Sabtu, 16 Januari 2021

Hypnotic Language Pattern of Public Speaking

     

    Resume hari keempat pelatihan Public Speaking kali ini diisi oleh Asep Herna. Materi tentang bagaimana kita mengeksplorasi kekuatan bahasa verba maupun non verbal yang bisa menembus subconscious audiens kita sehingga pesan yang kita sampaikan bisa menancap bukan cuma di rasionalitas tapi juga di subconscious emotional  (pikiran bawah sadar) audiens.

    Target dari pelatihan malam ini adalah  1) Memahami mekanisme mental manusia 2) Memahami teknik menggerakan audiens dengan pola bahasa verbal/Hypnotic Languege Pattern 3) Memahami cara menggerakan audiens dengan bahasa nonverbal. Intinya kalau kita sebagai guru bagaimana kita memahami siswa dan menggerakan siswa untuk belajar atau siswa bisa teredukasi.

    Menurut Jim Rhone bahwa efektivitas komunikasi hanya 20% bisa menyentuh rasionalitas audiens sedangkan 80 % menggunakan kemampuan emosional. Jadi jika kita akan mengajak atau mempengaruhi seseorang maka sentuhlah emosionalnya bukan rasionalnya. Artinya, sebagai seorang public speaker kita harus mampu mengajak, menarik, fokus  terhadap audiens untuk masuk ke apa yang sedang kita bahas, dengan memberikan penguatan pada materi atau hal yang kita bawakan. Hal ini akan lebih mengena dibanding dengan memberikan alasan.

    Sedangkan menurut praktisi Standar Hypnotic Suspecbility Scale , kemampuan otak manusia dalam menerima pesan dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu 1) orang yang mudah disugesti (10%), orang moderat, tidak sulit tidak mudah (85%) dan 3) orang yang sulit menerima pesan (5%). Jadi pada saat kita berbicara dalam suatu forum, maka di hadapan kita orang-orang yang sedang mendengar kita dibagi 10% yang langsung menerima pesan kita, 85% orang yang tidak mudah dipengaruhi 85% dan sisanya 5% adalah orang-orang yang sulit kita pengaruhi.

    Dari teori di atas maka kita sebagai guru dapat mempraktekan atau mengidentifikasi siswa kita mana yang masuk kelompok 10 %, 85%  dan 5 %. Hal ini bertujuan untuk memetakan bagaimana kita dalam melakukan pembelajaran agar siswa kita bisa teredukasi, fokus dengan apa yang kita ajarkan/sampaikan. Fokus adalah mensinergikan apa yang ada di otak kita dengan fisik tubuh kita. Fokus ini bisa kita latih dengan melakukan self programming. Self Programming ini akan mudah pada kelompok 10% sedangkan untuk kelompok 2 dan 3 harus Direct Program.

    Sebuah pesan akan menjadi kebenaran mutlak saat berhasil memrogram  subconscious audiens. Pesan yang disampaikan itu positif atau negatif saat menembus ke subconscious audiens maka akan diterima menjadi kebenaran mutlak.

    Pola bahasa hipnotik atau Hypnotic Language Pattern ada 2 yaitu bahasa verbal dan non verbal.  Pengertian bahasa verbal adalah setiap kata memiliki nilai emosi yang dibangun dari pengalaman sejak dia lahir hingga detik ini. Saat sebuah kata diucapkan maka otak kita akan searching atau mencari makna kata tersebut dengan menghubungkannya atas pengalaman yang pernah dirasakan. Inilah yang disebut dengan Trans Derivational Search (TDS). Ketika proses TDS terjadi, maka proses "Trance" pun terjadi.

    Pola bahasa hipnotik ada beberapa yaitu : 

  • Rhyming = permainan bunyi (alterasi dan asonansi).penggunaan rima yang konsisten  mampu membuat orang memasuki trance, Itu sebabnya ayat-ayat suci atau mantra akrab sekali dengan rima. Alterasi adalah permainan bunyi vokal dan asonansi adalah permainan bunyi konsonan. Contoh rima :
    • Gendang gendut tali kecapi, kenyang perut senanglah hati
    • Inggris kita linggis, Amerika kita setrika
    • Belum nyoss kalau belum joss
  • Repetisi = pengulangan kata. Kata, frase atau kalimat yang diulang merupakan alat efektif untuk trance. Orator seperti Bung Karno, Hitler, Obama sering memakainya. Sesuatu yang diulang akan mewujudkan dirinya menjadi realitas. 
    • Contoh saat menghipnotis kita gunakan kata ini : Rasakan kelopak mata anda rekat, jauh lebih rekat, jauh lebih rekat lagi. Semakin abda berusaha membuka kelopak mata anda, maka kelopak mata anda semakin lebih rekat lagi.
    • Contoh orasi Bung Karno : "Kalau Malaysia memakai diplomasi kita hadapi dengan diplomasi, kalau Malaysia memakai politik ekonomi kita hadapi dengan politik ekonomi, kalau Malaysia memakai  senjata, kita hadapi dengan senjata. Di sini jelas ada rima dan ada repetisi, juga ada tingkatan atau klimaksnya.
  • Klimaks dan anti klimaks. Pikiran bawah sadar manusia sangat peka dengan pola bahasa ini. Pola ini begitu efektif memainkan intensi audiens. 
    • Contoh : "Dengan hitungan 1, 2, 3 membuat kelopak mata semakin rekat, selanjutnya seratus kali lebih rekat, semakin anda berusaha membuka kelopak mata maka akan semakin rekat  dan lebih rekat lagi". Intensitas kekuatannya sama seperti anti klimaks. 
    • Contoh : "Saya ingin Hypnotic Language Pattern ini dikuasai oleh adik-adik, saya ingin Hypnotic Language Pattern ini dikuasai oleh ibu-ibu, saya ini ingin Hypnotic Language Pattern ini dikuasai oleh bapak-bapak dan saya ini ingin Hypnotic Language Pattern ini dikuasai oleh semua yang hadir di sini".
    • Contoh : "Anak jenderal ataupun kopral, anak manager ataupun massanger, anak orang kaya ataupun rakyat jelata, semua berhak atas fasilitas pendodokan gratis di negeri ini".
  • Asosiasi. Asosiasi adalah bagaimana kita mengibaratkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang memiliki sifat, karakter atau arti yang sama. Penggunaan metafora, personifikasi, dan analogi untuk menyampaikan sebuah pesan berpotensi pesan masuk langsung ke pikiran bawah sadar tanpa filter critical factor terlebih dahulu. Contoh metafora :
    • Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, kalau kau jatuh, kau akan jatuh diantara bintang-bintang
    • Kalau kau ingin mutiara, kau harus berani terjun ke lautan
    • Hiduplah seperti air, ia bisa mengalir, ia bisa menjadi riak yang tenang, tapi di suatu saat ia bisa menjadi gelombang yang amat ganas.
  • Quote. Kalimat menjadi powerful ketika mengekslporasi quote di dalamnya. Kita meminjam senjata orang-orang besar menjadi kelengkapan senjata kita. Tingkat kepercayaan audiens pun menjadi jauh lebih besar dan kuat. Kita menghadirkan atau mengidentifikasi sosok orang lain lantas menjadi diri kita.
  • Eksplorasi kata benda. Perkaya kata benda daripada kata kerja atau sifat. Kata benda lebih memancing imajinasi, dan imajinasi berpotenso menjadi realitas dengan cepat. 
    • Contoh : "Saya ingin anda bahagia, saya bermimpi anda sejahtera". Kalimat tersebut akan lebih mengena bila diganti menjadi " Kebahagiaan anda adalah keinginan saya, kesejahteraan anda adalah mimpi saya".
  • Present Tense. Bahwa subconcious kita berada pada suatu waktu yaitu waktu sekarang bukan waktu lampau atau masa depan. Gunakan penanda keterangan waktu "sekarang". Hindari menggunakan kata "akan,  bakal, nanti" dan sejenisnya. Karena kata-kata itu bermakna sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan tidak dikenali  subconcious manusia.
    • Contoh : "Anak-anak mulai detik ini, saat ini kalian menjadi anak berbudi, anak yang sukses". Jangan memakai kalimat "Anak-anak, nanti kalian akan menjadi anak berbudi, anak yang sukses".
  • Kata negasi versus positif.  Pikiran bawah sadar manusia tidak mengenali kata " tidak, tak, enggak, jangan" dan semua kata negasi lainnya. Ubah kalimat negasi dengan afirmasi atau kalimat positif lainnya. Kata negasi di sini bukan berarti kata-kata yang mengandung arti negatif, tetapi sebaliknya. Maka hati-hati. Contoh ketika kita menghipnotis anak, kita menggunakan kalimat seperti ini, terdapat kata negasinya, sehingga yang terjadi adalah kebalikannya. "Nak mulai saat ini kamu akan menjadi anak yang hebat, tidak nakal lagi, tidak malas lagi". Ada kata "TIDAK" ini akan berakibat sebaliknya.
  • Sebab akibat. Eksplor kalimat, momen, adegan, dengan format sebab akibat atau sebaliknya untuk memancing kepercayaan subjek. Pikiran bawah sadar sangat peka dengan formulasi kalimat ini, bahkan ketika format kalimat "sebab akibat" tidak memiliki hubungan logis.
    • Contoh : Saat kita menghipnotis seseorang, tiba-tiba ada suara deru motor yang begitu keras. Kita khawatir hipnotis kita tidak bisa menembus subjek, maka kita buat kejadian ini untuk ambil bagian dari hipnotis kita, dengan cara memberi kalimat yang tepat. Misalnya, "Jika anda mendengar deru motor maka pikiran anda akan rileks, semakin anda keras mendengar deru motor maka akan semakin rileks, seratus kali lebih rileks" dan seterusnya. Meski kalimat sebab akibat tersebut tidak rasional.
    • Contoh : "Karena saya memiliki niat baik, karena saya memperjuangkan apa yang seharusnya anda miliki. Karena saya merasa terlalu sulit untuk abai dan tidak peduli maka say hadir di sini".
  • Double Blind  Mengondisikan subjek seakan-akan memiliki 2 pilihan. Padahal realitas sebenarnya subjek tidak memiliki pilihan, kecuali ide yang kita tawarkan. 
    • Contoh : "Anak-anak kalian bisa langsung mengerjakan soal ini mumpung masih hangat, atau kalian istirahat dulu supaya otak kita fres lalu kita kerjakan. OK" (seolah-olah memberi kebebasan, sebenarnya intinya anak-anak harus mengerjakan).
  • Submodalitas. Teknik ini cocok untuk komunikasi personal bukan masal. Eksplorasi kata-kata yang sesuai dengan submodalitas subjek. Apakh subjek tipe visual, audio, kinestetik, olfactori, atau gustatori ? Salah satu cara mengenali tipe audiens adalah dengan mengenali jenis kata apa yang sering diucapkan. Jika audiens sering mengucapkan kata "bunyi, suara, dengar" artinya audiens bertipe auditori. Begitu juga untuk tipe yang lain. Gunakan kata-kata yang sesuai hobinya, minatnya, karakternya, disiplin ilmunya.
  • Pasing Leading. Menrima dan mendukung apa yang dipikirkan, dikatakan dan diyakini subjek, lalu dengan lembut menggiringnya untuk selaras dengan ide yang kita sodorkan. Filosofinya adalah bahwa manusia adlah makhluk yang selalu ingin diterima. Ketika ini terjadi maka keakraban pun terjadi. Ketika keakraban terjadi maka menjadi mudah untuk melakukan call to action.
    • Contoh : ketika ada yang pertanyaan, Pak kok matematika itu kok sulit ribet sih. Maka kita bisa menjawabnya begini, Naah, bapak setuju bahw matematika itu sulit ribet, saat bapak belum mengerti cara belajarnya. Ternyata setelah menemukan cara belajar dengan banyak latihan tidak hanya menghafal rumus, matematika menjadi mudah dan mengasyikan. Jadi nagih. Buktinya sekarang bapak jadi guru matematika.
  • Indirect Suggestion. Menyelinapkan sugesti atau perintah secara tidak langsung sehigga audiens tidak merasa sedang diperintah. Tindakan menjadi seakan-akan sebuah kesadaran internal diri audiens. Padahal itu adalah hasil dari program yang ditanamkan. 
    • Contoh pesan yang disampaikan saat kampanye. Hai bapak ibu apa kabar (bla..bla..). Bapak ibu di sini saya hadir untuk silaturahmi bukan untuk kampanye. Ingat ya pak bu pada harinya nanti saya tidak ada kewajiban bapak ibu memilih saya. Bapak ibu bisa memilih yang bapak ibu sreg. (ada pesan tersembunyi/embeded command). Intonasi  atau gestur saat mengucapkan. 
Teman-teman guru pembelajar yang hebat, salah satu dari banyak teori di atas mungkin dua atau tiga dapat kita praktekkan untuk mengenali karakter dan perilaku anak didik kita. Dengan mengenali karakter mereka, kita akan mudah menerapkan pembelajaran yang disukai mereka, yang membuat fokus mereka dan menyenangkan, yang endingnya akan berdampak positif pada hasil belajarnya. Yuuk, kita praktekan !


1 komentar:

Latif mengatakan...

Inspirasi luar biasa...

Posting Komentar

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...