harus dua kali kutempuh dengan naik angkot. Karena aku tidak punya motor dan memang belum bisa naik motor.

Motor adalah barang yang sangat mahal bagi kami, dan kami belum bisa membelinya pada waktu itu, meski hanya motor tua sekalipun. Berangkat mengajar ke SMP Negeri 20 harus diantar Mas Aro, kadang-kadang janjian sama teman yang rumahnya searah untuk dijemput atau minta bantuan ayah mengantar dan menjemput bila selesai mengajar. Ayahku, sangat menyayangi aku. Beliau selalu memberi semangat, selalu memberi nasihat dan membesarkan hatiku untuk terus berjuang, jangan menyerah. Karena “urip iku yo kudu urup”  filosofi Jawa yang dalam Bahasa Indonesia adalah “hidup itu harus menyala” yang artinya hidup itu harus berjuang, memberi obor, memberi manfaat pada sekitarnya.

Mengajar anak-anak SMP sangat berbeda jauh dengan mahasiswa. Di sini aku harus belajar bagaimana membawa kelas anak-anak usia belasan yang rata-rata berasal dari kekuarga ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan dari orang tua mereka bekerja sebagai buruh pabrik, tukang batu, penjaga toko dan pedagang kecil di pasar. Memang lokasi sekitar SMP Negeri 20 adalah pusat LIK (Lingkungan Industri Kecil) Kota Semarang dan sekitar Pasar Genuk yang merupakan akses perbatasan Kota Semarang dan Kota Demak. Pemukiman di daerah ini sangat padat dengan mobilitas penduduk yang padat pula. Banyak anak-anak usia belasan yang diminta bekerja membantu perekonomian keluarga, sehingga mereka cenderung hanya mampu melanjutkan pendidikan sampai lulus SD atau SMP. Mereka memang tidak mampu untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi karena faktor biaya atau memang pengaruh lingkungan sehingga  tergiur untuk mencari uang daripada belajar.

Lokasi SMP Negeri 20 yang berada di daerah utara Kota Semarang, dimana latitude daerah itu rendah sehingga bila musim hujan selalu banjir. Selain banjir sering mengalami rob, karena pengaruh pasang naik air  laut di sekitarnya. Rob yang hampir tiap hari ini terjadi sudah menjadi ‘ikon’ bahwa SMP Negeri 20 sering dicap sebagai daerah banjir.

Air yang menggenang dan bercampur dengan limbah industri menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Saat pertma kali datang di SMP Negeri 20 aku kaget dan ngeri melihat kondisi kelas yang kebanjiran dan itu sudah menjadi pemandangan yang biasa di sana. Apalagi jalan raya Kaligawe yang ditinggikan hampir satu meter karena memang jalur utama pantura, menyebabkan bangunan di sekitarnya tenggelam. Aku hampir tidak kerasan mengajar di SMP Negeri 20, selain kondisinya sering kebanjiran dan input siswanya di bawah rata-rata, gaji yang kuterima jangan-jangan habis untuk beli obat gatal, pikirku. Tapi aku membutuhkan pekerjaan, aku harus membantu suami mencari nafkah untuk membeli susu anakku dan membayar ansuran rumah. Maka tawaran mengajar di sana aku terima, sambil melamar kerja yang lain. Toh sore harinya aku masih bisa memberi les privat yang cukup lumayan honornya.

bersambung …

Ujian Lima Tahun Perkawinan

 

Setahun mengambil Akta IV di Unnes kulalui begitu beratnya. Apalagi saat-saat usia kandunganku hampir memasuki usia 8 bulan Tapi tekad kuat untuk mendapat SIM mengajar memacu semangatku untuk bisa menyelesaikan studi ini. Meski kadang-kadang ijin tak mengikuti kuliah, namun aku berharap masih bisa ikut ujian dengan absensi kehadiran minimal 75% dan beberapa dosen mungkin iba melihatku datang ke kampus dengan perut membesar, kalau tidak diijinkan. Begitu juga saat PPL di SMAN 11, dosen pembimbing memberi kelonggaran dan kemudahan untuk praktik mengajar di sna. Dan Alhamdulillah aku lulus menempuh studi Akta IV dengan nilai baik. Tentu ini suatu anugerah yang tak ternilai dan merupakan rezeki buat Alif anakku. Usaha dan kesabaranku berbuah manis, anakku lahir dengan selamat dan aku juga lulus Akta IV.

Namun kebahagiaan yang kurasakan tak lama. Tahun itu 1998 merupakan tahun kegembiraan dan juga tahun kesedihan. Mengapa tidak, tahun itu Indonesia mengalami krisis moneter (krismon). Krismong berakibat nilai rupiah anjok dan meningkatnya hutang luar negeri yang harus segera dilunasi. Krismon ini berdampak ekonomi rakyat morat-marit, termasuk imbasnya ke Akademi Analis Nusaputera tempat aku mengajar. Di tahun 1998 AAK Nusaputera hanya menerima satu kelas yang tak lebih 30 mahasiswa. Sementara itu kegiatan operasional tetap berjalan, sehingga hal ini menimbulkan kerugian pihak yayasan. Karena tidak bisa menutup saldo minus dan tidak ada subsidi silang dari jenjang pendidikan di bawahnya (SMA-TK) maka pihak yayasan pun menutup operasional akademi tersebut sejak tahun 1998 dan hanya menyelesaikan hingga angkatan tahun 1998 lulus semua.

Keputusan pihak yayasan ini tentu sangat aku sayangkan. Dimana ilmu yang baru kuterima setelah lulus Akta IV belum banyak kupraktikkan di kelas dan aku kehilangan pekerjaanku sebagai pengajar di yayasan itu. Tidak hanya aku saja yang sedih dan kecewa dengan PHK dari yayasan ini, teman dosen dan karyawan AAK lain juga sedih, tapi harus bagaimana lagi. Pihak yayasan tidak mampu untuk menggaji kami. Kami diberi pesangon sebesar gaji yang diterima dikalikan masa kerja dan beberapa karyawan dialihtugaskan ke jenjang di bawahnya TK hingga SMA.

Meski PHK ini membuatku sedih, namun masih ada harapan bagi aku. Dengan berbekal ijasah sarjana dan Akta IV aku masih bisa mencari pekerjaan menjadi guru di sekolah lain. Tak begitu lama aku akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai guru tidak tetap (GTT) di SMP Negeri 20 Semarang, meski honor yang kuterima sangat jauh dari sebelumnya, namun aku aku patut bersyukur masih bisa mendapat rezeki. Kata ayah waktu itu, “Apapun itu yang namanya rezeki harus kita syukuri. Rezeki banyak belum tentu bisa mencukupi kebutuha.  Rezeki kecil, barokah bisa cukup bila kita pandai mengaturnya. Kalau kita mau berusaha disitu ada jalan.”

Menjadi GTT di SMP Negeri 20 atau istilahnya menjadi tenaga honorer atau wiyata akan memberi kesempatan kita untuk diangkat menjadi CPNS, kata teman, pada saat itu. Siapa tahu ada kebijakan dari pemerintah untuk diusulkan menjadi TPHL atau tenaga honorer daerah dengan gaji UMR. Sore harinya aku masih bisa mengajar di Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) Theresiana dan membuka les privat. Aku berusaha untuk tegar dan tetap semangat, meski kondisi keuangan tidak stabil.

bersambung….

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (6)

Sepuluh hari aku harus dirawat di RSU KMRT Wongonegoro. Meski masih agak pusing dan harus belajar menjaga keseimbangan tubuh, dokter sudah m...