Sabtu, 15 Januari 2022

Baiti Jannati (6)


Aku tahu ini salah dan tidak boleh terjadi. Adalah terlarang seseorang sudah beristri atau bersuami melirik wanita atau pria lain. Namun aku tak kuasa menolak rasa aneh ini, rasa yang tiba-tiba ada, hadir tanpa aku minta. Semakin hari semakin membuat aku terjerat, semakin membuat aku gila…membuat aku kangen bila sehari tak ketemu dia, tak melihatnya atau mendengar suaranya. Aku sadar aku mulai jatuh cinta …Jatuh cinta padanya??

Wow… benarkah aku jatuh cinta? Jatuh cinta pada suami orang? Benarkah ini? Mengapa ini bisa terjadi? Tak masuk akal. Aku seorang istri yang tak pernah macam-macam, taat beribadah, ibu yang penuh perhatian pada anak dan keluarga, punya suami yang baik dan seorang ustad yang cukup dikenal di masyarakat sekitar, jatuh cinta pada teman sejawatnya? Duuh Gusti Allah…setan mana yang telah menggoda sedemikian hebat hingga menjadikanku mudah terlena dan dengan sengaja aku  membiarkan benih-benih rasa tumbuh menyeruak diantara taman teduh yang telah bertahun-tahun mengayomi hidupku?  Ataukah ini hanya rasa sesaat yang kurasakan  karena witing tresno jalaran soko kulino?

Duuh Gusti ampuni aku..aku tak kuasa menghapus rasa ini..Sampai kapan aku terjerat rasa yang melenakan sekaligus mengiris sisi hatiku yang lain. Jujur saat aku merasa nyaman ada di dekat Pak Sis, sisi hatiku yang lain bicara dan mengguncang menolak kenyataan bahwa apa yang kulakukan ini sudah tak benar dan harus kuakhiri. Meski tak pernah terbayang untuk selingkuh dengan Pak Sis, hanya sebatas suka, namun rasa ini mulai mengubah perilaku sikapku sehari-hari. Aku jadi suka berlama-lama lembur di sekolah, mulai berandai-andai, mulai menjaga jarak dengan Mas Aro juga dengan anak-anak. Mas Aro curiga melihat gelagatku yang mulai berubah.

*****

” Mas besok aku ada rapat bendahara PBOS sekota Semarang dengan Kabag Keuangan Dinas Pendidikan di Salatiga”, kataku sembari menyodorkan surat tugas untukku pada Mas Aro. “Mungkin pulangnya malam”.

“Hmm..jam berapa pulangnya. Perlu dijemput nggak”, jawab Mas Aro.

“Nggak usah, Mas. Aku bareng teman.”

“Selesai langsung pulang, gak usah mampir-mampir.’

“Iya..” jawabku sambil mencium tangan Mas Aro. Suatu kebiasaan yang aku lakukan sejak aku menjadi istri Mas Aro setiap pergi selalu pamit dan mencium tangannya, lalu Mas Aro akan mencium keningku.

Rasa bahagia dan ayem manakala berangkat kerja mendapat izin suami tercinta dan memberi dukungan apapun tugas yang harus kujalankan akan terasa ringan dan selalu dimudahkan. Baiti Jannati. Rumahku adalah surgaku. Rumah tempat aku beribadah. Semua yang kujalankan dalam kehidupan berumah tangga bersama suami tercinta, bersama anak-anak dan keluarga adalah nomor satu buatku. Aku bekerja dengan seizin suami dan kuniati mencari rezeki untuk ibadah dan menebar ilmu pada siswaku untuk menanam jariyah yang kelak akan menyertaiku sebagai amal yang tak terputus di akhirat kelak.

Menjadi guru, menularkan ilmu, membimbing anak-anak sudah menjadi niatanku sejak aku lulus kuliah dan kuputuskan untuk mengabdi di dunia pendidikan. Karena aku mencintai profesi ini dan sudah menjadi panggilan hati, menjadi guru bukan karena pilihan terakhir tapi cita-cita yang mungkin jarang bagi kebanyakan orang di zaman sekarang. Profesi guru adalah mulia dan jam kerjanya tidak seharian yang  harus pulang malam. Pulang kerja masih ada waktu untuk mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak-anak. Cara berfikir sederhana dan amanah ini sudah 30 tahun kujalani dengan cinta dan keikhlasan. Tentu sudah banyak siswaku yang kini menjadi orang sukses yang tentu saja ini memberi bahagia dan kepuasan bagi aku sebagai gurunya.

bersambung….

Baiti Jannati (5)

 


Kesibukanku mendapat tambahan tugas sebagai bendahara PBOS dan BOS mengharuskan aku untuk bekerja ekstra agar laporan bulanan dan laporan akhir tahun harus selesai sesuai target. Apalagi di akhir tahun, semua rencana anggaran harus terbelanja lebih dari 90 persen. Bila serapan kurang dari 90 persen, maka harus melakukan dan menyusun perubahan anggaran agar realisasi sesuai dengan rencana anggaran dan serapan bisa ditingkatkan dengan belanja atau membiayai kegiatan yang semula tidak dianggarkan. Percepatan serapan ini tentu saja harus disikapi dengan bijak dan sesuai dengan prinsip pelaporan keuangan negara dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Hal inilah yang membuatku harus lembur akhir tahun di Bulan Desember demi mengejar target serapan keuangan. Tentu saja Mas Aro marah, dan mengira aku hanya mencari alasan agar bisa berduaan dengan Pak Sis.

Diantara teman yang bisa kuajak diskusi dan meminta pendapat tentang permasalahan kebutuhan sekolah hanya Pak Sis yang bisa aku gandeng. Guru TIK dimana jam mengajarnya tidak begitu padat. Dia mau dan senang mengantarku kemana aku pergi bila itu menyangkut urusan dinas dan sekolah. Bahkan, pernah kami harus menunggu berjam-jam demi mendapat acc untuk pencairan gaji guru honorer dan harus dibawa ke Pemkot sampai sore.

Di sela-sela kebersamaan aku dan Pak Sis, dia sering bercerita tentang keluarganya, anak-anak dan istrinya, kehidupan masa lalunya, atau kehidupan masa sekarang bersama istrinya. Semula aku biasa dan tak begitu menanggapi apa yang dia keluhkan dalam rumah tangganya. Lama-lama… dia mulai berbicara yang menurutku itu adalah masalah intern dia, tapi mengapa dia ngomong ke aku? Semula aku risi mendengarnya, namun akhirnya aku kepo dan mulai menanyakan ke arah yang seharusnya tak boleh aku tanyakan ke dia. Aku mulai menampung keluhannya dan merasa sok menjadi “pahlawan” baginya.

“Nung, aku pinjam uang tiga juta bisa? Besok kalua sertifikasi cair kukembalikan”, kata Pak Sis saat kami makan siang di salah satu warteg setelah lebih dari 2 jam menunggu SPJ yang beberapa hari sebelumnya masuk ke bagian keuangan Dinas Pendidikan.

“Untuk apa, Pak uang sebanyak itu? Aku gak punya uang sebanyak itu”, jawabku.

“Ssst…kamu nggak perlu tahu. Kamu cukup sediakan saja. Kamu tahu caranya dapatkan uang itu. Ayolah..” rengeknya sambil menggenggam tanganku. “Please…toh sebentar lagi TPP cair. Aku butuh uang itu. Segera setelah cair aku kembalikan”.

“Tapi aku nggak berani”

“Nung…” tatapnya.

Tangannya semakin erat menggenggamku. Tatapannya menusuk hingga ke jantungku. Mata kami saling beradu pandang. Ah, aku lupa. Dua mata beralawanan jenis beradu pandang adalah haram hukumnya. Kami bukan muhrim. Apalalagi  masing-masing punya istri dan suami. Tapi aku menikmatinya. Tangannya yang semula menggenggam jemariku, kini mulai merenggang, ibu jarinya mengusap lembut punggung tanganku. Kenikmatan sesaat mulai melenakanku. Dan, setan mana yang telah membisikkiku hingga kenikmatan ini kubiarkan mengerjap kerjap jantungku, mendebar-debar dan membuatku melayang. Ada rasa yang lain yang tak biasa kurasakan pada seorang teman.

“Baiklah” akhirnya jawaban itu aku lontarkan. “Mau diambil kapan?”

“Begitu dong, Sayang. Besok. Terima kasih.”

Senyumnya. Ah, senyum itu membuatku mabok. Senyum yang mengembang di sudut bibir pada wajah yang berkumis itu membuatku tak kuasa untuk mengatakan “tidak” pada apa yang dia minta. Aku tahu rasa ini keliru. Tak seharusnya ada rasa antara aku dan dia. Kedekatan yang membuai dan mulai melenakan ini tak seharusnya kubiarkan. Aku cuek dengan omangan teman-teman yang mulai bergunjing. membicarakan aku dan Pak Sis. Anehnya aku merasa senang dan nyaman saat mereka pun menggoda dan menyindir hubunganku dengan Pak Sis.

“Nung, yok kuantar pulang. Nanti suamimu keduluan pulang dan kau kena marah lagi”, katanya membuyarkan lamunanku. Dan yang lebih mengagetkanku wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku, yang sontak membuatku memiringkan sedikit badanku agar tak bersentuhan wajah dengannya. Aku tak tahu, apakah dia memiliki rasa yang sama denganku, atau hanya aku saja yang merasakannya, atau aku terlalu ge-er pada perlakuannya, atau…entahlah. Yang jelas aku tak kuasa menolak benih-benih suka, benih-benih nyaman, benih-benih kemesraan yang dia taburkan. Mas Aro, maafkan aku…

bersambung…

Baiti Jannati (4)


 “Apa tidak ada hari lain, Dik. Minggu pun kamu mau ke sekolah. Apa tidak bisa dikerjakan besok hari senin?”

“Tidak bisa, Mas. Laporan ini mau dikirim ke dinas. Biar senin bisa langsung tanda tangan Bu Era, dan uang segera bisa dicairkan. aku sudah ditunggu pembayarannya oleh rekanan.”

“Tapi setiap hari kamu sudah lembur hingga malam. Di rumah kamu juga menyelesaikan tugas sekolah. Apa tidak ada yang bisa membantu? Apa iya waktumu hanya kamu buat untuk kerja, kerja, kerja. Tak bisakah untuk anak-anak dan aku. barang sebentar saja.”

“Aku pingin, Mas. Tapi ini menyangkut orang lain, dan harus selesai sekarang, tidak bisa ditunda. Maafkan aku, Mas. Terpaksa ini kulakukan karena memang dituntut harus selesai”, kucoba menjelaskan pada Mas Aro, dengan harapan dia bisa mengerti akan posisi aku sebagai bendahara sekolah yang harus segera menyelesaikan laporan keuangan sekolah.

“Ya sudah terserah kamu. Tujuh hari kerja dua puluh empat jam. Di rumah nggak ada bedanya dengan di sekolah. pekerjaan sekolah dibawa di rumah. lembuuur melulu. Apa nggak ada waktu sedikitpun untuk aku dan anak-anak”

Suara Mas Aro mulai meninggi. dan terus nyerocos hingga aku keluar rumah siap memanaskan mesin motor dan membawa berkas-berkas yang sudah kususun tadi malam. Memang malam tadi lembur menghitung anggaran yang harus aku ajukan sebagai SP2D untuk pengajuan belanja rutinitas keperluan sekolah bulan ini. Dan menghitung saldo akhir yang harus klop dengan nota dan kuitansi, pajak dan faktur yang sudah terbelajakan bulan ini. Aku harus teliti dan memang semua ini kukerjakan sendiri meski aku punya asisten. Kadang aku belum sepenuhnya percaya pada asistenku. Bila dia tidak teliti aku mengerjakan ulang. Jadi memang asistenku hanya membantu menyusun dan menyiapkan semua berkas SPJ yang harus distempel dan ditandatangani. Selebihnya memang aku yang bertanggung jawab, dan aku yang mengerjakannya.

*****

Tuut..tuut.. ponselku berdering. Ya Allah aku sampai lupa. Sore ini aku masih di kantor Dinas Pendidikan untuk mengantar SPJ dan membuat SPP GU yang harus ditandatangani PPKom Bu Era. Seharusnya aku sudah WA Mas Aro agar dia tak salah paham lagi.

“Assalamualaikum…iya Mas.”

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Kamu dimana, Dik. Ini jam berapa kok belum pulang. ”

“Maaf, Mas ini lagi ngantri SPJ dan minta tanda tangan sama Bu Era.”

“Sama siapa? Kok nggak WA aku. Harusnya kamu beritahu suamimu. Minta izin dulu. Pulang jam berapa? ” terdengar suara Mas Aro yang curiga.

” Sama Pak Sis, Mas. Dia ngantar aku. Pulang jam berapa belum tahu. Ini yang antri banyak dan semua minta tanda tangan. ”

“Apa nggak bisa ditinggal. Diambil besok. Ini dah lewat jam delapan. ”

“Nggak bisa, Mas. Harus ditunggu dan bertemu langsung. Soalnya kalau ada pertanyan, Pak Sis nggak bisa jawab. Dan aku belum tahu selesainya kapan.”

“Ya sudah kalau itu maumu.” Terdengar ketus dan marah.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Apakah Mas Aro cemburu pada  Sis ya? Apa dia mengira aku ada main sama Pak Sis. Bukankah dia tahu Pak Sis adalah teman kerjaku satu sekolah, dan aku pernah mengenalkannya pada Mas Aro. Kami memang dekat. Karena kebetulan dia adalah PPTK di sekolah yang bertugas mengawasi semua pengeluaran keuangan dari bendahara. PPTK dan bendahara sekolah harus bekerja sama dalam pembelanjaan semua kebutuhan sekolah, apalagi SMP Negeri 42 memang dalam percepatan sarana prasarana sekolah. jadi kemana-mana kita selalu bersama, survey bersama, belanja kebutuhan sekolah sampai harus ketemu Kabid Keuangan atau Kabid Perencanaan di Dinas Kota bersama. Tak jarang kita juga kadang makan siang bersama atau sekedar minum es di kantin berdua. Tapi itu semua kami lakukan karena intensitas pekerjaan kami yang membuat aku sering komunikasi dan berduaan dengan Pak Sis.

Baiti Jannati (3)


 Alasanku mutasi dari SMP Negeri 20 ke SMP Negeri 42 Semarang adalah mendekati rumah, selain kekurangan jumlah jam mengajar di sana.Dengan jumlah jam mengajar hanya 5 jam per minggu, sementara ada banyak guru IPA di sana menjadikan aku harus mutasi ke SMP Negeri 42 yang terletak di jalan Klipang Raya. SMP Negeri 42 Semarang ini mulai berdiri dan menerima siswa baru Tahun Pelajaran 2015/2016.

SMP yang baru dibuka dan pembangunan gedungnya baru sampai tahap 50 % ini memgharuskan kami, guru-gurunya yang hanya berjumlah 7 orang, tanpa tenaga kependidikan, tanpa kepala sekolah, karena masih menginduk di SMP Negeri 29 ini, harus babad alas (membuka lahan baru) untuk menjadikan sekolah ini sejajar dengan SMP Negeri yang lain di Kota Semarang. Karakter, pembiasaan, operasional, struktur kurikulum dan kegiatan lainnya dimulai dari nol dan kita harus membuat program bagaimana visi dan misi sekolah ini mau dibangun dan dibawa kemana.

Di tahun pertama dimana arah dan tujuan dari visi dan misi sekolah ini sudah ditetapkan dan kita harus bekerja keras membentuk pembiasaan dan menjalankan semua yang sudah kita programkan, dedikasi dan semangat guru yang luar biasa menjadikan sekolah ini mulai mendapat perhatian dari pemkot dan masyarakat sekitar. Memasuki awal tahun kedua, pembangunan gedung SMP Negeri 42 sudah finish dan mendapat Kepala Sekolah baru dan tendik yang siap membawa amanah memajukan sekolah ini .

Jumlah jam mengajar yang padat, 30 jam per minggu, dengan tambahan sebagai wali kelas dan menjadi bendahara Pendamping BOS dan BOS membuat kesibukanku amat sangat dan luar biasa. Aku sering lembur sampai maghrib karena harus menyelesaikan tugas sebagai bendahara sekolah, bahkan di akhir tahun anggaran pulang pukul 21.00 atau 22.00 sudah biasa. Namun semua ini aku syukuri sebagai karunia yang Allah berikan padaku. Jarak rumah sekolah yang hanya ditempuh dalam waktu 5 menit tanpa macet dan kemrungsung menjadikanku enjoy menyelesaikan semua tugas sekolahDi sisi yang lain, godaan datang dan mulai menggoyahkan keimananku.

Usiaku 45 tahun, dengan kesibukan ini hampir saja merusak hubugan suami istri antara aku dan Mas Aro. Hampir sebagian waktu kuhabiskan untuk sekolah. Berangkat pagi pukul 07.00 sudah siap di sekolah. Aktivitas rutin hingga pukul 14.00 WIB selebihnya tugas adminsitrasi mulai dari membuat laporan keuangan P BOS atau BOS, memantau pengadaan barang, hingga harus menghadiri rapat dinas di Dinas Pendidikan atau di Pemkot membuatku lelah fisik dan pikiran. Maka tak heran setelah sampai rumah tentu setelah sholat aku langsung tidur dan terlelap hingga pagi. terkadang bangu tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar.

Aktiviatas harianku menjadikanku ‘gila kerja’. Aku hampir tak ada waktu buat anak-anakku yang kala itu Alif duduk di bangku SMA dan Huda masih SMP, apalagi waktu untuk suami. Aku jarang menanyakan keadaan mereka di sekolah hari itu, apa yang mereka dapat di hari itu apalagi mendampinginya belajar. Anak-anak kutuntut bisa mandiri dan tidak bergantung pada ibunya. Secara materi semua tercukupi, uang, pakaian, apa yang mereka minta aku selalu memenuhinya. Namun aku lupa bahwa mereka masih anakku yang perlu kasih sayang tidak hanya kebutuhan materi saja, tapi juga butuh perhatian dari ibunya. Dan perselisihan pendapat, salah paham antara aku dan mas Aro, mulai memantik, menyulut api.

bersambung…

Baiti Jannati (2)


Selain mengajar di SMP Filial 20 Semarang  aku juga mengajar di SMA Negeri 10 Semarang. Ini kulalukan karena jatah mengajar di SMP Negeri 20 hanya 5 jam pelajaran. Memang aku rasakan ada diskrimasi antara guru senior dan guru yunior di sini, Guru senior berlomba untuk mendapatkan jam mengajar minimal 24 agar tunjangan sertifikasi lancar. Sedang guru yunior hanya bisa pasrah dan ”trimo ing pandum” (ikhlas menerima apa yang diberikan). Bila ini terus terjadi maka aku tidak bisa naik pangkat, dan nilai DP3 akan turun.

Mengajar siswa SMA  berbeda dengan mengajar siswa SMP. Selain karena siswa SMA sudah mandiri, tidak kekanak-kanakan,usia mereka sudah bukan anak-anak lagi. Jadi mereka bertanggung jawab pada masa depannya, lebih mudah untuk mengontrol emosinya dan sudah memikirkan ke depan, mau kemana setelah lulus SMA. Mengajar SMA metode dan pendekatan yang dilakukan juga berbeda, lebih banyak ke arah penerapan, diskusi praktis sejalan dengan perkembangan usia mereka yang bukan anak-anak lagi. kita sebagai guru memposisikan diri sebagai agen perubahan dengan menempatkan mereka sebagai pelaku perubahan.

Sedangkan siswa SMP adalah masa peralihan antara usia anak-anak dan usia remaja dimana pada masa ini mereka masih mencari jati diri, belum stabil emosinya, mudah tersinggung dan belum memikirkan dunia kerja apalagi masa depan. Menghadapi kenakalan remaja SMP, menyelami dunia mereka gampang-gampang susah meski problem mereka belum sekompleks remaja SMA. Kenakalan remaja SMP bila tidak diarahkan dan didampingi dengan intens bisa lebih serius karena rasa ingin tahunya dan ingin ‘mencoba’ lebih besar dibanding remaja SMA.

Beberapa siswa SMAN 10 adalah mantan siswaku di SMP 20. Saat mereka tahu aku juga juga mengajaar di SMA 10, mereka senang, ada pula yang cuek, seolah-olah belum pernah mengenal aku sebagai gurunya. Duuh..anak sekarang nilai karakternya. Bila tidak disapa duluan mereka tidak mau menyapa.  Namun hal ini tak kubiarkan, karena waktu di SMP dulu kuajarkan sikap untuk menghormati guru dimanapun berada, dan  ini harus kuingatkan lagi.

Di SMAN 10 ini lingkungan belajar yang kondusif, komunitas pendidik dan tendiknya yang ramah, wellbeing dan saling menghormati dan mau berbagi menjadikan aku betah dan lebih bersemangat mengajar di sini daripada di satmingkalku di SMPN 20. Memang SMPN 20 dan SMAN 10 bersebelahan, jadi kapan saja aku mau bisa di SMP atau di SMA. Dan SMAN 10 ini banyak pengalaman baru yang kudapat, selain setiap hari ada briefing sebelum pembelajaran dimulai, kegiatan ekstrakurikuler yang lebih beragam, juga kegiatan intrakurikuler kewirausahaan yang menjadi branding sekolah ini yaitu budidaya lele mulai dari pembenihan, pembuatan  pakan sampai pemasaran hasil menarik untuk kupelajari.

Meski jam mengajarku di SMA ini tidak relevan dengan sertifikat PLPG yang aku ounya, setidaknya aku bisa mengabdi, mendapat ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Bukan semata-mata mengejar finansi tapi aku mendapat banyak teman dan saudara di sini. Namun sayang, setelah ada pembukaan SMP negeri baru di ujung timur Kota Semarang dan aku lolos seleksi, maka SMAN 10 pun kutinggalkan dan menjadi salah satu catatan sejarah bahwa aku pernah mengabdi di sana, menebar ilmu dan berkarya di sana. 

Baiti Jannati


Menjadi guru wiyata bakti di SMP Negeri 20 kujalani selama 7 tahun baru diangkat menjadi guru honorer dengan gaji yang lebih baik dari sebelumnya. Mas Aro juga sudah mendapatkan pekerjaan sebagai sopir di salah satu kantor di LPMP Undip. Alhamdulillah meski kami baru tenaga honorer, namun semua ini kami syukuri karena sudah mendapat pekerjaan tetap. Sedikit demi sedikit kami bisa mengumpulkan uang dan mulai mengambil cicilan motor karena jarak tempat kerja dan rumah kami lumayan jauh .Apalagi aku harus mengajar di Filial 20 yang jaraknya kurang lebi 20 km dari rumah. Tentu saja waktu akan habis di perjalanan bila naik angkot.

Filial adalah sekolah binaan dari SMP Negeri 20 yang letaknya agak jauh dari induk SMP Negeri 20. Sekolah Filial ini diperuntukan bagi anak-anak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Awalnya anak-anak yang bersekolah di sini adalah anak-anak yang putus sekolah, dari keluarga kurang mampu, anak-anak yang belajar dan bekerja, dan anak-anak dari latar belakang broken home. Mereka tidak dibebankan biaya, pergi sekolah ada yang tidak berseragam, ada yang tidak bersepatu, bahkan sekolah yang memberikan bantuan kepada mereka.

Guru-guru yang mengajar di Filial ini adalah guru-guru hebat yang dengan pengabdian luar biasa membentuk karakter dan mencerdaskan anak-anak tanpa mengenal lelah. Meski beberapa anak putus di tengah perjalanan mereka menuntaskan program Pendidikan Wajar Sembilan Tahun, namun patut diacungi jempol bahwa mayarakat sekitar sekolah Filial sudah mulai mendapat kebermanfaatan adanya sekolah ini di sana. Dan masyarakat sekitar mulai menerima sekolah ini, terbukti dari tahun ke tahun sekolah ini mempunyai cukup murid meski hanya satu rombel. Bila sebelumnya untuk mendapatkan satu rombel kelas dengan jumlah siswa 20 anak saja sudah bagus, sekarang lebih dari 30 anak. Meski tapa seleksi, karena berapapun usia  (maksimum 18 tahun) dan tahun lulusnya, di Filial pasti akan diterima.

Suka duka mengajar di Filial ini banyak kurasakan. Siswa-siswinya yang masih lugu, latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga yang rendah, fasilitas yang seadanya menjadikan sekolah ini “hidup segan mati tak mau”. Guru-guru yang mengajar di sini adalah guru-guru yang juga mengajar di SMP  Negeri 20 yang kadang-kadang membandingkan dan lebih memilih mengajar di SMP Negeri 20. Kurangnya perhatian  dari pemerintah kota dan juga birokrasi yang panjang menjadikan bantuan yang seharusnya diterima untuk memajukan sekolah ini menjadi terhambat. Kami yang mengajar di SMP Filial ini dipandang sebelah mata oleh teman-teman guru di SMP Negeri 20 dan dianggap Filial adalah anak tiri. Memang SMP Filial belum mempunyai NPSN dan Kepala Sekolahnya menjadi satu dengan SMP Negeri 20 sehingga segala administrasi dan operasionalnya di bawah satu naungan SMP Negeri 20.

Tahun 2013 muncul kebijakan baru dari Kepala Sekolah dimana segala administrasi dan operasional SMP Filial dikelola sendiri meski  masih dalam binaan SMP Negeri 20. Wakil Kepala Sekolah ditunjuk dan ditempatkan di SMP Filial untuk mengatur kebijakan sendiri dan membenahi semua lini baik bidang intrakurikuler maupun ekstrakurikuler dan menjalankan Delapan Standar Pendidikan yang semuanya bertujuan mengembangkan dan memajukan SMP Filial. Alhamdulillah kini penambahan RKB dan ruangan keterampilan, ruang laboratorium dan sarana prasarana lain mulai dikejar. Semoga ke depan SMP Filial sejajar dengan SMP nergeri yang lain di Kota Semarang dan memiliki branding yang diperhitungkan di masyarakat. Sehingga anak-anak yang bersekolah di SMP Filial tidak minder dan bangga dengan almamaternya.

 

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (7)


Sepuluh hari aku harus dirawat di RSU KMRT Wongonegoro. Meski masih agak pusing dan harus belajar menjaga keseimbangan tubuh, dokter sudah mengizinkan aku pulang ke rumah. Seminggu sekali kontrol dan rutin minum obat. Aku harus belajar untuk mengalahkan vertigo ini.

Aku mulai belajar duduk, pelan-pelan bangun sambil berpegangan pada sisi ranjang tidur. Dan belajar berbaring dengan posisi miring dan mata terpejam. Saat akan membaringkan tubuh selalu kepala ini berputar dan berputar. Tapi ini semua mau tidak mau harus kenikmati dan sedikit demi sedikit aku harus mampu menahan mual dan serangan putaran-putaran di kepalaku. Karena aku belum  bisa beraktivitas normal, maka ibu mertua diajak Mas Aro ke rumah, untuk merawat aku dan menjaga  anak-anakku.

Hari-hari kurasakan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Bangun, duduk dan tertatih-tatih belajar berjalan. Namun aku selalu bersyukur akan kehidupan  kedua yang kualami ini. Ya, aku diberi kesempatan hidup yang kedua. Aku mulai belajar sholat dengan duduk, sedikit demi sedikit mencoba berdiri dan ruku, belajar sujud dan bangun dari sujud,meski harus berjuang melawan sakit ini.

Aku ingin sembuh, Aku ingin hidup normal seperti dulu. Aku ingin melayani anak-anak dan suami dengan baik. Aku harus berjuang dan harus sembuh. Kasihan Mas Aro selama tiga bulan ini dia harus puasa karena aku tidak bisa melayaninya. Dan masa cuti sakitku pun telah habis. Aku harus kembali mengajar. karena belum berani naik motor maka aku langganan ojek untuk mengantar dan menjemputku pulang. Dan, Alhamdulillah pihak sekolah memberi keringanan padaku dengan mengajar sampai pukul 10 saja.

Setelah kurang lebih tiga bulan, aku sudah mulai bisa berjalan normal, sudah bisa beraktivitas, sudah bisa melayani suami. Ya, Allah terima kasih, Engkau telah memberi kesempatan aku untuk hidup yang kedua, Engkau memberi aku seorang suami yang penyabar, dan mertua yang baik yang telaten merawat aku dan anak-anak selama aku sakit. Ya, Allah semoga Mas Aro tak berhenti untuk selalu mencintaiku, kami saling mengerti dan saling menyayangi. Masa sakit ini memberi banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kami petik. Ya, Allah Engkau Maha Pemurah, memberi kesempatan kami untuk saling menguji sampai seberapa kesetiaan dan kadar cinta kami. Dan cinta bukan lagi pelampiasan nafsu, tapi cinta  lebih dari menyayangi dan menumbuhkan kasih yang tertanam erat,  menggenggam,  dan akhirnya memberi kekuatan, mengokohkan rumah tangga kami. Ya, Allah semoga ini selamanya. Amin.

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...