Sabtu, 06 Februari 2021

Pengalaman, Guru Yang Berharga

Ketika Anda ditunjuk mewakili organisasi atau instansi tempat Anda bekerja atau tempat Anda berkecimpung, apa yang ada dalam pikiran dan benak Anda? Apa yang Anda jawab? Mengiyakan atau menolaknya? Rasa bangga atau takut? Ragu dan malu atau semangat? 

Inilah yang pernah saya alami, dua tahun lalu saat ditunjuk mewakili sekolah dalam ajang pemilihan guru berprestasi tingkat kota. Pilihan jatuh kepada saya, karena dinilai oleh kepala sekolah saya mampu dan tidak ada orang lain di tahun itu yang mempunyai prestasi atau karya sebagai salah satu syarat yang harus ditampilkan dalam ajang tersebut. 

Tahukah apa yang saya rasakan saat itu dan hari-hari menjelang pelaksanaan lomba? Apakah saya akan tampil dengan persiapan yang matang dan penuh percaya diri? Apakah saya mampu membawa nama sekolah dan berhasil mendapatkan predikat juara? Dengan sedikit terpaksa semua saya jalani meski saya sadar tidak mempersiapkannya dengan baik. Sebagai seorang guru dengan jam mengajar 35 jam per minggu cukup padat dan menyita waktu, dan ditambah tugas sebagai bendahara sekolah dimana laporan keuangan sekolah harus selalu ter-update. Namun kemudian saya berpikir, inilah kesempatan untuk berkarya  dan menunjukan yang terbaik buat sekolah, meski target saya bukan sebagai juara, setidaknya masuk nominasi dari sekian puluh peserta seluruh guru SMP Kota Semarang.

Seluruh energi dan pikiran tercurahkan, ditambah motivasi dan dukungan dari teman-teman akhirnya masuk nominasi 15 besar dan harus mengikuti tahap selanjutnya yaitu tes tertulis, wawancara dan pemaparan karya inovasi di depan dewan juri. Rasanya cukup gentar juga, karena terus terang ini pengalaman pertama dan mungkin tidak semua guru mengalaminya, saat harus  berhadapan dengan orang-orang pintar dan praktisi pendidikan. 

Persiapan mental tentu amat sangat berpengaruh tsaat  kita mempresentasikan hasil karya kita dan saat wawancara di depan dewan juri. Pengusaan IT yang biasa-biasa saja, karena memang saat itu waktunya sangat mendadak, cuma 3 hari dari pengumuman lolos seleksi tahap pertama. 

Segera saya buat materi paparan menggunakan Power Point dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang saya punya. Hanya satu yang saya pikirkan, yaitu saya harus bisa tampil percaya diri karena saya yakin dengan percaya diri yang besar akan mampu mengatasi setiap pertanyaan juri yang  bisa saja menjatuhkan atau mencari kesalahan kita sebagai trik mereka dalam menilai, bukan sebagai seorang yang tertarik atau mengapresiasi karya kita. Mereka cenderung mencari kelemahan saat kita mempresentasikan karya terbaik kita. Tinggal mampukah kita mempertahankan karya kita dengan argumen untuk meyakinkan mereka.



Sebagian peserta lomba Guru dan Kepala Sekolah Berprestasi


Alhadulillah meski tak menggondol juara namun banyak yang saya dapat dari ajang yang saya ikuti ini. Bertemu teman-teman hebat, saling menginspirasi dan berbagi dan berbagi ilmu, menambah rasa percaya diri, juga mendapat ilmu baru saat dewan juri mereview penampilan kita. Dari review dewan juri kita tahu trik dan tips apa saja yang perlu dipersiapkan saat mengikuti event kejuaraan dan mereka membagikan pengalamannya untuk menambah wawasan kita. Wah...sungguh luar biasa. Pengalaman berharga ini memberi kesan dan melekat di ingatan saya.

Jumat, 05 Februari 2021

Menyikapi Kebijakan Assemen Nasional

Salah satu kebijakan dari Mendikbud Nadhiem Makaim di era "Merdeka Belajar" dihapuskannya ujian nasional tahun 2020. Hal ini menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Ujian nasinnal yang dulu menjadi momok bagi siswa dan oang tua, sekarang tidak lagi. Dulu orang tua rela merogok kocek jutaan rupiah untuk membayar guru les anaknya dengan mendatangkan guru privat atau mengikutkan ke bimbel demi sebuah tujuan meraih nilai bagus dari ujian nasional. Sebuah prestise  ataukah prestasi saat nilai UN (Ujian Nasional) mencapai nilai sempurna? Apakah nilai sempurna bisa menjamin  anak sukses di masa depannya?

Kompetensi lulusan yang semula hanya berdasarkan kognitif (UN dan US) saja tidak cukup membekali siswa untuk menjawab tantangan abad 21 sepuluh hingga duapuluh tahun mendatang. Perlu ada skill yang dimiliki siswa agar tetap eksis menyongsong masa Indonesia Emas nanti. Pemerintah sedang mempersiapkan AN (Assesmen Nasional) untuk memetakan profil pendidikan di Indonesia melalui AKM (Assesmen Kompetensi Minimum), Survey Karakter dan Survey Lingkungan Belajar.

Saat ini yang terjadi di lapangan adalah bahwa materi ujian nasional terlalu padat, sehingga siswa dan guru cenderung mengejar penguasaan konten atau materi bukan kompetensi penalaran, UN menjadi beban siswa, guru dan orang tua, karena menjadi indikator keberhasilan siswa, bukan berfungsi untuk pemetaan mutu pendidikan nasional, UN hanya menilai aspek kognitif dan hasil belajar belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh.

Arahan kebijakan Kemendikbud sekarang bahwa Assesmen Nasional (AN) dilakukan pada jenjang sekolah dasar kelas 5, sekolah menengah kelas 8 dan sekolah atas dan kejuruan kelas 11 bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen nasional dilakukan untuk  mengevaluasi kinerja satuan pendidikan dan sekaligus menghasilkan informasi untuk perbaikan kualitas  belajar-mengajar, yang kemudian diharapkan berdampak pada karakter dan kompetensi siswa. dirancang untuk memotret mutu input, proses, dan hasil belajar yang mencerminkan  kinerja sekolah, sebagai umpan balik berkala yang objektif dan komprehensif bagi  manajemen sekolah, dinas pendidikan, dan Kemendikbud.

Bila melihat tujuan dari diberlakukannya AN maka sekolah tidak perlu melakukan persiapan khusus seperti halnya UN. Namun, bagaimana nanti bila hasil AN ternyata memberi gambaran bahwa siswa di sekolah X belum mampu menemukan atau mengambil informasi dalam wacana atau menginterpretasi sederhana? Apakah pengambilan sampel secara acak dalam pelaksanaan AN sudah mewakili sejumlah siswa di sekolah ? Mengingat sampel yang diambil di tingkat SD maksimal 30 orang per sekolah, SMP 45 orang, SMA dan SMK 45 orang. Bagaimana nanti bila gambaran hasil AN dipakai untuk memetakan peringkat sekolah atau untuk kepentingan informasi pendidikan yang lain? Tentu mau tidak mau sekolah tetap mengenalkan dan mensosialisasikan AN pada siswa dan gurunya baik terkait informasi pelaksanaan, tujuan, latar belakang AN, bentuk soal-soal AKM serta pengimbasannya. Karena bagaimanapun juga hasil AN tentu merupakan pretise sekolah itu bukan?


Literasi Sekolah di Masa PJJ

Di era "Merdeka Belajar" sudah 6 kebijakan dari Mendikbud  Nadhiem Makarim hingga saat ini. Dihapuskannya ujian nasional tahun 2020 menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Kompetensi lulusan yang semula hanya berdasarkan kognitif saja tidak cukup membekali siswa untuk menjawab tantangan abad 21 sepuluh hingga duapuluh tahun mendatang. Perlu ada skill yang dimiliki siswa agar tetap eksis menyongsong masa Indonesia Emas nanti.

Peningkatan mutu sistem pendidikan sekarang tidak hanya berorientasi pada pencapaian siswa dalam menguasai materi pelajaran dan nilai ujian akhir, namun lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap. 

Sekarang yang masih menjadi polemik adalah bagaimana mengukur ketercapaian siswa, bila ketuntasan materi pengetahuan bukan tujuan utama tetapi diiringi dengan nilai ketrampilan dan sikap, yang menjadikan siswa harus menguasai 4 C (berpikir kritis, berkreasi, berkolaborasi dan mampu berkomunikasi). Sehingga pendidik dituntut memberikan pembelajaran yang mengintegrasikan ketrampilan 4 C pada setiap pembelajarannya dan menyisipkan kegiatan literasi. 

Kegiatan literasi bukan hanya dalam bentuk membaca dan menulis saja, tetapi dalam bentuk lain yang lebih bervariasi, menantang dan memotivasi untuk meningkatkan kemampuan literatnya. Macam literasi yang harus dikuasai meliputi : literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi numerasi, literasi digital dan literasi budaya kewargaan.

Literasi yang sudah dilaksanakan di sekolah saya, dievaluasi dan  terus dibenahi diantaranya adalah kegiatan dalam bentuK : 

1. menceritakan kembali buku yang dibacanya baik tertulis maupun lisan

2. menjelaskan isi/tema/topik bacaan

3. menganalisis cerpen/novel

4. merangkum materi dari buku nonfiksi

5. membuat sinopsis (buku fiksi dan nonfiksi)

6. lomba story telling

7. lomba cerita inspiratif.

8. permaian atau game tentang buku yang telah dibaca.

Kegiatan literasi sekolah dilaksanakan di luar jam pelajaran yaitu 15 menit sebelum KBM dimulai. Bila melihat waktu yang disediakan sangat terbatas, maka hasil yang diharapkan juga belum maksimal. Tetapi sudah menjadi pembiasaan dan anak-anak wajib mengikutinya maka waktu yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan setiap minggu siswa akan memberikan laporan dan hasil literatnya ke wali kelas sebagai tagihan. Sebagai bentuk apresiasi pada anak-anak yang sudah mengumpulkan tugas dengan baik, kita beri nilai atau reward yang bermanfaat, misal diberi hadiah alat tulis atau buku.

Sayangnya di masa pandemi ini dimana kegiatan literasi tidak bisa dilaksanakan lagi secara tatap muka dan bersama-sama  maka tampaknya kegiatan literasi hanya dilakukan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia saja, meski guru mata pelajaran lain bisa. Nah, teman-teman guru pembelajar yang hebat, marilah kita tetap berliterasi dengan menyisipkan materi, meminta siswa membaca buku pegangan siswa, menyimak video pembelajaran yang kita tayangkan, mengapresiasi dan memberi komen pada setiap tugas yang kita berikan. Kita sapa anak-anak lewat media daring yang kita gunakan bisa secara langsung lewat Zoom atau Google Meet ataupun bisa lewat tulisan. Meski tidak maksimal tapi harus kita lakukan agar menumbuhkan semangat dan keinginan untuk membaca.   

Teman-teman guru pembelajar yang terus belajar dan berinovasi, sudahkah kita menciptakan bentuk literasi bagi siswa kita, meski kita bukan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia? Karena literasi harus ada pada setiap mata pelajaran , dan literasi tidak hanya menulis dan membaca saja. Nah, kalau tidak kita mulai dari diri kita sendiri, siapa lagi? Terlebih lagi tahun ini mulai diberlakukan AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) yang berisi literasi dan numerasi, survey karakter dan survey lingkungan belajar.

Kamis, 04 Februari 2021

Berbagi Ilmu Melalui Buku

 

"Menulislah setiap hari dan buktikan keajaibannya" 
inilah yang dilakukan Omjay dan virus ini menular pada semua anggota grup WA Belajar Menulis dan Belajar Bicara PGRI. 

Malam ini zoom meeting hari ke-9 Public Speaking for Teacher sudah saya ikuti. Narsumnya seorang guru berprestasi tingkat nasional dengan berbagai prestasi gemilang yang telah diraihnya. Beliau adalah Amiroh, M.Pd seorang guru SMKN 3 di Jombang. Selain sebagai pendidik beliau juga seorang blogger, trainer dan penulis beberapa buku tentang elearning dan buku ajar tentang web/informatika.

Berbagai prestasi dan penghargaan tingkat nasional mengantarkannya jalan-jalan keluar negeri gratis. Tentu saja perjalanan ini selain menimba ilmu di negei orang, ditulisnya sebagai pengalaman yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Kiatnya dalam menulis adalah menulis apa saja yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari sebagai sorang guru, membimbing siswa, berkolaborasi atau membimbing teman sejawat, bisa didokumentasikan. Dengan menulis karya kita bisa dilihat dan dipelajari oleh orang lain, jadi kita berbagi lewat tulisan. Dan ini merupakan ibadah. 

Kiat-kiat yang dibagikan saat mengikuti lomba guru berprestasi adalah mempersiapkan diri dengan baik, fokus dalam mengerjakan meski seluruh energi pikiran dan juga finansial terforsir ke sana dan tawakal Lillahi ta'ala kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Tentang bagaimana agar kita selalu mood dalam menulis, tentu saja ketrampilan menulis harus kita istikomahkan artinya setiap hari harus kita luangkan waktu untuk menulis. Bila sudah menjadi kebiasaan maka bila sehari kita tidak menulis, tentu akan merasa ada sesuatu kewajiban yang belum kita lakukan. Menulis tentang apa? Tentang apa saja yang ada di sekitar kita. 

Nah...guru pembelajar yang terus semangat belajar, mari kita ikat ilmu dengan mendokumentasikannya dengan menerbitkan buku. Selamat berliterasi, semoga ilmu kita tetap ada dan dikenang meski kita sudah tiada.

Rabu, 03 Februari 2021

Kebisaaan Baik Menuai Karakter Baik

 


"Taburkan pemikiran, maka Anda akan menuai perbuatan,

Taburkan perbuatan, maka Anda akan menuai kebiasaan,

Taburkan kebiasaan, maka Anda akan menuai karakter,

Taburkan karakter, maka Anda akan menuai takdir."


    Kata-kata bijak ini disampaikan oleh kepala sekolah saat briefing tadi pagi. Suatu kebiasaan di sekolah kami, sebelum memulai pelajaran kepala sekolah memimpin berdoa bersama dan menyampaikan informasi. Informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan KBM hari itu, rencana kegiatan sekolah selama satu minggu atau informasi umum lainnya. Semua guru wajib mengikuti sambil kepala sekolah mengabsen kehadiran dan menyapa kami dengan gaya bahasa yang khas berwibawa. 

    Meski kata-kata bijak itu menyadur dari sebuah buku, namun kata-kata yang disampaikan itu menginspirasi kita untuk melakukannya, menata kehidupan yang lebih baik dengan kebiasaan-kebiasaan baik agar kita menuai kebaikan pula di kemudian hari dan inilah takdir kita. Bisa jadi takdir kita ditentukan dari kebiasaan kita hari ini. Memang apa yang kita tanam sekarang tentu akan kita tuai di kemudian hari.

    Menurut Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habbits of Highly Effective People memaparkan kepada pembacanya ada 7 kebiasaan manusia yang bisa dipraktekkan agar hidup bisa lebih produktif dan efektif, yang secara garis besar terbagi menjadi 3 golongan, yakni kebiasaan yang berhubungan dengan diri sendiri, kebiasaan yang berhubungan dengan orang lain, serta kebiasaan untuk mengembangkan keahlian diri.

    Kita sebagai guru pembelajar harus bisa memberikan contoh pembiasaan-pembiasaan yang baik pada anak didik kita. Dalam Bahasa Jawa guru adalah "digugu lan ditiru" artinya dianut atau menjadi teladan dan ditiru atau dicontoh. Maksudnya segala gerak-gerik perilaku dan perbuatan kita akan menjadi panutan dan contoh bagi orang lain, masyarakat terlebih anak didik kita, sehingga kita berkewajiban memberi pendidikan moral atau karakter yang baik bagi anak didik kita, tidak hanya sekedar mengajar kognitifnya saja.      Sebenarnya segala kebaikan yang kita lakukan akan berpulang atau kembali pada diri kita lagi. Jadi, kalau kita melakukan pembiasaan yang baik hal ini akan menuai karakter yang baik dan karakter yang baik akan menentukan atau menggiring kita pada takdir kehidupan yang baik pula. 

        7 Kebiasaan yang bisa kita lakukan menurut Stephen Covey agar hidup lebih produktif dan efektif yaitu :

1. Proaktif

2. Menetapkan target dan tujuan 

3. Mendahulukan yang menjadi prioritas

4. Pola pikir untuk kepentingan bersama bukan untuk pribadi (berbagi)

5. Berusaha mengerti bukan untuk dimengerti 

6. Bersinergi

7. Recharge (melakukan hal-hal yang menyenangkan/hobi untuk mengembalikan semangat dan energi).

    Nah, teman-teman guru pembelajar yang hebat, mari kita terapkan kebiasaan-kebiasaan positif di atas agar menjadi karakter dan membentuk mindsite kita. Sehingga energi postif yang kita miliki  bisa mengimbas ke orang lain di sekitar kita, tanpa kita sadari. Dengan demikian kita sudah bisa dikatakan guru yang digugu dan ditiru. 

Selasa, 02 Februari 2021

Tetap Berkarakter Meski PJJ

 

Dampak dari pandemi covid-19 ini sungguh sangat luar biasa. Semua sektor mulai dari perekonomian, kesehatan, sosial budaya, bahkan dunia pendidikan sangat terasa. Hampir setahun lamanya pendidikan dilaksanakan dengan moda daring. Tentu banyak plus minusnya dalam pelaksanaannya. Terlebih bagi daerah yang belum memiliki fasilitas jaringan internet dan jaringan listrik yang memadai. Namun bagaimana lagi  pembelajaran harus tetap dilaksanakan meski minim sarana prasarana, karena demi memutus penyebaran virus korona. 
   Di sisi lain, dampak dari PJJ adalah banyak dirasakan oleh orang tua bahwa secara psikologi terjadi penurunan nilai-nilai karakter pada anak. Mereka para orang tua mengeluhkan tingkat kedisiplinan anak, tanggung jawab, rasa empati, dan kerja sama mulai berkurang. Aktivitas keseharian mereka kebanyakan hanya diisi dengan pembelajaran daring kurang lebih 3-4 jam sehari, tugas-tugas yang dikerjakan bisa dengan tenggat waktu yang longgar, bahkan terkadang anak mengerjakan asal saja. 
    Bagi anak yang memang punya pembawaan sifat yang malas, tidak disiplin hal seperti ini membuatnya mengasyikan dan enjoy saja saat pembelajaran dengan moda daring ini. Mereka hanya absen, mengerjakan tugas bisa buka google, browsing internet, malas membaca buku panduan, malas membaca petunjuk guru, atau bisa tanya teman lain. Akibatnya tugas terlambat dikerjakan, atau sekedar mengerjakan asal-asalan saja, yang penting hari itu absensi kehadiran terisi, soal nilai urusan belakangan. Wow..! 
    Namun bagi mereka yang pembawaannya rajin, pintar dan kreatif, hal ini tentu amat sangat membosankan. Tidak bisa bersosialisasi dengan teman, tidak bisa saling bercanda ria, tidak bisa melihat dan menyapa ibu guru, tidak bisa mengembangkan kreativitas dan hobinya, karena tidak ada ektrakurikuler. Tidak ada asah dan ajang ketrampilan, tidak ada dorongan semangat dan kompetisi yang positif. Semua stagnan. Bila hal ini berlanjut, apa jadinya generasi mendatang? 
    Kita sebagai pendidik tentu tidak ingin generasi penerus bangsa mengalami kemuduran karakter. Menyongsong era "Indonesia Emas" kita harus mempersiapkan anak-anak kita yang tangguh, berjiwa mandiri, kreatif, inovatif mampu menghadapi tantangan abad 21 namun tetap berkarakter Pancasila, bergotong royong, bekerja keras, nasionalis, jujur dan religius. Apa yang bisa kita lakukan? Tentu tetap menyisipkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran kita, meski PJJ. Caranya? 
    Berikut ini upaya yang sudah saya lakukan diantaranya :
1. Dalam memulai pembelajaran selalu saya awali dengan pembukaan, yang isinya salam, sapa, ucapan syukur atas kesehatan dan rahmat Tuhan YME sebagai bentuk karakter religius. Anak-anak diminta untuk berdoa sebelum mulai belajar. Hal ini bisa tertulis di materi yang kita share/upload, bisa juga secara lisan saat vidcon (Zoom, GMeet)
2. Membiasakan literasi buku panduan, materi atau PPT yang dishare guru. Beri pertanyaan yang jawabannya ada dalam buku panduan, materi atau PPT. Bisa juga meminta anak untuk merangkumnya dalam buku catatan. Jadi mau tidak mau anak harus membaca dulu materi yang disampaikan. 
3. Membiasakan anak untuk mandi, sarapan, dan memakai seragam saat vidcon, sehingga rapi, bersih dan tepat waktu. Hal ini sebagai penanaman nilai karakter disiplin. Bila anak mau bertanya atau menyampaikan pendapat lewat chat ataupun langsung, mulai dengan memperkenalkan diri (nama dan kelas). Tulis dengan kalimat atau penyampaian langsung dengan kata-kata yang santun, karena berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang dihormati.
4. Di akhir pembelajaran review kembali bahwa anak-anak harus mengerjakan tugas dan mengirimkannya tepat waktu, mengisi kehadiran, mempersiapkan diri untuk materi atau evaluasi yang akan datang, tetap semangat dan optimis. Tanamkan pada anak bahwa tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa usaha nyata.
5. Pada KD yang bermuatan ketrampilan, usahakan anak bisa melakukan mandiri dengan instruksi yang bisa diberikan lewat video atau youtube. Hasil karya anak-anak dibuat dalam bentuk video atau foto sebagai nilai ketrampilan. Lebih bagus lagi video contoh yang kita tampilkan adalah hasil karya kita. Jadi anak akan melihat karya nyata gurunya dan menanamkan nilai menghargai hasil karya orang lain.
    Nah.., demikian rekan-rekan guru pembelajar hebat, beberapa aksi yang sudah saya lakukan. Tentu masih ada cara lain. Silakan rekan-rekan berkreasi ya.  Yuuk..tetap tanamkan karakter meski PJJ.

Senin, 01 Februari 2021

PJJ Tetap Berkreasi dan Berinovasi

Hari senin ini sungguh sangat cerah. Sinar matahari pagi begitu hangat terasa. Mungkin karena dua hari kemarin hujan terus menerus mengguyur kota ini. Dari celah-celah jendela di ruangan kerjaku, aku bisa melongok keluar menikmati pemandangan taman dan halaman sekolah. Alhamdulillah ...rasa segar dan bersemangat mengawali aktivitas rutin hari, mempersiapkan pembelajaran daring mata pelajaran IPA yang kuampu.

    Taman dan halaman sekolah yang terlihat lengang dan sepi tanpa terdengar gelak canda dan teriak kecil bocah-bocah usia belasan siswa-siswi. Hampir setahun sekolah ini tak diinjak dan diramaikan dengan langkah jejak kaki para siswa, tak terdengar celotehan suara ataupun keramaian anak-anak usia remaja. Ya, sejak tamu covid-19 itu mulai menyerang negeri ini, dan begitu cepatnya menyebar dan menguasai seluruh kehidupan manusia, sekolah ini seperti tak berpenghuni. 

    Meski demikian, kehidupan di sekolah ini tetap berjalan. Pembelajaran yang berlangsung secara online tak mengurangi kreativitas dan inovasi baik guru maupun siswanya. Guru dituntut bisa memberikan pembelajaran yang bermakna dengan tetap berkreasi dan menyenangkan, dengan memberikan pengalaman dan ketrampilan untuk bekal di kehidupan mendatang. Terlebih lagi bisa memberikan pendidikan kewirausahaan dan praktek langsung. 

    Salah satu KD dalam Mapel IPA kelas IX yaitu materi Bioteknologi memberi peluang kepada siswa untuk berkreasi membuat karya dengan memanfaatkan bioteknologi konvensional, diantaranya membuat tempe, tape, yogurt dan keju dengan bahan dan alat sederhana. Pada KD ini salah satu tujuan pembelajarannya adalah penerapan bioteknologi sederhana untuk membuat produk makanan dan atau minuman yang bisa dikembangkan menjadi wira usaha.

    Nah, anak-anak diberi tugas mempraktekan membuat salah satu produk dari bioteknologi sederhana cara fermentasi, dibuat video, diupload ke Google Classroom sebagai tugas mandiri di rumah. Tugas ini akan dinilai beserta laporan praktikumnya. Anak-anak bebas memilih salah satu jenis fermentasi yang digunakan untuk praktek, yaitu membuat tempe, tape, yogurt atau keju. Mereka boleh browsing cara pembuatannya lewat internet, interview pada pengrajinnya dan hasilnya ditunjukkan ke sekolah.

    Salah satu siswi yaitu Khirani Khoirunisa siswi kelas IX B membuat keju dari bahan sederhana, dan hasilnya enak dan kita bisa mencobanya sendiri. Berikut ini video hasil dari tugas yang dikerjakannya di rumah.


    Semoga salah satu dari KD yang telah dipelajari menginspirasi anak-anak didik kita untuk berkreasi, berkarya dan bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk pendidikan kewirausahaan. Mari teman-teman guru pembelajar yang hebat, kita berikan pancingnya bukan ikannya. Biarlah anak-anak kita menemukan sendiri ikan yang disukainya. Semoga.


Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...