Rabu, 25 Agustus 2021

Saking peraya dan menjaga (3)


Pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua, adalah yang aku inginkan. Hari-hari pertama yang kulalui bersama Mas Aro sangat menyenangkan. Meski kita tinggal di gubuk yang sederhana, tapi Alhamdulillah gubuk itu hasil keringat aku bekerja sebagai dosen di Akademi Analis Kesehatan Nusaputera selama 2 tahun. Meski uang yang kukumpulkan cukup untuk DP rumah, namun aku bahagia bisa menempati rumah sederhana milik kami. Meski letaknya jauh di pinggir kota namun semuanya itu aku syukuri karena sejak awal memang aku menyadari kita mampunya hanya kredit rumah yang sederhana dengan harga yang murah. Dengan suasana alam pedesaan yang masih alami, masih sepi, semakin menambah kebahagiaan kami, karena lingkungannya yang asri dan segar di daerah pegunungan.

Hari-hari terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan. Kemana-mana kita selalu bersama, makan bersama, jalan-jalan berdua, bercanda berdua. Ah…rasanya dunia milik kita berdua. Mungkin inilah masa pacaran kami setelah menikah. Hari-hari kita lalui penuh kemesraan, lengket dan lengket. Tak banyak aktivitas yang kita lakukan, Sore hari setelah pulang kerja, kita duduk-duduk menikmati udara sore sambil ngobrol dan canda sana sini. Setelah sholat Isya, nonton TV sebentar lalu tidur. Mungkin masih pengantin baru ya. dan belum punya momongan, jadi kita nikmati aja masa pacaran ini sebelum nanti masa repot dengan urusan anak.

Hari-hari awal pernikahan aku banyak belajar, banyak menyesuaikan diri.  Belajar menjadi istri yang baik, yang menyenangkan suami. Dalam Al Qur’an juga dijelaskan surganya laki-laki adalah memiliki istri yang sholehah. Aku berusaha menjadi istri yang sholehah. Rutinitas pagi seperti menyediakan sarapan, membereskan rumah sebelum mengajar biasa aku lakukan. Apalagi sejak kecil orang tua sudah mengajarkan untuk mandiri dan membantu pekerjaan rumah. Kadang-kadang suami juga membantu aku. Mungkin tidak tega melihat aku sudah bekerja, masih harus meyelesaikan pekerjaan rumah. Atau, memang dia nggak punya kesibukan, jadi membantu tugas rumah, atau memang dia sayang padaku ya. Entahlah. He..he..aku yang kegeeran ya.

Mencuci dan menyeterika sudah menjadi kebiasaan baruku. Memasak  dan mencoba resep baru menjadi hobiku sekarang. Aku banyak belajar pada ibu bagaimana mengatur rumah dan mencoba resep masakan ibu. Ternyata suami suka masakanku, dan selalu memujiku karena masakan yang kumasak enak dan bervariasi katanya. Tentu ini aku anggap bukan pujian bohong memang kenyataannya resep masakan dari ibu memang pas. Ibu memang jago masak.

Kata orang tua, calon suami atau istri itu harus dilihat bibit bobot bebetnya. Bibit adalah garis keturunannya, dari mana dia berasal,  orang tua dan keluarganya bagaimana. Yang kedua bobotnya, kualitas diri baik jasmani dan rohaninya,  siapa dia, pendidikannya, apa pekerjaannya, apa pangkatnya. Bebet adalah cara berpakaian, artinya dari cara berpakaian atau penampilannya akan menunjukan kualitas dirinya dan status sosialnya. Apakah kriteria ini masih berlaku di zaman sekarang? Bagi aku kriteria itu tetap berlaku meski tidak semuanya aku setuju. Bukankah jodoh, rezeki, kematian dan kelahiran itu rahasia Allah? Bisakah kita menolak maut yang datang menemui kita atau bisakah kita minta jodoh yang kaya, ganteng, baik, punya pangkat tinggi, keturunan ningrat, tidak kan? Kita tidak bisa memilih, namun kita berusaha dan berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Aku yakin, wanita sholehah akan berjodoh dengan laki-laki sholeh, orang baik akan dipertemukan dengan jodoh yang baik. Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah, maka urusan jodoh aku pasrahkan sama Allah. Tiap malam dalam tahajudku, aku mengadu pada Allah semoga aku diberikannya laki-laki yang bisa menjadi imam bagi aku, bapak yang bertanggung jawab bagi anak-anakku, dan suami yang mengayomi, suami yang menjadi panutan dunia akhirat. 

Saling percaya dan menjaga (2)

 

Hingga saat ini aku masih belum percaya pada keputusanku sendiri, bagaimana aku bisa menerima lamaran mas Aro yang menginginkan aku jadi istrinya. Selama ini kami belum pernah pacaran, dan aku baru mengenalnya setahun yang lalu. Ketika tiba-tiba dia mengajak menikah, aku mengiyakan, apakah ini merupakan keputusan yang tepat ? Apakah jawaban “iya” dikarenakan aku yang pernah kecewa dengan apa yang pernah kualami dulu? Dua kali pernah menjalin cinta, tapi tak pernah berumur lama, karena dia tak serius. Dan sekali pernah pacaran dengan seorang laki-laki, cukup lama dan kita sudah saling mengenal keluarga masing-masing, tapi di tengah jalan dia mundur, karena tidak mendapat restu dari ibunya.

Kegagalan masa lalu membuat aku menutup diri dari terhadap laki-laki yang mencoba mendekati aku. Pelarianku adalah aku harus selesai kuliah, menyelesaikan studi, tak usah berpikir untuk menikah apalagi pacaran. Bagiku menyelesaikan kuliah tepat waktu dan segera mendapatkan pekerjaan adalah obsesiku saat itu. Karena aku ingin membahagiakan bapak dan  keluarga. Bapak yang telah membanting tulang mencari nafkah demi menghidupi keluarga dengan 4 anak. Sementara ibu membantu berjualan makanan kecil yang dititipkan di warung, demi menambah income keluarga.

Bapakku adalah seorang pegawai bank swasta, yaitu Bank Umum Nasional, sebelum akhirnya bank tersebut merger menjadi Bank Mandiri di masa krisis tahun 1998. Meeski hanya lulusan SMP dengan beberapa keterampilan dari kursus dan ijasah yang dimiliki, banyak orang mengira bapak adalah lulusan SMA atau pernah kuliah. Bapak memang hanya memiliki ijasah SMP, tapi cara berpikir dan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas kantor menjadikannya menjadi orang kepercayaan nomor dua setelah Kabag di bagian  ekspor impor bank itu. Bekerja di bank itu menjadi kebanggaan bagi bapak, meski hanya lulusan SMP. Maka bapak punya cita-cita semua anaknya harus berpendidikan tinggi, setidaknya sarjana, agar kelak bisa mendapatkan pekerjaan dengan kedudukan yang bagus di suatu perusahaan.

Bapak memang tidak mewariskan harta, tapi bapak mewariskan ilmu dan mengutamakan pendidikan. Dengan ilmu dan sekolah yang pintar kelak kamu akan mendapatkan harta. Itulah kata-kata yang selalu ditanamkan ke kami anak-anaknya. Oleh sebab itu bapak pingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikn tinggi, tidak seperti beliau. Sungguh mulia cita-citanya dan sungguh menjadi teladan kami. Beliau adalah sosok kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan penyayang pada anak-anaknya.

*****

“Kamu sudah mantap menjatuhkan pilihanmu pada Aro, Nung?” tanya bapak waktu itu saat aku minta izin menikah dengan Mas Aro.

“Sudah kamu pikirkan baik-baik? Dia belum punya pekerjaan tetap dan pendidikannya hanya lulus Madrasah Aliyah. Sedang kamu lulusan perguruan tinggi ternama dengan IP yang cukup bagus. Apa kamu nggak menyesal nantinya? Bisakah dia membahagiakan kamu hanya dengan bermodal cinta?”.

Itu serentetan pertanyaan yang diajukan bapak kala itu. Ibu juga tidak menyetujui rencanaku menikah dengan Mas Aro. Selain kurang bibit bobot bebetnya, aku juga belum lama mengenalnya. Ibu khawatir kelak hidupku akan susah. Meski demikian kedua orang tuaku tak bisa menahanku karena ini keputusanku dan kemauanku dan mereka tidak bisa mengatur hidupku. Mereka bijaksana dalam memberi kebebasan pada anak-anaknya untuk memilih dan menjalani kehidupan masa depannya. Mereka akan selalu mendoakan semoga anak-anaknya bahagia, dalam lindungan kasihNYa.

“Insya Allah pak,bu”. Itu yang bisa aku katakan pada mereka saat itu. Doa dan restu kalian yang selalu aku harapkan. Semoga aku bahagia hidup bersama suami pilihanku, doaku dalam hati.

Senin, 23 Agustus 2021

Saling percaya dan menjaga

Mengarungi biduk rumah tangga, menyatukan dua hati yang berbeda, dengan latar belakang kehidupan sosial budaya yang berbeda, dengan karakter masing- masing yang telah terbentuk sekian tahun butuh penyesuaian yang tidak gampang. Butuh saling pengertian, saling memahami, dan rela untuk mengalah. Kedua insan yang telah terpaut hati dan mencintai dengan tulus akan mudah melewati masa-masa sulit di lima tahun pertama usia perkawinan. Namun bila mementingkan ego masing-masing, tentu akan sulit melewati ujian yang datang dan yang ada perbedaan, perselisihan yang akan menghancurkan mahligai yang mereka bangun.

Sore itu Nunung duduk melamun di depan teras rumah. Rasanya hampir tak percaya bahwa sudah sebulan ini dia menikah dengan Aro, suami pilihan hatinya. Dia teringat  kala itu Aro melamarnya, ketika dia  selesai belajar mengaji bersama Aro. Kala itu memang Nunung adalah santri yang terakhir pulang. Teman-teman santri putra dan putri sudah pulang. Kebetulan malam itu gerimis, yang datang mengaji hanya beberapa saja dan mereka langsung pulang begitu selesai mengaji. Kini tinggalah dia sendiri, berdua saja dengan Aro, di ruang depan tempat Aro guru mengajinya mengajar.  Sementara di luar masih gerimis, dan beberapa santri masih menunggu.

“Nung, kemarilah. Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu.” kata Aro. Suaranya yang tenang, seakan membius di telinga Nunung. Ah, suara itu begitu berkharisma, begitu lembut, suara yang selalu melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Alangkah bahagianya wanita yang mendampingi mas Aro. Tentu rumah tangga mereka jauh dari keributan selalu damai penuh cinta kasih dan harmonis. Keluarga yang saling mencintai dan saling menyayangi dalam satu akidah yang sama. Tidak seperti dirinya, meski hidup dibesarkan dalam keluarga yang  bahagia, berkecukupan, namun berbeda akidah. Dia dan kakak memeluk Islam, sedang kedua orang tua dan kedua adik laki-lakinya menganut akidah yang lain. Meski saling bertoleransi, namun tidaklah sama dalam menjalankan agama. Apalagi pada saat merayakan hari besar agama masing-masing. Ah, mungkinkah suatu saat nanti aku dipertemukan oleh Allah  dengan seorang laki-laki yang seiman?

“Nung, coba ke sini sebentar” panggil Aro lagi.

“Eh..Iya mas.”  Nunung tersentak kaget. Panggilan Aro membuyarkan lamunannya. Berbegas Nunung duduk di kursi menghadap Aro. Kini pandangan mata Nunung beradu pandang dengan tatapan Aro.

“Kamu melamun ya.” , goda Aro.

Ah…, senyum itu menggetarkan hatiku. Aneh. Ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir lembut di relung hati, tatkala laki-laki di depanku tersenyum dan agak sedikit nakal menggoda dengan kerlingan matanya. Rupanya sedari tadi Aro memperhatikannya.  Dan, kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang kala pandangan kami bertemu? Ya Allah, pertanda apakah ini? Dan aku tak sanggup berlama-lama membalas tatapannya. Bukankah pandangan pada detik pertama itu rezeki dan selanjutnya dosa? Kucoba alihkan pandanganku. Pura-pura kurapikan hijab yang menutup wajahku. Sambil tertunduk dan tersipu, aku mencoba menetralkan debaran yang kurasakan dengan tersenyum tipis.  Mungkin bila bercermin, mukaku memerah karena malu.

“Nung..kamu cantik.” Suara Mas Aro sangat pelan, setengah berbisik. Kudengar dia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mengatakan ini. “Setelah hampir setahun kamu belajar mengaji di sini, kemajuanmu sangat pesat. Dan kamu rajin serta mau berlatih mengucapkan lafal dengan benar. Nung, selama kamu belajar diam-diam aku sering memperhatikan kamu,  maaf. Saya ingin mengenalmu lebih jauh. Bolehkah?”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi. “Bukan sekedar teman atau antara santri dan gurunya, lebih dari itu…aku ingin melamarmu, menjadikanmu pendampingku. Memang ini terlalu cepat. Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Apapun jawabanmu, aku siap menerimanya. ”

Bagai disambar petir. Betapa kata-kata itu bak membawa hati ini berada dalam taman bunga yang bermekaran, harum dan indah dipandang mata.  Hatiku serasa melayang, ingin rasanya kujawab sekarang, tapi tidak, dia memberi waktu aku untuk berpikir. Andai saja dia tahu, aku juga mulai ada tanda-tanda suka padanya. Bukan sebagi santri dan guru, tapi suka antara seorang wanita dan laki-laki. Ya Allah, benarkah apa yang kurasakan ini. Inikah jawaban dariMu pada doa-doa yang selama ini aku panjatkan? Aku hanya ingin bertemu dengan jodohku, seorang laki-laki yang bisa menjadi imamku di sepanjang hidupku. Semoga dia adalah seorang laki-laki yang baik yang Engkau hadirkan untukku.

Malam itu adalah malam sejarah, awal aku mengenal Mas Aro, laki-laki yang sekarang menjadi suamiku. Meski baru sebentar mengenal, hati ini sudah mantap ingin menjalin hubungan lebih serius. Meski dia belum pernah mengucapkan kata cinta, namun dari sikap dan perhatiannya, aku bisa merasakan lebih dari sekedar ucapan cinta. Dia sangat menyayangiku, dengan caranya, dia sangat mencintaiku dan selalu berusaha membuatku bahagia. Meski dia tidak bisa romantis, tidak pernah merayu, tapi aku tahu dia sangat mencintai aku. Terima kasih ya Allah, hari-hari kami begitu indah meski tanpa pacaran, dan tak menunggu lama, 6 bulan berikutnya dia mengawiniku.

Di depan Om Tono adik kandung bapak, Mas Aro mengucapkan akad nikah pada bulan Agustus. Dan hari itu adalah awal perjalanan panjang kami mengarungi lautan kehidupan berumah tangga dengan berbekal cinta, rasa percaya dan saling menjaga. Tak pernah terbayangkan akan hantaman badai, dan pernak-pernik masalah yang menghadang. Bismillah…aku yakin ini sudah kehendakNya, karena aku mencintainya karena Allah dan aku yakin rencana Allah lebih indah.

bersambung…

Minggu, 22 Agustus 2021

Bahkan yang terhebat dulunya adalah seorang pemula..

Semua yang terjadi pada kita adalah hasil dari usaha dan doa. tidak ada sesuatu yang instan, tiba-tiba kesuksesan di depan mata tanpa perjuangan dan doa. Meski nasib dan rizeki sudah ada yang mengatur, rezeki tidak akan tertukar, dan rezeki sudah tertulis sebelum kita lahir, namun kita diwajibkan untuk berikhtiar, mencari rezeki yang “bertebaran “di bumi Allah. Artinya kita wajib berusaha untuk mengubah nasib kita menjadi lebih baik, tidak bermalas-malasan, berusaha semaksimal mungkin, dan kita pasrahkan hasilnya pada Allah, Sang Pemberi Rezeki.

Jangan ragu dan takut untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu kebaikan dan yakin bila semua dikerjakan dengan sungguh-sungguh, semua akan terselesaikan, teraih dan usaha tidak mengingkari hasil. Man jadda wajada.

Sebut aja namanya Aro, seorang pemuda biasa, tamatan Madrasah Aliyah di kampung. Merantau ke kota besar dengan berbekal ijasah tanpa punya keterampilan. Namun dia seorang yang alim, pernah mondok di ponpes untuk belajar ilmu agama. Di perantauan dia hidup menumpang di salah satu kerabatnya. Karena tak punya keahlian apa-apa dia bekerja serabutan, apa saja asal halal dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sore hari dihabiskannya dengan mengajari anak-anak usia belasan di sekitar tempat dia tinggal  dengan belajar mengaji Qur’an. Saat awal dia mulai mengajar, hanya satu dua anak yang datang, itupun tak lebih dari 15 menit, karena memang anak-aak usia belasan itu enggan untuk belajar mengaji, mereka lebih senang bermain dengan teman sebaya atau menonton TV. Latar pendidikan dan sosial ekonomi warga sekitar memang ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan dari mereka adalah buruh pabrik dan tenaga harian lepas, Namun ini tak mengurangi semangat Aro untuk mengajarkan dan mensiarkan agama, seperti amanah ibunya. Meski banyak juga sindiran dari tetangga atau pemuda sebayanya yang menganggapnya sok alim. Apalagi di wilayah tempat dia tinggal banyak pemuda kampung yang bermabuk-mabukan dan berjudi. Tak jarang diiringi dengan perkelahian dan permusuhan. Justru ini menjadikannya semangat dan bertekad akan mengubah kampung dimana dia tinggal menjadi lebih baik, lebih agamis, menjalankan ibadah menjauhi kemungkaran.

Tahun pertama hanya tak lebih dari 10 orang yang mengaji pada Aro, dan Aro tetap mengajari anak-anak mengaji dengan telaten. Sambil menyisipkan nilai-nilai karakter dan perilaku yang mendidik buat kehidupan anak-anak santrinya. Tahun kedua jumlah anak-anak yang mengaji bertambah, tak hanya anak-anak usia SD, anak-anak remaja pun banyak yang belajar mengaji padanya. Sedikit demi sedikit cibiran dan cemoohan orang berkurang dan mereka memberi respect pada Aro. Bahkan satu demi satu yang dulunya membenci dan menghalangi kegiatan Aro, kini  mendukung dan mau belajar ilmu agama pada Aro. Memang,  tekad dan kemauan yang keras diiringi doa akan membuahkan hasil.

Selain kesuksesan dalam mengajar ilmu agama, sikap Aro yang ringan tangan dalam membantu siapa saja yang membutuhkan tenaganya, membuat Aro disenangi warga, dan menjadikannya pengurus Ikatan Remaja Masjid di wilayah itu. Setiap ada kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial lainnya, Aro dan santri binaannya ikut berperan aktif, menggalang persatuan dan bergotong royong Cita-citanya memakmurkan masjid dimana dia bisa mengabdikan dirinya untuk mensiarkan agama Islam.

Kini setelah hampir empat tahun Aro tinggal bersama kerabatnya di kampung itu, salah seorang santri putri menarik hatinya dan dipersuntingnya. Singkat cerita, mereka menikah hidup berbahagia, karena sejatinya cinta tiada mengenal pangkat dan kedudukan. Bila dipertanyakan, Aro hanya seorang pemuda desa, dengan ijazah MA dan lulusan pondok pesantren di sebuah kota kecil telah mampu menawan hati seorang wanita yang cantik, berpendidikan sarjana, dan dilihat dari segi ekonomi lebih mapan. Tapi jodoh tiada yang bisa menyangka, karena itu adalah rahasia Illahi, dan berkat usaha kerasnya serta ridlo dari ibunya, membawanya hidup bahagia.

bersambung....

Belum Puas...Mewarnai Duniaku

     Di perjalanan lebih dari setengah abad...rasanya baru setitik aku menorehkan tinta, menggoreskan pena, menulis apa yang bisa aku tulis, merekam apa yang ada dalam pikiranku menjadi kata yang mewakili benakku. Rasanya tak mungkin semua terucap, terungkap lewat tulisan, meski sudah mencoba untuk menuang semuanya. Tapi biarlah..meski tak tak tuntas, setidaknya aku pernah ada lewat apa yang kutulis. Meski mungkin tak seindah penyair atau pujangga, meski tak serenyah bak keripik singkong, namun tak terlambat bila diri ini ingin berbagi, ingin buktikan bahwa sebenarnya diri mampu dan bisa memberi sedikit kisah atau pengalaman hidup yang akan menjadi "legacy" untuk anak cucu nantinya. Dan alangkah bahagianya bila tulisan ini menjadi musahabah untuk mereka.Meski bukan ulama, hanya seorang guru..tak apalah. Semoga ilmu yang telah aku tanam menjadi buah dan berkembang menjadi ladang amal buat akhiratku kelak. Amin.

    Tergelitik, tertantang, penasaran, mengapa tidak ikutan ajang menulis 40 hari. Ini kesempatan yang mungkin tak terulang lagi. Menulis dengan tema Karena Menulis Aku Ada sungguh pas dan sayang terlewatkan. Apalagi sudah pernah ikut tantangan Lomba Blog 28 hari. Wah...sayang kalau gak ikutan. Yang penting tulis aja, tak usah menunggu ide masuk, tak usah ragu, tulis aja apa yang ada di depanku, keseharian apa yang kulalui, di rumah, di tempat kerja, di perjalanan, atau bisa juga catatan kecil saat bercanda dengan keluargaku. Toh tak akan ada yang protes. Anggap saja ini diary gratis yang bisa setiap saat kuwarnai halaman demi halaman, lembar demi lembar ..yang nantinya terwujud "mahkota" buku untukku. 

Akhirnya, meski sedikit terlambat kuputuskan tekad ikutan ajang ini. Sambil menyelam minum air..pikirku. Ingin membuat buku tentang perjalanan hidup yang sudah memasuki usia setengah abad, belum juga menuliskannya dalam buku biografi. Andai apa yang menjadi obsesiku, menulis autobigrafi..mungkin akan membawa makna dan rasa mendalam yang tak ternilai...bagaimana mengarugi sekian waktu perjalanan, suka duka, meraih cita dan cinta...yang mungkin sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi aku. Karena ini hidup aku, aku yang mewarnainya...meski belum puas pada apa yang telah kudapatkan, apa yang telah kuraih, setidaknya aku cukup berbangga dan mempersembahkah yang terbaik yang bisa kulakukan untuk duniaku.

    Pepatah "Belajar sepanjang hayat" wajib kuimplementasikan. Tak hanya sebatas embel-embel yang mungkin bertujuan agar keren semata, tapi ini akan memotivasi diri untuk melakukannya. Dan rasanya akan menipu diri sendiri bila bermalas-malas dalam hidup, mensia-siakan waktu. Karena waktu tak mungkin berjalan mundur. Karena waktu akan dipertanggujwabkan kelak oleh Sang Pemberi Waktu. Karena waktu adalah uang yang akan membawa kebahagiaan bila kita punya banyak waktu yang tak terbuang, dan padat akan semua tindakan kebaikan. Setiap detik yang berlalu semoga memberi catatan amal yang baik ...karena besok semua akan diputar kembali rekaman video kehidupan selama di dunia, dengan lengkap tak terlewat sedikitpun oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan.

    Aku belum puas pada apa yang telah kuraih, pada apa yang telah kudapat, pada apa yang telah kubuat, pada duniaku. Aku ingin lebih  bisa melakukan sesuatu untuk mewarnai hidupku...sesuatu yang berkesan dan memuaskan...Namun saat ini aku belum puas...aku masih ingin mewarnainya, mencoretnya, melampiaskan nafsuku...geloraku lewat literasi, lewat narasi. Menulis dan belajar tentang apa saja yang ingin aku tulis dan ingin aku tahu. 




Selasa, 17 Agustus 2021

Melangkah Terus Bersama Pejuang Literasi

 

Melangkah Terus Bersama Pejuang Literasi


Ibarat seorang anak yang baru lahir, umur satu tahun baru mulai belajar berjalan…namun dia belajar dan belajar. Masa-masa keemasan dimana dia akan terus belajar, menyerap ilmu dengan begitu pesatnya. Inilah YPTD. Meski baru setahun, kiprahnya dalam memajukan literasi Indonesia sungguh sangat luar biasa. Awal berdirinya  bertujuan membantu para penulis untuk bisa menerbitkan bukunya dengan biaya gratis, hingga kini tercatat sudah ratusan buku yang dicetak berISBN dan dipersembahkan untuk bangsa dengan disimpan di perpusnas.

Meski dalam belajar berjalan setapak demi setapak dan tertatih tidak mengurangi semangat, bahkan terus berupaya memberi pelayanan yang terbaik. Terbukti banyak dukungan dari relawan yang membantu dengan ikhlas dengan bayaran 2M (makasih makasih) dan puluhan penulis yang mengantri untuk mencetakkan naskah yang dimiliki, ke penerbit YPTD. Setiap bulan paling tidak 3-5 buku siap mendapat nomor ISBN. ini bisa dilihat dari WAG Penerbit Buku YPTD Ikhlas, dimana Pak Ajinatha selalu memposting cover buku terbaru yang beliau design. Dan inilah salah satu yang memacu kita para penulis untuk berlomba menulis dan menulis, meninggalkan kemalasan dan ikut mengapresiasi bila teman kita mendapatkan mahkotanya.  Wow..suatu motivasi yang mungkin tak pernah terpikirkan tapi terasa, apalagi bagi penulis pemula seperti saya.

Selain kuantitas buku yang sudah cukup banyak diterbitkan, kualitas buku yang diterbitkan pun tidak kalah bagus. Bila dilihat dari judul buku yang menarik dan “mengundang” untuk dibaca dan dimiliki, jumlah halaman buku cukup banyak (karena YPTD memberi persyaratan minimal halaman) tentu bukan sembarang penulis yang tergabung dalam grup WA Penerbit Buku YPTD Ikhlas. Penulis bisa berlatar belakang seorang pendidik, akademisi, wartawan, Tidak hanya buku fiksi dan non fiksi saja, buku ilmu pengetahuan populer juga pernah ditebitkan. Wow..sungguh keren dan menginspirasi buat para penulis untuk tetap setia melangkah bersama YPTD. Dan YPTD tidak pernah mematok harga pada penulis untuk bisa menerbitkan buku di sana, ini sungguh amal yang akan terus mengalir, memfasilitasi tanpa membebani penulis  dan patut diacungi jempol.

Selamat ulang tahun pertama YPTD, teruslah mencerdaskan bangsa, menggiatkan literasi, membantu penulis menggapai “mahkotanya”, mencetak penulis-penulis baru, menggelar webinar dan bedah buku, sharing kepenulisan, dan membuat terobosan baru dengan menggelar lomba pada event tertentu. Semoga semakin bertambah usia semakin mantap dalam melangkah, semakin luas berwawasan, semakin banyak mencetak buku yang bekualitas.

YPTD  bisa menggalang dana dengan mengadakan bursa buku murah tapi berkualitas dari buku-buku yang pernah diterbitkan di YPTD pada acara tertentu (misal Dies natalis sekolah/instansi/oganisasi) penulis bisa membantu YPTD dengan mengenalkan dan mempromosikan YPTD ke teman lainnya yang akan mencetak buku, dan YPTD bisa mrngadakan lomba-lomba dengan mencari donatur atau sponsor.

Terima kasih YPTD. Terima kasih pejuang literasi. Semangat terus berkobar, menggelorakan. Berkarya dalam tulisan. Kami para penulis siap mengiringi langkahmu.

.

Merdeka Berkarya Berbagi Informasi

 

Merdeka Berkarya Berbagi Informasi

    

Setahun sudah YPTD berdiri. Para tokoh pendiri yayasan yang bergerak di bidang sosial literasi ini berkomitmen mencerdaskan bangsa lewat literasi dimana para penggunanya dari berbagai kalangan, baik dari akademisi, pelajar mahasiswa, pebisnis, entertein bahkan mungkin politikus, atau hanya seorang ibu rumah tangga.
     Dunia literasi memang sedang naik daun sekarang ini. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir perkembangan dunia digital begitu pesatnya, apalagi sejak merebaknya wabah covid 19 hampir dua tahun yang lalu, semua bentuk kegiatan menjadi terbatas dan dialihkan ke literasi digital. Lihat saja bisnis online dari ojek online, jual beli online, bengkel online sampai kredit online. Belum lagi pelatihan online, belajar online sampai berita dan informasi kesehatan bisa diakses secara online. Pemesanan tiket dan pembayaran atau transaksi sekarang mudah dan cepat secara online. Nah…tentu saja semua ini berdasar literasi baik literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerik, literasi sains dan literasi sosial budaya.
    Saya mulai paham mengapa Mas Menteri Nadiem Makarim menggalakan literasi di sekolah, menghapus Ujian Nasional, mensosialisasikan Asesmen Nasional, dimana Asesmen Nasional terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimal (literasi  dan numerasi), Survey Karakter dan Survey Lingkungan yang tentu saja bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Berlatar belakang rendahnya kemampuan dan pemahaman literasi penduduk Indonesia (menurut PISA tahun 2018) dan rendahnya kemampuan bernalar numerik.
    Sejalan dengan reforrmasi pendidikan di era digital sekarang, YPTD hadir membawa angin segar bagi dunia kepenulisan dan dunia pendidikan tentu saja. Pendidikan diartikan secara luas, tidak terbatas formalitas saja, melainkan pendidikan yang mencakup formalitas dan nonformalitas. YPTD memfasilitasi penulis merdeka dalam berkarya melalui tulisan tentu saja tidak berbau SARA dan merdeka dalam berbagi informasi, tentu saja informasi yang positif dan tidak hoaks. Informasi yang mengedukasi tanpa merasa terkekang, informasi yang berisi tapi santai dan lugas dalam penyampaiannya, informasi yang menarik dan menghibur tetap    santun dan tidak ngawur.
    YPTD meski baru berumur satu tahun, namun sudah membantu penulis menerbitkan bukunya. Tercatat sudah 233 judul buku yang sudah diterbitkan. Meski dengan biaya seikhlasnya dan saling mensubsidi tanpa mematok harga, YPTD mampu menggerakan dan menggairahkan penulis untuk giat berliterasi dan memajukan literasi Indonesia. Semoga ini menambah amal kebaikan bagi kita semua, penulis, penerbit dan team dalam memajukan literasi Indonesia. Berbagi informasi diniatkan untuk berbagi ilmu dan mengajak kebaikan bukan untuk memprovokasi dan menyebar gosip murahan yang memancing perpecahan.

Saran dan masukan dari kami penulis, adalah  :

  1. tetap berkomitmen untuk terus berjuang dan memajukan literasi Indonesia dengan membantu penulis menerbitkan buku yang berISBN dan disimpan di perpusnas
  2. tetap menerima dana/donatur seikhlasnya dari penulis yang akan menerbitkan buku di YPTD,
  3. tetap menerima relawan yang akan mengedit, membuat cover dan mendesain/lay out buku,
  4. tetap mengadakan acara “bedah buku” untuk menambah wawasan bagi penulis lainnya,
  5. mendorong dan memacu semangat menulis dengan mengadakan lomba pada event tertentu, misal HUT 1 seperti saat ini,
  6. menerima infak atau donatur bulanan bagi yang akan membantu operasional YPTD
  7. mengadakan lelang buku murah dari penulis untuk penulis dan dana penjualan yang terkumpul masuk ke kas YPTD
  8. menjalin kerja sama dengan pihak tertentu atau sponsor dari produk tertentu yang mereka bisa memasang brand produknya pada event acara tertentu
  9. visi dan misi YPTD dirumuskan dengan jelas.

        Selamat HUT ke-1 untuk YPTD. Semoga panjang umur, semakin jaya dalam berkarya, semakin mantap dalam melangkah, semakin berisi dan menginspirasi, semakin menawan dan berwawasan. Harapan kita para penulis,   visi dan misi YPTD tetap diupayakan dan diwujudkan demi memajukan literasi Indonesia.


Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...