Selasa, 21 Juli 2020

LANGKAH SUKSES DALAM MENULIS BUKU


Menulis resume sudah menjadi kebiasaanku setelah mengikuti kuliah online "Belajar Menulis " bersama Omjay. Pemateri malam hari ini  adalah seorang penulis hebat, buku best seller "Man Jadda Wajada" Akbar Zaenuddin  dan seorang trainer motivator. Beliau membagi pengalaman bagaimana langkah-langkah dalam menulis. Berikut ini resume kuliah dari Akbar Zaenuddin. Yuk disimak.


Dalam menulis yang harus kita perhatikan adalah TOJTRP. Apa itu TOJTRP ?
1. Tema. Setiap buku harus punya tema. Tema merupakan garis besar dari apa yang kita tulis dalam buku. Tema harus ada baik pada buku fiksi maupun ni=n fiksi. pada buku fiksi misal tema romantisme, religius, impian. Tema pada buku non fiksi misal tentang pendidikan, parenting, motivasi dan lain sebagainya.
Bolehkah satu orang menulis berbagai tema buku? Menurut saya, karena ini terkait dengan “branding”, berusahalah untuk fokus menulis satu tema tertentu, agar kita dikenal ahli dalam tema tersebut. Kalau temanya berubah-ubah, nanti orang bingung, kita ini sebenarnya ahli dalam bidang apa?

2. Outline/daftar isi. Outline harus kita buat. Karena outline akan membimbing kita untuk selalu menulis sesuai dengan relnya, agar terarah, agar kita terjadwal dan mecaapi target, menghindari ngeblank dan agar buku kita selesai. Kalau tidak ada daftar isi, akan sulit bukunya bisa selesai. Inilah salah satu hal penting yang sering diabaikan orang. Merasa sudah tahu apa yang ditulis, akhirnya tidak ada outline dan langsung menulis. Akibatnya, tulisannya tidak terarah, “melenceng” dan “lari” ke mana-mana, tidak tahu jalan akhirnya.

Bagaimana cara Mengembangkan Daftar Isi (outline)

↝ Untuk Buku Non Fiksi. Gunakan prinsip dasar 5W dan 1H.
    what: Ini terkait pengertian, definisi, pembagian, jenis-jenis, dan sebagainya.
   why: Ini adalah tentang alasan (mengapa) buku ditulis, tujuannya dan        manfaatnya apa.
    how : tentang bagaimana, tips and trick, strategi, langkah-langkah
    Untuk 2 W yang lain, yaitu Where dan When bisa tidak digunakan.
Contoh
Tema: Santri dan Menulis
what : 1. Santri dan keterampilan menulis.
           2. Keterampilan apa saja yang dibutuhkan agar bisa menulis.
           3. Para ulama dan karya mereka dari masa lampau.
           4. dan seterusnya.

Why? 1. Mengapa Santri Harus Menulis?
           2. Tujuan Menulis.
           3. Tantangan Mengapa Santri Harus Bisa Menulis.
           4. dan seterusnya.

How : 1. Bagaimana cara menulis?
           2. Bagaimana membangun disiplin menulis?
           3. Tips and Tricks Menjadi Penulis.
           4. dan seterusnya.

untuk buku nonfiksi 
who : Siapa saja tokoh-tokohnya.Tentukan tokoh-tokoh yang akan menjadi bagian dari cerita. Misalnya, ayah, ibu, teman, guru, dan sebagainya.
why  : Karakter. Gambarkan profil setiap tokoh dengan sifatnya masing-masing.
Plot atau Alur Cerita : Gambarkan alur cerita dari awal hingga akhir. Potongan ceritanya seperti apa. Di mana akan membangun cerita emosionalnya, di mana sedihnya, di mana senangnya. Terus ending cerita seperti apa, apakah happy ending, sad ending, dan sebagainya.
Membuat outline ini bisa langsung dituliskan outlinenya atau bisa dengan beberapa alat bantu. Biasanya saya menggunakan mindmap untuk membantu membuat daftar isi.
Apakah wajib? Tidak harus. Tetapi kalau saya pribadi, ini harus ada. Biar ada rel ke mana tulisan kita, biar selalu ada arah kalau kita menemui jalan buntu, dan ini yang paling penting; bisa membuat jadwal agar buku cepat selesai.

Contoh outline buku "Man Jadda Wajada".
Buku ini adalah buku dengan tema motivasi umum, motivasi hidup. Saya mulai dengan why sebagai berikut:
1. Mengapa motivasi itu penting dalam hidup.
2. Motivasi apa yang membuat orang tergerak untuk berubah.
3. Apa tujuan hidup seseorang?
4. Mengapa orang harus berubah?
5. Darimana perubahan itu bisa dimulai?
6. Apa saja yang harus diubah?
what : Hal-hal yang terpikir dalam kategori what adalah:
1. Apa itu sukses?
2. Langkah-langkah apa saja yang harus dijalani agar kita bisa sukses?
3. Potensi diri, kelebihan dan kekurangan
4. Memahami bahwa sukses itu bisa kita dapatkan.
How. Ini tentang bagaimana, strategi, langkah-langkah, tips & Trick, dan juga action. Penjabarannya:
1. Bagaimana bermimpi besar.
2. Bagaimana membuat rencana (action plan).
3. Bagaimana berani memulai.
4. Menjadi kreatif.
5. Membangun momentum berubah.
6. Kapan harus memulai?
Ketiga hal itulah yang akhirnya menjadi dasar outline buku saya "Man Jadda Wajada"

Contoh outline buku "Ketika Sukses Berawal dari Pesantren". Target buku ini adalah para santri, umur SMP dan SMA. Karena itu, buku ini harus sederhana, ringan, bisa dibaca oleh pembaca dalam rentang umur tersebut, dan tetap bobot isinya tinggi.
what : 1. Apa itu sukses.
           2. Apakah bisa anak pesantren itu sukses?
           3. Kisah-kisah sukses alumni pesantren.
 why : 1. Mengapa anak pesantren sukses
 how : 1. Bagaimana caranya agar kita sukses?
           2. Apa yang harus kita lakukan mulai dari sekarang?
Dari poin-poin itu saya jabarkan lebih detail lagi menjadi daftar isi yang cukup lengkap. Daftar isi ini lalu saya tuliskan satu per satu, maka jadilah buku "Ketika Sukses Berawal dari Pesantren".

3. Jadwal. Dengan kita membuat jadwal, maka akan memudahkan kita untuk mengontrol dan mengevaluasi dari hasil tulisan kita.
Cara membuat jadwal :
1. Buatlah tabel dengan 4 kolom, yang berisi No-Judul Artikel-Target Lama Menulis-Tanggal-Keterangan
2. Isi Nomer
3. Isi Judul Artikel
4. Perkirakan Berapa Lama (Berapa Hari) Artikel akan Ditulis
5. Buat sesuai dengan tanggal yang ada saat ini.
6. Isi Keterangan dengan apakah sudah selesai ditulis atau belum.
Jadwal menulis ini menentukan. Kalau ada jadwal, kita bisa mengacu pada jadwal tersebut dan bisa mendisiplinkan diri sendiri. Karena kita tahu di mana akhirnya, kapan draft naskah kita akan selesai. Kalau tidak ada jadwal, kita tidak pernah tahu perkiraan draft naskah kita kapan selesai.

4. Tuliskan.
Outline sudah ada, jadwal juga sudah ada. Berikutnya adalah tuliskan sesuai outline dan jadwalnya. Di sini, disiplin diri dan komitmen yang akan menentukan apakah tulisan kita akan selesai atau tidak. Tulis dan selesaikan semua judul artikel terlebih dahulu. Jangan terpaku untuk satu tulisan sampai sempurna.

5. Revisi. Revisilah tulisan kalau semua draft tulisan sudah selesai. Jangan terpaku hanya satu judul sampai sempurna. Kalau kurang-kurang sedikit, tidak apa-apa. Tahap pertama adalah menyelesaikan semua draft buku. Tahap kedua, baru revisi. Apa saja yang direvisi?
a. Data dan informasi yang kurang.
b. Tata Bahasa
c.  Gaya Tulisan. Disamakan dari awal hingga akhir.
d.  Judul-judul artikel. Buatlah judul-judul yang menarik.

6. Kirim ke penerbit. Apa yang menjadi pertimbangan penerbit?
Paling utama adalah bukunya laku atau tidak. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca. Apakah pembaca butuh buku kita? Siapa yang butuh? Berapa banyak orang yang butuh? Buku kita menjawab kebutuhan apa? Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar. Karena itu, sebagai penulis kita mesti memahami buku kita siapa yang akan beli, dan siapa yang kira-kira akan baca.
Hal kedua adalah apa yang bisa membedakan buku kita dari buku sejenis. Apa kelebihan kita dibandingkan dengan buku sejenis? Kita harus mampu menjawab pertanyaan ini. Karena hal itu yang akan menjadi pertanyaan dan juga pertimbangan penerbit.
Ketiga, pertanyaan penerbit adalah, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu pemasaran buku? Harus punya jawabannya. Misalnya iklan di Medsos, Seminar, Pelatihan, Diskusi Buku, Membangun Komunitas, Dan Sebagainya. Apakah perlu membayar kepada penerbit? Kita tidak perlu membayar ke penerbit. Bahkan kita mendapatkan uang ROYALTI. Rata-rata royalti adalah 10% dari buku yang terjual.

Bagaimana cara mengirim naskah?
1. Naskah harus sudah jadi.
2. Diprint, dikirim dengan hard copy dan soft copy dalam bentuk CD atau Flash Disk. Berapa lama? Kabar diterima atau tidak sekitar 3 bulan.

Sesi Tanya Jawab
↫ Apakah buku Man Jada Wa Jada ada pengalaman pribadi atau pengamatan? Berapa persen pengalaman hidup menginspirasi sebuah buku. Jawab : Buku saya adalah buku motivasi. Sajian buku motivasi itu biasanya ada pemikiran atau teorinya, terus ada cerita inspirasinya, dan ada kesimpulan atau kaitannya.
Nah, cerita inspirasi itu banyak dari pengalaman pribadi dan juga dari pengalaman teman-teman. Kalau ditanya berapa banyak, saya kira cukup banyak. Mungkin sekitar 30-60 persen pengalaman pribadi itu menginspirasi tulisan kita.
Apalagi kalau novel yang diangkat dari kisah nyata. Bisa jadi hingga 80% kisahnya berdasarkan pengalaman pribadi.
Pengalaman akan selalu memberi inspirasi dan pelajaran hidup yang luar biasa jika dituliskan.

↫ 1. Apakah jadwal penulisan itu harus ada target atau lepas? 2. Jika sudah dijadwal dan ada target, ternyata endingnya melebihi target, bagaimana menyikapinya? 
Jawab : 1. Jadwal itu tergantung Bapak, apakah bukunya mau cepat selesai atau tidak. Kalau mau cepat selesai, jadwal harus ketat. Sesuaikan dengan kegiatan kita. Jangan terlalu memaksakan. Misalnya; kalau 1 buku ada 30 artikel, kira-kira setiap artikel bisa berapa hari selesai. Yang moderat biasanya sekitar 7-10 hari untuk satu artikel. 
Jangan terlalu mepet waktunya, satu artikel dijadwalkan 1-3 hari. Nanti kita tidak menikmati tulisan kita. Kecuali kita memang mau "ngebut". Saya pernah juga "ngebut" karena mau mengejar deadline pribadi. Jadi, jadwal tergantung Bapak Ibu. Apakah bukunya mau diselesaikan cepat atau terserah saja. 
2. Kalau melebihi target, ya tidak masalah. Kan target itu kita yang bikin. Yang penting adalah membuat bukunya selesai. Kalau misalnya telat beberapa hari, mohon dimaafkan diri sendiri Bapak. Kecuali, Bapak menulis untuk penerbit yang sudah ada perjanjiannya, maka harus benar-benar sesuai target. Kalau saya sih, sekali jadwal dibuat, itu adalah komitmen yang harus saya ikuti. Kalau kita tidak mendisiplinkan diri sendiri, kapan mau selesai bukunya? 

↫ Sebagai penuli pemula gimana caranya menjaga konsistensi supaya tidak kehabisan ide? Jawab : Agar konsisten dan tidak kehabisan ide.
1. Banyak baca buku.
2. Latihan menulis setiap hari. Jadwalkan setiap hari menulis 15 menit saja. Disiplin. Nanti akan terlatih untuk bisa menuliskan berbagai ide secara baik. 
3. Ikut seminar dan pelatihan. 
4. Upload tulisan di blog dan medsos. 
5. Punya mentor menulis. 

↫ Apakah ada manfaatnya bagi penulis pemula di usia yang sudah senja... untuk apa saja manfaat menulis bagi manula? Jawab : Saya harus cerita, ada beberapa peserta mentoring saya dalam membuat buku, sebagian ada yang di atas 50 tahun. Dan apa yang terjadi, ternyata mereka jauh lebih bersemangat, dan setiap minggu setor tulisan lebih disiplin dibandingkan dengan yang muda-muda. 
Mengapa mesti menulis?
a. Tidak ada kegiatan yang langsung berkaitan dengan kemampuan mempertahankan otak kita selain membaca dan menulis. 
b. Menulis adalah tentang kebahagiaan. Kalau kita tumpahkan semuanya dalam tulisan, indah sekali hidup ini. 
c. Menulis buku itu warisan terbaik kita. Di situ kita bisa cerita apa saja. Harapan kita, "unek-unek" perasaan kita. Bebas saja menulisnya. 
d. Menulis adalah tentang berbagi kebaikan. Jika kebaikan itu bisa dibagi, terus menerus dibaca orang, kebaikan itu akan terus menjadi pahala, bahkan kalau nanti kita sudah tiada. 
e. Menulis itu membuat kita lebih sehat. Kita setiap hari bangun dengan semangat baru, ada target baru yang harus kita selesaikan. Apalagi yang menyenangkan hidup kita selain bersemangat setiap hari?
Apakah tidak terlambat? Hehehe... Ibu akan terlambat kalau tidak memulai. Kalau sekarang memulai, ibu tidak pernah terlambat. Percayalah, Bapak Ibu pasti bisa. Asal mau. Asal tekun.

↫ Bagaimana cara merangkum tulisan resume menjadi buku yang menarik? karena resume saya sudah 20 lebih tapi masih ragu untuk memulainya.
Mohon berikan tipsnya pak. Supaya enak membukukan resume. Jawab : Ibu mohon dilihat lagi urutannya. Tentukan temanya, setelah itu dibuat outlinenya.
Kalau sudah dibuat outline, baru dilihat hasil resumenya, apakah ada yang masuk ke dalam outline buku atau tidak. Kalau ada yang masuk, tinggal dimasukkan ke dalam outline dengan berbagai penyesuaian. Kalau tidak masuk, jangan dipaksakan. Nanti buat buku yang lain. Ini berlaku juga bagi kita yang sudah punya banyak artikel. Mulainya bukan dari artikel-artikel itu, tetapi dari outline yang kita buat.
Kalau sudah ada outline, baru kita lihat apakah artikel-artikel itu ada yang bisa dimasukkan ke dalam outline. Kalau ada, kita revisi dan sesuaikan. Kalau tidak ada, kita jadikan cadangan untuk buku yang lain. Untuk resume, silakan diteruskan.

↫ Apakah selama menjadi penulis pemula pernah naskah Bapak ditolak penerbit ? Apakah dalam membuat tulisan itu wajar mengutip buku orang terus kita tulis di daftar pustakanya seperti  buat skripsi gitu ? Jawab : pernah.
Tidak apa-apa kalau naskahnya ditolak. Jangan sakit hati. Biasa saja. Jadikan evaluasi. Revisi, evaluasi, lalu kirim lagi. Bisa ke penerbit awal atau ke penerbit lain. Tugas kita itu menulis. Kalau naskah sudah jadi dan dikirim ke penerbit, biarkan saja naskah itu. Kita menulis lagi naskah buku berikutnya.
Kalau nanti jawaban dari penerbit adalah diterima, alhamdulillah. Kalau ditolak, kita perbaiki, dan kirim lagi. Dan, kita juga punya naskah buku yang lain. Begitu seterusnya sehingga menulis itu akan terus menjadi kegiatan kita.

Untuk masalah kutipan, tidak masalah mengutip dari orang lain. Pengutipannya boleh seperti yang ada di skripsi. Kalau nanti jawaban dari penerbit adalah diterima, alhamdulillah. Kalau ditolak, kita perbaiki, dan kirim lagi. Dan, kita juga punya naskah buku yang lain. Begitu seterusnya sehingga menulis itu akan terus menjadi kegiatan kita. Namun demikian, kutipan dari orang lain itu jangan banyak-banyak. Kira-kira 10% saja, paling kan hanya kutipan definisi. Selebihnya hasil pemikiran sendiri. Kalau kutipan kita di atas 50%, lalu mana hasil pendapat kita?

Nah..teman-teman bila ingin sukses dalam menulis dan berhasil menerbitkan buku, kita praktekan yuk langkah-langkah di atas. Tentu dengan motivasi dan komitmen yang tinggi. Selamat mencoba ya..dan semoga sukses!!




Sabtu, 18 Juli 2020

Pacu Motivasi Untuk Menulis

Kegiatan yang begitu padat di awal tahun ajaran baru ini sungguh menyita waktu untuk bisa menyelesaikan tugas membuat resume. Meski pembelajaran dilakukan secara daring namun tak mengurangi konten materi yang harus disampaikan, justru semakin merasa bertanggung jawab untuk mempersiapkannya. Demi terwujud pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan, memotivasi dan menarik untuk disimak. Karena kita tidak bertatap muka dengan siswa, tidak bisa melihat emosi interaksi mereka, maka sebisa mungkin metode pembelajaran yang pilih harus bisa membuat mereka paham, menarik dan menyenangkan agar kita mendapat respon dari mereka.

Beliau mengawali rutinitas menulis dari menulis puisi. Menulis puisi itu mudah. Setiap ada ide maka aku tulis. Selingan dari menulis puisi kadang menulis cerita pendek.Tahun 2004 saya mulai ditantang oleh Prof. Dr. Sarwiji Suwandi untuk menulis Buku Ajar. Prof Sarwiji memberikan tantangan karena saya selaku guru meneliti buku-buku pelajaran yang dipakai di sekolah. Setelah proses penilaian buku selesai dan buku sudah mendapatkan SK penetapan, maka buku siap diterbitkan.
Tantangan baru datang dari Bapak Direktur Penerbit SIC. Kata beliau, saya cocok menjadi marketing. Bisakah saya menjalani sambil saya menjalankan tugas sebagai guru PNS? Pemerintah meluncurkan istilah BSE. Buku-buku ajar yang ditulis oleh penulis buku secara indi maupun lewat penerbit dan lulus penilaian dibeli oleh pemerintah.Buku tersebut diberi HET. Pihak ketiga boleh mencetak buku tersebut dengan harga yang telah ditentukan oleh pemerintah. Di masa buku BSE tersebut, saya mendirikan penerbit untuk mengajukan izin mencetak  BSE.

Pengalaman beliau dari penulis, editor, marketing, manager. Keempat aktivitas ini saya lakukan sampai sekarang. Di PGRI Jateng mendapat tugas sebagai Ketua Badan Penerbitan PGRI Jateng dengan Penerbit PGRI Jateng Press. PGRI Jateng Press siap membantu menerbitkan buku Bapak Ibu penulis pemula.

Menurut beliau, menulis itu mudah bila kita mempunyai motivasi yang kuat. Ada 2 motivasi sederhana yang bisa dijadikan tujuan dari kita menulis yaitu nama dan senang. Bila kita sudah lancar menulis, alangkah baiknya bila tulisan kita mengikuti arah alur pembacanya, misal kita tujukan  untuk anak SD, SMP  atau untuk umum. Hal ini sudah diatur dalam UU Perbukuan nomor 13 tahun 2017.

Menulislah apa saja yang muncul di kepala kita. Ide bisa didapat dari mana saja. Inspirasi dalpat muncul kapan saja. Bila ide muncul saat kita sibuk, ya ditulis dulu outline atau kerangkanya, baru setelah ada waktu kemudian kita kembangkan. Sehingga kita kehilangan ide yang tiba-tiba muncul tapi kita tidak punya banyak waktu untuk menuangkannya.

Sesi tanya jawab
PGRI  Jateng Press siap membantu penerbitan bagi penulis pemula , bagaimana caranya? Jawab : Kirim saja naskah lewat email, kemudian PGRI nanati akan menilai, bila layak diterbitkan menjadi buku akan diberi jawaban sekaligus rincian biaya. Untuk layout dan cover nanti dibantu PGRI.

Apakah dalam menulis cerpen atau sejenisnya harus menggunakan kerangka tulisan, Pak? Bagaimana mengawali untuk membuat paragraf awal cerpen?Jawab : menulis cerpen tetap menggunakan outline. Membuat paragraf awal tentu dengan kalimat yang menggigit supaya menarik pembaca untuk membaca karya kita sampai kalimat terakhir. Untuk cerpen SMP boleh 4-5 halaman. Jadi satu buku bisa berisi kumpulan cerpen.

Kesimpulan

Menulis itu mudah, menulislah, menulis dan menulis. Tulislah tema-tema yang ada di sekeliling kita.

  Jagalah motivasi kita dalam menulis agar kita tetap bersemangat menulis. Sebagai guru banyak ide yang dapat ditulis menjadi buku. Setiap KD dapat dikembangkan menjadi 1 buku pengayaan.

    ❤ Buatlah outline agar tulisan terarah dan konseptual,  tulisan memiliki hubungan timbal balik yang disajikan dengan baik. Outline memudahkan penulis menciptakan klimak yang berbeda-beda. Dengan outline akan menghindari penggarapan topik lebih dari dua kali atau lebih dan outline memudahkan penulis mencari materi pembantu.

       Di saat menulis hindari niat untuk mengoreksi atau mengedit. Tulis terus ide yang sedang membara.

    ❤ Buku yang kita tulis sesuaikan dengan masa perkembangan bahasa calon pembaca buku kita. Sesuaikan dengan jenjang buku sesuai UU no 3 tahun 2017 tentang Perbukuan. Di masa sekarang banyak materi yang dapat kita kembangnya menjadi buku pengayaan terutama untuk membantu anak dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh.

    ❤ Kendala kita dalam menulis adalah malas. Kita memiliki pengetahuan dan keterampilan menulis tetapi kita malas menulis. Untuk menjadi penulis bukan ditentukan bakat. Menjadi penulis karena kemauan kita untuk menulis, menulis dan menulis akhirnya terampil menulis.

       Sungguh inspiratif dan motivatif  materi kuliah malam ini. Satu dari kesimpulan di atas yang akan saya garis bawahi adalah "Kita memiliki pengetahuan dan keterampilan menulis tetapi kita malas menulis". Ayo..teman-teman guru kita harus mulai menulis dari sekarang. Kalau tidak kapan lagi ? Selamat berkarya ! Selamat berliterasi!








 


Kamis, 16 Juli 2020

MERILIS BUKU BERSUMBER DARI ARTIKEL


                     
  


 
Setelah mandi dan sholat maghrib seperti biasa rabu sore ini saya    bersiap untuk online. Narasumber malam ini adalah M. Anwar Djaelani yang sudah menulis sejak 1996. Menurut beliau, menulis artikel maupun buku adalah sebuah ketrampilan, dan akan terampil jika rajin berlatih.Sikap giat berlatih akan muncul jika ada motivasi yang kuat. Bagi umat Islam dal QS Al Alaq ayat 1-5 tertulis bahwa iqro' yang artinya kita harus membaca, membaca dan membaca. Tentunya ya diimbangi dengan gemar menulis.

Sebelum mulai menulis, yang harus kita temukan terlebih dahulu adalah tema. Tema yang dapat dikembangkan untuk menjadi artikelbisa dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari dari koran, televisi, majalah atau internet. Setiap penulis perlu membiasakan diri untuk terus menulis dan itu harus didasari pada sebuah niat yang benar, sehingga sukses di bidang penulisan.

Jika tulisan dibuat untuk dapat dimuat di media cetak maka tulisan harus aktual dan menarik perhatian publik. Jika dua hal itu sudah dipenuhi, maka syarat pertama agar artikel kita dimuat media sudah terpenuhi. Tinggal syarat yang lain seperti, misalnya, originalitas gagasan, kekuatan argumentasi, dan kecermatan berbahasa. Jika artikel di luar keinginan tersebut, maka dapat membuat tema-tema yang dianggap penting buat penulis dan sasaran dari tulisan penulis. Tema akan datang mengalir deras, terutama jika sudah membiasakan diri untuk menulis. Nyaris di setiap kali membaca, melihat, atau mendengar sesuatu yang “tak biasa”, biasanya lalu terbit ide untuk mengartikelkannya. 

Pada dasarnya, alur menulis itu terangkai dalam “Tiga Besar” yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Di pendahuluan kita sampaikan secara ringkas masalah apa yang akan kita bicarakan. Lalu, di pembahasan, kita urai dan analisis masalah yang kita paparkan di bagian pendahuluan. Kemudian, di penutup, berilah kesimpulan dan saran berdasarkan uraian dan analisis sebelumnya. 

Pada penjelasannya ini pak Anwar memberikan contoh outline/kerangka berfikir. Tujuan dibuat outline untuk membantu kita mengembangkan tulisan. Contoh Outline

Tetap Berseri-seri Belajar di Masa Pandemi
•   Pandemi Covid-19, ujian bagi semua (1 paragraf)
•   Manusia selalu diuji dengan bentuk beragam (2 paragraf)
•   Sekilas Covid-19 (1 paragraf)
•   Dampak negatif Covid-19 secara umum (2 paragraf)
•   Dampak negatif Covid-19 di dunia pendidikan (3 paragraf)
•   Sudut pandang agama, bersama kesulitan ada kemudahan (2 paragraf)
•   Berbagai pilihan cara belajar di saat pandemi (4 paragraf)
•   Penutup / kesimpulan; Tetap optimis di situasi apapun (1 paragraf) 
Total, ada 16 paragraf. Untuk menulis artikel di koran biasanya kurang lebih 6000 karakter dan sekitar 15 paragraf. 

Ada banyak keuntungan jika  rajin menulis Resensi Buku. Di antaranya, di saat  akan menulis buku akan lebih terbimbing karena sering mengkritik karya orang lain. Tentu saja, saat kita menulis buku, tak akan mengulang kesalahan-kesalahan yang telah dibuat oleh penulis-penulis lain.

Perihal “Judul Pemanggil” 
Judul yang baik, antara lain:
a).Mampu mencuri perhatian pembaca. 
b).Mencerminkan tema / arah tulisan, sehingga bisa menjadi semacam miniatur isi keseluruhan tulisan.
c).Ringkas dan padat. 

Untuk melatih kepekaan mencari ide, dan outline maka kita sering-seringlah memperhatikan judul-judul artikel di berbagai media. Contoh judul pemanggil :

  1. Urgensi Meneliti dan Menulis (Jawa Pos)
  2. Menunggu Realisasi Program Buku Murah (Jawa Pos, 31/07/2008)
  3. Hukuman Guru dan Mimpi Buruk Murid (Radar Surabaya)
  4. Rindu Pemimpin Menulis Buku (Jawa Pos 17/05/2017
  5. Menjaga Martabat Penerima Zakat (Jawa Pos)
Dari contoh-contoh di atas umumnya judul terdiri 4 kata, dan mengandung rima/perulangan bunyi, dan ini akan terdengar cantik. Untuk itu harus banyak latihan membuat judul yang menarik.

“Lead Penggoda”. 
Lead adalah pendahuluan berbentuk paparan ringkas dari masalah yang akan kita kupas. Posisi lead menempati paragraf pertama. Fungsi lead adalah penggugah rasa ingin tahu pembaca. Lead mengantar pembaca ke gagasan utama sang penulis.

“Penutup yang Menggugah”. 
Bagian ini memuat kesimpulan dan/atau saran atas masalah yang kita kupas. Disajikan sekaligus dengan gaya pamit. Ada 3 gaya lead yang direkomendasikan :
a. yang memancing pembaca dengan gaya bertanya, beri pertanyaan yang akan dijawab di pembahasan tulisan kita. Contoh:
Judul: Guru Rajin Menulis dan Efek Besar Itu
Lead (Gaya pertama, menggoda dengan pertanyaan):
Semua orang, tanpa kecuali, harus menjadi pembelajar di sepanjang usianya. Maka, sungguh menyenangkan jika guru suka menulis. Amat membanggakan andai guru rajin menulis. Apa hubungan seorang pembelajar dengan posisi guru yang gemar menulis?
Penutup:
Sungguh, jadilah pembelajar tiada henti dengan cara menjadi guru yang penulis. Sungguh, duhai para guru, bersemangatlah untuk menjadi pahlawan yang berjasa karena banyak menghasilkan karya tulis. Karya-karya itu, semoga secara meyakinkan menginspirasi murid, orangtua murid, dan masyarakat luas. Indah!

Judul: Rindu Pemimpin Menulis Buku
Lead (Gaya pertama, menggoda dengan pertanyaan):
Di Indonesia, Hari Buku Nasional diperingati setiap 17 Mei, sedangkan Hari Buku Sedunia dirayakan setiap 23 April. Inti dua momen itu sama, yaitu mengajak kita lebih mencintai buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. Urgensi seruan itu, meski bersifat umum, lebih terasa jika ditujukan kepada para pemimpin. Bahkan, seyogianya para pemimpin itu didorong pula aktif menulis buku. Mengapa?
Penutup:
Alhasil, kepada para pemimpin, mari tundukkan kepala: Apakah sikap rajin membaca (atas semua persoalan masyarakat) sudah menjadi komitmen keseharian Anda? Sudahkah semua yang Anda baca itu lalu bisa melahirkan tulisan berupa konsep dan kebijakan yang selalu berpihak kepada rakyat kecil?Lalu, agar rakyat yakin dengan ketulusan komitmen Anda, tulislah konsep dan kebijakan Anda dalam sebuah buku. Sungguh, kami benar-benar merindukan pemimpin yang bisa menulis buku. Kami rindu pemimpin yang berkualifikasi laksana Soekarno, Hatta, dan Natsir.

b. lead dengan menulis kutipan yang menggugah, kutipan harus berhubungan atau ada benang merah dengan tulisan kita. Contoh
Judul: Ilmu Pengetahuan Bisa Topang Keimanan
Lead (Gaya kedua, dengan kutipan pemikat)
“If you think strongly enough, 
you will be forced by science to the belief in God”
(Kelvin, fisikawan, 1824-1907).
Penutup:
Singkat kata, ilmu pengetahuan bisa mendatangkan keimanan bagi yang masih belum punya iman. Ilmu pengetahuan bisa menguatkan keimanan bagi yang sudah memiliki iman. Terkait ini, lihat Kelvin di paragraf pembuka tulisan ini. Benar, saat dia berkesimpulan tentang pengaruh kuat ilmu pengetahuan terhadap kepercayaan akan adanya Tuhan. Jadi, jangan pernah berhenti untuk mendalami ilmu.

c. lead dengan narasi deskriptif yang fungsinya menjembatani antara judul dengan tulisan. Contoh :
Judul: Menguatkan Mental Anak di “Musim” Olok-olok
Lead (Gaya ketiga, narasi diskriptif):
Sesungguhnya, olok-olok tak mengenal musim. Perilaku terlarang itu telah berlangsung lama dan terus terjadi. Padahal, kerugian yang ditimbulkan oleh olok-olok –dan apalagi bully- sangat besar. 
Penutup:
Singkat kata, selalu berilah anak-anak asupan ruhani yang memadai. Ajari anak-anak sikap untuk tak suka mengganggu orang lain. Didik mereka untuk sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Tentu saja, sebagai orangtua, kita harus telah terlebih dahulu mengamalkan hal-hal tersebut.

Dari Artikel ke Buku

Selepas trampil menulis artikel, pekerjaan menulis buku bisa menjadi lebih gampang. Mereka yang sudah terbiasa menulis artikel akan lebih cekatan dalam menghasilkan buku.
a. merancang dan menulis buku. Tetapkanlah tema yang akan diangkat. Buatlah Daftar Isi. Mulailah menulis.
b. menghimpun artikel menjadi buku.
Tulislah sebanyak mungkin artikel dengan tema sejenis. Misalnya, bertema pendidikan. Setelah, dirasa cukup untuk dijadikan buku, lakukan langkah: ❤Edit ulang. Sering artikel menggunakan “bahasa Koran”, seperti “kemarin”, “pekan lalu”. Untuk itu, ubah dengan mencamtumkan tanggal kejadian yang dimaksud.
buatlah rubrikasi. Meski semua berada di rumpun pendidikan, mungkin masih bisa dikelompokkan lagi dalam bidang yang lebih khusus. Misal, 
“Spirit Pembelajar di Semua Musim”, 
“Menjadi Orangtua Sekaligus Guru”, 
“Betah di Perpustakaan Keluarga”,
“Merancang Liburan Bernuansa Pembelajaran”  
“Belajar di Masa Pandemi”.

Menulis Resensi Buku     

Resensi buku adalah ulasan kritis atas sebuah buku. Di dalamnya minimal berisi identitas buku yang dimaksud, ringkasan isi buku (dipilih bagian-bagian yang paling penting), dan penilaian objektif atas buku itu terkait kelebihan dan kekurangannya.
Panduan lengkap dalam menulis Resensi Buku. “Jawablah” sejumlah pertanyaan berikut ini. Tentu saja, jawaban ditulis dalam “gaya artikel”.  
Tulislah identitas buku
Apa isi ringkas buku? 
Apakah penulis memiliki kompetensi? 
Apakah buku itu didukung referensi memadai? 
Buku itu lebih ditujukan ke segmen pembaca mana? 
Adakah pengetahuan baru yang disodorkannya, atau sekadar repetisi (pengulangan) dari buku-buku yang sudah ada? 
Apa kelebihan dan kekurangannya. Misalnya, apakah mudah dipahami oleh semua kalangan? Bagaimana performa fisik buku, menarik? 
Tepatkah momentum kehadirannya?
Berhargakah untuk segera kita baca dan atau miliki?

Ada banyak keuntungan jika kita rajin menulis Resensi Buku. Di antaranya, di saat kita akan menulis buku akan lebih terbimbing karena sering mengkritik karya orang lain. Tentu saja, saat kita menulis buku, tak akan mengulang kesalahan-kesalahan yang telah dibuat oleh penulis-penulis lain.

Nah..teman-teman guru yang hebat, bagaimana? Kita wajib mencoba mempraktekan apa yang sudah disampaikan oleh bapak Anwar Djaelani. Menulislah dengan tema dan judul yang menarik dari artikel dan jadikan buku yang menarik pula. Semangat berliterasi, semangat bernarasi !

Sabtu, 11 Juli 2020

Cara Sukses Digital Marketing

Cara Sukses Digital Marketing

Minggu-minggu ini  sibuk luar biasa dibanding kemarin. Waktu seakan-akan mengejar..sementara tugas belum juga selesai. Tetapi Alhamdulillah meski lelah menyelesaikan tugas sekolah, mempersiapkan tahun ajaran baru dengan menyusun jadwal dan persiapan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bagi siswa baru, namun masih diberi kesehatan dan ini merupakan kenikmatan yang tak ternilai dari Yang Maha Kuasa. Satu persatu tugas harus diselesaikan. tak terkecuali membuat resume hari ke-18. 
Berselancar mengujungi blog teman-teman menggelitik hati untuk membuka laptop dan mulai menyentuh keyword menyusun kata demi kata merangkai kalimat dan  semoga tertulis sebuah resume. Narasumber kali ini adalah seorang direktur pemasaran Penerbit Andi yaitu Bapak Agust. Subardana SE., MM.,CDS. Berikut resumenya. Simak hingga akhir ya. Semoga bermanfaat...
Dampak dari pandemi covid 19 terasa bagi insan perbukuan. Penurunan daya beli buku masyarakat mencapai 80 %. Hal ini tentu ssja karena pemberlakukan social distancing hingga hampir tidak ada pengunjung di toko buku dan berakibat terhentinya produksi penerbit. Bahkan ada penerbit yang gulung tikar. 
Lalu bagaimana strategi pemasaran akibat dari covid 19 ini agar penerbit tidak rugi dan penjualan tetap berjalan? Penerbit perlu melakukan terobosan diantaranya dengan menggunakan cara digital marketing. Cara ini digunakan tentu saja bertujuan untuk mendongkrak penjualan. Dengan menerapkan pemasaran online diharapkan juga menjaga tetap terjalinnya komunikasi dengan pelanggan. Penyedia jasa online seperti bukalapak, shopee, blibli tentu sudah tidak asing lagi bagi market online. Juga promosi lewat whatsapp, facebook dan instagram merupakan bagian dari digital marketing. 
Keuntungan yang didapatkan dari digital marketing diantaranya 
1. biaya murah
2. jangkauan pasar luas
3. target pasar dapat ditentukan
4. komunikasi dengan konsumen lebih mudah
5. mudah dievaluasi dan dikembangkan
6. lebih cepat populer
7. lebih efektif meningkatkan penjualan


Lalu bagaimana cara penerbit menerapkan digital marketing ?
1. lewat komunitas-komunitas. cara ini sangat efektif akan mendongkrak penjualan
2. selalu tampil pertama dan tercepat juga tepat sasaran sesuai target pasar yang kita bidik
3. tim yang paham tentang digital marketing
4. mengadakan event-event seperti webinar lewat zoom meeting, channel youtube live streaming, whatsapp grup sebagai ajang promosi. Penawaran promo khusus (discount/rabat) untuk menarik konsumen
5. penerbit harus menjaga brand nya. penerbit harus cepat tanggap terhadap komplain, pesanan dari konsumen, yang kesemuanya demi kepuasan konsumen
6. dengan mobile marketing dan email marketing untuk menjaga konsumen tetap menjadi pelanggan
7. personal marketing, adanya teknologi identifikasi yang dapt mengetahui kebutuhan sesuai dengan karakteristik konsumen
8. continues marketing, pemasaran berkelanjutan yang memasarkan semua lini pemasaran dengan sosial media terus menerus, dengan demikian program marketing dapat dievaluasi secara akurat dan berkelanjutan. Digital marketing juga harus integrated  yaitu mnghubungkan semua strategi yang dilakukan di media sosial satu sama lain.
9. penerbit harus menyediakan konten yang menarik, karena pengguna internet selalu mencari di internet apa yang mereka butuhkan. Informasinya dapat dibuat di website dalam bentuk artikel, teks, video, gambar, atau riset tertentu. Informasi yang disediakan harus ada relevansi dengan usaha bisnis yang dilakukan.
10. visual marketing, hal ini sangat penting tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya seperti instagram, youtube. Di sana dapt ditampilkan visual yang begitu tajam untuk menarik pembeli.

Peluang penjualan buku di sekolah
Kebijakan penggunaan dana BOS untuk membeli buku merupakan peluang besar untuk suplai buku ke sekolah. Kebutuhan sekolah akan buku di perpustakaan dan buku ajar akan terus ada, karena sekolah diperbolehkan mengalokasikan dana BOS untuk membeli buku setiap tahun, baik itu koleksi untuk perpustakaan ataupun buku ajar siswa. ini adalah peluang yang akan terus ada, bahkan di masa pandemi seperti ini pun sekolah akan terus memerlukan buku.

Penerbit Andi menangkap peluang ini dengan menyediakan berbagai buku teks pelajaran K13, buku-buku pendamping pelajaran, buku pepustakaan dan lain-lain. Memperhatikan rangking buku yang laku di Gramedia, ternyata dari 24 kategori, Novel menempati peringkat 1 dengan total penjualan 16%, disusul urutan kedua adalah buku anak 13,6%, dilanjut urutan ketiga departemen spiritual 12%,   school book 11,15%, buku komik  9% dan seterusnya.

Nah, teman-teman guru, bagaimana tertarik untuk ikut memasarkan buku? Tentu saja salah satu caranya dengan menggerakan literasi, budaya membaca ke anak-anak kita, siswa kita, bahkan diri kita sendiri. Kalau kita senang membaca, tentu akan senang membeli buku. Nah...dengan demikian kita bisa ikut juga memasarkannya. Semangat literasi ! Semangat mencoba digital marketing !

Jumat, 10 Juli 2020

YUUK..KIRIM NASKAH KE PENERBIT ANDY

   Gambar
YUUK..KIRIM NASKAH KE PENERBIT ANDY           

Malam ini sehabis sholat Maghrib seperti biasa anak-anak dan suami santai di ruang tengah. Sambil menyiapkan laptop untuk mulai menulis, aku buka WAG Belajar Menulis Gelombang 13 di handphone. Wow..ternyata sudah puluhan chat berderet yang belum kubuka. Acara kuliah online belum dimulai, tapi Omjay sebagai motor penggerak di grup sudah mulai menayangkan  profil narsum malam ini. Dan teman-teman grup lainnya saling posting tulisan mereka, saling minta berkunjung atau ucapan terima kasih. Waaah...sungguh luar biasa semangatnya.

Narsum kuliah malam ini adalah seorang direktur Penerbit Andi Yogyakarta. Tentu saja ini beliau akan memaparkan seluk beluk dan pengalamannya di dunia penerbitan. Tentu banyak ilmu yang akan disampaikan. Mau tahu...inilah resumenya. Silakan disimak, semoga bermanfaat.

MMalam ini beliau akan menyampaikan materi tentang :

1.  Writing preneurship/menulis buku yang diterima  penerbit 

2.  Menulis buku ajar 

3.  Teknis menulis buku


Bagi seorang penulis menulis buku mempunyai tujuan. Diantaranya, seperti yang ada di samping ini. Nah kita berada di posisi manakah ? Tujuan menulis dapat dibedakan sebagai berikut : 

  1. Orientasi pada profit
  2. Nirlaba (CSR/pengabdian)
  3. Branding/promosi
  4. Memenuhi regulasi/akreditasi.

          Pembaca adalah pasar dan merupakan pembeli dari buku-buku kita. Sedangkan pelaku industri adalah penerbit, penyalur dan penulis. Jika satu buku dianggap satu proyek ekonomi. Siapa yang dianggap paling beruntung dalam menerbitkan buku? Jika jawabannya adalah penerbit, itu adalah salah. Rumusnya begini, jika harga buku 100 ribu, maka toko buku itu sudah mendapat 30 ribu atau 30 % nya dan penulis 10 ribu atau 10 % nya. Sisanya adalah penerbit. Mengapa penerbit lebih besar?

Sebenarnya penerbit hanya mendapat 2-3 % saja, setelah dikurangi dengan ongkos produksi, promosi, dan biaya-biaya lain. Jadi penerbit adalah yang paling kecil. Tapi mengapa penerbit bisa bertahan dan tetap berdiri? Karena meski kecil tapi pengalinya besar.Tapi, jika buku tidak laku, siapa yang menanggung kerugian? Penerbit, karena penulis hanya mendapat royalti saja. Itulah kenapa penerbit berhak menolak sebuah buku agar tidak diproduksi, bila tidak laku untuk dijual.

Lalu bagaimana agar suatu naskah layak diterbitkan jadi sebuah buku ? Langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Naskah dikirim ke penerbit. Penerbit m Sebenarnya penerbit hanya mendapat 2-3 % saja, setelah dikurangi dengan ongkos produksi, promosi, dan biaya-biaya lain. Jadi penerbit adalah yang paling kecil. Tapi mengapa penerbit bisa bertahan dan tetap berdiri? Karena meski kecil tapi pengalinya besar.Tapi, jika buku tidak laku, siapa yang menanggung kerugian? Penerbit, karena penulis hanya mendapat royalti saja. Itulah kenapa penerbit berhak menolak sebuah buku agar tidak diproduksi, bila tidak laku untuk dijual.

    Lalu bagaimana agar suatu naskah layak diterbitkan jadi sebuah buku ? Langkahnya adalah sebagai berikut :

    1. Naskah dikirim ke penerbit. Penerbit menilai/mereview apakah naskah tersebut dijadikan buku atau tidak oleh editor. Karena memang tujuan dari penerbit adalah ekonomi.
    2. Setelah naskah dinilai dan diputuskan layak untuk dibukukan, maka akan diminta soft copynya. Bisa dikirim lewat email. Tapi sebaiknya dicetak (tidak harus lengkap Bab 1 sampai Bab terakhir) berupa : daftar isi lengkap, biodata penulis, sinopsis. Mengapa harus dicetak ? agar tidak diklaim milik orang lain.
    3. Menandatangani surat perjanjian.
    4. Dikirim ke penerbit untuk dilakukan proses edit, setting, cetak buku. 

 Proses Editing dan Setting

Penerbit tidak pernah menolak naskah untuk tidak diterbitkan dengan alasan editorial yang buruk, titik koma yang salah dan sejenisnya. Kenapa? Karena penerbit punya banyak editor. Di Penerbit Andi ada sekitar 60 orang editor yang ahli bahasa. Penlis akan bertanya, kenapa naskah saya lebih enak dibaca? Ya, tentu saja setelah dibetulkan oleh editor.

Yang kedua, judul dari penulis aka dimodifikasi oleh penerbit supaya laku. Judul harus menarik dan membangkitkan minat baca. Karena judul, cover, sinposis sangat penting untuk menjual buku. Bagi pembaca ketika akan membeli buku, tidak mungkin dia membaca seluruh isi buku, terlebih bila buku dlam segel. Maka dia akan melihat tampilan dari buku itu dan sinopsisnya.

Sebelum proses cetak, penerbit akan mencetak satu buku ke penulis sebagai profiks atau koreksi akhir. Sehingga ketika dicetak oleh penerbit tidak ada kesalahan fatal, lalu dibuatkan plat untuk membuat cetakan secara masif di mesin pencetak.

 Ciri-ciri penerbit yang baik

  1. Memiliki visi misi yang jelas
  2. Memiliki business core lini produk tertentu
  3. Memiliki pengalaman sebagai penerbit
  4. Memiliki jaringan pemasaran
  5. Memiliki percetakan sendiri
  6. Keberanian mencetak dalam jumlah eksemplar
  7. Memiliki kejujuran dalam pembayaran royalti..

Apa yang diperoleh penulis? Bagi seorang penulis, membuat naskah dan mencetak menjadi buku, tentu mempunyai tujuan. Dan, masing-masing penulis memiliki tujuan yang berbeda. Namun tujuan dapat dikelompokan menjadi :

  1. Peningkatan finansial/ keuangan, yaitu mendapat royalti, pemberian diskon langsung, undangan seminar mengajar.
  2. Karir. Adanya kebutuhan status peningkatan jabatan, peluang karir di instansi
  3. Kebutuhan batin. Memiliki nama (terkenal) dan dikenang sepanjang masa
  4. Reputasi. Buku sebagai karya yang terpublikasi akan meningkatkan reputasi penulisnya.

Bagaimana dengan naskah yang tidak bisa dibukukan oleh penerbit? Perhatikan gambaran sebagai berikut :


Dari keempat kudran diatas, yang paling bagus adalah “tema populer ditulis oleh penulis populer”. Ini tentu akan meningkatkan oplah dari buku dan penerbit bisa mencetak hingga berulang kali. Bagi seorang penulis pemula disarankan dalam membuat naskah mengambil tema populer karena penulis belum populer.

Sebelum narasumber menutup kuliahnya, beliau berpesan  “Segeralah menulis dan kirim ke penerbit. Karena dengan mengirim naskah ke penerbit, kita akan banyak belajar”. Bagaimana sahabat guru yang hebat, sudahkah kita menulis naskah yang siap untuk dijual??

 


Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...