Jumat, 10 Juli 2020

YUUK..KIRIM NASKAH KE PENERBIT ANDY

   Gambar
YUUK..KIRIM NASKAH KE PENERBIT ANDY           

Malam ini sehabis sholat Maghrib seperti biasa anak-anak dan suami santai di ruang tengah. Sambil menyiapkan laptop untuk mulai menulis, aku buka WAG Belajar Menulis Gelombang 13 di handphone. Wow..ternyata sudah puluhan chat berderet yang belum kubuka. Acara kuliah online belum dimulai, tapi Omjay sebagai motor penggerak di grup sudah mulai menayangkan  profil narsum malam ini. Dan teman-teman grup lainnya saling posting tulisan mereka, saling minta berkunjung atau ucapan terima kasih. Waaah...sungguh luar biasa semangatnya.

Narsum kuliah malam ini adalah seorang direktur Penerbit Andi Yogyakarta. Tentu saja ini beliau akan memaparkan seluk beluk dan pengalamannya di dunia penerbitan. Tentu banyak ilmu yang akan disampaikan. Mau tahu...inilah resumenya. Silakan disimak, semoga bermanfaat.

MMalam ini beliau akan menyampaikan materi tentang :

1.  Writing preneurship/menulis buku yang diterima  penerbit 

2.  Menulis buku ajar 

3.  Teknis menulis buku


Bagi seorang penulis menulis buku mempunyai tujuan. Diantaranya, seperti yang ada di samping ini. Nah kita berada di posisi manakah ? Tujuan menulis dapat dibedakan sebagai berikut : 

  1. Orientasi pada profit
  2. Nirlaba (CSR/pengabdian)
  3. Branding/promosi
  4. Memenuhi regulasi/akreditasi.

          Pembaca adalah pasar dan merupakan pembeli dari buku-buku kita. Sedangkan pelaku industri adalah penerbit, penyalur dan penulis. Jika satu buku dianggap satu proyek ekonomi. Siapa yang dianggap paling beruntung dalam menerbitkan buku? Jika jawabannya adalah penerbit, itu adalah salah. Rumusnya begini, jika harga buku 100 ribu, maka toko buku itu sudah mendapat 30 ribu atau 30 % nya dan penulis 10 ribu atau 10 % nya. Sisanya adalah penerbit. Mengapa penerbit lebih besar?

Sebenarnya penerbit hanya mendapat 2-3 % saja, setelah dikurangi dengan ongkos produksi, promosi, dan biaya-biaya lain. Jadi penerbit adalah yang paling kecil. Tapi mengapa penerbit bisa bertahan dan tetap berdiri? Karena meski kecil tapi pengalinya besar.Tapi, jika buku tidak laku, siapa yang menanggung kerugian? Penerbit, karena penulis hanya mendapat royalti saja. Itulah kenapa penerbit berhak menolak sebuah buku agar tidak diproduksi, bila tidak laku untuk dijual.

Lalu bagaimana agar suatu naskah layak diterbitkan jadi sebuah buku ? Langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Naskah dikirim ke penerbit. Penerbit m Sebenarnya penerbit hanya mendapat 2-3 % saja, setelah dikurangi dengan ongkos produksi, promosi, dan biaya-biaya lain. Jadi penerbit adalah yang paling kecil. Tapi mengapa penerbit bisa bertahan dan tetap berdiri? Karena meski kecil tapi pengalinya besar.Tapi, jika buku tidak laku, siapa yang menanggung kerugian? Penerbit, karena penulis hanya mendapat royalti saja. Itulah kenapa penerbit berhak menolak sebuah buku agar tidak diproduksi, bila tidak laku untuk dijual.

    Lalu bagaimana agar suatu naskah layak diterbitkan jadi sebuah buku ? Langkahnya adalah sebagai berikut :

    1. Naskah dikirim ke penerbit. Penerbit menilai/mereview apakah naskah tersebut dijadikan buku atau tidak oleh editor. Karena memang tujuan dari penerbit adalah ekonomi.
    2. Setelah naskah dinilai dan diputuskan layak untuk dibukukan, maka akan diminta soft copynya. Bisa dikirim lewat email. Tapi sebaiknya dicetak (tidak harus lengkap Bab 1 sampai Bab terakhir) berupa : daftar isi lengkap, biodata penulis, sinopsis. Mengapa harus dicetak ? agar tidak diklaim milik orang lain.
    3. Menandatangani surat perjanjian.
    4. Dikirim ke penerbit untuk dilakukan proses edit, setting, cetak buku. 

 Proses Editing dan Setting

Penerbit tidak pernah menolak naskah untuk tidak diterbitkan dengan alasan editorial yang buruk, titik koma yang salah dan sejenisnya. Kenapa? Karena penerbit punya banyak editor. Di Penerbit Andi ada sekitar 60 orang editor yang ahli bahasa. Penlis akan bertanya, kenapa naskah saya lebih enak dibaca? Ya, tentu saja setelah dibetulkan oleh editor.

Yang kedua, judul dari penulis aka dimodifikasi oleh penerbit supaya laku. Judul harus menarik dan membangkitkan minat baca. Karena judul, cover, sinposis sangat penting untuk menjual buku. Bagi pembaca ketika akan membeli buku, tidak mungkin dia membaca seluruh isi buku, terlebih bila buku dlam segel. Maka dia akan melihat tampilan dari buku itu dan sinopsisnya.

Sebelum proses cetak, penerbit akan mencetak satu buku ke penulis sebagai profiks atau koreksi akhir. Sehingga ketika dicetak oleh penerbit tidak ada kesalahan fatal, lalu dibuatkan plat untuk membuat cetakan secara masif di mesin pencetak.

 Ciri-ciri penerbit yang baik

  1. Memiliki visi misi yang jelas
  2. Memiliki business core lini produk tertentu
  3. Memiliki pengalaman sebagai penerbit
  4. Memiliki jaringan pemasaran
  5. Memiliki percetakan sendiri
  6. Keberanian mencetak dalam jumlah eksemplar
  7. Memiliki kejujuran dalam pembayaran royalti..

Apa yang diperoleh penulis? Bagi seorang penulis, membuat naskah dan mencetak menjadi buku, tentu mempunyai tujuan. Dan, masing-masing penulis memiliki tujuan yang berbeda. Namun tujuan dapat dikelompokan menjadi :

  1. Peningkatan finansial/ keuangan, yaitu mendapat royalti, pemberian diskon langsung, undangan seminar mengajar.
  2. Karir. Adanya kebutuhan status peningkatan jabatan, peluang karir di instansi
  3. Kebutuhan batin. Memiliki nama (terkenal) dan dikenang sepanjang masa
  4. Reputasi. Buku sebagai karya yang terpublikasi akan meningkatkan reputasi penulisnya.

Bagaimana dengan naskah yang tidak bisa dibukukan oleh penerbit? Perhatikan gambaran sebagai berikut :


Dari keempat kudran diatas, yang paling bagus adalah “tema populer ditulis oleh penulis populer”. Ini tentu akan meningkatkan oplah dari buku dan penerbit bisa mencetak hingga berulang kali. Bagi seorang penulis pemula disarankan dalam membuat naskah mengambil tema populer karena penulis belum populer.

Sebelum narasumber menutup kuliahnya, beliau berpesan  “Segeralah menulis dan kirim ke penerbit. Karena dengan mengirim naskah ke penerbit, kita akan banyak belajar”. Bagaimana sahabat guru yang hebat, sudahkah kita menulis naskah yang siap untuk dijual??

 


Kamis, 09 Juli 2020

YUUK..MENENGOK DAPUR PENERBIT

YUUK..MENENGOK DAPUR PENERBIT

Bagi seorang penulis tentunya akan sangat puas jika tulisan yang dibuatnya terbit menjadi sebuah buku. Buku baginya tidak hanya merupakan sebuah karya tetapi lebih apa yang jadi pemikirannya yang diungkap dalam bentuk tulisan. Dengan buku kita bisa berbagi ilmu dan memberi catatan sejarah bahwa kita ada.

Materi kuliah malam ini sungguh luar biasa...Kita jadi tahu dan paham dengan dunia penerbit. Hadir memberikan materi adalah  Bapak Edi S. Mulyanta dari penerbit mayor Andi Yogyakarta. Beliau memaparkan seluk beluk tata cara penerbitan di penerbit Andi, dari pengiriman naskah hingga jadi buku dan pembagian royaltinya. Mau tahu...simak yuk resume kuliah malam ini. 

Dunia penerbitan saat ini, menghadapi sesuatu permasalahan yang hampir sama dengan bapak ibu sekalian, akibat dari pandemi yang belum ada kepastian kapan berakhirnya.  Mohon maaf saya buka dapur-dapur semua yang berkaitan dengan penerbitan dari hulu hingga hilir, semoga dapat memberikan sedikit gambaran yang terjadi saat ini. Saya awali dengan, dunia penerbitan itu sendiri, dimana dunia penerbitan adalah dunia bisnis semata, yang tentunya diikuti dengan idealisme di dalamnya.

Dalam dunia bisnis, nomor satu yang dicari adalah keuntungan atau dapat dikatakan berujung pada Duit atau UUD (ujung-ujung nya Duit) dalam hal ini penjualan buku untuk bisnis penerbitan.

Pandemi ini betul-betul meluluh lantakkan semua bisnis, walaupun tidak semuanya terdampak, akan tetapi dunia penerbitan menjadi salah satu terdampak yang cukup signifikan. Pada bulan Januari  sampai Februari, omzet toko buku masih sangat normal, dan tidak ada tanda-tanda terjadinya pusaran badai yang tidak terduga. Setelah pak Jokowi mengumumkan masuknya Corona di Indonesia, benih badai besar ini benar-benar telah tersemai, dan membesar dengan deret multiplikasi yang luar biasa. Menjadikan semua lini kegiatan mendadak terhenti. Laju bisnis yang tadinya masuk di gigi 5, mendadak harus mengerem dan mengganti gigi ke gigi paling rendah yaitu 1. Dan terkadang harus memarkirkan bisnisnya sementara waktu, sambil melihat keadaan.

Dengan berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia, memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop, artinya terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas hanya berkisar 80-90% penurunannya. Outlet yang tertutup, menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku, hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di toko buku.

Setelah 3 bulan parkir di Pitstop, tampaknya secercah harapan muncul di tengah badai yang tidak menentu, setelah beberpa daerah telah memetakan pandemi dengan baik, dan mencoba berani untuk bergerak. Di bulan juni-juli, saat ini dapat dikatakan Gramedia sebagai outlet toko buku telah mulai membuka gerainya hingga mencapi angka di 80% di seluruh Indonesia, berakibat bergeraknya kembali semangat penerbit-penerbit untuk memulai New Normal. Rebound yang terjadi ini menuntut penerbit untuk dengan cepat memutuskan apakah melaju kembali ataukan menunggu terlebih dahulu keadaan menjadi lebih pasti.

Melaju, tentunya butuh dana, sementara roda cash flow hampir terhenti 2 bulan hingga 3 bulan, sehingga gambling keadaan pun terjadi. Banyak penerbit yang telah kehabisan nafas, sehingga tetap memutuskan untuk memarkirkan bisnisnya sambil menunggu keadaan. Sementara, penerbit jika tidak mengambil kesempatan untuk mengisi pasar, tentunya akan semakin terpuruk. Penerbit dapat memetakan buku-buku apa yang masih dapat dikembangkan saat keadaan chaos seperti ini.

Pengalaman kami, identifikasi tema buku menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Kami beruntung tema-tema yang upto date mengenai virus corona, telah kami tebar ke penulis-penulis kami sebelumnya, sehingga dengan cepat kami mendapatkan bahan-bahan buku-buku yang berkaitan dengan virus dengan cepat.

Kesiapan penulis, dalam menuliskan materi dalam sebuah buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih belum tersedia dengan mudah. Kami mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga dengan cepat kita mengidentifikasi siapa penulis yang berkompeten di bidang ini, Dan dengan cepat kita meramu materi, kemudian kita launch, dan beruntung mendapatkan sambutan yang baik.

Buku-buku pendidikan, juga kita tetap pertahankan produksinya, karena kami yakin buku ini tidak lekang oleh keadaan apapun, sehingga produksi buku kita konsentrasikan ke buku pendidikan yang mempunyai pasar yang sangat stabil setiap tahunnya.

Keputusan-keputusan strategik diperlukan, mengingat ketidak pastian yang sangat besar untuk memproduksi buku. Kami memarkirkan mesin-mesin kami hampir 50%, untuk mengurangi beban biaya produksi, otomatis tenaga kerja yang menggerakkannya kami kurangi jam kerjanya walaupun tidak begitu drastis.

Banyak hikmah yang didapat kali ini, di sisi penulis, penulis harus selalu siap untuk mendapatkan peluang yang mungkin tidak diperkirakan sebelumnya. Penguasaan materi, penguasaan penguraian materi, eksekusi penulisan, hingga penawaran ke penerbitan diperlukan kelihaian tertentu. Penulis yang siap menerima kesempatan ini, adalah penulis yang selalu berlatih untuk selalu mengeluarkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan yang dapat dibaca oleh pembacanya. Tentunya dengan terstruktur baik, dan tidak ada distorsi makna yang sampai ke pembacanya.

Media WA yang dikelola oom Jay ini, merupakan latihan yang luar biasa bagus sekali, untuk menyiapkan keahlian kita dalam mengungkapan apa yang kita pikirkan, ke dalam tulisan yang dibaca, diinterpretasi oleh pembaca tulisan kita. Semua perlu proses, latihan, dan kemauan. Sehingga komunitas belajar menulis seperti ini, merupakan sarana latihan dalam menangkap peluang yang mungkin tidak selalu ada. Menulis perlu latihan, latihan perlu waktu perulangan secara rekursif (looping) berkali-kalai sehingga bapak ibu akan semakin lihai dalam mengolah kata yang dirangkai dalam tulisan.

Bakat hanya 1%, sisanya adalah kerja keras, tekun dan berlatih menulis. Blog adalah jalur yang sangat bagus untuk bapak ibu mulai menulis, karena di dalam blog. Tidak ada penolakan kejam seperti penerbit menolak tulisan yang bapak ibu tawarkan. Penerbit akan selalau melihat sisi ekonomi dalam setiap tulisan bapak ibu sekalian, sehingga kemurnian keputusannya di dasarkan oleh bisnis semata.Sehingga terkadang tulisan bapak ibu yang luar biasa, tidak terlihat oleh penerbit yang hanya melihat business process nya saja, bukan writing processnya.

Dengan sudut pandang ini, bapak ibu perlu sedikit berempati kepada penerbit yang merupakan penjual komoditas tulisan ini. Empati yang harus dilakukan adalah, mencoba melihat visi misi penerbitannya. Kebiasaan tema-tema yang diterbitkan oleh penerbit. Intip juga buku-buku best sellernya yang biasanya dipampang di toko buku di rak Best Seller.

Perlu bapak ibu ketahui rahasia ini, bahwa tidak ada buku best seller by design. Atau dirancang, didesain untuk laku keras. Buku yang laku keras adalah buku yang blessing. Kami pernah melakukan perencanaan matang, untuk membuat buku yang best seller. Kami memilih tema yang luar biasa bebobot, penulis yang cukup disegani karena menang penghargaan di dunia internasional. Kami push pemasaran dengan luar biasa. Akan tetapi hasilnya cukup mengecewakan.

Laskar pelangi.. saat awal terbit, penulis tidak menyangkan akan meledak. Di awal pemasarannya, sungguh mengecewakan... dan meledak karena kekuatan word of mouth, alias dari mulit-kemulut.. dari komunitas satu ke komunitas lain. dan di trigger dengan sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka yaitu Muktamar Muhammadiyah...dan terjadilah ledakan viral.. menjadikan buku tersebut best seller... tidak ada desain awal, tidak ada perencanaan untuk menuju best seller...

Dengan berbagai pengalaman ini, komunitas senasib sepenanggungan adalah wahana yang baik dalam mengelola tulisan. Dapat kami katakan pejuang literasi yang puritan seperti Oom Jay ini dapat memberikan angin segar untuk tumbuhnya penulis-penulis baru. Yang tangguh dan tidak cengeng dengan penolakan penerbit, akan tetapi tetap berkarya hingga menghasilkan tulisan yang khas. Punya karakter sendiri dan tentunya di tunggu kehadirannya oleh pembaca dan penerbit tentunya.

Bapak ibu dapat mulai tulisan dengan tema yang bapak/ibu sukai dan betul-betul bapak ibu kuasai. Tulis dengan terstruktur, dan muat di blog pribadi dan sebarkan di lingkungan teman.

Jika sudah Percaya Diri, buatlah proposal ke penerbit yang isinya garis besar tulisan yang dapat ditawarkan ke penerbit. Penerbit akan melihat Tema, Judul Utama, Outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku (harga, usia pembaca, gender, pendidikan, dll). Jangan lupa berikan alasan mengapa buku tersebut ditulis. Bapak ibu dapat sedikit "Ngecap" supaya penerbit tertarik dengan tulisan ibu.

Penerbit bukan maha tahu, bapak ibu sekalian, penerbit di dasarkan pada data historis penjualan. Jadi penerbit itu tidak selalu benar. Penerbit biasanya agak sedikit kurang berani dengan penulis-penulis perintis dengan tema yang berlum terekam di datanya. Sehingga proposal ini sangat perlu bapak ibu beri perhatian, untuk menyadarkan penerbit akan tema yang bapak ibu angkat dalam tulisan ibu. Tulislah rencana penulisan bapak ibu, dengan target market yang dituju, syukur-syukur bapak ibu tawarkan rancangan pemasarannya. Pemasaran era new normal sangat berbeda dengan era normal sebelumnya.

Ke depan buku-buku mungkin akan disalurkan ke media e-book, untuk media printing offline mungkin akan semakin berkurang jumlahnya.  Ke depan media-media selain buku akan semain banyak menghiasi dunia pendidikan. Persiapkan hal ini dengan baik, karena hal ini membutuhkan keahlian yang berbeda dengan sebelumnya.

Sebelum menutup materi saya dan dilanjutkan dengan tanya jawab, kami ingin mengajak bapak ibu sekalian untuk tetap mendokumentasikan pencarian keilmuan bapak ibu sekalian. Dengan dokumentasi yang terstruktur, pembaca akan dapat mewarisi ilmu bapak ibu dan bahkan mengembangkannya di kemudian hari. Ilmu bapak ibu akan menjadi Immortal tidak lekang oleh keadaan jaman, dan selalu dikenang menjadikan legacy ke anak cucu kita. Dokumentasi bapak ibu sekalian dalam bentuk buku akan kami kirimkan ke Perpustakaan Nasional bagian deposit, yang dilindungi oleh undang-undang. Anak cucu kita di masa yang akan datang, akan dapat menelusuri jejak langkan dokumentasi bapak ibu dalam bentuk tulisan dan menuju keabadian.

Sesi Tanya Jawab

1.      Berapa lama proses untuk menerbitkan buku? Bagaimana caranya untuk membuat buku jika sudah memiliki file yang akan dibukukan, haruskah diedit dan dicaver dahulu?

Jawab : Proses Review 1 bulan, Proses Editing 1 Bulan, Proses Pra Produksi layotu cover adalah 1 bulan, PRoses produksi 1 bulan. Penulis menyerahkan dalam bentuk file Word, tidak perlu membuat cover karena cover akan dibuat oleh team desain penerbit

2. Bagaimana sistematika penulisannya? Jawab : Proposal isinya adalah: Judul Buku, Outline Rencana Buku dalam bantuk bab dan sub bab, Sinopsis Buku, CV Penulis. Sertakan pula sampel bab yang sudah ditulis minimal 1 bab, sehingga memudahkan bagian editorial memerkirakan kemampuan editing mandiri penulisnya.

3.  Jenis buku apa saja yang diterbitkan Andi? Jawab : conten buku bebas ya, artinya bisa fiksi, non fiksi atau buku umum. Perbulan kami menerima naskah 150-300 judul, kami biasanya memilih hanya 10-15 persen dari naskah masuk untuk bisa terbit. Pembiayaan ada di penerbit, penulis tidak mengeluarkan biaya apapun.

4. Apakah penerbit Andi menerima permintaan untuk penerbitan modul pembelajaran ? Kalau iya, persyaratan apa saja ? Jawab : Kami menerima modul pembelajaran, dengan syarat sesuai dengan kurikulum. Pembiayaan ada di penerbit, penulis tidak mengeluarkan biaya apapun.

5. Untuk royalti atau bagi hasil untuk penulis berapa? Royalty sebesar 10% dari harga jual, yang akan dibayarkan setiap 6 bulan. Penulis mendapatkan sampel 6 eksemplar

Ke depan kami akan membuat apps untuk menuliskan proposal sehingga bapak ibu dapat menulikan lewat gadget perencanaan penulisan. Semoga bisa terwujud, untuk memudahkan menampung proposal yang sangat banyak setiap bulannya.Kanal e-book akan kami buka produksinya melalui Google Play/ Google Books sehingga semoga tingkat penerimaan naskah akan semakin besar dengan outlet ebook.

Ayo teman-teman guru...kita menulis dan kita bagikan ke orang lain dalam bentuk buku yang kita terbitkan. Sehingga kita tidak hanya mendapat kepuasan batiniah tetapi juga mendapat rupiah. Sudahkah kita punya naskah ??

Sabtu, 04 Juli 2020

KUNCI PRODUKTIF MENULIS

KUNCI PRODUKTIF MENULIS

            Kita sebagai guru tentu tidak terlepas dari kegiatan menulis. Setiap hari kita menulis. Entah menulis materi pembelajaran, menulis soal ulangan, menulis lembar kerja siswa dan lain sebagainya. Sebenarnya kita semua adalah penulis. Coba tengok ke belakang. Sebelum kita menjadi sarjana, salah satu  syarat agar lulus sarjana adalah harus melewati pembuatan skripsi. Nah..tentu sudah ratusan bahkan ribuan halaman sudah kita tulis sampai hari ini. Jadi mengapa kita katakan tidak bisa menulis? Kita klaim diri kita sendiri bahwa kita adalah penulis.

            Pemateri kuliah “Belajar Menulis” malam hari ini hari yang ke-15 adalah Dr. Ngainun Naim, lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975, seorang dosen di IAIN Tulungagung  dan penulis yang sudah menerbitkan puluhan karya berupa buku ataupun jurnal. Berikut ini resume materinya...Kita simak ya..

Beliau  mengawali paparannya dengan satu pendapat bahwa guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan. Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajarnya juga berkualitas. Tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan. Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis. Seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis memiliki peluang untuk semakin meningkat kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak karya yang dihasilkan, maka akan memiliki kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.

Beliau menyampaikan tentang KUNCI-KUNCI PENTING DALAM MENULIS. Kunci itu alat untuk membuka. Alat yang bisa menjadikan kita produktif dalam menulis. Kunci tersebut adalah :.   

  1. Motivasi : karier, materi, politik, cinta/suka Karena kita sebagai pendidik tentunya punya motivasi menulis untuk karier kita, meski bisa juga ada motivasi lain, misal memang hobi menulis atau menulis untuk mendapatkan uang atau bertujuan politik.

2.  Meyakini bahwa menulis itu anugerah. Mau dan mampu menulis itu anugerah. Banyak orang yang mau menulis tapi tidak mampu mengerjakannya; bisa karena kesibukan atau sejuta alasan lainnya. Banyak yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Karena itulah bisa menulis baginya adalah anugerah luar biasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan terus menulis. Mengapa kok masih ada guru yang kesulitan? Ada beberapa kemungkinan;

a. Selama kuliah spesial menjadi anggota kelompok yang tidak pernah menulis  makalah. Biasanya ini yang spesial membiayai foto kopi

            b.  tidak menulis karena dibuatkan orang lain.

c. menulis dengan melakukan “kanibal” tulisan orang lain. Misalnya mendapatkan bahan di googe lalu dipotong sana-sini sampai berbentuk layaknya tulisan.

d. begitu mendapatkan tugas langsung berburu referensi. Tidak berpikir apa yang harus ditulis. Begitu referensi didapatkan segera dibuka, diketik, lalu tutup. Ganti referensi berikutnya, dibuka, diketik, lalu tutup. Tugas penulis biasanya di akhir kutipan: “Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan...”

Menulis itu membuat kita menjadi berbeda dibandingkan kawan-kawan yang lainnya. Sesederhana apa pun buku yang kita hasilkan itu tetap memiliki kontribusi penting. Jangan dengarkan nyinyiran yang tidak konstruktif. Selama kita terus menulis maka akan menjadikan kita sebagai makhluk yang berbeda dengan kawan-kawan lainnya.

3.       Menulis memberi banyak keajaiban dalam hidup. Contoh Pak Wijaya Kusumah--Omjay-- seorang bloger, youtuber dan guru kita semua, mengatakan bahwa menulis setiap hari itu telah memberikan keajaiban dalam kehidupan yaitu :

a.       mendapatkan banyak materi. Karena rajin menulis, bukunya mendapatkan banyak royaliti

b.      sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum

c.       memiliki banyak teman

d.      bisa membeli peralatan yang dibutuhkan dalam kehidupan

e.       tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib.

4.       Tidak mudah menyerah. Banyak orang ingin menulis, tentu termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun. Saat ikut kegiatan kepenulisan semacam ini, semangat menulisnya berapi-api. Tetapi saat kembali ke dunia nyata, ke dunia kehidupan sehari-hari, semangat itu perlahan tetapi pasti memudar dan akhirnya hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali. Menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali.

5.      Berjejaring. Jadi penulis jangan menepi. Memang saat sekarang kita harus menepi karena Corona, tetapi bukan berarti tidak berinteraksi. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut kegiatan semacam ini juga dalam rangka berjejaring.

6.      Menulis sebanyak-banyaknya. Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika Anda merasa tulisan Anda tidak baik maka dengan menulis setiap hari tulisan Anda akan otomatis menjadi baik.

Di akhir materi beliau mengungkap ada 4 jenis malu dalam menulis:

a.       malu untuk menulis. Tidak akan bisa menulis.

b.      malu kalau menulis dan tulisannya dibaca orang.

c.       malu sudah mulai hilang. Pokoknya nulis.

d.      malu tidak menulis..

Nah... sahabat guru yang hebat, tunjukkan kehebatan menulismu. Jadikan karyamu berbeda dari orang lain. Mari kita berproduktif menulis ! Menulislah setiap hari !!

 

 

 



Kamis, 02 Juli 2020

Jangan Takut Menulis


Penulis bisa dikunjungi melalui:                          

1. Email : firmansmuhammad@gmail.com

2. IG : @firmansuwarya,

3. Facebook : Muhammad Firman Suwarya,

4. Blog : gubuginformatika.blogspot.com,

5. Youtube :  Youtube.com/c/firmansuwarya


Jangan Takut Menulis

Menulis  cepat. Apa saja yang mucul di kepala, kita tuangkan dalam kalimat. Tidak usah menunggu lama. Segera. Lakukan menulis. Itu adalah cara cepat bagaimana kita mau bisa menulis. Mengejar target, memotivasi diri, agar terus menulis. Tidak harus yang berbobot, menunggu ide yang  cemerlang, apakah tulisan nanti bagus atau tidak, salah atau tidak...yang penting kita tulis dulu, baru nanti saat pengeditan, kita temukan ada yang salah ketik, antar paragraf tidak nyambung, nemu ide baru..nah kita edit supaya tulisan kita rapi, sistematik, runtut, enak dibaca dan seterusnya.

Narasumber “Belajar Menulis” hari ke-14 adalah seorang guru TIK SMP Negeri  Unggulan Indramayu yaitu Muhammad Firman Suwarya, M.Kom. Beliau salah penulis buku informatika jenjang SMP dan penulis buku lainnya. Berikut adalah resumenya dengan topik “ Freewriting” .

 Freewriting yaitu teknik menulis  cepat tanpa hambatan..Di awal materinya beliau mengatakan, “Jika saya tantang anda menulis 1 hari 5 lembar dalam 30 hari, kira2 sanggup ga ya? Jika anda berani konsisten menulis 5 lembar perhari, sya yakin bapak ibu akan menjadi seorang penulis yang handal dan produktif.”

Secara umum memang menulis sebanyak 5 halaman itu memutuhkan waktu berjam-jam belum lagi nanti efeknya ketemu dengan rasa bosan yang membelenggu..dan itu memang penyakit hampir menghinggapi hampir semua penulis baik yang baru belajar nulis seperti saya ataupun mungkin penuis yang sudah menjadi penulis handal.. Bahaya penyakit ini adalah bisanya diawali menyerang ke pikiran, cirinya tiba-tiba ide yang kita punya hilang entah kemana..lalu bingung harus nulis apa lagi, puyeng, dan serentetan penyakit sejenis lainnya..hingga dampak endingnya yaitu kita akan capek, lelah, malas untuk menulis...

Terkadang saat malas menghinggapi, ketika mau nulis lagi, tiba-tiba mendadak mendapatkan ide yang baru, lalu kita mulai menulis, lalu apa yang terjadi...? Ditengah jalan sebelum ide baru yang menurut kita lebih bagus itu belum selesai ditulis, tiba-tiba muncul ide baru lagi,..ya.... alasan dan pikiran kita sama seperti pertama, yaitu ide baru tersebut lebih lebih dan lebih bagus dari ide pertama...Ide yang mana..? Ya, ide tadi yang katanya bagus, yang belum selesai ditulis juga...

dan terus seperti itu  mandeg lagi, mandeg lagi...tidak ada kelar-kelarnya...dan kondisi seperti itu dalam dunia kepenulisan biasa disebut dengan Lingkaran Setan Kebuntuan...Terkadang, mulai menulis lagi, menulis lagi tapi ya... tadi tidak ada yang selesai...tidak ada karya yang bisa dihasilkan....!!! Akhirnya apa? Mungkin bisa stress...lalu bagaimana? Jangan-jangan saya tidak ada bakat untuk menjadi penulis...

Sejak mengenal freewriting saya terbebas dari hal-hal tersebut, walau tidak langsung begitu keluar dan lolos dari penyakit-penyakit yang menimpa seorang penulis...Lalu bagaimana memahami dan menerapkan freewriting ini..?

Langkah pertama yang harus kita lakukan supaya bisa freewriting kira kira apa? Segera tulis ide yang muncul. Segera tulis, dan tulis sebelum ide itu hilang.. Menulis ide yang muncul itu sangat mudah kapan dan dimanapun, pokoknya tulis. Solusinya sederhana sebenarnya namun harus yakin..Ide muncul langsung tulis, sampai ending ide itu dimana, pokoknya ditulis. Yang lupa, lewat aja...jika situasi tidak memungkinkan.. baru kita cek dan ricek..

Menyangkut situasi ini berkaitan dengan waktu, maka kita harus menyiapkan atau meluangkan waktu..jangan memanfaatkan waktu luang!! Tapi kita harus meluangkan waktu.. yang kita memungkinkan untuk itu dilaksanakn secara kontinyu terus menerus..Gak usah lama-lama, misal 30 sampai 60 menit setiap harinya...

Berawal dari sulitnya menemukan ide yang pas, dan kira-kira bagus gak ya untuk di baca...Kira-kira mau nulis ini, bener gak ya..? Mau nulis itu benar gak ya..? Bagus gak? Nanti gimana kalau jelek? Pokoknya komplit dehhh permasalahan pada awal mencari ide...Sampai-sampai harus konsul dengan teman dan lain sebagainya...hingga menemukan suatu kekuatan berupa komitmen bahwa...jelek, kurang bagus, bagus, atau sejenisnya pokoknya ditulis...baru kemudian dari situ mulai dari bagaimana membuat outline...Outline secara garis besar pokoknya harus selesai...kemudian setelah outline jadi.... dengan suatu catatan bahwa outline hanya secara garis besar saja, dalam perjalanannya kemungkinan akan mengalami perkembangan dan sejenisnya..Selanjutnya menulis satu persatu... dengan alokasi waktu yang saya luangkan..

Menulis tentang apa? Ide yang bagaimana? Tentu saja ide yang paling kita  kenal dan kita kuasai..sehingga nanti eksekusi ide akan ditulis dengan hati...dan itulah kuncinya,  jika kita menulis dengan hati biasanya akan mampu menyentuh hati pembaca...

Wah...ada pencerahan dari narasumber ini. Topik sederhana freewriting namun memberikan solusi buat kita semua..karena hal ini memang sering kita alami. Ayo, teman-teman guru..jangan takut memulai untuk menulis, menuang ide-ide dalam untaian kata demi kata dan membentuk paragraf. Selamat berkarya! Selamat menuang ide! Semangat berliterasi !!

 

Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...