Sabtu, 15 Januari 2022

Ujian Lima Tahun Perkawinan (10)

Meski kedua orang tuaku meminta aku untuk menggugat cerai pada Mas Aro, aku tetap tidak mau bercerai darinya. Aku yakin dari sholat tahajud dan istikharoh yang kulakukan, jawaban hatiku makin kuat, bahwa aku tidak ingin bercerai darinya. Kuyakinkan pada bapak dan ibu, kami akan menghadapi ujian ini bersama, dan kuyakinkan pada mereka, kami bisa melewatinya bila mendapat dukungan keluarga, bapak dan ibu.

Aku paham dan mengerti, tentu bapak dan ibu sedih dan kecewa, putri kesayangannya menderita lahir dan batin, karena suaminya tidak bertanggung jawab, tidak  menafkahinya selama sekian bulan. Tapi bapak dan ibu tidak bisa memaksakan kehendaknya, tidak bisa turut campur dalam urusan dalam negeri rumah tanggaku. Aku yang menjalaninya dengan segala konsekuensi dan resikonya. Aku hanya berharap doa dan kebesaran hati kedua orang tuaku untuk memaafkan aku dan Mas Aro. Dan terima kasih yang tak terhingga pada kedua orang tuaku, karena disamping merawat Alif, karena Alif kutitipkan di rumah ibu selama aku bekerja, bapak dan ibu juga membantu finansial  rumah tangga kami. Ibu sering membawakan kami makanan dan kadang-kadang memberi jajan dan mencukupi kebutuhan Alif. Karena bagaimanapun juga aku anaknya dan Alif adalah cucunya, tentu mereka tak akan tega kami hidup dalam kekurangan dan kemiskinan.

*****

Belum ada sebulan saat Huda sakit dan dirawat di rumah sakit, cobaan menghantam rumah tanggaku lagi. Aku masih ingat waktu itu, Mas Aro mengabarkan kalau siang tadi Alif jatuh saat bermain di jam istirahat sekolah. Alif bermain ayunan sambil berdiri dan jatuh dengan posisi kepala di bawah. Ini mengakibatkan dia muntah dan pusing luar biasa sehingga nangis terus menerus.

Mendengar berita itu, hatiku tersayat-sayat. Alif anakku jatuh di sekolah? Bagaimana keadaannya? Bagaimana gurunya dalam menjaganya? Anak-anak TK memang aktif. Usia mereka adalah usia bermain. Bagaimana gurunya bisa lalai dalam menjaganya? Seribu pertanyaan berkecamuk dalam hatiku. Buah hatiku jatuh dan kini dirawat di RSU Panti Wilasa. Duh Gusti..belum hilang kejadian kemarin saat adiknya dirawat di RSU ini, kini kakaknya malah harus rawat inap karena ada gegar otak di kapalanya. Ya Allah, masihkah Engkau menguji kesabaran kami? Anakku yang masih kecil, masa-masa pertumbuhan emas dalam hidupnya harus mengalami kecelakaan ini? Sembuhkanlah anakku Ya Allah. Belas kasihani anakku. Ya Rahman Ya Rahim…hamba mohon sembuhkanlah, jadikan dia anak yang kuat Ya Allah.

Segera aku menyusul ke RSU Panti Wilasa. Hatiku sangat sedih. “Kasihan kamu Mas. Maafkan mama, kamu harus menderita begini. Jauh dari mama dan kini kamu sakit”, kataku sambil mengelus kepalanya. Air mataku bercucuran. Melihatnya diinfus dan wajahnya yang pucat membuatku tak tega. Alif anak yang baik tentu kamu kuat nak. Semoga tidak ada kerusakan serius di kepalamu. Semoga ini hanya benturan ringan yang tidak membahayakan.

Keesokan harinya aku dipanggil dokter. Kata dokter Alif sudah tidak muntah. Dia masih harus dirawat dalam beberapa hari, dan tim dokter anak akan melakukan cek ct scan pada kepalanya untuk memastikan keadaan otaknya. Dan harapannya kalau kejadian itu diringi dengan muntah yang merupakan rksi spontan tubuh, tentu tidak akan membahayakan organ otaknya. Begitu  penjelasan dokter yang membuatku merinding. Untunglah dr. Susetyo adalah dokter anak terbaik di RSU itu. Aku mohon dia bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk anakku.

“Alif, anak mama sayang..kamu harus sembuh ya nak. Kamu jangan lama-lama tidur di rumah sakit ini. Kasihan Mbah Uti dan Mbah Kung yang sudah kangen dengar suaramu. “

“Iya, mama. Alif pingin cepat sembuh.”

“Nanti kalau Alif sembuh, Alif mau minta hadiah apa sayang.”

“Aku pingin mobil balap yang besar yang ada remotenya ma.”

“Nanti mama belikan tapi kamu harus mau makan yang banyak. Biar cepat sembuh ya. Nanti kalau sudah sembuh kita jalan-jalan sama ayah dan Dik Huda. Ok?”

bersambung …

Ujian Lima Tahun Perkawinan (9)


Setelah menjalani perawatan dan diinfus, suhu badan Huda sudah berangsur turun. Kini suhunya sudah normal dan sore itu diijinkan pulang oleh dokter. Alhamdulillah, meski aku harus menebus obat dengan harga yang lumayan mahal tapi kabar gembira karena sudah diijinkan pulang jadi agak mendinglah daripada harus rawat inap yang tak terbayang berapa uang yang harus aku bayar. Dan sore itu kami pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang itu, aku bertanya pada Mas Aro, kemana dia pergi selama ini. “Mas, kamu selama ini kemana saja? Tidak ada kabar berita. Tidakkah kamu merindukan kami?”

“Pertanyaanmu tak perlu kujawab, Dik. Apakah aku tak rindu kalian? Setiap hari setiap saat wajah kalian terbayang di pelupuk mata. Setiap malam aku selalu berdoa untuk kalian. Ingin rasanya pulang, memuntahkan rasa kangen ini, tapi seketika itu teringat kau marah padaku, karena aku belum bekerja. Terbayang betapa kau berjuang mencari nafkah dan menghadapi orang-orang yang menagih hutang, membuat nyaliku ciut untuk pulang. Aku  merasa berdosa dan bersalah pada kalian, tapi aku tak berani pulang, Maafkan aku.”

“Lalu selama ini kamu kemana? Kamu tidur dimana?”

“Aku berusaha mencari pekerjaan, Dik.  Tidur di rumah teman, dari satu teman ke teman yang lain. Kadang di mushola atau di masjid.”

“Masya Allah, ada tempat yang nyaman di rumah Mas. Kenapa kamu tidak pulang ke rumah saja? Lalu bagaimana makanmu? Dari mana?”

“Dari belas kasihan orang. Kadang-kadang ikut bantu mengajar di pondok.”

“Maafkan aku, Mas. Memang aku marah padamu karena perbuatanmu membuatku menderita. Tapi aku tak bisa hidup tanpamu. Aku membutuhkanmu. Bagaimanapun keadaanmu, engkau adalah suamiku. Seberat apapun beban pikiranmu aku wajib menolongmu, aku harus mau menerima kenyataan bahwa ini ujian untuk kita, kita harus bersama melewatinya”, isakku dalam dekapannya.

Aku tak kuasa menahan air mata ini. Menjalani hari-hari tanpa dia di sisiku, rasanya berat hidup ini. Meski aku sombong bisa mencari nafkah sendiri, bisa membesarkan kedua anakku dengan gajiku sendiri dan menganggap suamiku tak ada gunanya, namun aku tak bisa menolak kenyataan yang ada, aku tak bisa pungkiri bahwa aku membutuhkan kehadirannya, membutuhkan dia tempat aku mencurahkan isi hati dan perasaanku, tempat aku mengadu dan berbagi kesedihan. Meski pernah kedua orang tuaku meminta aku menggugat cerai pada Mas Aro, karena dia tidak bertanggung jawab, sudah sekian bulan tidak memberi nafkah, dan tak pernah pulang, tapi keinginan untuk bercerai darinya tak ada di hatiku. Aku masih mencintainya.

Seberat apapun ujian yang kuhadapi, aku yakin Allah akan menolongku. Kupasrahkan semua padaNya. Aku yakin aku bisa melewatinya. Meski perceraian halal dan aku berhak mengajukan gugat cerai karena tak dinafkahi lahir dan batin selama sekian bulan, tapi aku tak sanggup melakukannya. Aku tak mau anak-anakku kehilangan sosok seorang ayah. Aku tak mau menjadi janda. Predikat yang tak pernah aku bayangkan. Meski aku mampu menghidupi anak-anakku tapi menyandang status janda membuatku takut menghadapi kenyataan hidup. Aku yakin meski bercerai itu halal tapi Allah membencinya. Apalagi hanya persoalan ekonomi.

Setiap malam aku bangun untuk mengambil air wudlu. Melakukan sholat tahajud menjadikan hatiku tenteram dan aku kuat menjalani ujian ini. Aku bersimpuh, memohon ampun, mengadu dan menangis hanya pada Allah. Kupanjatkan doa, kucurahkan semua isi hatiku, aku yakin Allah Maha Mendengar doa dari hamba yang teraniaya. Semoga Allah memberi petunjuk, apa yang mesti aku lakukan, menunjukkan jalan yang terbaik. Seandainya Mas Aro masih menjadi suamiku, tolong bawa pulang dia Ya Allah. Beri dia hidayah dan ingatkan padanya ada anak dan istri yang setia menunggunya. Ada keluarga kecil yang mengharap keberadaannya.

bersambung…

Ujian Lima TAhun Perkawinan (8)


 “Dik Nung, bagaimana Huda? Sudah ketemu dokter?” tanya Mas Aro menyadarkan lamunanku.

“Ayah…ayah, adik sakit “, teriak Alif.

“Iya, mas. adik sakit. Kita berdoa agar adik sembuh ya.” jawab Mas Aro tenang sambil meraih tangan Alif dan menggendongnya.

Kulihat suamiku. Benarkah ini suamiku? Ya, Allah terima kasih..Engkau mengabulkan doa kami. Alhamdulillah ..dia sehat. Aku menatapnya beberapa saat tanpa berkedip.

“Baru ditangani dokter, Mas. Tadi diambil sampel darahnya, katanya ada gejala tifus”, jelasku. “Kok Mas bisa tahu aku ada di sini?”

“Tadi pagi saat aku pulang ke rumah, Kalian bertiga sudah berangkat. Bude bilang, Huda sakit dan kamu membawanya ke dokter. Lalu aku segera menyusulnya, pasti di RSU ini,  karena ini yang terdekat. Jadi aku langsung kemari. Kamu baik-baik saja, Nung?”

“Iya, Mas. Tadi sempat bingung dan cemas. Aku takut kenapa-kenapa dengan Huda, segera kuputuskan kemari. Kata dokter panasnya 39 derajad dan ini harus mondok. Kalau panasnya sudah turun boleh pulang.”

“Mudah-mudahan panasnya nanti turun dan kita bisa pulang. Aku sudah kangen sama kalian.”

“Heem..”, anggukku.

“Maafkan aku Dik. Aku meninggalkan kalian bertiga dalam kesulitan. Kini kuputuskan aku mencari kerja di sini saja. Kerja apapun asal bisa dekat dengan kalian. Aku janji tidak akan meninggalkan kalian lagi.” katanya sambil mengelus rambutku.

Benarkah yang diucapkannya, Mas Aro juga kangen seperti yang aku rasakan ? Mas Aro janji tidak akan meninggalkan kami lagi? Dan dia akan mencari pekerjaan di sini? Duh, Gusti Allah, ampuni kami. Selama ini kami bertahan dalam ego kami, padahal kami saling merindukan, saling membutuhkan. Ampuni kami Ya Allah, ampuni kesalahan kami. Semoga kami dapat memperbaiki hubungan kami. Semoga ini yang pertama dan terakhir kami bertengkar.  Ternyata di balik ujian yang Engkau berikan, ada hikmah di dalamnya. Kami jadi saling memahami dan mengerti keinginan masing-masing. Perselisihan pendapat yang kemarin, menjadikan kami saling introspeksi diri bahwa tidak semua keinginan kita harus kita paksakan pada pasangan, harus menghargai dan memahami keinginan pasangan juga. Dan tidak semua yang jelek dari pasangan kita membuat kita mudah marah dan kita lampiaskan, tentu ada sisi baik dari pasangan kita. Yang inilah yang harus kita kenang agar kita bisa mempertahankan mahligai rumah tangga.

Kita saling memaafkan dan mengikhlaskan kekurangan masing-masing. Bisa jadi kita dijodohkan oleh Allah untuk saling melengkapi, bukan untuk mengoreksi kekurangan masing-masing. Bisa jadi apa jelek di mata kita, yang tidak kita sukai, adalah yang terbaik yang direncanakan Allah untuk kita. Tidak usah kita membandingkan nasib kita dengan nasib orang lain yang kelihatannya lebih baik dari kita. Tidak usah kita melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Cukuplah kita mensyukuri apa yang sudah Allah berikan pada kita, apa yang sudah kita miliki. Bila kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan, maka Allah akan menambah nikmatNya, namun bila kita mengingkarinya, azab Allah amat pedih. Sesuai petunjuk Allah dalam firman,

QS : Ibrahim ayat 7                                                                                                                                  لَشَدِيْدٌ وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ

bersambung…

Ujian Lima Tahun Perkawinan (7)


 Hari-hari menjelang persalinan anakku yang kedua sudah semakin dekat. Tak ada persiapan yang istimewa untuk menyambut baby kecilku. Hanya doa yang selalu aku panjatkan semoga semua lancar, anakku lahir sehat dan selamat. Sengaja aku mengajukan cuti mendekati hari H melahirkan agar waktu tiga bulan bisa kunikmati bersama babyku.

Sementara itu Mas Aro sudah mendapat pekerjaan meski masih serabutan, katanya membantu usaha temannya. Ketika aku tanya, pekerjaannya apa? Membantu usaha apa? Jawabannya tidak jelas. Kadang-kadang terbersit dalam pikiranku, apakah dia masih mengejar uang itu? Apakah dia tidak membohongiku lagi? Aku ingin membuntutinya saat dia berangkat kerja. Benarkah dia bekerja? Atau hanya sekedar keluar rumah? Mengapa dia bekerja dua tiga hari sekali baru pulang? Dan sudah sebulan ini dia juga belum memberikan gajinya padaku?

*****

Kini anak keduaku sudah lahir. Alhamdulillah…baby mungil laki-laki, sehat dan ganteng. Kami memberi nama Mochammad Nurul Huda Assidiq. Kata ‘Assidiq’ sengaja aku tambahkan sebagai pertanda bahwa saat itu ibunya yang tengah mengandungnya mencari kebenaran dari ayahnya. Dan berharap kelak anaknya menjadi anak yang bersinar, menjadi panutan dan selalu melangkah dalam kebenaran. Amin.

Karena Mas Aro jarang pulang, kami jarang berkomunikasi. Aku tidak punya nomor telepon tempat dia bekerja atau nomor telepon temannya. Waktu itu orang masih jarang punya handphone. Jadi aku tidak tahu keberadaannya, bagaimana dia di sana, apalagi pekerjaannya. Namun dia bisa meneleponku siang hari saat aku masih di rumah ibu. Bila ditanya ibu bapak dimana Aro, kenapa sekarang tidak pernah menjemput lagi, hanya bisa kujawab bahwa dia bekerja di luar kota, dua tiga hari baru pulang. Syukurlah sudah bekerja, doa mereka. Namun bila ditanya apa pekerjaannya, luar kotanya mana, aku diam tak bisa menjawab. Dalam hati aku kesal, masak aku istrinya sendiri, orang yang paling dekat dengannya, tidak tahu keberadaan suamiku. Betapa bodohnya aku, sampai aku tidak tahu apa yang dilakukan Mas Aro selama ini? Bukankah aku masih serumah dengannya? Lalu kenapa aku sampai tidak tahu kemana suamiku pergi?

Hubungan kami semakin hari semakin buruk. Masing-masing jarang untuk saling menyapa. Aku pun menghiraukannya, karena aku sibuk dengan dua anakku yang masih balita. Untunglah Bude  Kasminah, kakak dari ibu mau tinggal bersama kami dan merawat Huda yang baru berumur sebulan. Beliau tidak punya keluarga, karena tidak punya anak dan suaminya sudah meninggal. Kami keponakannya dianggapnya sebagai anak sendiri. Aku pun menganggap Bude Kasminah seperti ibuku sendiri. Sering kami bercerita tentang masa-masa kecil dulu yang juga diasuh beliau. Kini dia tinggal bersama kami. Dia sangat menyayangi Huda anakku.

Suatu hari, anakku Huda sakit. Sudah dua hari demam. Hari ketiga demamnya belum juga turun, meski sudah kuberikan obat turun panas. Selain itu dia juga tidak mau minum susu, tubuhnya lemas karena muntah terus sejak pagi. Bude Kasminah yang mengasuhnya menyarankan untuk membawa ke dokter. Tanpa pikir panjang kuputuskan aku harus membawa ke dokter, meski aku tidak punya uang untuk membayarnya.

Pagi itu juga Alif kubangunkan lebih awal untuk bersiap ke sekolah sekalian membawa adiknya ke dokter. Karena sudah terbiasa bangun pagi, Alif tidak rewel dan mau segera bangun untuk ke sekolah. Sengaja aku berangkat lebih pagi untuk menghindari berdesakan dalam angkot karena aku membawa kedua balitaku, Alif yang masih duduk di TK B dan Huda yang masih berumur 5 bulan dalam gendonganku.

Kami bertiga berjalan menuju terminal angkot. Bude Kasminah melepas kami dengan sedih dan berdoa lirih, hati-hati di jalan, semoga Allah melindungi kalian. Kugendong Si Kecil Huda dan kugandeng Alif, menunggu ankot datang. Untunglah, tak lama kemudian angkot datang dan kami dapat tempat duduk, karena masih pagi, masih pukul 05.30 WIB.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdoa dan mohon ampun pada Allah, semoga anakku bisa terselamatkan. Tak terasa air mata ini menetes, sedih, gelisah dan bingung bercampur jadi satu. Melihat Huda yang semakin lemes dalam gedonganku, matanya terpejam membuatku semakin nelongso. Ya Allah, ampuni dosa dan salah hambaMu, selamatkan anakku, sembuhkan dia, Ya Allah. Doaku tak terputus sepanjang perjalanan dari rumah sampai rumah sakit.

Pukul 06.30 bus sampai di RSU Panti Wilasa. Segera aku turun, dan kugandeng Alif. Aku putuskan untuk langsung IGD setelah melihat Huda yang semakin lemes. Alif bertanya, “Kenapa kita turun di rumah sakit, Ma. Tidak di rumah Mbah Kung?” Mbah Kung adalah panggilan Alif untuk bapakku.

“Tidak sayang, kita periksakan adik dulu, baru nanti mama antar kamu ke sekolah.”

“Nanti aku terlambat Ma..”

“Nanti mama ijinkan kalau kita periksakan adik dulu.”

“Baik, Ma. nanti aku dijemput Mbah Kung ya.”

“Iya sayang..”, jawabku setengah menahan air mata yang hampir menetes.

Ya, Allah di tengah kami mendapat ujianMu, dimanakah suamiku berada? Kemana aku bisa menghubunginya? Tidakkah dia merasa aku sangat merindukannya, aku membutuhkannya. Meski aku merasa kuat dengan kesombonganku, bisa hidup tanpa dia, ternyata saat ini aku sangat mengharapkannya, dia ada di sampingku, menemaniku di saat-saat seperti ini, di saat aku butuh seseorang untuk menguatkanku, untuk menenangkanku. Y a Allah, bawalah suamiku pulang. Tidakkah dia merasa anaknya sakit, kami sekeluarga sangat mengharapkan dia pulang.

bersambung…

Ujian Lima Tahun Perkawinan (6)

 Setelah Mas Aro menceritakan semuanya padaku, aku merasa sedikit lega, meski rasa marah dan kecewa belum hilang. Bahkan semenjak dia tak bekerja lagi aku muak melihat mukanya. Beberapa hari tidur kami berpisah kamar. Aku lebih senang tidur dengan Alif anakku, dia di kamar yang lain. Sebenarnya aku merasa kasihan juga melihatnya. Sehari-hari dia diam di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, menyetrika dan mengepel lantai. Dia jarang keluar rumah, tidak punya pekerjaan, terlilit hutang, dan sekarang dibenci istrinya.

“Mas cobalah untuk mencari kerja. Kerja apa saja yang penting halal”, kataku sore itu membuka percakapan dengan Mas Aro.

“Iya, Dik. Besok aku akan cari kerja “, jawabnya pendek.

“Kalau Mas hanya diam di rumah, mana ada pekerjaan menghampiri kita. Carilah rezeki yang halal, kehidupan yang normal, jauhkan dari yang mistis. Kalau kita mau berusaha, Allah akan memberi kemudahan kalau kita memohon kepadaNya”, kataku lembut. Aku tidak ingin suamiku tersinggung karena aku menasihatinya.

“Iya, Dik. Terima kasih sudah mengingatkan.”

Aku tidak mau suamiku hanya di rumah saja. Tentu kewajiban suami adalah menafkahi keluarga. Aku risi saat bapak dan ibu menanyakan kenapa Mas Aro sekarang kelihatan kurus dan sering melamun, seperti tidak punya gairah hidup.


“Mas jangan terlalu memikirkan uang yang sudah hilang. Yang sudah hilang, biarlah hilang tidak usah disesali. Biarlah mereka menipu kita. Kalau Mas terus mengejar, waktu Mas akan habis, hilang percuma.  Mereka seperti jaringan yang saling menyalahkan, tidak mau bertanggung jawab, dan berbelit. Kita tidak bisa menuntut mereka karena kita tidak punya bukti hitam di atas putih. Lagipula orang yang sudah mendapatkan uangnya pasti sudah kabur. Yang terpenting ini menjadi pelajaran bagi kita, jangan mudah percaya sama orang yang tidak kita kenal. “

Sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku tidak ingin ayahnya bersedih terus dan terpuruk. Semenjak Mas Aro tidak bekerja, tetangga, teman dan saudara menjauhinya. Tetangga sebelah yang biasanya menyapa, kini enggan menyapa. Mungkin mereka mendengar bahwa Mas Aro sering didatangi orang untuk menagih hutang. Ini menjadikan Mas Aro sering mengurung di kamar dan meminta aku menemui mereka yang datang mencarinya. Aku yang menjelaskan pada mereka bahwa suamiku tidak bekerja, tapi mereka tetap ngotot uang yang dipinjam harus dikembalikan, dan mereka tidak mau tahu. Meski suamiku tidak bekerja, aku harus membayarnya, karena aku istrinya bekerja. Maka aku minta tempo pembayaran dan akan kucicil. Kadang aku juga berbohong kalau suamiku tidak ada di rumah, ketika aku enggan menemui mereka. Astagfirullah..ampuni kami ya, Allah.

Ternyata tidak saja uang perusahaan yang dipakai suamiku, tapi dia juga pinjam beberapa rentenir. Tentu saja pengembaliannya berlipat karena berbunga dan beranak pinak. Barang-barang berharga di rumah sudah tidak ada. Sudah aku jual. Jangankan televisi atau kulkas yang sudah disita, karena aku tidak bisa membayar, kalung emas milikku dan cincin pernikahan kami pun sudah berpindah tangan. Apalagi motor satu-satunya alat transpot kami pun sudah kami jual. Terpaksa aku harus naik angkot bila ke sekolah dan ke rumah ibu saat menitipkan Alif.

Ya, harus bagaimana lagi, semua harus kuikhlaskan. Aku hanya bisa menangis dan berharap kami bisa melewati ujian ini. Karena bagaimanapun Mas Aro adalah suamiku. Suami pilihanku. Pernah aku berpikir di usia lima tahun pernikahan kami, mengapa begitu berat ujian yang kurasakan. Mas Aro tidak bekerja, terlilit hutang yang banyak, kadang-kadang kami hanya makan sehari satu atau dua kali. Bila kulihat dan kudengar teman-teman kuliah dulu yang kini hidupnya sukses, pekerjaannya mapan, aku menangis dan mengeluhkan nasibku yang tidak sama dengan mereka. Ya, Allah…kuatkan hamba dengan semua ujianMu ini. Hamba yakin Engkau tidak akan menguji hamba di luar batas kemampuan hambaMu. Engkau Maha Pengasih dan Penyayang.

bersambung …


Ujian Lima Tahun Perkawinan (5)

 KMAA#17

Mas Aro dengan tenang bercerita bahwa dia tak tega melihatku bekerja membanting tulang sekuat tenaga demi membantu suami mencari nafkah. Aku yang tengah mengandung anak kami yang kedua memang berbeda dibanding saat aku mengandung Alif anak kami yang pertama.


Dulu saat aku mengandung Alif, kurasakan semua terasa indah, masa-masa pengantin baru, masa-masa ‘pacaran’ dengan Mas Aro. Semua yang kuinginkan terpenuhi. Kasih sayang Mas Aro semakin erat menggenggamku. Kami saling mencintai dan menyayangi, saling bermanja dan selalu berdua. Dunia serasa milik berdua, dan aku selalu lengket kemanapun dia ada, di situ aku di sisinya. Kebahagiaan kami bertambah lengkap dengan lahirnya Alif di tengah-tengah kami. Itu masa-masa indah di awal pernikahan kami.

Sebaliknya sangat berbeda saat aku hamil yang kedua ini. Aku yang menjadi guru honorer di sekolah negeri dengan gaji sepelima dari gaji yang dulu, membuatku harus berhemat. Kami makan seadanya, tidak pernah  jajan di luar apalagi jalan-jalan. Itu kami lakukan demi susu Alif tercukupi. Melihat hal ini Mas mulai terusik bagaimana mencari tambahan income untuk menopang kehidupan kami. Tapi bukan bekeja lebih ektra atau mencari sambilan pekerjaan melainkan terbujuk rayuan setan dengan terlibat bisnis investasi yang tidak jelas dan penggandaan uang dengan iming-iming bisa menghasilkan uang sekian kali lipat dari modal yang ditanam.

Sebulan dua bulan diterima hasil bagi saham dengan lancar dan memang diberi uang yang cukup menggiurkan dengan maksud menanamkan kepecayaan dari korban, termasuk Mas Aro, sehingga Mas Aro tergiur untuk menambah saham lagi dengan harapan mendapat pengembalian lebih banyak lagi. Entah bagaimana dia bisa terbujuk hingga tak memikirkan uang siapa yang dipakai dan tak bisa berpikir logis bahwa bisnis itu tak mungkin segampang menyulap lembaran kertas menjadi uang, lebih-lebih sudah lupa akan hukum dosa, halal dan haram dalam mencari uang. Dan tebukti, bulan berikutnya pengembalian uang mulai tersendat namun saham terus diminta, seakan-seakan Mas Aro sudah terhipnotis untuk menambah saham, menambah lagi dan lagi hingga puluhan juta uang kantor tersedot ke sana. Bingung cara mengembalikan uang kantor yang dia pakai, digadaikanlah sertifikat rumah kami tanpa sepengetahuanku untuk mencicil uang kantor, dan dia diPHK oleh perusahaan tanpa pesangon.

Aku tak menyadari bila Mas Aro di PHK dari perusahaan tempat dia bekerja. Tiap hari kami berangkat dan pulang bersama. Setelah menitipkan Alif ke rumah ibu, dia mengantar aku ke sekolah. Dan sore hari dia menjemputku pulang juga masih masih beseragam kantor. Lagipula tiap bulan dia masih memberikan gajinya masih dalam amplop tertutup. Selama hampir empat bulan lamanya dia bersandiwara, tidak bisa bercerita dan membohongiku. Entah karena tidak ingin mengecewakanku atau karena pengaruh hipnotis itu. Astaghfirullah …Ya, Allah ampuni suamiku. Jauhkanlah dai kemusyrikan, kembalikan Mas Aro seperti yang kukenal dulu. Tunjukilah dia ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridloi bukan jalan yang menyesatkan yang Engkau murkai.

bersambung…

Baiti Jannati (7)

 


Allah akan selalu menguji hambanya untuk mengetahui seberapa besar kadar keimanan seseorang dan seberapa besar keikhlasandan kesabarannya dalam menerima ujian dari Allah. Semakin tinggi tinggi keimanannya semakin ikhlas dan sabar dalam menerima dan menyikapi ujian yang diberikan kepadanya, maka akan semakin besar pahala yang akan diberikan Allah seperti yang dijanjikan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 155-157 yang bunyinya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ujian yang diberikan oleh Allah tidak selamanya berupa kesedihan dan kekurangan atau kemiskinan, tapi juga kenikmatan dan kekayaan harta, pangkat dan kedudukan. Sehingga apabila kita mau menyadari sesungguhnya kenikmatan, harta, pangkat dan kedudukan adalah ujian yang bagi sebagian orang tidak menyadarinya. Ujian bagaimana kita bisa selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan berbagi kenikmatan dengan sesama serta tidak lalai akan kenikamatan dunia yang hanya sesaat.

Orang yang sedang diuji kekurangan harta dan kesulitan hidup akan meminta pertolongan dan mendekatkan diri pada Allah Sang Maha Kaya Maha Pemberi, namun orang yang sedang diuji kenikmatan hidup dan kekayaan seringkali lupa dan melalaikan Tuhannya Sang Maha Pemberi, merasa diri hebat dan sombong. Naudzubillah.

Ya, Allah Ya Robb …mungkin apa yang kualami saat ini adalah ujian yang Engkau berikan pada kami, aku dan Mas Aro. Ya, Allah ampuni aku…hambaMu yang penuh dosa dan khilaf yang tak kuasa dan sabar akan ujian yang Enkau berikan ini, yang terlena dengan kilau dunia dan kenikmatan sesaat, yang terlena dengan sanjungan, yang acuh dan masa bodoh dengan sindiran, bahwa itu semua adalah teguran agar hamba tak jauh melangkah dan membiarkan hati bermain-main api.  Namun sebaliknya hamba menyukainya dan berharap ini tak berakhir dan hamba terus terjerumus ke dalamnya, ke dalam lubang rasa yang seharusnya hamba hindari, menyukai sosok pria lain di hati ini.

Ya Allah Ya Robb mohon ampun dan mohon matikan rasa yang ada di hati ini, rasa yang menggoda dan sekaligus rasa yang melukai hati hamba, hati suami hamba, hati dia dan istrinya. Ya Allah jangan jadikan hamba orang yang merusak kebahagian orang lain, jangan jadikan hamba menyakiti suami hamba, menghancurkan keharmonisan rumah tangga yang sudah puluhan tahun kami bina. Ya Allah Ya Robb Engkaulah Maha Mengetahui segala isi hati, apa yang ada di lubuk terdalam hati hamba, Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati dan perasaan hamba, tolong hilangkan rasa ini, kuatkan hamba untuk tidak meneruskan rasa ini, kuatkan hamba untuk memulai tak ada rasa apapun terhadapnya. Hilangkan, matikan rasa ini dan kembalikan suami hamba agar tak menjauh dan curiga lagi. Hamba mohon ampun Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, semoga ini menjadi pelajaran hidup bagi kami, Jangan biarkan ada orang ketiga diantara kami. Jangan biarkan Mas Aro tak mencintaiku lagi, Jangan berhenti tuk mencintai aku, karena aku mencintainya.

Tangisku pecah malam itu saat tahajud memohon petunjuk dan ampunan pada Allah, mengakui dosa dan khilaf setelah sekian lama aku tak melakukan tahajud. Aku pasrah, memohon ampunan dan curhat, atas apa yang mengganjal dan menyesakkan dada. Semoga di hari-hari mendatang tak ada rindu, kangen dan hati berbalik seperti dulu, tak ada yang istimewa untuk Pak Sis. Dan aku harus bisa untuk melakukannya. Harus bisa. Amin.

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...