Sabtu, 15 Januari 2022

Ujian Lima Tahun Perkawinan (7)


 Hari-hari menjelang persalinan anakku yang kedua sudah semakin dekat. Tak ada persiapan yang istimewa untuk menyambut baby kecilku. Hanya doa yang selalu aku panjatkan semoga semua lancar, anakku lahir sehat dan selamat. Sengaja aku mengajukan cuti mendekati hari H melahirkan agar waktu tiga bulan bisa kunikmati bersama babyku.

Sementara itu Mas Aro sudah mendapat pekerjaan meski masih serabutan, katanya membantu usaha temannya. Ketika aku tanya, pekerjaannya apa? Membantu usaha apa? Jawabannya tidak jelas. Kadang-kadang terbersit dalam pikiranku, apakah dia masih mengejar uang itu? Apakah dia tidak membohongiku lagi? Aku ingin membuntutinya saat dia berangkat kerja. Benarkah dia bekerja? Atau hanya sekedar keluar rumah? Mengapa dia bekerja dua tiga hari sekali baru pulang? Dan sudah sebulan ini dia juga belum memberikan gajinya padaku?

*****

Kini anak keduaku sudah lahir. Alhamdulillah…baby mungil laki-laki, sehat dan ganteng. Kami memberi nama Mochammad Nurul Huda Assidiq. Kata ‘Assidiq’ sengaja aku tambahkan sebagai pertanda bahwa saat itu ibunya yang tengah mengandungnya mencari kebenaran dari ayahnya. Dan berharap kelak anaknya menjadi anak yang bersinar, menjadi panutan dan selalu melangkah dalam kebenaran. Amin.

Karena Mas Aro jarang pulang, kami jarang berkomunikasi. Aku tidak punya nomor telepon tempat dia bekerja atau nomor telepon temannya. Waktu itu orang masih jarang punya handphone. Jadi aku tidak tahu keberadaannya, bagaimana dia di sana, apalagi pekerjaannya. Namun dia bisa meneleponku siang hari saat aku masih di rumah ibu. Bila ditanya ibu bapak dimana Aro, kenapa sekarang tidak pernah menjemput lagi, hanya bisa kujawab bahwa dia bekerja di luar kota, dua tiga hari baru pulang. Syukurlah sudah bekerja, doa mereka. Namun bila ditanya apa pekerjaannya, luar kotanya mana, aku diam tak bisa menjawab. Dalam hati aku kesal, masak aku istrinya sendiri, orang yang paling dekat dengannya, tidak tahu keberadaan suamiku. Betapa bodohnya aku, sampai aku tidak tahu apa yang dilakukan Mas Aro selama ini? Bukankah aku masih serumah dengannya? Lalu kenapa aku sampai tidak tahu kemana suamiku pergi?

Hubungan kami semakin hari semakin buruk. Masing-masing jarang untuk saling menyapa. Aku pun menghiraukannya, karena aku sibuk dengan dua anakku yang masih balita. Untunglah Bude  Kasminah, kakak dari ibu mau tinggal bersama kami dan merawat Huda yang baru berumur sebulan. Beliau tidak punya keluarga, karena tidak punya anak dan suaminya sudah meninggal. Kami keponakannya dianggapnya sebagai anak sendiri. Aku pun menganggap Bude Kasminah seperti ibuku sendiri. Sering kami bercerita tentang masa-masa kecil dulu yang juga diasuh beliau. Kini dia tinggal bersama kami. Dia sangat menyayangi Huda anakku.

Suatu hari, anakku Huda sakit. Sudah dua hari demam. Hari ketiga demamnya belum juga turun, meski sudah kuberikan obat turun panas. Selain itu dia juga tidak mau minum susu, tubuhnya lemas karena muntah terus sejak pagi. Bude Kasminah yang mengasuhnya menyarankan untuk membawa ke dokter. Tanpa pikir panjang kuputuskan aku harus membawa ke dokter, meski aku tidak punya uang untuk membayarnya.

Pagi itu juga Alif kubangunkan lebih awal untuk bersiap ke sekolah sekalian membawa adiknya ke dokter. Karena sudah terbiasa bangun pagi, Alif tidak rewel dan mau segera bangun untuk ke sekolah. Sengaja aku berangkat lebih pagi untuk menghindari berdesakan dalam angkot karena aku membawa kedua balitaku, Alif yang masih duduk di TK B dan Huda yang masih berumur 5 bulan dalam gendonganku.

Kami bertiga berjalan menuju terminal angkot. Bude Kasminah melepas kami dengan sedih dan berdoa lirih, hati-hati di jalan, semoga Allah melindungi kalian. Kugendong Si Kecil Huda dan kugandeng Alif, menunggu ankot datang. Untunglah, tak lama kemudian angkot datang dan kami dapat tempat duduk, karena masih pagi, masih pukul 05.30 WIB.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdoa dan mohon ampun pada Allah, semoga anakku bisa terselamatkan. Tak terasa air mata ini menetes, sedih, gelisah dan bingung bercampur jadi satu. Melihat Huda yang semakin lemes dalam gedonganku, matanya terpejam membuatku semakin nelongso. Ya Allah, ampuni dosa dan salah hambaMu, selamatkan anakku, sembuhkan dia, Ya Allah. Doaku tak terputus sepanjang perjalanan dari rumah sampai rumah sakit.

Pukul 06.30 bus sampai di RSU Panti Wilasa. Segera aku turun, dan kugandeng Alif. Aku putuskan untuk langsung IGD setelah melihat Huda yang semakin lemes. Alif bertanya, “Kenapa kita turun di rumah sakit, Ma. Tidak di rumah Mbah Kung?” Mbah Kung adalah panggilan Alif untuk bapakku.

“Tidak sayang, kita periksakan adik dulu, baru nanti mama antar kamu ke sekolah.”

“Nanti aku terlambat Ma..”

“Nanti mama ijinkan kalau kita periksakan adik dulu.”

“Baik, Ma. nanti aku dijemput Mbah Kung ya.”

“Iya sayang..”, jawabku setengah menahan air mata yang hampir menetes.

Ya, Allah di tengah kami mendapat ujianMu, dimanakah suamiku berada? Kemana aku bisa menghubunginya? Tidakkah dia merasa aku sangat merindukannya, aku membutuhkannya. Meski aku merasa kuat dengan kesombonganku, bisa hidup tanpa dia, ternyata saat ini aku sangat mengharapkannya, dia ada di sampingku, menemaniku di saat-saat seperti ini, di saat aku butuh seseorang untuk menguatkanku, untuk menenangkanku. Y a Allah, bawalah suamiku pulang. Tidakkah dia merasa anaknya sakit, kami sekeluarga sangat mengharapkan dia pulang.

bersambung…

Ujian Lima Tahun Perkawinan (6)

 Setelah Mas Aro menceritakan semuanya padaku, aku merasa sedikit lega, meski rasa marah dan kecewa belum hilang. Bahkan semenjak dia tak bekerja lagi aku muak melihat mukanya. Beberapa hari tidur kami berpisah kamar. Aku lebih senang tidur dengan Alif anakku, dia di kamar yang lain. Sebenarnya aku merasa kasihan juga melihatnya. Sehari-hari dia diam di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, menyetrika dan mengepel lantai. Dia jarang keluar rumah, tidak punya pekerjaan, terlilit hutang, dan sekarang dibenci istrinya.

“Mas cobalah untuk mencari kerja. Kerja apa saja yang penting halal”, kataku sore itu membuka percakapan dengan Mas Aro.

“Iya, Dik. Besok aku akan cari kerja “, jawabnya pendek.

“Kalau Mas hanya diam di rumah, mana ada pekerjaan menghampiri kita. Carilah rezeki yang halal, kehidupan yang normal, jauhkan dari yang mistis. Kalau kita mau berusaha, Allah akan memberi kemudahan kalau kita memohon kepadaNya”, kataku lembut. Aku tidak ingin suamiku tersinggung karena aku menasihatinya.

“Iya, Dik. Terima kasih sudah mengingatkan.”

Aku tidak mau suamiku hanya di rumah saja. Tentu kewajiban suami adalah menafkahi keluarga. Aku risi saat bapak dan ibu menanyakan kenapa Mas Aro sekarang kelihatan kurus dan sering melamun, seperti tidak punya gairah hidup.


“Mas jangan terlalu memikirkan uang yang sudah hilang. Yang sudah hilang, biarlah hilang tidak usah disesali. Biarlah mereka menipu kita. Kalau Mas terus mengejar, waktu Mas akan habis, hilang percuma.  Mereka seperti jaringan yang saling menyalahkan, tidak mau bertanggung jawab, dan berbelit. Kita tidak bisa menuntut mereka karena kita tidak punya bukti hitam di atas putih. Lagipula orang yang sudah mendapatkan uangnya pasti sudah kabur. Yang terpenting ini menjadi pelajaran bagi kita, jangan mudah percaya sama orang yang tidak kita kenal. “

Sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku tidak ingin ayahnya bersedih terus dan terpuruk. Semenjak Mas Aro tidak bekerja, tetangga, teman dan saudara menjauhinya. Tetangga sebelah yang biasanya menyapa, kini enggan menyapa. Mungkin mereka mendengar bahwa Mas Aro sering didatangi orang untuk menagih hutang. Ini menjadikan Mas Aro sering mengurung di kamar dan meminta aku menemui mereka yang datang mencarinya. Aku yang menjelaskan pada mereka bahwa suamiku tidak bekerja, tapi mereka tetap ngotot uang yang dipinjam harus dikembalikan, dan mereka tidak mau tahu. Meski suamiku tidak bekerja, aku harus membayarnya, karena aku istrinya bekerja. Maka aku minta tempo pembayaran dan akan kucicil. Kadang aku juga berbohong kalau suamiku tidak ada di rumah, ketika aku enggan menemui mereka. Astagfirullah..ampuni kami ya, Allah.

Ternyata tidak saja uang perusahaan yang dipakai suamiku, tapi dia juga pinjam beberapa rentenir. Tentu saja pengembaliannya berlipat karena berbunga dan beranak pinak. Barang-barang berharga di rumah sudah tidak ada. Sudah aku jual. Jangankan televisi atau kulkas yang sudah disita, karena aku tidak bisa membayar, kalung emas milikku dan cincin pernikahan kami pun sudah berpindah tangan. Apalagi motor satu-satunya alat transpot kami pun sudah kami jual. Terpaksa aku harus naik angkot bila ke sekolah dan ke rumah ibu saat menitipkan Alif.

Ya, harus bagaimana lagi, semua harus kuikhlaskan. Aku hanya bisa menangis dan berharap kami bisa melewati ujian ini. Karena bagaimanapun Mas Aro adalah suamiku. Suami pilihanku. Pernah aku berpikir di usia lima tahun pernikahan kami, mengapa begitu berat ujian yang kurasakan. Mas Aro tidak bekerja, terlilit hutang yang banyak, kadang-kadang kami hanya makan sehari satu atau dua kali. Bila kulihat dan kudengar teman-teman kuliah dulu yang kini hidupnya sukses, pekerjaannya mapan, aku menangis dan mengeluhkan nasibku yang tidak sama dengan mereka. Ya, Allah…kuatkan hamba dengan semua ujianMu ini. Hamba yakin Engkau tidak akan menguji hamba di luar batas kemampuan hambaMu. Engkau Maha Pengasih dan Penyayang.

bersambung …


Ujian Lima Tahun Perkawinan (5)

 KMAA#17

Mas Aro dengan tenang bercerita bahwa dia tak tega melihatku bekerja membanting tulang sekuat tenaga demi membantu suami mencari nafkah. Aku yang tengah mengandung anak kami yang kedua memang berbeda dibanding saat aku mengandung Alif anak kami yang pertama.


Dulu saat aku mengandung Alif, kurasakan semua terasa indah, masa-masa pengantin baru, masa-masa ‘pacaran’ dengan Mas Aro. Semua yang kuinginkan terpenuhi. Kasih sayang Mas Aro semakin erat menggenggamku. Kami saling mencintai dan menyayangi, saling bermanja dan selalu berdua. Dunia serasa milik berdua, dan aku selalu lengket kemanapun dia ada, di situ aku di sisinya. Kebahagiaan kami bertambah lengkap dengan lahirnya Alif di tengah-tengah kami. Itu masa-masa indah di awal pernikahan kami.

Sebaliknya sangat berbeda saat aku hamil yang kedua ini. Aku yang menjadi guru honorer di sekolah negeri dengan gaji sepelima dari gaji yang dulu, membuatku harus berhemat. Kami makan seadanya, tidak pernah  jajan di luar apalagi jalan-jalan. Itu kami lakukan demi susu Alif tercukupi. Melihat hal ini Mas mulai terusik bagaimana mencari tambahan income untuk menopang kehidupan kami. Tapi bukan bekeja lebih ektra atau mencari sambilan pekerjaan melainkan terbujuk rayuan setan dengan terlibat bisnis investasi yang tidak jelas dan penggandaan uang dengan iming-iming bisa menghasilkan uang sekian kali lipat dari modal yang ditanam.

Sebulan dua bulan diterima hasil bagi saham dengan lancar dan memang diberi uang yang cukup menggiurkan dengan maksud menanamkan kepecayaan dari korban, termasuk Mas Aro, sehingga Mas Aro tergiur untuk menambah saham lagi dengan harapan mendapat pengembalian lebih banyak lagi. Entah bagaimana dia bisa terbujuk hingga tak memikirkan uang siapa yang dipakai dan tak bisa berpikir logis bahwa bisnis itu tak mungkin segampang menyulap lembaran kertas menjadi uang, lebih-lebih sudah lupa akan hukum dosa, halal dan haram dalam mencari uang. Dan tebukti, bulan berikutnya pengembalian uang mulai tersendat namun saham terus diminta, seakan-seakan Mas Aro sudah terhipnotis untuk menambah saham, menambah lagi dan lagi hingga puluhan juta uang kantor tersedot ke sana. Bingung cara mengembalikan uang kantor yang dia pakai, digadaikanlah sertifikat rumah kami tanpa sepengetahuanku untuk mencicil uang kantor, dan dia diPHK oleh perusahaan tanpa pesangon.

Aku tak menyadari bila Mas Aro di PHK dari perusahaan tempat dia bekerja. Tiap hari kami berangkat dan pulang bersama. Setelah menitipkan Alif ke rumah ibu, dia mengantar aku ke sekolah. Dan sore hari dia menjemputku pulang juga masih masih beseragam kantor. Lagipula tiap bulan dia masih memberikan gajinya masih dalam amplop tertutup. Selama hampir empat bulan lamanya dia bersandiwara, tidak bisa bercerita dan membohongiku. Entah karena tidak ingin mengecewakanku atau karena pengaruh hipnotis itu. Astaghfirullah …Ya, Allah ampuni suamiku. Jauhkanlah dai kemusyrikan, kembalikan Mas Aro seperti yang kukenal dulu. Tunjukilah dia ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridloi bukan jalan yang menyesatkan yang Engkau murkai.

bersambung…

Baiti Jannati (7)

 


Allah akan selalu menguji hambanya untuk mengetahui seberapa besar kadar keimanan seseorang dan seberapa besar keikhlasandan kesabarannya dalam menerima ujian dari Allah. Semakin tinggi tinggi keimanannya semakin ikhlas dan sabar dalam menerima dan menyikapi ujian yang diberikan kepadanya, maka akan semakin besar pahala yang akan diberikan Allah seperti yang dijanjikan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 155-157 yang bunyinya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ujian yang diberikan oleh Allah tidak selamanya berupa kesedihan dan kekurangan atau kemiskinan, tapi juga kenikmatan dan kekayaan harta, pangkat dan kedudukan. Sehingga apabila kita mau menyadari sesungguhnya kenikmatan, harta, pangkat dan kedudukan adalah ujian yang bagi sebagian orang tidak menyadarinya. Ujian bagaimana kita bisa selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan berbagi kenikmatan dengan sesama serta tidak lalai akan kenikamatan dunia yang hanya sesaat.

Orang yang sedang diuji kekurangan harta dan kesulitan hidup akan meminta pertolongan dan mendekatkan diri pada Allah Sang Maha Kaya Maha Pemberi, namun orang yang sedang diuji kenikmatan hidup dan kekayaan seringkali lupa dan melalaikan Tuhannya Sang Maha Pemberi, merasa diri hebat dan sombong. Naudzubillah.

Ya, Allah Ya Robb …mungkin apa yang kualami saat ini adalah ujian yang Engkau berikan pada kami, aku dan Mas Aro. Ya, Allah ampuni aku…hambaMu yang penuh dosa dan khilaf yang tak kuasa dan sabar akan ujian yang Enkau berikan ini, yang terlena dengan kilau dunia dan kenikmatan sesaat, yang terlena dengan sanjungan, yang acuh dan masa bodoh dengan sindiran, bahwa itu semua adalah teguran agar hamba tak jauh melangkah dan membiarkan hati bermain-main api.  Namun sebaliknya hamba menyukainya dan berharap ini tak berakhir dan hamba terus terjerumus ke dalamnya, ke dalam lubang rasa yang seharusnya hamba hindari, menyukai sosok pria lain di hati ini.

Ya Allah Ya Robb mohon ampun dan mohon matikan rasa yang ada di hati ini, rasa yang menggoda dan sekaligus rasa yang melukai hati hamba, hati suami hamba, hati dia dan istrinya. Ya Allah jangan jadikan hamba orang yang merusak kebahagian orang lain, jangan jadikan hamba menyakiti suami hamba, menghancurkan keharmonisan rumah tangga yang sudah puluhan tahun kami bina. Ya Allah Ya Robb Engkaulah Maha Mengetahui segala isi hati, apa yang ada di lubuk terdalam hati hamba, Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati dan perasaan hamba, tolong hilangkan rasa ini, kuatkan hamba untuk tidak meneruskan rasa ini, kuatkan hamba untuk memulai tak ada rasa apapun terhadapnya. Hilangkan, matikan rasa ini dan kembalikan suami hamba agar tak menjauh dan curiga lagi. Hamba mohon ampun Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, semoga ini menjadi pelajaran hidup bagi kami, Jangan biarkan ada orang ketiga diantara kami. Jangan biarkan Mas Aro tak mencintaiku lagi, Jangan berhenti tuk mencintai aku, karena aku mencintainya.

Tangisku pecah malam itu saat tahajud memohon petunjuk dan ampunan pada Allah, mengakui dosa dan khilaf setelah sekian lama aku tak melakukan tahajud. Aku pasrah, memohon ampunan dan curhat, atas apa yang mengganjal dan menyesakkan dada. Semoga di hari-hari mendatang tak ada rindu, kangen dan hati berbalik seperti dulu, tak ada yang istimewa untuk Pak Sis. Dan aku harus bisa untuk melakukannya. Harus bisa. Amin.

Baiti Jannati (6)


Aku tahu ini salah dan tidak boleh terjadi. Adalah terlarang seseorang sudah beristri atau bersuami melirik wanita atau pria lain. Namun aku tak kuasa menolak rasa aneh ini, rasa yang tiba-tiba ada, hadir tanpa aku minta. Semakin hari semakin membuat aku terjerat, semakin membuat aku gila…membuat aku kangen bila sehari tak ketemu dia, tak melihatnya atau mendengar suaranya. Aku sadar aku mulai jatuh cinta …Jatuh cinta padanya??

Wow… benarkah aku jatuh cinta? Jatuh cinta pada suami orang? Benarkah ini? Mengapa ini bisa terjadi? Tak masuk akal. Aku seorang istri yang tak pernah macam-macam, taat beribadah, ibu yang penuh perhatian pada anak dan keluarga, punya suami yang baik dan seorang ustad yang cukup dikenal di masyarakat sekitar, jatuh cinta pada teman sejawatnya? Duuh Gusti Allah…setan mana yang telah menggoda sedemikian hebat hingga menjadikanku mudah terlena dan dengan sengaja aku  membiarkan benih-benih rasa tumbuh menyeruak diantara taman teduh yang telah bertahun-tahun mengayomi hidupku?  Ataukah ini hanya rasa sesaat yang kurasakan  karena witing tresno jalaran soko kulino?

Duuh Gusti ampuni aku..aku tak kuasa menghapus rasa ini..Sampai kapan aku terjerat rasa yang melenakan sekaligus mengiris sisi hatiku yang lain. Jujur saat aku merasa nyaman ada di dekat Pak Sis, sisi hatiku yang lain bicara dan mengguncang menolak kenyataan bahwa apa yang kulakukan ini sudah tak benar dan harus kuakhiri. Meski tak pernah terbayang untuk selingkuh dengan Pak Sis, hanya sebatas suka, namun rasa ini mulai mengubah perilaku sikapku sehari-hari. Aku jadi suka berlama-lama lembur di sekolah, mulai berandai-andai, mulai menjaga jarak dengan Mas Aro juga dengan anak-anak. Mas Aro curiga melihat gelagatku yang mulai berubah.

*****

” Mas besok aku ada rapat bendahara PBOS sekota Semarang dengan Kabag Keuangan Dinas Pendidikan di Salatiga”, kataku sembari menyodorkan surat tugas untukku pada Mas Aro. “Mungkin pulangnya malam”.

“Hmm..jam berapa pulangnya. Perlu dijemput nggak”, jawab Mas Aro.

“Nggak usah, Mas. Aku bareng teman.”

“Selesai langsung pulang, gak usah mampir-mampir.’

“Iya..” jawabku sambil mencium tangan Mas Aro. Suatu kebiasaan yang aku lakukan sejak aku menjadi istri Mas Aro setiap pergi selalu pamit dan mencium tangannya, lalu Mas Aro akan mencium keningku.

Rasa bahagia dan ayem manakala berangkat kerja mendapat izin suami tercinta dan memberi dukungan apapun tugas yang harus kujalankan akan terasa ringan dan selalu dimudahkan. Baiti Jannati. Rumahku adalah surgaku. Rumah tempat aku beribadah. Semua yang kujalankan dalam kehidupan berumah tangga bersama suami tercinta, bersama anak-anak dan keluarga adalah nomor satu buatku. Aku bekerja dengan seizin suami dan kuniati mencari rezeki untuk ibadah dan menebar ilmu pada siswaku untuk menanam jariyah yang kelak akan menyertaiku sebagai amal yang tak terputus di akhirat kelak.

Menjadi guru, menularkan ilmu, membimbing anak-anak sudah menjadi niatanku sejak aku lulus kuliah dan kuputuskan untuk mengabdi di dunia pendidikan. Karena aku mencintai profesi ini dan sudah menjadi panggilan hati, menjadi guru bukan karena pilihan terakhir tapi cita-cita yang mungkin jarang bagi kebanyakan orang di zaman sekarang. Profesi guru adalah mulia dan jam kerjanya tidak seharian yang  harus pulang malam. Pulang kerja masih ada waktu untuk mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak-anak. Cara berfikir sederhana dan amanah ini sudah 30 tahun kujalani dengan cinta dan keikhlasan. Tentu sudah banyak siswaku yang kini menjadi orang sukses yang tentu saja ini memberi bahagia dan kepuasan bagi aku sebagai gurunya.

bersambung….

Baiti Jannati (5)

 


Kesibukanku mendapat tambahan tugas sebagai bendahara PBOS dan BOS mengharuskan aku untuk bekerja ekstra agar laporan bulanan dan laporan akhir tahun harus selesai sesuai target. Apalagi di akhir tahun, semua rencana anggaran harus terbelanja lebih dari 90 persen. Bila serapan kurang dari 90 persen, maka harus melakukan dan menyusun perubahan anggaran agar realisasi sesuai dengan rencana anggaran dan serapan bisa ditingkatkan dengan belanja atau membiayai kegiatan yang semula tidak dianggarkan. Percepatan serapan ini tentu saja harus disikapi dengan bijak dan sesuai dengan prinsip pelaporan keuangan negara dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Hal inilah yang membuatku harus lembur akhir tahun di Bulan Desember demi mengejar target serapan keuangan. Tentu saja Mas Aro marah, dan mengira aku hanya mencari alasan agar bisa berduaan dengan Pak Sis.

Diantara teman yang bisa kuajak diskusi dan meminta pendapat tentang permasalahan kebutuhan sekolah hanya Pak Sis yang bisa aku gandeng. Guru TIK dimana jam mengajarnya tidak begitu padat. Dia mau dan senang mengantarku kemana aku pergi bila itu menyangkut urusan dinas dan sekolah. Bahkan, pernah kami harus menunggu berjam-jam demi mendapat acc untuk pencairan gaji guru honorer dan harus dibawa ke Pemkot sampai sore.

Di sela-sela kebersamaan aku dan Pak Sis, dia sering bercerita tentang keluarganya, anak-anak dan istrinya, kehidupan masa lalunya, atau kehidupan masa sekarang bersama istrinya. Semula aku biasa dan tak begitu menanggapi apa yang dia keluhkan dalam rumah tangganya. Lama-lama… dia mulai berbicara yang menurutku itu adalah masalah intern dia, tapi mengapa dia ngomong ke aku? Semula aku risi mendengarnya, namun akhirnya aku kepo dan mulai menanyakan ke arah yang seharusnya tak boleh aku tanyakan ke dia. Aku mulai menampung keluhannya dan merasa sok menjadi “pahlawan” baginya.

“Nung, aku pinjam uang tiga juta bisa? Besok kalua sertifikasi cair kukembalikan”, kata Pak Sis saat kami makan siang di salah satu warteg setelah lebih dari 2 jam menunggu SPJ yang beberapa hari sebelumnya masuk ke bagian keuangan Dinas Pendidikan.

“Untuk apa, Pak uang sebanyak itu? Aku gak punya uang sebanyak itu”, jawabku.

“Ssst…kamu nggak perlu tahu. Kamu cukup sediakan saja. Kamu tahu caranya dapatkan uang itu. Ayolah..” rengeknya sambil menggenggam tanganku. “Please…toh sebentar lagi TPP cair. Aku butuh uang itu. Segera setelah cair aku kembalikan”.

“Tapi aku nggak berani”

“Nung…” tatapnya.

Tangannya semakin erat menggenggamku. Tatapannya menusuk hingga ke jantungku. Mata kami saling beradu pandang. Ah, aku lupa. Dua mata beralawanan jenis beradu pandang adalah haram hukumnya. Kami bukan muhrim. Apalalagi  masing-masing punya istri dan suami. Tapi aku menikmatinya. Tangannya yang semula menggenggam jemariku, kini mulai merenggang, ibu jarinya mengusap lembut punggung tanganku. Kenikmatan sesaat mulai melenakanku. Dan, setan mana yang telah membisikkiku hingga kenikmatan ini kubiarkan mengerjap kerjap jantungku, mendebar-debar dan membuatku melayang. Ada rasa yang lain yang tak biasa kurasakan pada seorang teman.

“Baiklah” akhirnya jawaban itu aku lontarkan. “Mau diambil kapan?”

“Begitu dong, Sayang. Besok. Terima kasih.”

Senyumnya. Ah, senyum itu membuatku mabok. Senyum yang mengembang di sudut bibir pada wajah yang berkumis itu membuatku tak kuasa untuk mengatakan “tidak” pada apa yang dia minta. Aku tahu rasa ini keliru. Tak seharusnya ada rasa antara aku dan dia. Kedekatan yang membuai dan mulai melenakan ini tak seharusnya kubiarkan. Aku cuek dengan omangan teman-teman yang mulai bergunjing. membicarakan aku dan Pak Sis. Anehnya aku merasa senang dan nyaman saat mereka pun menggoda dan menyindir hubunganku dengan Pak Sis.

“Nung, yok kuantar pulang. Nanti suamimu keduluan pulang dan kau kena marah lagi”, katanya membuyarkan lamunanku. Dan yang lebih mengagetkanku wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku, yang sontak membuatku memiringkan sedikit badanku agar tak bersentuhan wajah dengannya. Aku tak tahu, apakah dia memiliki rasa yang sama denganku, atau hanya aku saja yang merasakannya, atau aku terlalu ge-er pada perlakuannya, atau…entahlah. Yang jelas aku tak kuasa menolak benih-benih suka, benih-benih nyaman, benih-benih kemesraan yang dia taburkan. Mas Aro, maafkan aku…

bersambung…

Baiti Jannati (4)


 “Apa tidak ada hari lain, Dik. Minggu pun kamu mau ke sekolah. Apa tidak bisa dikerjakan besok hari senin?”

“Tidak bisa, Mas. Laporan ini mau dikirim ke dinas. Biar senin bisa langsung tanda tangan Bu Era, dan uang segera bisa dicairkan. aku sudah ditunggu pembayarannya oleh rekanan.”

“Tapi setiap hari kamu sudah lembur hingga malam. Di rumah kamu juga menyelesaikan tugas sekolah. Apa tidak ada yang bisa membantu? Apa iya waktumu hanya kamu buat untuk kerja, kerja, kerja. Tak bisakah untuk anak-anak dan aku. barang sebentar saja.”

“Aku pingin, Mas. Tapi ini menyangkut orang lain, dan harus selesai sekarang, tidak bisa ditunda. Maafkan aku, Mas. Terpaksa ini kulakukan karena memang dituntut harus selesai”, kucoba menjelaskan pada Mas Aro, dengan harapan dia bisa mengerti akan posisi aku sebagai bendahara sekolah yang harus segera menyelesaikan laporan keuangan sekolah.

“Ya sudah terserah kamu. Tujuh hari kerja dua puluh empat jam. Di rumah nggak ada bedanya dengan di sekolah. pekerjaan sekolah dibawa di rumah. lembuuur melulu. Apa nggak ada waktu sedikitpun untuk aku dan anak-anak”

Suara Mas Aro mulai meninggi. dan terus nyerocos hingga aku keluar rumah siap memanaskan mesin motor dan membawa berkas-berkas yang sudah kususun tadi malam. Memang malam tadi lembur menghitung anggaran yang harus aku ajukan sebagai SP2D untuk pengajuan belanja rutinitas keperluan sekolah bulan ini. Dan menghitung saldo akhir yang harus klop dengan nota dan kuitansi, pajak dan faktur yang sudah terbelajakan bulan ini. Aku harus teliti dan memang semua ini kukerjakan sendiri meski aku punya asisten. Kadang aku belum sepenuhnya percaya pada asistenku. Bila dia tidak teliti aku mengerjakan ulang. Jadi memang asistenku hanya membantu menyusun dan menyiapkan semua berkas SPJ yang harus distempel dan ditandatangani. Selebihnya memang aku yang bertanggung jawab, dan aku yang mengerjakannya.

*****

Tuut..tuut.. ponselku berdering. Ya Allah aku sampai lupa. Sore ini aku masih di kantor Dinas Pendidikan untuk mengantar SPJ dan membuat SPP GU yang harus ditandatangani PPKom Bu Era. Seharusnya aku sudah WA Mas Aro agar dia tak salah paham lagi.

“Assalamualaikum…iya Mas.”

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Kamu dimana, Dik. Ini jam berapa kok belum pulang. ”

“Maaf, Mas ini lagi ngantri SPJ dan minta tanda tangan sama Bu Era.”

“Sama siapa? Kok nggak WA aku. Harusnya kamu beritahu suamimu. Minta izin dulu. Pulang jam berapa? ” terdengar suara Mas Aro yang curiga.

” Sama Pak Sis, Mas. Dia ngantar aku. Pulang jam berapa belum tahu. Ini yang antri banyak dan semua minta tanda tangan. ”

“Apa nggak bisa ditinggal. Diambil besok. Ini dah lewat jam delapan. ”

“Nggak bisa, Mas. Harus ditunggu dan bertemu langsung. Soalnya kalau ada pertanyan, Pak Sis nggak bisa jawab. Dan aku belum tahu selesainya kapan.”

“Ya sudah kalau itu maumu.” Terdengar ketus dan marah.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Apakah Mas Aro cemburu pada  Sis ya? Apa dia mengira aku ada main sama Pak Sis. Bukankah dia tahu Pak Sis adalah teman kerjaku satu sekolah, dan aku pernah mengenalkannya pada Mas Aro. Kami memang dekat. Karena kebetulan dia adalah PPTK di sekolah yang bertugas mengawasi semua pengeluaran keuangan dari bendahara. PPTK dan bendahara sekolah harus bekerja sama dalam pembelanjaan semua kebutuhan sekolah, apalagi SMP Negeri 42 memang dalam percepatan sarana prasarana sekolah. jadi kemana-mana kita selalu bersama, survey bersama, belanja kebutuhan sekolah sampai harus ketemu Kabid Keuangan atau Kabid Perencanaan di Dinas Kota bersama. Tak jarang kita juga kadang makan siang bersama atau sekedar minum es di kantin berdua. Tapi itu semua kami lakukan karena intensitas pekerjaan kami yang membuat aku sering komunikasi dan berduaan dengan Pak Sis.

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...