Minggu, 28 Februari 2021

Mengisi Diary Februari 28 Hari

Hari ini akhirnya datang juga. Hari ke-28 di bulan Februari berarti sudah ke-28 juga aku menulis di blog ...dan sudah kuposting  pula 27 tulisan di blog YPTD sebagai blog panitia. Ah...akhirnya sampai di pengujung lomba. 

Rasa penasaran ingin mengalahkan tantangan apakah aku mampu menulis setiap hari di blog, akhirnya tinggal menunggu detik-detik apa yang kutulis di halaman ini  berakhir pada kalimat terakhir yang nanti kutulis. Lega rasanya meski tak berharap menang dalam lomba, setidaknya aku mampu mengalahkan kemalasan diri sendiri tidak untuk tidak menulis di blog ini. 

Aku tahu diri bahwa sebagai penulis yang masih sangat pemula, banyak hambatan untuk bisa eksis dan konsisten menulis, minimal satu dua paragraf saja sehari dan diposting di blog. Apalagi ikut lomba dimana pesertanya adalah blogger-blogger ternama dan sudah mempunyai follower pembaca hingga ribuan. Jangankan puluhan, ditengok dan dikomen di kolom komen saja sudah senang banget rasanya. Apalagi komennya bagus, memberi masukan, ini membuat semangat untuk menulis. 

Mengalahkan kemalasan menulis

Ajang lomba Menulis Blog PGRI memberi banyak pelajaran pada diri sendiri. Selain memotivasi aku untuk menulis dan meramaikan blog sendiri, setidaknya ada hikmah lain yang bisa kuambil dan menginspirasi pada tulisan-tulisan yang sudah kutulis di 27 hari kemarin. 

'Ngemil' tulisan meminjam istilah dari Dr. Ngainun, membiasakan menulis setiap hari ternyata asyik juga. Setiap hari mencoba menemukan tema yang pas untuk bisa dijadikan tulisan, merangkai kalimat membentuk paragraf, membuat judul yang menarik dan banyak lagi yang berkecamuk campur aduk di otak untuk melahirkan satu tulisan. 

Berharap apa yang kutulis akan dikunjungi, atau paling tidak judul akan dilirik mata orang yang membuka blog pribadi maupun blog YPTD. Setidaknya ini akan menjadi catatan perjalananku, menjadi 'diary' untuk bisa kuwujudkan menjadi sebuah buku, dan tentu saja akan menjadi kilas balik saat aku ingin mengenang tulisan dan opiniku sendiri di bulan Februari ini. Karena apa yang kutulis dalam 28 hari ini memang diary bagi aku.

'Istiqomah' menulis meminjam istilah Bu Kanjeng, membuat aku terus berusaha mengasah indera di sekelilingku untuk bisa kutuang menjadi coretan kata yang renyah untuk dibaca. Meski disibukan dengan pekerjaan rutinitas aku tetap menyempatkan diri memegang laptop untuk menuntaskan tulisan.


Silaturahmi mengasah kompetensi

Ramainya tulisan yang diposting di blog YPTD membuat aku tergelitik juga untuk 'blog walking' ke blog tetangga. Membaca tulisan para blogger, mengamati meniru memodifikasi (ATM) pun aku lakukan. Dari sini aku banyak belajar, mengedit tampilan blog, menyisipkan gambar dan video, menemukan kata dan istilah baru, menambah perbendaharaan kata, mengembangkan imajinasi dan mencoba menuang kembali versi aku. 
'Tak perlu malu' ini istilah aku untuk memotivasi diri. Aku harus bisa. Aku punya kompetensi mengapa tak kuasah, mengapa tak berani kuungkap, mengapa harus malu. Toh ini blog aku, suka-suka aku mau mengisinya, orang boleh bicara, aku tetap berlanjut. He..he..he..cuek aja.

Mewujudkan mimpi menerbitkan buku

Setelah terkumpul 28 tulisan, 28 judul punya keinginan untuk menerbitkan buku, agar tulisan di blog bisa didokumentasi dan bisa dinikmati kapan saja oleh siapa saja, tanpa harus membuka blog aku. Menerbitkan buku menjadi obsesi yang mungkin bagi sebagian orang hal biasa namun luar biasa bagi aku karena ini buku kedua yang bersejarah. Mengapa? Ya ini sebuah prestasi bagi aku sendiri dan mungkin seumur hidup, membuat buku dalam waktu yang singkat dan syukur-syukur gratis bisa terbit di YPTD. He..he.. sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain mendapat sertifikat kebanggaan, bisa juga untuk penilaian angka kredit. Ngiras ngirus istilah dalam Bahasa Jawa.

Mendapat banyak teman

Selain keuntungan fisik berupa buku gratis ada kepuasan batin tersendiri dari ikut lomba ini, salah satunya adalah mendapat banyak teman dari saling memberi komen. Mungkin juga tidak hanya saling menukar link blog tapi bisa juga saling berkenalan lebih jauh dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Karena peserta lomba memang guru, bisa juga kepala sekolah atau pengawas. Dan tulisan-tulisan mereka kompetitif, menarik, menginspirasi, memotovasi, sayang untuk dilewatkan. 


Akhirnya, inilah kalimat terakhir yang kutulis di Diary Februari 28 Hari, sebuah kalimat untuk merefleksi diri.  Selamat aku telah mengalahkan tantangan menulis setiap hari di blog dan mengalahkan kemalasan. Semoga ini tidak hanya di Februari saja tapi berlanjut ke lain hari.

Jumat, 26 Februari 2021

Aku Cinta Profesiku

Seperti biasa, pagi ini sebelum kami melaksanakan rutinitas tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa, kepala sekolah memberikan santapan 'briefing' pagi. Tema briefing kali ini adalah mensyukuri apa yang telah kita miliki. 

Mensyukuri apa yang telah kita miliki pada semua yang dianugerahkan dari Sang Maha Pemberi kepada kita berupa kesehatan, rezeki, keluarga tercinta, teman-teman dan semua kenikmatan  yang tidak bisa kita hitung. Maka cara mensyukurinya salah satunya adalah mengisi setiap waktu yang ada dengan ibadah mencari keridloan Allah SWT. Bentuk ibadah bisa dengan bekerja, terlebih sebagai guru yang mendidik maka ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir sebagai amal jariyah kelak bila kita sudah tiada. 

Sebagai seorang guru yang mengabdi sebagai aparatur negara (ASN) bagaimana bentuk rasa syukur kita, tentu bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai tupoksinya. Beberapa bentuk sikap yang harus kita jalani  yaitu :

  1. Cinta. Mencintai pekerjaan kita, apapun profesinya akan membuat kita semangat dalam bekerja, sehingga tugas yang diberikan akan  terselesaikan dengan baik. Maka bekerjalah dengan cinta karena dengan cinta akan terasa ringan dan bahagia.
  2. Integritas : satu kesatuan. Bila kita bekerja dalam suatu instansi atau perusahaan, maka integritas ini penting. Integritas yang tinggi akan membawa kemajuan instansi atau perusahaan untuk mewujudkan visi dan misinya.
  3. Disiplin. Sebagai seorang pendidik, tentu sebelum menanamkan kedisiplinan pada siswanya, kita sudah memberi contoh dan sudah membiasakan diri untuk disiplin pada aturan yang berlaku dimana kita bekerja, tepat waktu kerja, tepat waktu dalam penyelesaian tupoksi dan tepat waktu mengajar. Aturan tidak menjadikan hal yang membelenggu tetapi menjadi pedoman agar hidup kita bisa tertata.
  4. Loyalitas. Ada pepatah "Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" yang artimya kita harus menghormati adat istiadat  dimana kita tinggal. Lebih dari itu saya mengartikannya di manapun saya berada, di mana saya tinggal, dimana saya bekerja,  tempat di situlah tempat terbaik saya. Maka saya terima dengan penuh rasa syukur dan saya harus memberi yang terbaik.
  5. Kreativitas. Persaingan di dunia kerja begitu besar. Bagi yang bisa menciptakan ide dana peluang baru tidak akan tertinggal dan memiliki kesuksesan. Maka di dunia pendidikan pun kita dituntut untuk kreatif dalam menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran, bukan untuk bersaing tetapi untuk meningkatkan kompetensi kita. Orang-orang yang dipromosikan naik jabatan atau kenaikan pangkat tentu dinilai dari prestasinya.
  6. not passionless: cuek atau tidak peduli. Satu hal penting yang harus kita hindari adalah sikap passionless atau cuek. Sikap ini membuat kita tidak bisa berkembang dan tidak akan disukai teman sejawat kita. Sikap masa bodoh ini akan menghambat karier dan prestasi kita. Maka, dimanapun kita berada jadilah pribadi yang ramah dan 'smart' sehingga akan disukai banyak orang.
Wah ..sungguh luar biasa wejangan pagi ini, mengingatkan sekaligus merefleksi diri kita, apakah sudah menjadi pegawai dan pendidik yang baik. Bila kita mencintai profesi kita sebagai guru dan bersyukur dengan apa  yang sudah Allah anugerahkan kepada kita, maka wajiblah kita untuk mengemban amanah seperti yang disampaikan oleh bapak kepala sekolah. 

Dalam hati saya mencamkan semua nasihat yang beliau sampaikan pagi ini. Sangat bermakna dan wajib hukumnya untuk saya jalankan, karena aku mencintai profesiku, maka aku harus menjalankan dengan sepenuh hati dan kuniatkan untuk beribadah. Semoga.

Dari Belajar Menulis Menuju Belajar Bicara

Pemateri malam hari ini  dari pelatihan Belajar Bicara PGRI adalah seorang penulis  hebat, buku best seller "Man Jadda Wajada" Akbar Zaenuddin  dan seorang trainer motivator. Buku beliau laris salah satunya disebabkan karena beliau ikut menjual dengan 'pandai ngomong' dalam seminar ke seluruh pelosok kota di . Indonesia. Malam ini beliau membagi pengalaman bagaimana menjadi pembicara yang sukses di depan kelas. Berikut ini resume kuliah dari Akbar Zaenuddin. Yuk disimak...

Hal-hal penting untuk menjadi pembicara hebat menurutnya adalah : 

  1. cinta pekerjaan. Kalau kita bekerja tapi memiliki beban, maka tidak akan bahagia. Sebaliknya kala  kita mencintai pekerjaan kita, maka segalanya akaan terasa ringan mienyenangkan. Ketika kita bicara dengan penuh cinta, energi akan keluar sehingga orang yang kita ajak bicara, dia akn mau bergerak seperti yang kita  harapkan.
  2. perkuat kelebihan kita. Bila kita sudah memiliki kompeten maka tambahlah kompeten yang lain yang memberi nilai lebih dan ciri khas misal menggunakan media lebih bervarias[.
  3. bangun kepercayaan diri. "Man jadda wajada" Bismillahi rohmanir rohim, kalau kita bersungguh-sungguh, apa yang kita inginkan berhasil. 
  4. berlatih. Kita bisa minta tolong teman untuk melihat kita saat berlatih, atau bisa merekammnya lalu kita perbaiki kesalahan dan kekurangnnya.
  5. punya mentor, untuk memperbaiki dan memberi masukan ke kita. 
Ketrampilan public speaking menurut Akbar Zaenuddin ada 5 yaitu :
  1. voice : intonasi suara. Atur tempo dan kecepatan suara, gunakan variasi intonasi suara dari pelan, cepat, bertekanan atau menguatkan
  2. body language : bahasa tubuh. Mimik muka, tatapan mata, mendengarkan dan memperhatikan, gerakan tangan dan gerakan tubuh. Senyaum tulus ikhlas, tinggalkan semua beban, hindari muka masam/cemberut. Pandang mata public dengan ramah dan besahabat, jaga kontak mata, sapu pandangan ke seluruh ruangan jangan hanya satu sudut, mendengar dan pusatkan perhatian apa yang mereka katakan, 
  3. gerakan tangan, biarkan tangan bergerak rileks. Gerakan membantu mengekspresikan perasaan kita.
  4. media. Media akan membantu kita dalam menyampaikan materi dan mencapai tujuan.
  5. delivery : kemampuan menyampaikan materi bisa dilihat dari 3 menit pertama, apakah audience mau mendengarkan apa tidak, dan 3  menit pertama harus mampu menarik perhatian audiens, buat mereka happy dan tertawa bersama. Bila audiens kita adalah siswa-siswi kita, maka kita harus bisa menghidupkan ruangan, berinteraksi dengan mereka.
Terkait dengan bukunya yang menjadi best seller, berikut sesi tanya jawab peserta dengan narsum.
  • Tanya : Kita merasa sudah berusaha maksimal, tetapi belum berhasil. Bagaimana solusinya agar tetap semangat? Jawab : Kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kita sudah serius  melakukan sesuatu, di tengah jalan tiba-tiba berhenti dengan macam-macam alasan, ini menandakan kesungguhan kita belum maksimal. Yakinlah Allah belum memberikan sesuatu tanpa memberikan ujian. Kalau kita sungguh-sungguh, yakin Allah akan mengabulkan permintaan kita.
  • Bagaimana memotivasi orang untuk mengubah mindsetnya? Kalau kita ingin orang lain menghargai kita, kita harus menghargai diri sendiri dulu. Kalau kita ingin orang lain menyayangi diri kita, kita sayang dri sendiri dulu. Jadi kalau kita ingin mengubah mindset orang lain, kita harus mengubah mindset kita dulu. Sebelum orang lain melakukan kita melakukan, kita lakukan untuk diri  sendiri dulu. Biasanya dengan ucapan dan komunikasi dengan baik, dengan pendekatan, apa yang akan kita lakukan pada orang lain akan mudah.
  • Bila membawakan acara non formal kita bisa santai tapi bila membawakan acara resmi kenapa grogi, Apa yang harus dilakukan? Acara formal dan acara non formal memang berbeda cara penyampaiannya dan di acara formal memang dituntut perfect dan tidak boleh fatal. Untuk menghindari kesalahan maka kita dapat membuat ringkasan atau catatan dan harus banyak berlatih.

Yok, teman-teman guru pembelajar hebat..kita perbaiki maindet kita, bahwa dengan bersungguh-sungguh apa yang kita usahakan, pasti berhasil. Bismillah. Kita harus yakin, "Kita pasti bisa"

Kamis, 25 Februari 2021

Pola Asuh Anak Bentuk Pribadi Anak


Anak ibarat pohon yang akan kita panen kelak kemudian hari, maka tanam dan rawatlah dengan baik. Jika  kita ingin anak sabar, berilah contoh menjadi oang tua yang sabar. Jika ingin anak jujur maka janganlah berbohong pada anak. Karena anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Ada pepatah yang mengatakan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".

Anak terlahir dengan membawa garis kehidupan yang sudah dicatat sejak dia dalam kandungan umur 4 bulan saat ruh ditiupkan. Catatan rahasia yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya, lahir mati jodoh dan umur. Bayi terlahir ibarat lembaran kertas putih bersih tanpa coretan. Orang tua adalah guru pertama bagi anak, dialah yang pertama kali mengasuhnya, akan mencoretkan dan mengisi kertas itu, dengan tinta hitam atau merah, atau warna lainnya. Akan dibawa kemana dan menjadi apa anak kita, kitalah pemegang kunci utama yang membentuk akhlak mereka.

Kepribadian dan akhlak anak juga dibentuk dari lingkungan dimana dia berada. Anak yang berada pada lingkungan yang keras, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang keras, pemberontak dan pantang menyerah. Anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang lembut, penyabar, penyayang dan bertanggung jawab. 

Memberi contoh dan menanamkan kedisiplinan anak tidak harus dengan bentakan dan teriakan. Mulailah dengan kalimat halus, kalimat sederhana yang bisa dimengerti anak. Berikan alasan mengapa ada hal yang tidak boleh dikerjakan dan boleh dilakukan dengan kalimat yang jelas, tanpa membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Karena pada hakikatnya anak tidak mau dibandingkan dengan orang lain, meskipun dengan saudaranya. 

Pola asuh anak adalah suatu proses yang ditujukan untuk meningkatkan serta mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial, dan intelektual seorang anak sejak bayi hingga dewasa. 

Pola asuh permisif 

Menurut ahli, pola asuh anak jenis ini memberikan kebebasan pada anak untuk menyatakan dorongan atau keinginannya. tidak memberikan batasan yang tegas pada anak. Orang tua akan mengikuti apapun yang anak inginkan sehingga ia cenderung enggak memiliki keteraturan dan kemampuan untuk meregulasi diri. Jika anak melakukan kesalahan, orangtua dengan pola asuh ini jarang, bahkan tidak pernah memberikan hukuman.

Menurut ahli, dampak pola asuh permisif akan membawa pengaruh atas sifat-sifat anak, seperti: suka memberontak, prestasinya rendah, suka mendominasi.kurang memiliki rasa kepercayaan diri, kurang bisa mengendalikan diri.

Pola Asuh Otoriter

Dalam buku Raising Children In Digital Era, dikatakan bahwa tipe orang tua otoriter biasanya lahir dari pola asuh serupa yang diterimanya ketika kecil. Pola asuh anak jenis ini tidak memberikan ruang diskusi pada anak. Peraturan dibuat untuk mengontrol anak.  Anak harus patuh, dan bila melanggar maka konsekuensinya adalah hukuman, bahkan hukuman fisik.   

Menurut ahli, efek negatif dari hukuman fisik ini bisa berakibat buruk pada fisik dan mental anak yaitu membuat anak berperilaku agresif, tak percaya diri, dan pemalu.  Anak yang sejak kecil selalu dikontrol kehidupannya, ternyata tidak bahagia dan memiliki kesehatan mental yang rendah. 

Menurut ahli, dampak pola asuh otoriter akan membawa pengaruh atas sifat-sifat anak, seperti: tidak bisa mengambil keputusan sendiri, takut salah, tidak mempunyai kekuatan untuk mengatakan tidak, takut mengemukakan pendapat.

Pola Asuh Autoritatif

Pola asuh ini memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten. Selain itu, pola asuh autoritatif tidak menggunakan kekerasan dalam mengasuh anak. Di sini, orang tua akan mendorong adanya diskusi dengan anak, memberikan kebebasan tapi juga memberikan kontrol. Anak akan diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggung jawab pada pilihannya.

Dampak pola asuh autoritatif pada anak adalah, anak memiliki keterampilan sosial yang baik, terampil menyelesaikan permasalahan, mudah bekerja sama dengan orang lain, lebih percaya diri dan lebih kreatif.

Nah...teman-teman guru pembelajar, pola asuh anak yang disarankan adalah yang autoritatif, yang juga bisa kita terapkan dalam mendidik siswa kita di sekolah. Berikan kesempatan anak untuk berkreasi, menyelesaikan tugas yang kita berikan terutama tugas keterampilannya, latih siswa untuk berdiskusi, bekerja sama dengan temannya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Mari, kita tanamkan teladan yang baik untuk anak dan siswa kita.



Selasa, 23 Februari 2021

Mendidik Anak Cara Ali Bin Abi Thalib


Anak adalah buah hati dari kedua orang tuanya. Tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak ingin anaknya berhasil di dunia dan juga di akhirat kelak. Karena anak akan menuntun kedua orang tuanya ke surga atau malah sebaliknya ke neraka. Anak adalah amanah yang diberikan dari Sang Maha Pemberi kepada kita, maka kita menjaga amanah dan menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Banyak orang yang lalai dalam mendidik anak. Disibukkan dengan urusan dunia, mereka lupa bahwa mendidik anak dinomorduakan, urusan anak diserahkan kepada pengasuhnya atau asisten rumah tangga, sehingga ketika dewasa anak salah asuhan, menjadi seorang yang tidak berguna di masyarakat, atau bahkan menjadi seorang penjahat, penipu dan sebagainya yang tidak berakhlak mulia. Naudzubillahi mindhalik..

Dalam mendidik anak cara Islam banyak dicontohkan dalam Al Qur'an, misal dalam Al Baqarah (QS : 1 ayat 83) yang artinya "Dan janganlah kamu menyembah kepada selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua oang tua, kerabat, anak yatim dan orang miskin .."

Dalam Nisa (QS : 36) yang artinya :"..Dan berbuat baiklah kepada kedua orang    tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, tetangga dekat, tetangga jauh...Allah tdak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.''

Mencuplik ceramah Ustadzah Aisyah Dahlan, bahwa mendidik anak cara Ali Bin Abi Thalib dengan rumus 7 x3 bisa dijadikan pegangan, yaitu :

  • 7 tahun pertama (0-7 tahun). Di masa tujuh pertama, adalah masa keemasan dimana semua akan menjadi contoh dan teladan bagi anak untuk bekal masa depannya. Selain perkembangan fisik, perkembangan otak, perkembangan mentalpun tumbuh dengan pesat.  Pada masa ini mulai ditanamkan pesan-pesan moral, adab berperilaku, larangan dan anjuran dengan memberi alasan yang benar, sehingga akan terpatri pada benak anak dua sisi menjadi pilihan, benar dan salah, baik dan buruk, boleh dan tidak.  Pada masa ini sangat disayangkan bila orang tua tidak menemani perkembangan anak, tidak memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak, tidak meluangkan waktu untuk anak dan membiarkan anak tumbuh dengan sendirinya tanpa arahan dan bimbingan dari orang tua. Dengan alasan bekerja terkadang mereka lupa bahwa anak juga butuh perhatian tidak hanya makan sandang terpenuhi.

  • 7 tahun kedua (8-14 tahun). Ketika anak memasuki usia sekolah, tanamkan anak untuk belajar disiplin dalam hal, disiplin waktu, disiplin dalam mengerjakan tugas, ajarkan anak untuk mulai mandiri, sehingga dia akan terbiasa bertanggung terhadap diri sendiri. Beri nasihat bila anak melakukan kesalahan, dan berusaha mengerti apa yang dikeluhkan, jangan menghakimi hanya karena berseberang pendapat dengan kita. Kita harus pandai menempatkan diri sebagai sahabat manakala dia mulai curhat kesulitan yang dialami dan beri dukungan agar kuat menyelesaikan masalahnya. Usia remaja biasanya anak akan mengalami perubahan baik fisik dan mentalnya. Anak mulai kritis dan mulai mencari idolanya.

  • 7 tahun ketiga (15 - 21 tahun). Pada masa ini anak sudah memasuki tahap akhir dari perkembangan fisiknya. Dia mulai memasuki masa kedewasaan, sehingga ajak anak untuk bisa bermusyawarah, berdiskusi, bertoleransi dalam segala hal sebagai bekal kelak hidup bermasyarakat. Ajarkan anak untuk mulai membangun masa depan, bersosialisi dan membangun relasi dengan orang lain, karena kelak dia akan menjadi seorang pemimpin (imam). Meski demikian kita sebagai orang tua wajib mengarahkan dan memberi kebebasan yang bertanggung jawab pada anak.

Teman-teman guru pembelajar hebat, kita sebagai guru yang merupakan orang tua kedua bagi siswa kita, sudahkah kita menempatkan siswa kita layaknya anak kita sendiri? Karena kita diberi amanah dari walimurid saat menyerahkan anaknya ke sekolah, tidak hanya diajar supaya pintar tapi juga dididik supaya menjadi pribadi yang tidak salah asuhan, pribadi yang berkarakter, pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki masa depan. Bila amanah ini kita jalankan, Insya Allah menjadi ladang amal untuk kita. 



Merdeka Belajar, Merdeka Berkarya dan Berimajinasi

Materi pembelajaran IPA  kelas VIII semester genap KD 7.1. tentang Tekanan Zat dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari dibagi menjadi subbab yaitu a) Tekanan pada zat padat, b) Tekanan pada zat cair c) Tekanan pada zat gas d) Tekanan pada tumbuhan e) Tekanan darah manusia. Pada materi ini penilaian ketrampilan bisa kita ambil berupa penilaian praktik, penugasan,  sekaligus portofolio dari laporan siswa. 

Materi KD 7.1. kita upload di dalam forum Google Classroom (menggunakan akun belajar.id) dimana pada Forum tersebut kita menuliskan skenario pembelajaran secara runtut, petunjuk pelaksanaan pembelajaran daring mulai menyapa siswa lewat maya, penyampaian materi, petunjuk mengerjakan tugas, dan petunjuk mengerjakan soal atau kuis. 

Materi dan Kuis. Pada Tugas Kelas, kita menyampaikan materi, bisa menggunakan power point, video pembelajaran, atau siswa diminta untuk membaca buku pegangan yang dimiliki. Materi yang kita sampaikan sedikit saja, berupa poin-poinnya,  siswa digiring untuk membaca dan memahami materi di buku pegangan yang selanjutnya siswa membuat rangkuman di buku catatan menurut pemahaman mereka. Tugas kita adalah memotivasi siswa untuk mau membaca dan mengeksplor pengetahuan yang terdapat pada materi.

Agar siswa aktif dan mau membaca, kita pancing dengan pertanyaan yang jawabannya ada di modul atau buku pegangan siswa. Pertanyaan atau kuis kita buat di platform Google Formulir yang kita intergrasikan dalam Google Classroom. Usahakan kuis bukan berupa multiple choice atau pilihan ganda tapi soal esai singkat atau esai jawaban panjang. Hal ini akan mendorong siswa mau tidak mau untuk membaca materi tersebut dan memahaminya. Kuis kita beri skor penilaian dengan rentang nilai karena jawaban siswa relatif. Penilaian seperti ini disebut penilaian kualitatif, karena yang dinilai adalah partisipasi siswa dalam mengerjakan kuis bukan benar dan salahnya.

Project : Alat peraga sederhana. Di Tugas Kelas kita tuliskan juga tugas membuat alat peraga sederhana yaitu alat untuk percobaan mengukur besarnya tekanan zat cair atau tekanan hidrostatis. Pada bagian ini kita upolad video tentang cara membuat dan mempraktekan alat peraga sederhana yang dapat dibuat sendiri oleh siswa dan dipraktekan, sekaligus perobaan atau prakteknya didokumentasikan berupa video. Video diberi narasi atau penjelasan, tentang tujuan dan penggunaaan alat tersebut. Hasil video siswa diupload di Tugas Kelas di Google Classroom atau bisa dibuatkan link dan akan tersimpan di drive.

Penilaian Ketrampilan. Pada KD ini kita bisa melakukan  penilaian  ketrampilan yaitu : 1) penilain produk dari alat peraga yang dikumpulkan, 2) unjuk kerja yang berupa rekaman video dari percobaan siswa,  3) portofolio berupa Laporan Praktikum yang dikumpulkan. Format Laporan Praktikum sebelumnya sudah ditentukan yang berisi : judul praktikum, tujuan praktikum, alat dan bahan yang digunakan, cara kerja, hasil pengamatan (dalam bentuk tabel), kesimpulan. Bisa ditambahkan satu atau dua pertanyaan yang terkait dengan praktikum. Rubrik penilaian ketrampilan bisa kita buat dalam bentuk tabel dan dilengkapi dengan pedoman penskoran dan pedoman penilaian.

Nah, teman-teman guru pembelajar hebat, di era merdeka belajar, adalah kesempatan bagi kita untuk merdeka dalam mengajar, siswa bebas berkarya, berkreasi dan berimajinasi. Biarkan siswa kita menuang dan mengekspresikan ide yang mereka miliki. Tugas kita memotivasi, mendorong dan mengajak mereka untuk menciptakan karya, serta memberi apresiasi terhadap karya mereka. Selamat berkarya!

Senin, 22 Februari 2021

“Knowledge is invented, not discovered”

Dalam teori belajar konstruktivisme dinyatakan bahwa “Knowledge is invented, not discovered” yang artinya "Ilmu pengetahuan itu ada karena diciptakan, bukan ditemukan" . Apa arti dari filosofi ini?

Invented atau diciptakan mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan itu terjadi dari upaya manusia untuk mendapatkan keinginan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Jadi ilmu pengetahuan itu memang berkembang atau terjadi dari suatu proses yang panjang, bukan serta merta ada, sesuatu yang diusahakan, melalui penelitian. Discovered atau ditemukan mengandung makna dari yang tidak ada menjadi ada, tiba-tiba, tanpa proses.

Menurut pandangan konstruktivisme pengetahuan yang didmiliki oleh setiap individu adalah hasil konstruksi secara aktif dari individu itu sendiri. Individu tidak sekedar mengimitasi atau membentuk bayangan dari apa yang diamati atau diajarkan guru, tetapi secara aktif individu itu menyeleksi, menyaring, memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya (Indrawati, 2000).

Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah :

  • peserta didik tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif, melainkan individu yang memiliki tujuan serta dapat merespon situasi pembelajaran berdasarkan konsep awal yang dimilikinya. 
  • guru melibatkan proses aktif dalam pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya
  • pengetahuan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan melalui seleksi secara personal dan sosial.

Melihat karakteristik di atas, maka guru dituntut untuk bisa mengenali karakteristik dari siswanya, menciptakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik aktif, menerapkan metode pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik membangun pengetahuannya (konstruktiv), dan mengajak siswa untuk bernalar kritis. 
 
 
Misal di dalam pembelajaran IPA, sebelum masuk ke materi pelajaran peserta didik diminta untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajarinya pada pertemuan sebelumnya. bisa dengan pemberian kuis sederhana. Pada kegiatan inti, peserta didik dituntun untuk bernalar kristis, memberi kesempatan berkolaborasi dengan temannya, mengambil kesimpulan dari materi yang dipaparkan. serta diajak untuk mengkomunikasikan (mempresentasikan) di depan kelas.
 
 
Pada aspek ketrampilan peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tujuan saling melengkapi dan bertukar informasi dalam kelompoknya, menjadi tutor sebaya, memecahkan masalah dan tugas yang diberikan. Bila memungkinkan dilakukan praktek atau percobaan sederhana yang ide dan kreativitasnya dikembalikan pada mereka.
 
 
Lalu apa tugas guru? Tugas guru adalah 1. Menetapkan tujuan  pembelajaran dan menyediakan tugas IPA untuk membantu siswa mencapi tujuan. 2. Menstimulasi  dan mengelola diskusi kelas  sehingga apa  yang dipelajari diketahui oleh  siswa dan guru 3. Menciptakan  lingkungan kelas yang mendukung pembelajaran IPA 4. Menganalisis pembelajaran  siswa , tugas IPA dan lingkungan untuk membuat instruksi yang berkelanjutan.
 
 


Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...