Minggu, 22 Agustus 2021

Bahkan yang terhebat dulunya adalah seorang pemula..

Semua yang terjadi pada kita adalah hasil dari usaha dan doa. tidak ada sesuatu yang instan, tiba-tiba kesuksesan di depan mata tanpa perjuangan dan doa. Meski nasib dan rizeki sudah ada yang mengatur, rezeki tidak akan tertukar, dan rezeki sudah tertulis sebelum kita lahir, namun kita diwajibkan untuk berikhtiar, mencari rezeki yang “bertebaran “di bumi Allah. Artinya kita wajib berusaha untuk mengubah nasib kita menjadi lebih baik, tidak bermalas-malasan, berusaha semaksimal mungkin, dan kita pasrahkan hasilnya pada Allah, Sang Pemberi Rezeki.

Jangan ragu dan takut untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu kebaikan dan yakin bila semua dikerjakan dengan sungguh-sungguh, semua akan terselesaikan, teraih dan usaha tidak mengingkari hasil. Man jadda wajada.

Sebut aja namanya Aro, seorang pemuda biasa, tamatan Madrasah Aliyah di kampung. Merantau ke kota besar dengan berbekal ijasah tanpa punya keterampilan. Namun dia seorang yang alim, pernah mondok di ponpes untuk belajar ilmu agama. Di perantauan dia hidup menumpang di salah satu kerabatnya. Karena tak punya keahlian apa-apa dia bekerja serabutan, apa saja asal halal dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sore hari dihabiskannya dengan mengajari anak-anak usia belasan di sekitar tempat dia tinggal  dengan belajar mengaji Qur’an. Saat awal dia mulai mengajar, hanya satu dua anak yang datang, itupun tak lebih dari 15 menit, karena memang anak-aak usia belasan itu enggan untuk belajar mengaji, mereka lebih senang bermain dengan teman sebaya atau menonton TV. Latar pendidikan dan sosial ekonomi warga sekitar memang ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan dari mereka adalah buruh pabrik dan tenaga harian lepas, Namun ini tak mengurangi semangat Aro untuk mengajarkan dan mensiarkan agama, seperti amanah ibunya. Meski banyak juga sindiran dari tetangga atau pemuda sebayanya yang menganggapnya sok alim. Apalagi di wilayah tempat dia tinggal banyak pemuda kampung yang bermabuk-mabukan dan berjudi. Tak jarang diiringi dengan perkelahian dan permusuhan. Justru ini menjadikannya semangat dan bertekad akan mengubah kampung dimana dia tinggal menjadi lebih baik, lebih agamis, menjalankan ibadah menjauhi kemungkaran.

Tahun pertama hanya tak lebih dari 10 orang yang mengaji pada Aro, dan Aro tetap mengajari anak-anak mengaji dengan telaten. Sambil menyisipkan nilai-nilai karakter dan perilaku yang mendidik buat kehidupan anak-anak santrinya. Tahun kedua jumlah anak-anak yang mengaji bertambah, tak hanya anak-anak usia SD, anak-anak remaja pun banyak yang belajar mengaji padanya. Sedikit demi sedikit cibiran dan cemoohan orang berkurang dan mereka memberi respect pada Aro. Bahkan satu demi satu yang dulunya membenci dan menghalangi kegiatan Aro, kini  mendukung dan mau belajar ilmu agama pada Aro. Memang,  tekad dan kemauan yang keras diiringi doa akan membuahkan hasil.

Selain kesuksesan dalam mengajar ilmu agama, sikap Aro yang ringan tangan dalam membantu siapa saja yang membutuhkan tenaganya, membuat Aro disenangi warga, dan menjadikannya pengurus Ikatan Remaja Masjid di wilayah itu. Setiap ada kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial lainnya, Aro dan santri binaannya ikut berperan aktif, menggalang persatuan dan bergotong royong Cita-citanya memakmurkan masjid dimana dia bisa mengabdikan dirinya untuk mensiarkan agama Islam.

Kini setelah hampir empat tahun Aro tinggal bersama kerabatnya di kampung itu, salah seorang santri putri menarik hatinya dan dipersuntingnya. Singkat cerita, mereka menikah hidup berbahagia, karena sejatinya cinta tiada mengenal pangkat dan kedudukan. Bila dipertanyakan, Aro hanya seorang pemuda desa, dengan ijazah MA dan lulusan pondok pesantren di sebuah kota kecil telah mampu menawan hati seorang wanita yang cantik, berpendidikan sarjana, dan dilihat dari segi ekonomi lebih mapan. Tapi jodoh tiada yang bisa menyangka, karena itu adalah rahasia Illahi, dan berkat usaha kerasnya serta ridlo dari ibunya, membawanya hidup bahagia.

bersambung....

Belum Puas...Mewarnai Duniaku

     Di perjalanan lebih dari setengah abad...rasanya baru setitik aku menorehkan tinta, menggoreskan pena, menulis apa yang bisa aku tulis, merekam apa yang ada dalam pikiranku menjadi kata yang mewakili benakku. Rasanya tak mungkin semua terucap, terungkap lewat tulisan, meski sudah mencoba untuk menuang semuanya. Tapi biarlah..meski tak tak tuntas, setidaknya aku pernah ada lewat apa yang kutulis. Meski mungkin tak seindah penyair atau pujangga, meski tak serenyah bak keripik singkong, namun tak terlambat bila diri ini ingin berbagi, ingin buktikan bahwa sebenarnya diri mampu dan bisa memberi sedikit kisah atau pengalaman hidup yang akan menjadi "legacy" untuk anak cucu nantinya. Dan alangkah bahagianya bila tulisan ini menjadi musahabah untuk mereka.Meski bukan ulama, hanya seorang guru..tak apalah. Semoga ilmu yang telah aku tanam menjadi buah dan berkembang menjadi ladang amal buat akhiratku kelak. Amin.

    Tergelitik, tertantang, penasaran, mengapa tidak ikutan ajang menulis 40 hari. Ini kesempatan yang mungkin tak terulang lagi. Menulis dengan tema Karena Menulis Aku Ada sungguh pas dan sayang terlewatkan. Apalagi sudah pernah ikut tantangan Lomba Blog 28 hari. Wah...sayang kalau gak ikutan. Yang penting tulis aja, tak usah menunggu ide masuk, tak usah ragu, tulis aja apa yang ada di depanku, keseharian apa yang kulalui, di rumah, di tempat kerja, di perjalanan, atau bisa juga catatan kecil saat bercanda dengan keluargaku. Toh tak akan ada yang protes. Anggap saja ini diary gratis yang bisa setiap saat kuwarnai halaman demi halaman, lembar demi lembar ..yang nantinya terwujud "mahkota" buku untukku. 

Akhirnya, meski sedikit terlambat kuputuskan tekad ikutan ajang ini. Sambil menyelam minum air..pikirku. Ingin membuat buku tentang perjalanan hidup yang sudah memasuki usia setengah abad, belum juga menuliskannya dalam buku biografi. Andai apa yang menjadi obsesiku, menulis autobigrafi..mungkin akan membawa makna dan rasa mendalam yang tak ternilai...bagaimana mengarugi sekian waktu perjalanan, suka duka, meraih cita dan cinta...yang mungkin sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi aku. Karena ini hidup aku, aku yang mewarnainya...meski belum puas pada apa yang telah kudapatkan, apa yang telah kuraih, setidaknya aku cukup berbangga dan mempersembahkah yang terbaik yang bisa kulakukan untuk duniaku.

    Pepatah "Belajar sepanjang hayat" wajib kuimplementasikan. Tak hanya sebatas embel-embel yang mungkin bertujuan agar keren semata, tapi ini akan memotivasi diri untuk melakukannya. Dan rasanya akan menipu diri sendiri bila bermalas-malas dalam hidup, mensia-siakan waktu. Karena waktu tak mungkin berjalan mundur. Karena waktu akan dipertanggujwabkan kelak oleh Sang Pemberi Waktu. Karena waktu adalah uang yang akan membawa kebahagiaan bila kita punya banyak waktu yang tak terbuang, dan padat akan semua tindakan kebaikan. Setiap detik yang berlalu semoga memberi catatan amal yang baik ...karena besok semua akan diputar kembali rekaman video kehidupan selama di dunia, dengan lengkap tak terlewat sedikitpun oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan.

    Aku belum puas pada apa yang telah kuraih, pada apa yang telah kudapat, pada apa yang telah kubuat, pada duniaku. Aku ingin lebih  bisa melakukan sesuatu untuk mewarnai hidupku...sesuatu yang berkesan dan memuaskan...Namun saat ini aku belum puas...aku masih ingin mewarnainya, mencoretnya, melampiaskan nafsuku...geloraku lewat literasi, lewat narasi. Menulis dan belajar tentang apa saja yang ingin aku tulis dan ingin aku tahu. 




Selasa, 17 Agustus 2021

Melangkah Terus Bersama Pejuang Literasi

 

Melangkah Terus Bersama Pejuang Literasi


Ibarat seorang anak yang baru lahir, umur satu tahun baru mulai belajar berjalan…namun dia belajar dan belajar. Masa-masa keemasan dimana dia akan terus belajar, menyerap ilmu dengan begitu pesatnya. Inilah YPTD. Meski baru setahun, kiprahnya dalam memajukan literasi Indonesia sungguh sangat luar biasa. Awal berdirinya  bertujuan membantu para penulis untuk bisa menerbitkan bukunya dengan biaya gratis, hingga kini tercatat sudah ratusan buku yang dicetak berISBN dan dipersembahkan untuk bangsa dengan disimpan di perpusnas.

Meski dalam belajar berjalan setapak demi setapak dan tertatih tidak mengurangi semangat, bahkan terus berupaya memberi pelayanan yang terbaik. Terbukti banyak dukungan dari relawan yang membantu dengan ikhlas dengan bayaran 2M (makasih makasih) dan puluhan penulis yang mengantri untuk mencetakkan naskah yang dimiliki, ke penerbit YPTD. Setiap bulan paling tidak 3-5 buku siap mendapat nomor ISBN. ini bisa dilihat dari WAG Penerbit Buku YPTD Ikhlas, dimana Pak Ajinatha selalu memposting cover buku terbaru yang beliau design. Dan inilah salah satu yang memacu kita para penulis untuk berlomba menulis dan menulis, meninggalkan kemalasan dan ikut mengapresiasi bila teman kita mendapatkan mahkotanya.  Wow..suatu motivasi yang mungkin tak pernah terpikirkan tapi terasa, apalagi bagi penulis pemula seperti saya.

Selain kuantitas buku yang sudah cukup banyak diterbitkan, kualitas buku yang diterbitkan pun tidak kalah bagus. Bila dilihat dari judul buku yang menarik dan “mengundang” untuk dibaca dan dimiliki, jumlah halaman buku cukup banyak (karena YPTD memberi persyaratan minimal halaman) tentu bukan sembarang penulis yang tergabung dalam grup WA Penerbit Buku YPTD Ikhlas. Penulis bisa berlatar belakang seorang pendidik, akademisi, wartawan, Tidak hanya buku fiksi dan non fiksi saja, buku ilmu pengetahuan populer juga pernah ditebitkan. Wow..sungguh keren dan menginspirasi buat para penulis untuk tetap setia melangkah bersama YPTD. Dan YPTD tidak pernah mematok harga pada penulis untuk bisa menerbitkan buku di sana, ini sungguh amal yang akan terus mengalir, memfasilitasi tanpa membebani penulis  dan patut diacungi jempol.

Selamat ulang tahun pertama YPTD, teruslah mencerdaskan bangsa, menggiatkan literasi, membantu penulis menggapai “mahkotanya”, mencetak penulis-penulis baru, menggelar webinar dan bedah buku, sharing kepenulisan, dan membuat terobosan baru dengan menggelar lomba pada event tertentu. Semoga semakin bertambah usia semakin mantap dalam melangkah, semakin luas berwawasan, semakin banyak mencetak buku yang bekualitas.

YPTD  bisa menggalang dana dengan mengadakan bursa buku murah tapi berkualitas dari buku-buku yang pernah diterbitkan di YPTD pada acara tertentu (misal Dies natalis sekolah/instansi/oganisasi) penulis bisa membantu YPTD dengan mengenalkan dan mempromosikan YPTD ke teman lainnya yang akan mencetak buku, dan YPTD bisa mrngadakan lomba-lomba dengan mencari donatur atau sponsor.

Terima kasih YPTD. Terima kasih pejuang literasi. Semangat terus berkobar, menggelorakan. Berkarya dalam tulisan. Kami para penulis siap mengiringi langkahmu.

.

Merdeka Berkarya Berbagi Informasi

 

Merdeka Berkarya Berbagi Informasi

    

Setahun sudah YPTD berdiri. Para tokoh pendiri yayasan yang bergerak di bidang sosial literasi ini berkomitmen mencerdaskan bangsa lewat literasi dimana para penggunanya dari berbagai kalangan, baik dari akademisi, pelajar mahasiswa, pebisnis, entertein bahkan mungkin politikus, atau hanya seorang ibu rumah tangga.
     Dunia literasi memang sedang naik daun sekarang ini. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir perkembangan dunia digital begitu pesatnya, apalagi sejak merebaknya wabah covid 19 hampir dua tahun yang lalu, semua bentuk kegiatan menjadi terbatas dan dialihkan ke literasi digital. Lihat saja bisnis online dari ojek online, jual beli online, bengkel online sampai kredit online. Belum lagi pelatihan online, belajar online sampai berita dan informasi kesehatan bisa diakses secara online. Pemesanan tiket dan pembayaran atau transaksi sekarang mudah dan cepat secara online. Nah…tentu saja semua ini berdasar literasi baik literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerik, literasi sains dan literasi sosial budaya.
    Saya mulai paham mengapa Mas Menteri Nadiem Makarim menggalakan literasi di sekolah, menghapus Ujian Nasional, mensosialisasikan Asesmen Nasional, dimana Asesmen Nasional terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimal (literasi  dan numerasi), Survey Karakter dan Survey Lingkungan yang tentu saja bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Berlatar belakang rendahnya kemampuan dan pemahaman literasi penduduk Indonesia (menurut PISA tahun 2018) dan rendahnya kemampuan bernalar numerik.
    Sejalan dengan reforrmasi pendidikan di era digital sekarang, YPTD hadir membawa angin segar bagi dunia kepenulisan dan dunia pendidikan tentu saja. Pendidikan diartikan secara luas, tidak terbatas formalitas saja, melainkan pendidikan yang mencakup formalitas dan nonformalitas. YPTD memfasilitasi penulis merdeka dalam berkarya melalui tulisan tentu saja tidak berbau SARA dan merdeka dalam berbagi informasi, tentu saja informasi yang positif dan tidak hoaks. Informasi yang mengedukasi tanpa merasa terkekang, informasi yang berisi tapi santai dan lugas dalam penyampaiannya, informasi yang menarik dan menghibur tetap    santun dan tidak ngawur.
    YPTD meski baru berumur satu tahun, namun sudah membantu penulis menerbitkan bukunya. Tercatat sudah 233 judul buku yang sudah diterbitkan. Meski dengan biaya seikhlasnya dan saling mensubsidi tanpa mematok harga, YPTD mampu menggerakan dan menggairahkan penulis untuk giat berliterasi dan memajukan literasi Indonesia. Semoga ini menambah amal kebaikan bagi kita semua, penulis, penerbit dan team dalam memajukan literasi Indonesia. Berbagi informasi diniatkan untuk berbagi ilmu dan mengajak kebaikan bukan untuk memprovokasi dan menyebar gosip murahan yang memancing perpecahan.

Saran dan masukan dari kami penulis, adalah  :

  1. tetap berkomitmen untuk terus berjuang dan memajukan literasi Indonesia dengan membantu penulis menerbitkan buku yang berISBN dan disimpan di perpusnas
  2. tetap menerima dana/donatur seikhlasnya dari penulis yang akan menerbitkan buku di YPTD,
  3. tetap menerima relawan yang akan mengedit, membuat cover dan mendesain/lay out buku,
  4. tetap mengadakan acara “bedah buku” untuk menambah wawasan bagi penulis lainnya,
  5. mendorong dan memacu semangat menulis dengan mengadakan lomba pada event tertentu, misal HUT 1 seperti saat ini,
  6. menerima infak atau donatur bulanan bagi yang akan membantu operasional YPTD
  7. mengadakan lelang buku murah dari penulis untuk penulis dan dana penjualan yang terkumpul masuk ke kas YPTD
  8. menjalin kerja sama dengan pihak tertentu atau sponsor dari produk tertentu yang mereka bisa memasang brand produknya pada event acara tertentu
  9. visi dan misi YPTD dirumuskan dengan jelas.

        Selamat HUT ke-1 untuk YPTD. Semoga panjang umur, semakin jaya dalam berkarya, semakin mantap dalam melangkah, semakin berisi dan menginspirasi, semakin menawan dan berwawasan. Harapan kita para penulis,   visi dan misi YPTD tetap diupayakan dan diwujudkan demi memajukan literasi Indonesia.


Sabtu, 06 Maret 2021

Menulis Ikhlas, Niat Beribadah

"Menulis dengan ikhlas diniatkan untuk beribadah, berbagi ilmu karena Allah yang berarti berbuat baik, menyebarkan ilmu, maka akan mendapat bonus dari Allah" ini adalah prinsip menulis yang dimiliki Bu Kanjeng. Bu Kanjeng adalah sapaan akrab dari Sri Sugihastuti, pendidik, blogger dan pegiat literasi.

Di tengah kesibukannya, sebagai seorang penulis beliau tak melewatkan waktu untuk tidak menulis, meski di waktu malam. Bagaimana dia bisa tetap konsisten menulis? 

  • mengubah mindset : saya bisa.  Dia punya target, meski menulis di waktu malam karena tengah, tidak seperti orang lain, sambil menunggu bisa menulis. Tapi bila ide tiba-tiba segera dicatat di Hp, lalu buat outline apa yang harus ditulis untuk dikembangkan kemudian.  Kapan harus menulis, yang tahu diri kita sendiri, harus komitmen dan niat.
  • "Aku dan muridku"  harus punya passion, me time. Sempatkan untuk menulis satu atau dua jam.

Tema Buku

Dari blog bisa dijadikan buku. Dari buku antologi bisa dibuat buku solo, tapi ditulis sumbernya : pernah ditulis di antologi dengan judul (judul buku yang dulu ditulis). Dari penelitian bisa dibuat buku, dari Best Practice bisa juga dibukukan, judul harus pendek tidak seperti judul PTK atau BP. BP yang dibukukan ada 2 macam, BP untuk lomba atau untuk penilaian (PAK) dan BP dari kumpulan tulisan terbaik saat mengajar, tentu memiliki format yang berbeda.

Kumpulan literasi siswa juga bisa dibukukan, misal kumpulan cerpen dan kumpulan puisi. Bagaimana bisa menjadi kurator? Guru harus banyak membimbing pada siswa sampai bisa. Jangan sampai siswa mengambil dari internet. Dengan demikian secara tidak langsung guru mengajak untuk gemar membaca dan menulis. Buku kumpulan puisi minimal 45 judul, untuk cerpen 10-15 judul, ukuran kertas A5. 

Buku memoar isinya pengalaman penulis, misal temanya saat hidup susah, memoar  bersama pasangan, pengalaman sebagai guru di daerah terpencil dan sebagainya. Hal lain yang bisa dibukukan misal kumpulan resep masakan daerah, beberapa perjalanan hidup tokoh daerah, buku tentang seni, hobi (musik, berkebun) dan ketrampilan. Tema memoar bisa ditulis per bulan atau per peristiwa, diberi judul. Untuk judul buku bisa dipilih salah satu judul bab. Bisa dibuat langsung,  di awal dibuat prolog, diakhir dibuat analog.

Kata pengantar pada buku bisa dibuat oleh orang lain atau pemerhati buku, bisa juga dari pimpinan sedangkan Prakata ditulis oleh penulis sendiri.  

Diharapkan guru lebih produktif berkarya dalam membuat buku. Banyak proses menuju penulis handal, kuncinya pada diri sendiri. Bagaimana merubah mindset kita. Bila belum bisa membuat satu buku, kita bisa belajar dengan membuat buku antologi. Antologi sebagai jembatan menjadi penulis tunggal.

Wow.. kereeen..bial kita sudah membuat buku dan menerbitkannya. Buku adalah mahkota penulis. Orang lain bisa melihat dan menilai kita dari tulisan yang kita bukukan. Mari berlomba-lomba membuat mahkota tentang apa saja yang bisa kita bagikan, kita sumbangkan untuk orang lain.  Niati dengan ibadah , Insya Allah akan menjadi jariyah kelak. Selamat berkarya selamat berliterasi.


Jumat, 05 Maret 2021

Menjadi Guru Inovatif dan Kreatif

 

"Kiat jitu menjadi guru yang inovatif dan kreatif" adalah tema Belajar Bicara PGRI hari ke-18 dengan narasumber hebat Guru Berprestasi tingkat nasional. Sigit Suryono, M.Pd. adalah Duta Rumah Belajar Teinovatif Nasional 2018 dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Nama Sigit telah dikenal luas oleh para guru di Yogyakarta sebagai trainer dan tim pengembang TIK di Kabupaten Gunungkidul maupun di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 2009. Aktif mengajar di SMP Negeri 1 Wonosari Gunungkidul sejak tahun 2005. Keberhasilan Sigit meraih prestasi tak lepas dari dukungan  istri Dwi Riastuti, M.Pd, serta putra dan putri tercinta Muhammad Yunus Baskara, dan Galuh Ray Ranna.

Apa yang telah beliau bagikan malam ini menginspirasi kita untuk selalu belajar dan belajar untuk terus berinovasi dan berkreasi. Banyak karya inovatif yang telah dihasilkannya, antara lain Semifinalis National Innovative Teacher Competition tahun 2008, Finalis Media Pembelajaran Tingkat Nasional tahun 2009, Finalis Lomba Media Pembelajaran Tingkat Nasional 2012, Finalis Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional tahun 2013, Finalis Lomba Mobile Edukasi Tingkat Nasional tahun 2014 dan 2015 serta puncaknya sebagai Juara 1 Guru Berprestasi SMP Tingkat Nasional tahun 2015.














Menjadi guru bukan berarti tahu segalanya dan tidak mau belajar. Justru sekarang guru harus mau belajar dan berinovasi diri. Sebagai guru pembelajar harus siap mengikuti perkembangan ilmu, perkembangan teknologi, sehingga inovasi dapat dilakukan pada penggunaan media pembelajaran (menguasai TIK), metode pembelajaran, alat pembelajaran, dan cara mengajar. Inovasi timbul dari masalah saat kita melakukan pembelajaran, sasarannya adalah siswa.

Untuk meningkatkan kompetensi kita juga bisa berkolaborasi dengan sesama guru yang lain dalam MGMP bisa juga lintas mapel. Selain dapat memetik atm (amati tiru modifikasi) tentu saja dengan berkolaborasi menambah wawasan yang tujuan akhirnya untuk siswa. 

Penelitian dan refleksi sangat dibutuhkan agar kita bisa memperbaiki kinerja  dan juga mendokumentasikan karya kita. Dan karya kita merupakan bukti keberadaan kita. Setiap hasil riset atau bahan ajar yang kita bukukan kita niatkan untuk berbagi dalam kebaikan.  Karya tulis yang kita buat akan dikenang orang lain. Syukur-syukur karya kita bisa bermanfaat bagi orang lain dan menjadi nilai prestasi untuk kita.

Nah...teman-teman guru pembelajar hebat, sebenarnya kita  mampu untuk belajar dan berinovasi. Kuncinya adalah "mau". Dimana ada kemauan di situ ada jalan, dimana ada kemalasan di sana ada hambatan. Mari kita tingkatan kompetensi kita, belajar sepanjang hayat berkarya sepanjang usia. 

Selasa, 02 Maret 2021

Mengajar Gaya Motivator

Kuliah Public Speaking for Teacher malam ini bertema Mengajar Gaya Motivator disampaikan oleh motivator hebat Aris Ahmad Jaya yang telah lebih dari 20 tahun menjadi motivator dan sudah ribuan kejadian yang dirasakan audiens, jutaan orang yang sudah termotivasi oleh beliau. 

Menurutnya guru ada 3 kelompok yaitu guru : nyasar, bayar dan sadar. Guru nyasar adalah yang tidak menjadikan profesi guru sebagai profesi yang dicintai, selalu mengeluh ketika siswa tidak sesuai keinginannya, tidak dirindukan siswanya, tidak punya inisiatif menggerakan siswa, hanya mentransfer ilmu saja. Guru bayar adalah guru yang selalu berorientasi pada uang, semua dinilai dengan uang, harus ada imbalan saat menjalankan tugasnya, mengejar sertifikasi. Saedang guru sadar adalah guru dengan penuh tanggung jawab menjalankan tugasnya, tidak hanya mentransfer ilmu tapi lebih dari itu merasa profesi sebagai guru patut disyukuri dan merupakan amanah.

Guru hebat adalah guru yang  memastikan siswanya untuk memperhatikan dan mendengarkan.Guru adalah kurikulum yang sesungguhnya, maka kita harus belajar bagaimana menyampaikan dengan baik. Bagaimana untuk menyampaikan dengan baik, inilah rahasia motivator mengajar yaitu 'mengubah di menjadi me'. Kalau kita ingin dicintai maka kita harus mencintai. Kalau kita ingin dihargai kita harus menghargai. jadi sebelum orang lain melakukan, kita harus memulai diri telebih dahulu. Guru adalah pintu dan jendela ilmu, bagaimana siswa mencintai atau membenci pelajaran kita, kuncinya dari cara mengajar kita.

Ada 4 tingkatan guru dalam berkomunikasi di kelas :
  1. hanya sekedar mampu mengajar, guru hanya mentransfer ilmu saja. Bila sudah mengajar, lepas tanggung jawab, tidak peduli siswa bisa atau tidak, paham atau tidak.
  2. mendidik, guru yang tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, menasihati, menanamkan nilai karakter, punya tanggung jawab moral terhadap perilaku siswa,
  3. menginspirasi, guru yang mampu memberi sebuah rasa, dan rasa tidak hilang sepeninggal kita (setelah tidak mengajar lagi), setelah lulus, siswautidak lupa apa yang pernah ditanam oleh gurunya. Guru punya prinsip "tidak ada otak pintar atau otak bodoh yang ada otak terlatih, otak terlatih mengalahkan otak pintar", yang artinya dengan kemauan dan kerja keras akan menjadi pintar, sebaliknya tanpa kemauan dan kerja keras orang menjadi bodoh.
  4. menggerakan, guru yang mampu menggerakan yang diam menjadi bergerak luar biasa, guru memberikan momentum atau lecutan  siswa untuk bergerak dari pasif menjadi aktif luar biasa. Guru ini akan dikenang oleh siswa tersebut, bahkan sepanjang hidupnya, bila dia sukses kelak. 
Apakah kita sudah memberikan momentum pada siswa kita? Apakah kita sudah menjadi guru penggerak ataukah hanya guru pengajar saja? Mari kita refleksi diri kita. Guru juga seorang motivator. Bagaimana menjadi seorang motivator hebat? 
Berikut ini tipsnya : kita diijinkan oleh audiens. Untuk diijinkan audiens kita pandai berbicara, bukan sekedar menyusun kata, tetapi adalah seni bagaimana kita diterima audiens. Pada diri kita punya frekuensi, dan frekuensi yang kita pancarkan akan ditangkap audiens.

Dari tayangan video di atas kita bisa melihat bagaimana dari kata-kata de  ngan fekuensi yang tepat bisa ditangkapa audiens dan lihat perubahan yang terjadi. Lihat perbedaan makna dari 2 kalimat berikut : I am blind, help me please dan kalimat It's  a beautiful day and I can't see.

Bagaimana menjadi pribadi yang umenyenangkan? Kita harus melakukan 6 S : senyum, salam, sapa, santun, sanjung, simulasi.

  • senyum : senyum tulus, keluar dari hati. Lakukan rumus 1225 (1 detik kelua dari hati, tarik bibir 1 cm kiri kanan, tahan 5 detik)
  • salam : beri salam pada audiens, maka rasakan demikian dahsyatnya mereka menjawab salam kita. Karena salam adalah doa. Contoh kalimat yang bisa digunakan :
        " Semuanya yang menjawab salam saya, saya doakan otaknya cerdas!" 

      " Semuanya yang menjawab salam saya, saya doakan sehat!"

  • sapa : beri sapaan penyemangat yang lebih besar. Contoh kalimat sapaan :
      " Apa khabar baik ?" Jawab : "Semakin baik!"
      " Apa khabar sehat?" Jawab : "Semakin sehat!"
      " Selamat pagi!" Jawab : "Pagi, pagi, pagi, luar biasa!"
  • santun : pancaran rasa bahagia
  • sanjung : jangan pelit untuk memberi pujian atau reward, karena pujian membangkitkan motivasi dan menyenangkan audiens. "Saya senang mengajar di kelas ini. Siswanya kreatif ".
  • simulasi : permainan yang melibatkan audiens.
Nah...teman-teman guru-guru pembelajar hebat yuk kita jadi guru penggerak, mengajar dengan gaya motivator, bukan sekedar transformator ( mentransfer informasi). Karena sesungguhnya kita adalah pengemban amanah. Semoga apa yang kita sampaikan, kita amalkan menjadi jariyah buat kita. Amin.

  

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...