Rabu, 17 Juni 2020

Menjaga Konsistensi Menulis

Menjaga Konsistensi Menulis 

Menulis seperti makanan pokok. Bagi seorang penulis yang kesehariannya selalu menulis, apapun bisa dijadikan ide untuk memulai mencoretkan pena merangkai kata membentuk tulisan yang menarik dan enak untuk dibaca. Tapi bagi pemula, meski punya motivasi dan kemauan untuk menulis, sudah siap di depan laptop, tapi bermenit-menit belum juga muncul ide untuk bisa memulai menulis. Jangankan jadi sebuah tulisan, satu paragraf pun belum ada gambaran.
Maka, menulis itu perlu dilatih. Menulislah apa saja. Yang ringan-ringan saja, misal tentang perjalanan hidup, pengalaman pribadi, aktivitas sehari-hari, atau curhatan.
Seorang guru blogger yang telah eksis selama 11 tahun, malam ini membagikan pengalaman dan ilmunya pada Belajar Menulis Bersama Omjay yaitu bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd engan pembuka acara Omjay dan moderator Ibu Fatimah, S.Si . Berikut ini resume hari ke-7 dengan tema Menulis dan Menerbitkan Buku. 

Dunia blog sudah digelutinya sejak duduk di bangku SMA tahun 2009. Mula-mulanya hanya ikut-ikutan teman untuk buat blog, tanpa ada target apapun. Mengapa sampai  sekarang masih konsisten ngeblog tak lain adalah karena motivasi kuncinya. 
Di awal masa ngeblog motivasinya adalah statistik. Dia merasa senang jika blognya mengudang banyak pengunjung, juga bila halamannya tembus Google. Komentar pengunjung juga menambah semangat ngeblog.
Berbeda dengan motivasi ngeblog sekarang ini. Orientasinya adalah target. Dunia blog mengalami tren yang menurun dan digantikan dengan tren vlog dan youtuber. Banyak blogger yang meninggalkan blog dan beralih menjadi youtuber. Hasil-hasil yang dicapai dari ngeblog pun mulai pudar. Maka motivasi saya sekarang ini adalah untuk memenuhi target. Jadi jika tidak mendapat hasil yang memuaskan, setidaknya kita memenuhi target-target sederhana yang kita tetapkan sendiri. Dengan terpenuhinya target tersebut, semangat kita untuk ngeblog masih terjaga.

Sesi Tanya Jawab
1. Bagaimana memotivasi diri agar bisa menulis setiap hari.  Td dikatakan, sdh siap di dpn laptop tp ide     gak muncul.  Padahal keinginan untuk menulis ada, tp gak tahu apa yg mau ditulis. 
    motivasinya dilandasi target yang harus dipenuhi. Targetnya adalah blog harus update. Jika target        sudah terpenuhi maka kita akan puas/senang. Dan kembali semangat untuk ngeblog lagi di kemudian     hari. 
2. Misal kita punya tulisan di blog yang tidak ada nichenya,lalu kita mau membukukan. Apakah harus        satu     buku 1 niche? Bolehkah 1 buku isinya beberapa niche?  
    boleh 1 buku beberapa niche, tapi niche tersebut masih memiliki kesamaan misalnya niche best            practice, opini pendidikan, aktivitasi sekolah, pembelajaran di sekolah, itu semua masih memiliki         persamaan yaitu  pendidikan.
3. Mohon penjelasan lebih jauh tentang Google adsense pak karena saya masih baru mendengar nya
    Google adsense akan membayar kita jika ada orang yang mengklik iklan yang ada di blog kita. Jika        tidak ada yang mengklik iklan, ada perhitungan kita dibayar berdasarkan seberapa banyak iklan kita     dilihat pengunjung. Tapi di awal, bayarannya kecil sekali. Masih jauh lebih mahal parkir motor  dan     pencairannya menunggu sampai kita dapat 100 dollar.
4. Bagaimana supaya blog kita banyak dikunjungi orang pak.
    - share link blog ke medsos
  - bergabung dengan grup blogger, sehingga kita bisa share tulisan kita di grup itu. Contoh grup         blogger:Warung Blogger
    - membuat tulisan tips/how to yang banyak dicari orang.
Menulis di blog bisa menjadi modal awal untuk membuat kumpulan tulisan kita menjadi buku. Jangan sampai kesulitan dalam ngeblog membuat kita menyerah menulis. ita beruntung tergabung dengan grup ini sehingga bisa saling membantu dan mendukung, Menulislah dengan lepas tanpa beban bahwa apakah tulisan kita sudah bagus atau belum, akan banyak yang baca atau tidak.

Hal biasa menurut kita bisa dianggap luar biasa bahkan menginspirasi orang lain. Maka menulislah !
Nah...teman-teman guru yang hebat, kapan lagi kita akan mulai menulis kalau tidak dari sekarang. Ayo semangat menulis ! Selamat berkarya ! Dengan menulis kita mewariskan sesuatu untuk anak cucu kita. 

Sabtu, 13 Juni 2020

Kisah Guru Pendongeng dan Penggiat Literasi

Kisah Guru Pendongeng dan Penggiat Literasi


Mr. Bams atau Ayah Salwa adalah panggilan kerennya. Sosok guru pendongeng, penggiat literasi, blogger dan penulis yang telah menghasilkan banyak karya. Pengelola taman baca yang senang berorganisasi sejak duduk di bangku SMA ini juga sebagai koordinator literasi di kampunya, SMP Taruna Bakti Lebakwangi Bandung.
Berbagai prestasi dan penghargaan yang diberikan pada beliau dalam bidang pelatihan dan literasi yang inspiratif, baik tingkat kota maupun tingkat nasional.
Malam ini Bambang Purwanto, S.Kom adalah pemateri dalam ruang Belajar Menulis bersama Omjay sebagai pembuka acara dan Ibu Fatimah sebagai moderator. Berikut catatan perjalanan kisah beliau yang saya resume pada hari keenam.

Aktif ngeblog sejak tahun 2008 semenjak mengajar TIK di SMP Taruna Bakti dan juga membimbing eskul blog. Sebagai blogger di blogspot dan wordpress, walau sekarang blogspot  sudah ditinggalkannya. Tahun 2003 mulai bergelut di dunia menulis dan tahun 2011 mendirikan taman baca di rumahnya. 
Sebagai koordinator Gerakan Literasi Sekolah Mr. Bams aktif membimbing program literasi selama 15 menit setiap pagi. dan puncaknya SMP Taruna Bakti meraih juara Literasi Kategori Utama tahun 2019 dan Mr. Bams mendapat Anugrah Penggiat Literasi dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Sebagai seorang blogger yang sampai sekarang masih eksis ternyata  ada tujuanya yaitu :
1. malu sebagai guru TIK tidak punya blog
2. malu sebagai penggiat literasi ngak punya blog
3. berbagi pengalaman
4. menyimpan tulisan sepanjang zaman (bukan sepanjang hayat)
5. menghasilkan rupiah
Prinsipnya adalah lakukanlah apa yang mau dan bisa kita lakukanlah. Banyak orang yang bisa tapi kadang tidak mau melakukannya. Bermodal mau maka akan menjadi bisa. Banyak orang hebat di sana. Kita bukan untuk menjadi orang hebat, akan tetapi semoga kita menjadi orang yang bermafaat kapanpun, dimanapun dengan siapapun. 

Bagaimanakah cara agar blog kita menjadi ramai pengunjung dan bisa di lirik oleh pembaca, yang akhirnya bisa menjadi seorang bloger? Tentu saja ada caranya 1.tergabung dengan komunitas (seperti grup menulis ini, ada 12 grup)
2. sering memperkenalkan blog kita kepada yang lain, bisa di WA, FB, IG
3. rajin berkunjung ke blog yang lain
4. buatlah blog kita untuk membantu orang lain.

Lalu manfaat apa yang bisa kita raih dengan ngeblog ? Manfaatnya
1. sederhananya blog bisa menyimpan tulisan kita, tetapi bisa dibaca oleh banyak        orang. Beda kalau tulisan disimpan di laptop, komputer bahkan buku.
2. melatih menulis, jadi terbiasa menulis.
3. membangun kepercayaan diri melalui tulisan.

Kisah Guru Ngeblog di Wordpress, adalah pengalaman-pengalaman selam membuat blog. Pengalaman bagaimana mengajarkan peserta kelas blog, membutuhakan kesabaran luar biasa. Membalah chat japri saat membuka kelas blog itu membuat keringat dingin, rasanya lega apabila bisa terselesaikan semua. Saat blog digunakan oleh sekolah saat pandemi covid. daringsmptarunabakti.worpdess.com 

Bagimana blog bisa menghasilkan rupiah? Yang termudah ibu misalnya punya keahliah atau punya barang. Promosikan di blog tersebut, kemudian alamat blog tersebut disebarluaskan. Di blog itu kalau kita jual makanan,ada gambar makanannya, ada harganya, ada cara pesannya. Bila punya keahlian mengajarkan tari, posting tentang tari ada videonya. Kemudian promosikanlah. Selamat mencoba, semoga berhasil.

Apa yang membuat motivasi menulis di blog? Motivasi utama adalah melatih kebiasaan menulis dan membuat blog yang kita kelola bermanfaat untuk yang lain. Bagaimana menarik pembaca? Membangun blog memang tidak mudah. Yang kita lakukan sudah benar, yaitu adanya komunitas. Makanya di penamrbams.id sengaja ada kumpulan link blog (blogspot, wordpress, web blog), tujuannya agar bisa saling berkunjung. Maka silaturahim terus dibangun. Bila kita seorang guru, buatlah materi dan tugas di blog kita, maka pasti banyak pengunjung ke blog kita. Kemudian tulislah tidak hanya materi dan tugas. Akan tetapi yang lainnya kita tuliskan, agar menjaring pembaca. Tetap semangat, tapi saranya saya adalah menulislah untuk membahagiakan yang lain, maka kebahagiaan akan datang tak tertahankan.

Bagaimana Mr.  Bams membangun ide/cerita supaya setiap kalau mendongeng ada sesuatu yang baru yang bisa diceritakan? Dan, bagaimana mengelola taman bacaan,  buku-bukunya dari mana,  apakah dari pribadi/bantuan, lalu apakah yang berkunjung juga dikenakan biaya?  Tentunya, rajin baca buku, sering memperhatikan yang lagi ramai dibicarakan apa saja. Mengelola Taman Baca adalah hobi  sekeluarga kepada buku, meskipun awalnya isteri tidak begitu setuju. Ada pekerjaan tambahan di rumah. Tapi lama-lama senang juga. Apalagi isteri sekarang sudah 4 tahun tidak bekerja dan mengelola Taman baca, ketemu anak-anak setiap hari. TK-SD-SMP-SMA. Buku didapat dari teman, sahabat, jejaring di komuinitas, dll . Semua fasilias taman bacaan kami, TBM AS Lebakwangi, gratis.

Wow..keren habis!! Sangat menginspirasi..Ayo teman-teman guru mulailah menulis dan berkarya dalam tulisan. Kapan lagi kalau tidak kita mulai dari sekarang!



Kamis, 11 Juni 2020

Belajar dari Sang Guru Motivator dan Trainer Hebat..

Belajar dari Sang Guru Motivator dan Trainer Hebat..


Tak terasa malam ini sudah masuk hari ke-5 kuliah online Belajar Menulis Bersama Omjay. Dan, sudah banyak pelajaran yang didapat dari narsum-narsum yang hebat. pengalaman mereka, tulisan mereka, begitu menginspirasi begitu menggugah sehingga hati ini tergerak untuk menulis, menulis dan menulis...
Berikut ini resume hari ke-5 bersama pemateri hebat Guru Agung Pardini, moderator Ibu Fatimah dan pembuka acara Omjay.
Sebagaimana tercantum dalam CV, saat ini saya bekerja di Dompet Dhuafa. Salah satu program Dompet Dhuafa yang sejak 2009 kami kerjakan adalah SGI (Sekolah Guru Indonesia).
Pada malam hari ini saya sedikit memberi perspektif berbeda dalam urusan penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan.
Berdasarkan pengalaman saya bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Kita terbiasa untuk mengajak para guru-guru yang mengabdi di daerah-daerah pelosok untuk menulis dan berkarya.

Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana.Terdapat beberapa kendala:
1. gaya bahasa, ada beberapa istilah Bahasa Indonesia yang dimaknai secara berbeda di daerah.
2. penggunaan komputer, banyak yang belum mengenal MS Office
3. listrik, di beberapa wilayah hanya menyala di malam hari.
4. ejaan yang (belum) disempurnakan.
Nah bagaimana cara kita mengatasi kendala ini? Salah satunya adalah dengan model pendampingan intensif. Secara sabar para konsultan dan guru-guru relawan akan melakukan pendampingan dan bimbingan selama kurang lebih setahun.
Ada beberapa ragam jenis kegiatan menulis dan berkarya yang biasa kita berikan kepada guru-guru di pelosok.Outputnya tidak harus buku, ada yang berbentuk PTK, jurnal, media pembelajaran, puisi, dan lain sebagainya
Kami punya genre buku-buku yang lain. Sifatnya adalah kisah-kisah inspiratif dari para pejuang muda pendidikan yang mengabdi sebagai guru-guru di daerah pelosok. Dua buku bercerita banyak tentang pengalaman para guru-guru muda yang mengajar hingga ke pelosok negeri. Ada yang di kepulauan Ada yang di hutan dan pegunungan Dan ada yang di pelosok kampung. Dua buku itu adalah Kelan Guru 2 Musim dan Batu, Daun, Cinta Teman Setia Belajarku.

Nah bagaimana cara mengajarkan guru-guru kami menulis?
Kami punya cara yang unik. Yakni dengan menulis "Jurnal Perjalanan Guru" Jurnal ini wajib dikerjakan oleh setiap guru yang sedang mengikuti proses pembinaan di kampus SGI. Setiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama si siang hari. Modelnya bisa macam-macam. Ada yang curhat, sampai ada yang membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan. Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal tasi dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. 
Jadi ini bisa jadi semacam refleksi dan evaluasi. Melalui jurnal ini, kita pun para pengelola dan dosen jadi tahu ttg perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati mereka. Jika ada perasaan hati yang negatif, kita bisa langsung coaching atau konseling. Ada yang rindu keluarga, ada yang sakit hati... macam-macam ceritanya. Kebiasaan menulis jurnal harian ini, Guru jadi terlatih buat menulis.Namun ini tentu tidaklah cukup, harus ada upaya lain, yakni banyak-banyak membaca. Kalau gak banyak baca, ya gak bakal banyak menulis. Ini melatih kepekaan literasi mereka.
Dalam proses pembinaan guru di SGI, setiap pagi kita ada apel.

Nah, yang bertugas sebagai pembina apel (bergantian), dialah yang akan memberi kajian bedah buku.
Gak harus yang berat-berat, novel pun bisa. Selain bedah buku, untuk memantau kemajuan bacaan para guru, setelah apel biasanya ada aktivitas "Semangat Pagi".Yakni memberi motivasi secara bergantian, dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh.Ini efektif juga buat meningkatkan kepekaan literasi buat para guru. Kami sangat percaya bahwa menulis buat para guru adalah lompatan dan percepatan peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri.

Saya pribadi tidak banyak menulis buku, tapi lebih senang menulis artikel atau naskah akademik buat pengembangan program pendidikan di Dompet Dhuafa.Sekarang ini saya tengah membuat gerakan Transformasi Kelas Ajar dan juga mengembangkan Sepuluh Kepemimpinan Guru.Tulisan-tulisan saya bisa dibaca di web SGI:www.sekolahguruindonesia.net.
beberapa buku yang telah dicetak diantaranya :
1. Bagaimana Ini Itu (kumpulan tulisan tentang cara-cara pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien.
2. Sekolah Ramah Hijau
3. Murid Pasif Pangkat Guru Kreatif
4. Jamilah Sampara Pejuang Pendidikan Dompet Dhuafa, dll

Terima kasih Guru Agung, pengalaman bapak dan perjuangan bapak semoga mendapat balasan yang berlipat dari Yang Maha Pencipta, memberi inspirasi bagi kami untuk berkarya dan beramal dalam tulisan.

Selasa, 09 Juni 2020

Bertemu Penulis Hebat....


Materi malam ini adalah "Berbagi Pengalaman Menerbitkan Buku" oleh Ibu Emi Sudarwati. Berikut adalah perjalanan beliau sebagai seorang guru sekaligus penulis yang sudah berkeliling dunia berkat tulisan yang dibuatnya

EMI SUDARWATI.  Alumni Jurusan Bahasa Daerah IKIP Negeri Surabaya tahun 1993 dan lulus tahun 1998.  Mengajar di SMPN 1 Baureno ini sejak tahun 2005.  Disamping aktif mengajar, juga telah menulis dan menerbitkan beberapa karya sastra Jawa dan Sastra Indonesia.  Editor lebih dari 250 buku karya siswa dan guru Indonesia.

Pada tahun 2013.  Penulis bergabung dengan sebuah kelompok penulis di Bojonegoro.  Namanya PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro).  Di sana penulis banyak berjumpa dan berkenalan dengan penulis-penulis senior.  Seperti : JFX. Hoery (Padangan-Bojonegoro),  Sunaryata Soemardjo (Ngimbang-Lamongan), Nono Warnono (Gajah Indah-Bojonegoro), Gampang Prawoto (Sumberrejo-Bojonegoro), Sri Setyo Rahayu (Surabaya), almarhum Anas AG (Pemred  Radar Bojonegoro-waktu itu), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari orang-orang hebat di dunia tulis-menulis itu, akhirnya penulis mendapatkan pencerahan.  Bahwa karya siswa yang sudah terkumpul bisa diterbitkan dengan ISBN (Internsional Standart Book Nomber).

Pada awal tahun 2014 ini terbitlah Kumpulan Cerkak karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno dengan judul buku LUNG. 

Pada penghujung tahun 2014.  Kembali bekerja sama dengan PSJB, penulis menerbitkan buku karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno.  Tidak berhenti sampai di situ.  Karya-karya ini juga mendapat sambutan baik dari kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan bupati Bojonegoro saat itu.

Sampai-sampai penulis dan siswa didatangi oleh salah satu wartawan radar Bojonegoro untuk wawancara.  Alhasil, besuknya tayang di surat kabar harian radar Bojonegoro yang sangat terkenal itu.  Dari sana,  semua penasaran dengan buku karya siswa tersebut.  Sehingga Toko Buku Nusantara Bojonegoro banyak diserbu pembeli buku.  Semua ingin membaca dan belajar menulis, serta menerbitkan buku.

Buku karya Emi Sudarwati dan siswa SMPN 1 Baureno  menjadi inspirasi bagi banyak sekolah.  Bukan hanya di Bojonegoro, namun juga di Kabupaten lain.  Sehingga sering diwawancara wartawan berbagai media,  baik cetak maupun on line.  Akhirnya bisa tampil di berbagai media tanpa harus membayar sepeserpun.

Pada tahun 2015 ini, penulis ditugaskan untuk mengikuti lomba inobel tingkat nasional.  Awalnya ada rasa tidak percaya diri.  Namun karena Bapak Edy Dwi Susanto selaku kepala sekolah waktu itu tidak henti memberikan semangat dan motivasi.  Akhirnya penulis mengirimkan karya inovasi, meskipun dengan setengah hati.

Namun tidak disangka, ternyata dapat panggilan sebagai finalis inobelnas.  Bersama 102 guru dari seluruh Indonesia, penulis diundang ke Jakarta untuk presentasi.  Ternyata bukan hanya presentasi, tetapi ada ujian tulis juga.  Seusai lomba, seluruh finalis diajak berwisata di Dufan.  Meskipun belum mendapat juara, namun penulis sudah cukup bangga, bisa belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh tanah air.

Di samping itu, penulis juga mendapat rekomemdasi dari PSJB untuk mengikuti sayembara di BBJT.  PSJB adalah kepanjangan dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.  Sedangkan BBJT kepanjangan dari Balai Bahasa Jawa Timur.  Lembaga tersebut, setiap tahun mengadakan sayembara, yaitu pemilihan sanggar sastra, karya sastra Indonesia, karya sastra Jawa, dan guru bahasa berdedikasi.

Puji sukur, penulis mendapat anugrah sebagai guru Bahasa Jawa Berdedikasi.  Hal ini disebabkan karena sudah menerbitkan beberapa buku karya sastra siswa.  Semua itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk lebih berinovasi lagi.  Dengan status baru ini, penulis merasa memiliki tanggung jawab moral, agar lebih giat menularkan virus literasi di manapun juga.  Bukan hanya untuk siswa, namun juga untuk sesama guru.  Bukan hanya di Bojonegoro saja, tetapi sampai ke luar daerah.

Pada tahin 2016, penulis ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Sebenarnya saat itu sudah untuk yang ke dua kalinya.  Karena banyak guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya penulis ditugaskan lagi.  Ternyata tidak sia-sia.  Karena bisa menduduki juara ke tiga dari tiga puluhan peserta.

Pada tahun yang sama, penulis kembali mengirimkan karya inobel.  Kali ini bukan atas inisiatif  bapak kepala sekolah, tetapi keinginan penulis sendiri.  Karena pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi.  Kali ini bukan karya baru.  Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri.  Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal).

Tidak lama seusai lomba, penulis mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda.  Belajar sistem pendidikan di negri kaum penjajah yang super maju itu.  Berkunjung ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden.  Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik, yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.  Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.

Sepulang dari Belanda, masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali. Lagi-lagi, di samping belajar juga bisa berwisaya keliling kota terindah di negeri ini.  Kali ini, semua peserta mendapat materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.  Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional.  Nama jurnalnya adalah DEDAKTIKA.

Pada tahun 2017, aktivitasnya tidak berhenti sampai di situ.  Beberapa bulan berikutnya.  Penulis diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatka kesempatan, beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Sehari di kota lion, melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.

Paska menyandang predikat juara I inobelnas, penulis belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama.  Tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu, penulis tidak ingin kesepian.  Lalu mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Penulis menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.

Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Namun saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).

Ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif.  Karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup dirubah.  Yaitu menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Beberapa undangan dari daerah-daerah lain mulai berdatangan.  Misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta dan lain-lain.  

Di Bojonegoro sendiri, penulis aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar Guru (PBG).  Setiap saat harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan.  Juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru.  Tempatnya bisa di PBG pusat atau di PBG kecamatan.

Selain di PBG, juga penulis juga aktif di PGRI.  Yaitu sebagai juri lomba Guru menulis dan pelatihan meulis buku.  Memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif dalam menulis.  

Menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Jangan berharap sekali kirim pasti tayang atau dimuat.  Namun harus bersabar, terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga.

Bukan karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula.  Dari proses tersebut kita belajar.  Belajar meminimalisir kekesalahan.

Pada tahun 2019 Penulis mengawali terbitnya buku Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku.  Karya ini ditulis berdua dengan suami.  Semoga dengan lahirnya buku tersebut, ikatan pernikahan penulis dengan suami semakin bahagia.

Selanjutnya, di tahun yang sama.  Penulis ingin menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa jawa, yaitu pengalaman selama haji dan umrah.  Sedangkan buku tunggal yang ke dua adalah ini,  Menulis dan menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.  Alhamdulilah impian ini bisa menjadi nyata.

Adapun untuk patungan, seperti biasa saja.  Yaitu menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Patungan Buku Inspiratif.  Juga menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang,

Demikian, perjalanan singkat seorang penggiat dan penulis yang begitu menginspirasi teman guru dan siswanya. Semoga virus ini menular ke kita-kita sebagai pemula. Terima kasih bu Emi...

Minggu, 07 Juni 2020

Berbagi Pengalaman Menerbitkan Buku

Berbagi Pengalaman Menerbitkan Buku
(resume kuliah hari ketiga)
Fan Kartun Desain grafis Ilustrasi, Pensil kartun yang dilukis ...

Belajar Menulis Gelombang 11
Pertemuan 3 : Jumat, 5 Juni 2020
Waktu           : Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Pemateri       : Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd
Topik            : Berbagi Pengalaman Menerbitkan Buku
Peresume      : Noorlanyati, S.Si (noorlanyati@gmail.com)

Sungguh luar biasa pengalaman dan semangat beliau dalam menulis. Itulah yang ada dalam benak saya setelah mengikuti kuliah online Belajar Menulis di hari ketiga. Mengagumi seorang guru dan juga penulis, tidak hanya berupa buku fiksi saja tapi juga non fiksi telah diterbitkan.

Meski menurutnya, mengawali menulis sudah terlambat usia hampir setengah abad, namun semangatnya perlu kita acungi jempol. Sudah puluhan karya yang  sudah beliau bukukan. Prinsipnya adalah "better late than never" sehingga beliau terus berproses dan naik kelas.

Perjalanan beliau sebagai penulis diawali dengan membuat buku pendalaman materi Bahasa Inggris SMK yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga. Dari sanalah mulai merasakan kepuasan disamping mendapat royalti dari penerbit, yang menjadikan beliau ketagihan berkarya.

Buku antologi yang ditulis bersama komunitasnya sesama penulis dan blogger  sudah mencapai 25 buah. Dari buku antologi tersebut membuat beliau banyak belajar berbagai macam tulisan orang lain dan membentuk ciri tulisan tersendiri. 

Dari buku-buku yang beliau tulis semuanya berisikan edukasi dari pengalaman dan pengamatan beliau, yang berlandaskan parenting maupun bernafaskan Islamic. Disisipkan pesan-pesan yang tentu sudah dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti dan menarik

Di akhir materinya beliau berpesan, menulislah apa yang kita sukai dan kita kuasai. Menulis itu ketrampilan bukan bakat. Jadi berlatihlah dengan berbagai ide yang berserak di sekitar kita. Atau dengan kata lain, istiqomah dalam menulis. Menulis setiap hari.

Terima kasih Ibu Sri Sugiastuti. Sungguh ini menginspirasi dan memotivasi kita sebagai pemula yang ingin belajar terus belajar dan berkarya dalam tulisan.

Rabu, 03 Juni 2020

INCREATED CREATIVE ATTITUDE...(Catatan yang menginspirasi)

INCREATED  CREATIVE  ATTITUDE

(Catatan yang menginspirasi)

Siang ini saya buka salah satu grup WA. Ada satu postingan yang membuat saya tergelitik untuk mengomentarinya. Komentar saya adalah bahwa saya sependapat dan setuju bila otak kita mampu menghasilkan energi yang luar biasa atau ide yang cemerlang ...manakala kita dihadapkan pada situasi yang sulit..atau saya menyebutkan dengan istilah "the power of kepepet" . 

Bagaimana bisa itu terjadi? Saat ada pemicu atau rangsangan atau stimulus...otak merespon dan apabila pemicu itu adalah hal yang negatif misalnya kesedihan, kekecewaan, kemalangan, keburukan... biasanya kita berupaya keras keluar dari masalah yang dihadapi atau berusaha memecahkan masalah tersebut dengan berbagai jalan..supaya kita tetap survive atau sebaliknya kita tertantang untuk menghasilkan karya atau ide cemerlang yang bisa menaikkan kekuatan diri kita.

Dalam postingan yang disampaikan oleh Bapak Budiman Hakim yang lebih dikenal dengan sapaan Om Bud dan bapak Asep Herna dengan panggilan Kang Asep atau Kang Asep yang Kasep mengawali dengan  pertanyaan “kenapa kita harus menulis?"
Banyak orang ngomong bahwa DIA TIDAK SUKA MENULIS bahkan TIDAK PERNAH MENULIS.
Nah, walaupun belum membuat riset, walaupun tanpa data, saya berani bilang Itu pasti hoax! Karena menulis adalah kebutuhan primer, sama seperti halnya dengan makan, minum dan tidur. Kita boleh bilang bahwa kita bukan culinary Man. Tapi toh kita tetap harus makan.
Begitu juga menulis. Kita mungkin gak suka menulis. Tapi kita selalu ngetweet, kita bikin status di FB, kita bikin caption di Instagram, kita chatting di WA dll. Kita menulis pelajaran di kampus, kita membuat laporan di kantor dll. Artinya, suka gak suka, kita tetap saja menulis.

Point saya adalah, karena kita tetap dan terpaksa harus menulis, kenapa kita tidak sekalian saja memperdalam ilmu penulisan kita. Kenapa demikian? Karena menulis itu banyak sekali manfaatnya. Diantaranya :

1. MENGABADIKAN PENGALAMAN HIDUP
Kita bisa mengabadikan hal-hal menarik dalam hidup kita. Kenapa perlu kita abadikan? Karena yang perlu kita wariskan pada anak dan cucu kita bukanlah harta tapi pengalaman hidup dan wisdom kita.
Menulislah! Tidak usah malu mengungkapkan sisi hitam kita. Karena bukan sisi negatif itu yang akan kita highlite tapi hikmah positif apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut.

2. MENINGGALKAN LEGACY
Menulis membuat kita bisa meninggalkan legacy untuk keturunan kita. Cucu-cucu yang gak sempet ketemu kita, pasti seneng banget ketika membaca, “Wah, kakek buyut kita, Away, ternyata dulu seorang content provider, Loh. Ih, kagum sama Opung Tony!”
“Gile, ternyata nenek buyut kita, Endang Larasati adalah pemain piano sekaligus pencipta lagu, loh. "
"Ih, kakek buyut kita Tony ternyata pernah demo menggulingkan presiden loh. Hebat banget. Sayang kita gak sempet ketemu beliau.” Mengharukan, bukan? Dan kalo buku kita bagus, bukan cuma keluarga tapi dunia akan membaca buku kita.
Seperti orang bijak berkata, “If you want to know the world, READ. If you want the world to know you, WRITE!

3. MEMBUANG SAMPAH EMOSI
Jiwa menderita, tubuh menjerit. Itulah yang tejadi di era modern seperti sekarang. Sebagian besar penyakit yang menggeragoti tubuh selalu datang dari masalah psikis (Psychosomatic).
Alhamdulillah salah satu obat yang paling manjur adalah menulis.
Menulis berfungsi sebagai EMOTIONAL DETOX yang mampu mengusir rasa sakit, penderitaan, rasa bersalah, kesedihan dan stress.
Semua itu berpangkal dari enerji negatif yang semakin gila datang dari media digital. Kalo semua enerji negatif tersebut dibiarkan dalam tubuh, lama kelamaan akan mengakibatkan tubuh kita sakit.
Orang psikologi biasa menyebutnya dengan istilah FUNGSI KATARSIS, yaitu menulis  mampu mencegah kita dari penyakit psikosomatis.

Jadi ketika kita sedang gelisah akan sesuatu, MENULISLAH! Maka kegelisahanmu akan pudar. Jika kegelisahan itu terlalu personal untuk dibuka ke publik, kalian bisa menulis tentang hal lain. Tentang apa saja semau kita. Hasilnya? Aneh bin ajaib! Kegelisahan kita tetap menghilang. Begitu powerfulnya menulis bagi kesehatan kita.

4. MENULIS ITU SEPERTI MAIN GAME
Main game sering disebut dengan melampiaskan aktualisasi diri. Menulis itu persis seperti main XBOX atau PS (Play Station).
Perhatiin deh, game yang dipilih oleh anak kita. Pilihan game yang mereka ambil sebenernya sangat mewakili harapan dan imajinasinya.
Mereka memilih game balapan karena buat mereka seru dan ternyata menjadi pembalap adalah salah satu impiannya. Memang tidak semua impian bisa jadi kenyataan tapi dengan main game sedikit banyak aktualisasi diri bisa terpenuhi.
Sama dengan main game, menulis juga bisa berfungsi sebagai aktualisasi diri. Buat yg suka berkhayal pengen jadi jagoan, pengen jadi bintang film, pengen jadi Super Hero…pokoknya jadi apa aja BISA.

Tuliskan cerita berdasarkan imajinasi itu. Tokohnya tidak perlu harus kita. Siapapun tokoh yang kita ciptakan, ketika semua kita tuliskan maka semua hal yg kita ceritakan sebetulnya semuanya merupakan representasi dari pikiran, imajinasi, cita-cita dan harapan kita.

Dengan menulis cerita, kita bisa jadi apa aja di sana.
Pokoknya apapun yang muncul dalam pikiran, apapun yang sering muncul dalam imajinasi kita, tuliskan. Insya Allah tulisan kita akan menjadi bagus. Kenapa demikian? Karena sesuatu yg sering kita imaginasikan pasti sangat sempurna. Minimal buat kita sendiri.

5. MENULIS ITU MENCEGAH PIKUN
Tau, gak? Banyak orang yang memasuki usia pensiun, seringkali bingung harus melakukan apa. Padahal hidup itu adalah tentang mengejar sesuatu. Meskipun sesuatu itu adalah hal yang sepele, tetap saja harus ada yang dikejar. Itu sebabnya banyak pensiunan cepat meninggal karena mereka gak punya sesuatu yang harus dikejar. Mereka stress dan merasa gak berguna menjalani hidup. Padahal Masa Pensiun itu bukanlah periode di mana kita tidak mengerjakan apa-apa. BUKAN!

Masa pensiun adalah masa di mana kita mempunyai kebebasan untuk memilih pekerjaan yang kita sukai. Karena butuh kegiatan dan membutuhkan sesuatu untuk dikejar, akhirnya para pensiunan tersebut mencoba berkebun, kursus melukis atau kursus MENULIS. 

Berdasarkan hal itulah, saya berpendapat, daripada menunggu tua baru belajar menulis lebih baik KITA BELAJAR DARI SEKARANG. Apalagi buat yang muda-muda. Manfaatkanlah belajar menulis dari sekarang.

Kalo kita hobby menulis, ketika tua nanti, kita mempunyai kegiatan yang menyenangkan. Kita bisa berkarya, menulis sepuasnya, menerbitkan beberapa buku karena di jaman muda dulu sering tertunda oleh kegiatan lainnya.

Artinya dari muda sampai tua, kita akan selalu mempunyai sesuatu yang menyenangkan untuk DIKEJAR. Dan hebatnya lagi, kegiatan menulis akan membuat kita terhindar dari penyakit pikun. Kok bisa begitu?

Karena jika otak kita sering digunakan untuk berimajinasi dan berpikir maka otak kita akan terasah terus. Orang yang terkena penyakit pikun biasanya adalah orang yang kurang menggunakan otaknya untuk berpikir. Akibatnya otaknya tak terasah dan lama kelamaan menjadi tumpul. Dan pada gilirannya kita akan menjadi pikun.

Otak adalah hadiah terhebat dari semua organ tubuh yang kita terima dari Tuhan.
Secara umum manusia yang paling pinter pun (termasuk Einstein) konon baru menggunakan kapasitas otaknya sebesar 17%. Jadi bisa dibayangkan bagaimana hebatnya jika kita bisa memaksimalkan otak kita. Pastinya karya kita akan sangat bagus. 

6. MENULIS MEMBUAT KITA MENJADI TOKOH YANG DIDENGARKAN
Ada teori yang mengatakan bahwa secara umum manusia terbagi dalam dua tipe; 1. Tipe pembicara dan 2. Tipe pendengar.

Minimal di lingkungan saya, semua orang ingin menjadi pembicara sekaligus ingin didengarkan. Terus terang saya kurang sepakat dengan teori itu.

Ada cukup banyak anak-anak bahkan dewasa yg merasa terkucil. Kenapa? Karena mereka merasa ortunya sibuk dan cuek. Mau cerita kok mereka males-malesan dengerin kita. Kalo itu yang terjadi pada kita, maka menulislah.

Ketika orang memutuskan untuk membaca tulisan kita berarti dia dengan rela mendudukkan dirinya sebagai pendengar. Dan kita sebagai penulisnya tentu saja adalah pembicaranya.

⇸KESIMPULAN:

Sekarang kita sudah mengetahui betapa banyak manfaat dan betapa pentingnya pengetahuan tentang penulisan. Perlu dipahami bahwa segala kegiatan yang kita lakukan hampir semuanya berhubungan dengan penulisan. Kita mau berjualan di IG, mau jadi stand up comedian, berdakwah, presentasi, membuat film, membuat album lagu, melakukan penelitian dll, semua berhubungan dengan dunia PENULISAN!

Sejak kemunculan dunia digital, sekonyong-konyong ilmu penulisan malah semakin naik pamornya. Di social media semua orang menulis, baik itu di WA, LINE, twitter, Youtube, Facebook, Instagram, dll.

Itu sebabnya ilmu penulisan menduduki porsi yang sangat mendominasi. Itu juga sebabnya belakangan ini kita melihat berbagai penawaran workshop tentang penulisan/copywriting begitu tinggi. Kenapa demikian?
Karena eksistensi manusia sekarang bukan di dunia nyata. Eksistensi manusia sekarang ada di dunia digital. Dan untuk mempunyai eksistensi yang tinggi di dunia digital, senjata utamanya adalah MENULIS!

Jadi teman-teman, yuk kita tanamkan tekad: KITA HARUS BELAJAR DAN MEMPERDALAM ILMU MENULIS.

If you type your name in Google and you don't find it, techically you're dead!

Okay, guys, sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting.

Perlu diketahui bahwa setiap kali saya mengajar, entah itu sharing tentang creative writing, storytelling, generating ideas, presentasi/public speaking dll, segmen pertama saya selalu sama, yaitu tentang CREATIVE ATTITUDE.
Saya tidak pernah mengajarkan kalimat template karena, buat saya, itu melecehkan kecerdasan otak kita. Bahasa itu bukan template. Bahasa itu adalah soal rasa.

Tuhan itu adalah FATHER OF CREATION. Satu-satunya bakat yang diberikan pada manusia namun tidak diwariskan pada makhluk lain adalah berkarya (creation, to create and creative).

Jadi saya punya pemahaman bahwa Creative Attitude sangat penting dan merupakan landasan atau infrastruktur utama dari kreativitas kita.

⇸CREATIVE ATTITUDE⇷

Perlu dipahami bahwa KREATIVITAS ITU ADALAH SIKAP HIDUP. BUKAN JOB DESKRIPSI. 

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat pekerjaan. 
Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat masalah. 
Creative Attitude harus menjadi sikap hidup kita sehari-hari. Meskipun sedang tidak ada proyek, meskipun sedang tidak ada masalah, KITA HARUS SELALU BERSIKAP KREATIF.

Saya mau cerita dikit....
Temen saya pernah bercerita tentang seorang kerabatnya yang berasal dari Aceh yang bernama Farhan. Farhan ini selalu mengaku tidak suka menulis. Bahkan dia cenderung menganggap remeh kegiatan menulis.

Namun sebuah peristiwa besar telah merubah paradigma yang selama ini dianutnya.
Tentu kita masih ingat bencana Tsunami yang terjadi di Aceh. Sekitar 230.000 orang di 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia, pada tanggal 26 Desember 2004. Tsunami dipicu gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter, yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda Aceh. Keluarga Farhan adalah salah satu korban dari gelombang Tsunami yang mengerikan itu. Alhamdulillah kedua orangtuanya selamat. Tapi dalam bencana tersebut, dia kehilangan isteri dan 2 anaknya.  Farhan merasa sangat sedih dan terpukul. Rasa kehilangan yang begitu berat membuatnya sangat menderita. Dia merasa depresi dan sering berteriak-teriak karena beban yang begitu menyesakkan dada tentunya harus dikeluarkan. Saat berkonsultasi di sebuah klinik untuk meredam kesakitannya, Psikiater yang merawatnya menganjurkan Farhan untuk menulis. Farhan mencoba terapi itu. Dan perlahan-lahan dia mulai menikmati kegiatan menulis itu.

Dan percaya, gak? Setiap kali habis menulis, dia merasa bebannya menjadi lebih ringan. Akhirnya dia menulis dan menulis lagi untuk mengeluarkan beban berat yang selama ini menindih hatinya. Alhamdulillah akhirnya dia sembuh. Dan sampai sekarang dia masih terus menulis...

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bencana Tsunami telah menjadi PEMICU baginya untuk menulis. Farhan yang mengaku tidak suka menulis akhirnya menulis.
Tapi perlu dicatat bahwa dia membutuhkan PEMICU YANG BESAR untuk memaksanya menulis. 

Kasus lain lagi.

Pernah gak kalian perhatikan, ada banyak sekali seniman yang selalu berkarya dan karyanya bagus-bagus. Nah ada cerita menarik dari pengalaman para seniman.
Seorang sahabat saya di Yogya pernah menganalisa tentang Ebiet GAD. Saya gak tau kebenaran cerita ini tapi analisanya sangat menarik, jadi gak ada salahnya saya share di sini buat kita semua berkaca....

Menurut teman saya tersebut, Ebiet GAD sangat kreatif dan banyak membuat lagu ketika hidupnya masih susah.

Kesehariannya sering diisi dengan cara menggelandang di Malioboro dan merenung di pantai Parang Tritis. Konon orang sering ngeliat dia ngamen di sepanjang Malioboro....Beban yang ada di pundaknya menjadi PEMICU yang dia lampiaskan dengan mencipta lagu.

Dan percaya gak? Lagunya bagus-bagus. Bahkan akhirnya dia mendapat kesempatan untuk rekaman dan albumnya meledak. Dia mendadak menjadi terkenal, mendapat banyak penghargaan dan bergelimang dengan uang. Konon dia lalu menikah dengan sesama artis dan tinggal di rumah mewah di bilangan kebayoran baru. Jadi Ebiet hidup tenang bersama keluarganya dari hasil karyanya.

Namun selanjutnya apa yang terjadi?
Setelah dia hidup mapan, kita tidak pernah lagi mendengar karyanya meledak. Kita tidak tau apakah dia masih mencipta lagu atau tidak. Tapi apa yang terjadi pada Ebiet memang banyak dialami sebagian besar seniman. Banyak yang setelah menjadi kaya, mereka sulit sekali berkarya. Bukannya mereka tidak mau.

Setiap hari mereka berusaha mencipta lagu. Mereka sudah berusaha mati-matian tapi tetap saja tidak terlahir lagu-lagu yang kualitasnya sama dengan jaman mereka hidup susah dulu. Aneh, kan? Kenapa bisa terjadi begitu?

Rupanya ketika hidup mapan, mereka merasa tidak lagi mempunyai PEMICU. Dulu beban yang ada di pundaknya bisa dia konversikan menjadi lagu. Tapi ketika hidup mapan tanpa beban? Ide-idenya gak keluar. Otaknya buntu. Mereka membutuhkan ‘kekejaman Tuhan’ berupa beban hidup sebagai PEMICU untuk berkarya.

Banyak seniman di dunia ini mengalami hal yang seragam. Mereka punya karya yang mumpuni saat sedang menderita tapi blank ketika hidupnya sudah mapan.
Nah, di sinilah pentingnya CREATIVE ATTITUDE!

Kalo kita memiliki Creative Attitude, KITA TIDAK MEMBUTUHKAN PEMICU YANG BESAR UNTUK BERKARYA.

Kita tidak butuh bencana Tsunami untuk memaksa kita menulis. Kita tidak butuh beban penderitaan hidup untuk berkarya.

Sebuah kata atau kalimat sederhana akan menjelma sebagai PEMICU jika CREATIVE ATTITUDE sudah menyatu dengan aliran darah kita.

Sehelai daun jatuh, sudah cukup untuk membuat kita menulis. Tangis bayi tetangga sudah cukup menjadi pemicu kita untuk berkarya.

Dari pemaparan di atas, kita tentu setuju bahwa creative attitude itu sangat penting dan harus dilatih secara terus menerus.

Bagaimana caranya? Sebetulnya caranya sederhana saja. Kita harus peka pada apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita harus sering-sering menganalisa apa yang ditangkap oleh pancaindera kita.

Begitulah yang namanya creative Attitude. Persoalannya, bagaimana cara MELATIHNYA? Caranya simple aja. Kita bisa belajar dari hal-hal yang kecil dulu. Misalnya: KOMEN DI SOCIAL MEDIA.
Di jaman sekarang banyak waktu kita tersita di social media. So, supaya gampang, ayok kita manfaatkan situasi itu. Pasti kalian sering ngasih komen di social media orang lain, kan?

Misalnya kalian sedang melihat status FB temen. Di sana kita membaca status tersebut berbunyi “Anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat tapi berilah dia contoh.”
Nah, terus kalian ngasih komen begini “Setubuh…eh setuju!”
Astaghfirullah! Jangan, ya?

Itu adalah segaring-garingnya komen. Kalo bikin komen seperti itu berarti kalian tidak punya creative attitude.
Joke tersebut adalah joke tahun 70-an. Udah ampir setengah abad umurnya!
Masak sih kita gak mau menulis komen yang baru?
Tulislah komen yang kita ciptakan sendiri sehingga temen kita merasa surprise dengan komen kita. Ingat! Semua orang suka SURPRISE!

Kemaren kita baru saja merayakan hari lebaran.
Saat hari lebaran banyak banget kalimat-kalimat indah berseliweran.
Pesan saya cuma satu:  Hindari nyontek ucapan-ucapan yang sudah basi.
Misalnya “Ketika jemari tak sempat bertaut….” Hadoh! Basi amat!
Atau “Ketika kata menggores luka…..” NAJONG!
Apalagi bikin pantun “Ikan kakap ikan patin. Mohon maaf lahir bathin.” TOBAT!!!!!!!!!!!
Guys, please! Jangan bikin temen kita muak dengan ucapan selamat kita! Bikin dong kalimat sendiri yang baru. Temen kita juga akan seneng bacanya.
Jangan bikin temen kita illfeel. Jangan bikin temen kita muak!!!
Itu ada yg bikin status melampiaskan kemuakannya.
Atau pas temen kita nulis tentang dirinya yang mencari kacamatanya ternyata kacamatanya ada di kepalanya.
Jangan pernah bikin komen “FAKTOR U!”
Kenapa saya tidak mengizinkan kalian melakukan hal itu? Karena pasti ada banyak orang lain yang akan menuliskan kalimat yang sama.
Akibatnya komen kita jadi GENERIK.

Dengan creative attitude seharusnya komen kita jadi UNIK.
Sekali lagi komen kita harus jadi SURPRISE buat yang membacanya.
Hal ini penting dilakukan. Bukan untuk membahagiakan temen kita tapi untuk membahagiakan diri sendiri.

Kasus selanjutnya. Temen kita bercerita tentang seorang isteri yang dateng ke kantor suaminya. Sang isteri tersebut mau ngecek karena mencurigai suaminya berselingkuh dengan resepsionisnya.

Terus kita ngasih komen, “Pengalaman pribadi, ya?”
Ya, ampun! Wake up, guys! Komen seperti itu juga pasti akan dituliskan oleh oleh orang lain.

Kita perlu mengantisipasi kira-kira orang lain akan komen apa. Nah, kita harus bikin yang lain. Yang unik. Yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Begitulah basic menanamkan CREATIVE ATTITUDE dalam diri kita.
Kalo kita nonton film, pasti kan kita seneng kalo filmnya gak ketebak. Iya, kan?
Kalo ceritanya ketebak, kita pasti akan mengatakan bahwa film itu jelek.
Nah, seharusnya pemahaman itu juga kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita akan menjadi orang yang disukai dilingkungan kita karena kita gak ketebak. Kita orang yang penuh surprise.

Dan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil, misalnya ya membuat surprise di setiap postingan kita. Baik itu di IG, FB, Twitter, WA, LINE dll.
Jangan mau jadi orang generik. Jadilah orang yang unik. Dan semua itu hanya bisa dicapai kalo kita memiliki CREATVE ATTITUDE.

Jadi bisa disimpulkan bahwa CREATIVE ATTITUDE adalah sikap hidup yang harus selalu dilakukan dalam keseharian kita.

Jadi mulai sekarang mulailah melatih creative attitude kita. Berlatihlah setiap hari. Buatlah surprise meskipun di hal-hal sepele. 

Creative attitude bukan bagaimana kita berkarya. Creative atttude adalah SIKAP untuk selalu berkreasi.

Creative Attitude adalah MENTAL untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru.
Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya. Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude. “

Inilah pelajaran yang disampaikan Om Bud. Saya percaya walaupun kita tidak mengikuti langsung, jika membaca tulisan ini, kita seolah-olah masuk di dalamnya. Semoga bermanfaat. Dan kita tunggu pelajaran berikutnya di hari kedua.

Terima kasih Om Bud dan Kang Asep yang telah membagikan ilmunya untuk menjadi perduli apa yang terjadi di lingkungan kita, dan menuliskannya. Melatih diri kita untuk menjadi lebih kreatif. Mengasah Creative Attitude kita dengan menganalisa kejadian-kejadian pada diri kita, orang lain dan di sekeliling kita.

Selamat berkarya teman-teman! Semangat menulis ! Abadikan perjalanan hidup kita dengan karya yang bisa dinikmati dan menginspirasi orang lain lewat coretan-coretan dan ide-ide yang tertuang. 

Selasa, 02 Juni 2020

Belajar Menulis Gratis Bersama Omjjay..

Kuliah Perdana : Belajar Menulis Gratis Gelombang 11 

Malam ini kuliah online Belajar Menulis Gratis gelombang 11 dimulai. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kuliah belajar menulis yang dikomandai blogger ternama ini, Omjay, begitu panggilan akrabnya bisa disimak teman-teman yang ada di grup WA.

Materi kuliah pertama tentang perjalanan omjay dalam menerbitkan 4 buku yang beliau tulis. Menurutnya dalam menerbitkan buku, tentu saja ada kolaborasi antara penulis, editor dan pihak penerbit.

Inilah resume kuliah malam ini. 

Banyak orang tidak tahu bahwa menulis buku itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu saya menulis setiap hari di blog. Dengan begitu saya bisa membuat buku dari hasil menulis di blog. Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Tema inilah yang malam ini saya berikan dari wa group gelombang 1 sampai 12 secara online di wa group. Menerbitkan buku dari hasil menulis di  blog.

Sekedar informasi. Buku Catatan Harian Seorang Guru Blogger diterbitkan dalam waktu 6 bulan. Buku ini dikerjakan dengan sangat teliti oleh pak Sukarno yang menjadi editornya. Selama pengerjaan buku tidak pernah satu kalipun kami bertatap muka. Pak Sukarno mengerjakannya di Semarang. Sedangkan omjay ada di Bekasi. Kami berkomunikasi hanya lewat wa saja. Tulisan diambil dari kisah nyata omjay yang ditulis di blog kompasiana.com/wijayalabs.

Buku Melejitkan Keterampilan Menulis Siswa diterbitkan dalam waktu 3 bulan. Buku ini adalah hasil penelitian tindakan kelas atau ptk yang lolos masuk final lomba karya tulis inovasi pembelajaran tingkat nasional. Berkat PTK ini omjay mendapatkan laptop baru dan uang jutaan rupiah. Bisa ke bali gratis naik pesawat garuda indonesia dan menginap di hotel bintang 5.
Awalnya Omjay tidak tahu kalau hasil PTK bisa dijadikan buku ber ISBN. Setelah belajar sama Pak Lukman di jawa Timur lewat online, omjay menjadi tahu ilmunya.

Ibu Hati di Bandung menawarkan diri menjadi editornya. Tentu saja Omjay senang sekali karena belum punya pengalaman sama sekali menulis buku dari hasil ptk. Alhamdulillah buku itu jadi dan banyak yang memesannya.

Berkat membuat laporan PTK yang baik saya dapat hadiah kuliah singkat ke China University of Mining Technology atau CUMT. Omjay belajar STEAM  di sana dan pulang bawa uang 21 juta. Bukan hanya uang tapi juga segudang pengetahuan baru yang akan omjay terbitkan dalam buku baru. Sekarang sedang dikerjakan prosesnya di Penerbit Camp Pustaka Yogyakarta.
Buku Blogger Ternama adalah sebuah buku yang diterbitkan dari hasil menulis di blog selama 6 bulan.

Buku ini diterbitkan oleh Pak Wiranto dari Penerbit Camp Pustaka. Isinya kisah nyata Omjay menulis di blog dan menjadi blogger ternama. Lewat buku ini Omjay mengajak kawan kawan guru untuk menulis di blog dan kemudian merajut tulisannya menjadi buku yang layak jual. 

Blogger Ternama ditulis dari kisah kisah inspiratif bagaimana seorang guru yang biasa saja dapat menjadi guru yang luar biasa. Bahkan berkat rajin menulis di blog Omjay diundang keliling Indonesia dan diajak makan siang di istana negara bersama presiden Jokowi. Itulah Keajaiban Ngeblog yang mengantarkan Omjay menjadi blogger ternama. Bahkan kami suami istri bisa bulan madu gratis ke Singapura gara gara menulis di blog. Hal itulah yang ingin Omjay tularkan dalam buku ini.

Buku Menulislah Setiap Hari adalah buku pertama kali yang omjay terbitkan di Penerbit Mayor. Perlu waktu 3 tahun menerbitkan bukunya. Omjay masih belum percaya diri menerbitkan buku. Sebab seringkali ditolak oleh penerbit mayor. Namun Omjay tak pernah putus asa. Buku akhirnya jadi berkat jasa mbak Abdah Khan. Berkat beliau buku itu menjadi enak dan renyah dibaca.

Kemudian buku itu diterbitkan oleh Penerbit Indeks Jakarat dengan editor mas Yuan Acita. Sampai sekarang Omjay belum pernah bertemu orangnya. Kabarnya beliau ada di Padang. Berkat tangan dingin beliau buku ini laku keras dan tersebar ke seluruh Indonesia. Berkat buku ini Omjay membeli rumah baru. Tidak besar tapi cukup untuk berlibur bersama keluarga di Wanaraja Garut Jawa Barat.

Pesan apa yang ingin Omjay sampaikan malam ini? 
Omjay ingin menyampaikan kepada kawan kawan guru bahwa kolaborasi itu penting. Keempat buku yang Omjay terbitkan adalah berkat kolaborasi antara penulis dan editor. Penerbit yang baik tentu memerlukan waktu dalam proses editingnya. Hal ini kurang disadari oleh para penulis pemula. Apalagi buat kawan guru yang menulis hanya untuk kenaikan pangkat.

Jadi menulis buku itu bertujuan berbagi ilmu dan pengalaman. Bukan sekedar menambah point untuk kenaikan pangkat saja.

Nah.. itulah resume kuliah online malam ini. Terima kasih Omjay..

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...