Sabtu, 15 Januari 2022

Baiti Jannati (3)


 Alasanku mutasi dari SMP Negeri 20 ke SMP Negeri 42 Semarang adalah mendekati rumah, selain kekurangan jumlah jam mengajar di sana.Dengan jumlah jam mengajar hanya 5 jam per minggu, sementara ada banyak guru IPA di sana menjadikan aku harus mutasi ke SMP Negeri 42 yang terletak di jalan Klipang Raya. SMP Negeri 42 Semarang ini mulai berdiri dan menerima siswa baru Tahun Pelajaran 2015/2016.

SMP yang baru dibuka dan pembangunan gedungnya baru sampai tahap 50 % ini memgharuskan kami, guru-gurunya yang hanya berjumlah 7 orang, tanpa tenaga kependidikan, tanpa kepala sekolah, karena masih menginduk di SMP Negeri 29 ini, harus babad alas (membuka lahan baru) untuk menjadikan sekolah ini sejajar dengan SMP Negeri yang lain di Kota Semarang. Karakter, pembiasaan, operasional, struktur kurikulum dan kegiatan lainnya dimulai dari nol dan kita harus membuat program bagaimana visi dan misi sekolah ini mau dibangun dan dibawa kemana.

Di tahun pertama dimana arah dan tujuan dari visi dan misi sekolah ini sudah ditetapkan dan kita harus bekerja keras membentuk pembiasaan dan menjalankan semua yang sudah kita programkan, dedikasi dan semangat guru yang luar biasa menjadikan sekolah ini mulai mendapat perhatian dari pemkot dan masyarakat sekitar. Memasuki awal tahun kedua, pembangunan gedung SMP Negeri 42 sudah finish dan mendapat Kepala Sekolah baru dan tendik yang siap membawa amanah memajukan sekolah ini .

Jumlah jam mengajar yang padat, 30 jam per minggu, dengan tambahan sebagai wali kelas dan menjadi bendahara Pendamping BOS dan BOS membuat kesibukanku amat sangat dan luar biasa. Aku sering lembur sampai maghrib karena harus menyelesaikan tugas sebagai bendahara sekolah, bahkan di akhir tahun anggaran pulang pukul 21.00 atau 22.00 sudah biasa. Namun semua ini aku syukuri sebagai karunia yang Allah berikan padaku. Jarak rumah sekolah yang hanya ditempuh dalam waktu 5 menit tanpa macet dan kemrungsung menjadikanku enjoy menyelesaikan semua tugas sekolahDi sisi yang lain, godaan datang dan mulai menggoyahkan keimananku.

Usiaku 45 tahun, dengan kesibukan ini hampir saja merusak hubugan suami istri antara aku dan Mas Aro. Hampir sebagian waktu kuhabiskan untuk sekolah. Berangkat pagi pukul 07.00 sudah siap di sekolah. Aktivitas rutin hingga pukul 14.00 WIB selebihnya tugas adminsitrasi mulai dari membuat laporan keuangan P BOS atau BOS, memantau pengadaan barang, hingga harus menghadiri rapat dinas di Dinas Pendidikan atau di Pemkot membuatku lelah fisik dan pikiran. Maka tak heran setelah sampai rumah tentu setelah sholat aku langsung tidur dan terlelap hingga pagi. terkadang bangu tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar.

Aktiviatas harianku menjadikanku ‘gila kerja’. Aku hampir tak ada waktu buat anak-anakku yang kala itu Alif duduk di bangku SMA dan Huda masih SMP, apalagi waktu untuk suami. Aku jarang menanyakan keadaan mereka di sekolah hari itu, apa yang mereka dapat di hari itu apalagi mendampinginya belajar. Anak-anak kutuntut bisa mandiri dan tidak bergantung pada ibunya. Secara materi semua tercukupi, uang, pakaian, apa yang mereka minta aku selalu memenuhinya. Namun aku lupa bahwa mereka masih anakku yang perlu kasih sayang tidak hanya kebutuhan materi saja, tapi juga butuh perhatian dari ibunya. Dan perselisihan pendapat, salah paham antara aku dan mas Aro, mulai memantik, menyulut api.

bersambung…

Baiti Jannati (2)


Selain mengajar di SMP Filial 20 Semarang  aku juga mengajar di SMA Negeri 10 Semarang. Ini kulalukan karena jatah mengajar di SMP Negeri 20 hanya 5 jam pelajaran. Memang aku rasakan ada diskrimasi antara guru senior dan guru yunior di sini, Guru senior berlomba untuk mendapatkan jam mengajar minimal 24 agar tunjangan sertifikasi lancar. Sedang guru yunior hanya bisa pasrah dan ”trimo ing pandum” (ikhlas menerima apa yang diberikan). Bila ini terus terjadi maka aku tidak bisa naik pangkat, dan nilai DP3 akan turun.

Mengajar siswa SMA  berbeda dengan mengajar siswa SMP. Selain karena siswa SMA sudah mandiri, tidak kekanak-kanakan,usia mereka sudah bukan anak-anak lagi. Jadi mereka bertanggung jawab pada masa depannya, lebih mudah untuk mengontrol emosinya dan sudah memikirkan ke depan, mau kemana setelah lulus SMA. Mengajar SMA metode dan pendekatan yang dilakukan juga berbeda, lebih banyak ke arah penerapan, diskusi praktis sejalan dengan perkembangan usia mereka yang bukan anak-anak lagi. kita sebagai guru memposisikan diri sebagai agen perubahan dengan menempatkan mereka sebagai pelaku perubahan.

Sedangkan siswa SMP adalah masa peralihan antara usia anak-anak dan usia remaja dimana pada masa ini mereka masih mencari jati diri, belum stabil emosinya, mudah tersinggung dan belum memikirkan dunia kerja apalagi masa depan. Menghadapi kenakalan remaja SMP, menyelami dunia mereka gampang-gampang susah meski problem mereka belum sekompleks remaja SMA. Kenakalan remaja SMP bila tidak diarahkan dan didampingi dengan intens bisa lebih serius karena rasa ingin tahunya dan ingin ‘mencoba’ lebih besar dibanding remaja SMA.

Beberapa siswa SMAN 10 adalah mantan siswaku di SMP 20. Saat mereka tahu aku juga juga mengajaar di SMA 10, mereka senang, ada pula yang cuek, seolah-olah belum pernah mengenal aku sebagai gurunya. Duuh..anak sekarang nilai karakternya. Bila tidak disapa duluan mereka tidak mau menyapa.  Namun hal ini tak kubiarkan, karena waktu di SMP dulu kuajarkan sikap untuk menghormati guru dimanapun berada, dan  ini harus kuingatkan lagi.

Di SMAN 10 ini lingkungan belajar yang kondusif, komunitas pendidik dan tendiknya yang ramah, wellbeing dan saling menghormati dan mau berbagi menjadikan aku betah dan lebih bersemangat mengajar di sini daripada di satmingkalku di SMPN 20. Memang SMPN 20 dan SMAN 10 bersebelahan, jadi kapan saja aku mau bisa di SMP atau di SMA. Dan SMAN 10 ini banyak pengalaman baru yang kudapat, selain setiap hari ada briefing sebelum pembelajaran dimulai, kegiatan ekstrakurikuler yang lebih beragam, juga kegiatan intrakurikuler kewirausahaan yang menjadi branding sekolah ini yaitu budidaya lele mulai dari pembenihan, pembuatan  pakan sampai pemasaran hasil menarik untuk kupelajari.

Meski jam mengajarku di SMA ini tidak relevan dengan sertifikat PLPG yang aku ounya, setidaknya aku bisa mengabdi, mendapat ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Bukan semata-mata mengejar finansi tapi aku mendapat banyak teman dan saudara di sini. Namun sayang, setelah ada pembukaan SMP negeri baru di ujung timur Kota Semarang dan aku lolos seleksi, maka SMAN 10 pun kutinggalkan dan menjadi salah satu catatan sejarah bahwa aku pernah mengabdi di sana, menebar ilmu dan berkarya di sana. 

Baiti Jannati


Menjadi guru wiyata bakti di SMP Negeri 20 kujalani selama 7 tahun baru diangkat menjadi guru honorer dengan gaji yang lebih baik dari sebelumnya. Mas Aro juga sudah mendapatkan pekerjaan sebagai sopir di salah satu kantor di LPMP Undip. Alhamdulillah meski kami baru tenaga honorer, namun semua ini kami syukuri karena sudah mendapat pekerjaan tetap. Sedikit demi sedikit kami bisa mengumpulkan uang dan mulai mengambil cicilan motor karena jarak tempat kerja dan rumah kami lumayan jauh .Apalagi aku harus mengajar di Filial 20 yang jaraknya kurang lebi 20 km dari rumah. Tentu saja waktu akan habis di perjalanan bila naik angkot.

Filial adalah sekolah binaan dari SMP Negeri 20 yang letaknya agak jauh dari induk SMP Negeri 20. Sekolah Filial ini diperuntukan bagi anak-anak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Awalnya anak-anak yang bersekolah di sini adalah anak-anak yang putus sekolah, dari keluarga kurang mampu, anak-anak yang belajar dan bekerja, dan anak-anak dari latar belakang broken home. Mereka tidak dibebankan biaya, pergi sekolah ada yang tidak berseragam, ada yang tidak bersepatu, bahkan sekolah yang memberikan bantuan kepada mereka.

Guru-guru yang mengajar di Filial ini adalah guru-guru hebat yang dengan pengabdian luar biasa membentuk karakter dan mencerdaskan anak-anak tanpa mengenal lelah. Meski beberapa anak putus di tengah perjalanan mereka menuntaskan program Pendidikan Wajar Sembilan Tahun, namun patut diacungi jempol bahwa mayarakat sekitar sekolah Filial sudah mulai mendapat kebermanfaatan adanya sekolah ini di sana. Dan masyarakat sekitar mulai menerima sekolah ini, terbukti dari tahun ke tahun sekolah ini mempunyai cukup murid meski hanya satu rombel. Bila sebelumnya untuk mendapatkan satu rombel kelas dengan jumlah siswa 20 anak saja sudah bagus, sekarang lebih dari 30 anak. Meski tapa seleksi, karena berapapun usia  (maksimum 18 tahun) dan tahun lulusnya, di Filial pasti akan diterima.

Suka duka mengajar di Filial ini banyak kurasakan. Siswa-siswinya yang masih lugu, latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga yang rendah, fasilitas yang seadanya menjadikan sekolah ini “hidup segan mati tak mau”. Guru-guru yang mengajar di sini adalah guru-guru yang juga mengajar di SMP  Negeri 20 yang kadang-kadang membandingkan dan lebih memilih mengajar di SMP Negeri 20. Kurangnya perhatian  dari pemerintah kota dan juga birokrasi yang panjang menjadikan bantuan yang seharusnya diterima untuk memajukan sekolah ini menjadi terhambat. Kami yang mengajar di SMP Filial ini dipandang sebelah mata oleh teman-teman guru di SMP Negeri 20 dan dianggap Filial adalah anak tiri. Memang SMP Filial belum mempunyai NPSN dan Kepala Sekolahnya menjadi satu dengan SMP Negeri 20 sehingga segala administrasi dan operasionalnya di bawah satu naungan SMP Negeri 20.

Tahun 2013 muncul kebijakan baru dari Kepala Sekolah dimana segala administrasi dan operasional SMP Filial dikelola sendiri meski  masih dalam binaan SMP Negeri 20. Wakil Kepala Sekolah ditunjuk dan ditempatkan di SMP Filial untuk mengatur kebijakan sendiri dan membenahi semua lini baik bidang intrakurikuler maupun ekstrakurikuler dan menjalankan Delapan Standar Pendidikan yang semuanya bertujuan mengembangkan dan memajukan SMP Filial. Alhamdulillah kini penambahan RKB dan ruangan keterampilan, ruang laboratorium dan sarana prasarana lain mulai dikejar. Semoga ke depan SMP Filial sejajar dengan SMP nergeri yang lain di Kota Semarang dan memiliki branding yang diperhitungkan di masyarakat. Sehingga anak-anak yang bersekolah di SMP Filial tidak minder dan bangga dengan almamaternya.

 

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (7)


Sepuluh hari aku harus dirawat di RSU KMRT Wongonegoro. Meski masih agak pusing dan harus belajar menjaga keseimbangan tubuh, dokter sudah mengizinkan aku pulang ke rumah. Seminggu sekali kontrol dan rutin minum obat. Aku harus belajar untuk mengalahkan vertigo ini.

Aku mulai belajar duduk, pelan-pelan bangun sambil berpegangan pada sisi ranjang tidur. Dan belajar berbaring dengan posisi miring dan mata terpejam. Saat akan membaringkan tubuh selalu kepala ini berputar dan berputar. Tapi ini semua mau tidak mau harus kenikmati dan sedikit demi sedikit aku harus mampu menahan mual dan serangan putaran-putaran di kepalaku. Karena aku belum  bisa beraktivitas normal, maka ibu mertua diajak Mas Aro ke rumah, untuk merawat aku dan menjaga  anak-anakku.

Hari-hari kurasakan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Bangun, duduk dan tertatih-tatih belajar berjalan. Namun aku selalu bersyukur akan kehidupan  kedua yang kualami ini. Ya, aku diberi kesempatan hidup yang kedua. Aku mulai belajar sholat dengan duduk, sedikit demi sedikit mencoba berdiri dan ruku, belajar sujud dan bangun dari sujud,meski harus berjuang melawan sakit ini.

Aku ingin sembuh, Aku ingin hidup normal seperti dulu. Aku ingin melayani anak-anak dan suami dengan baik. Aku harus berjuang dan harus sembuh. Kasihan Mas Aro selama tiga bulan ini dia harus puasa karena aku tidak bisa melayaninya. Dan masa cuti sakitku pun telah habis. Aku harus kembali mengajar. karena belum berani naik motor maka aku langganan ojek untuk mengantar dan menjemputku pulang. Dan, Alhamdulillah pihak sekolah memberi keringanan padaku dengan mengajar sampai pukul 10 saja.

Setelah kurang lebih tiga bulan, aku sudah mulai bisa berjalan normal, sudah bisa beraktivitas, sudah bisa melayani suami. Ya, Allah terima kasih, Engkau telah memberi kesempatan aku untuk hidup yang kedua, Engkau memberi aku seorang suami yang penyabar, dan mertua yang baik yang telaten merawat aku dan anak-anak selama aku sakit. Ya, Allah semoga Mas Aro tak berhenti untuk selalu mencintaiku, kami saling mengerti dan saling menyayangi. Masa sakit ini memberi banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kami petik. Ya, Allah Engkau Maha Pemurah, memberi kesempatan kami untuk saling menguji sampai seberapa kesetiaan dan kadar cinta kami. Dan cinta bukan lagi pelampiasan nafsu, tapi cinta  lebih dari menyayangi dan menumbuhkan kasih yang tertanam erat,  menggenggam,  dan akhirnya memberi kekuatan, mengokohkan rumah tangga kami. Ya, Allah semoga ini selamanya. Amin.

Kamis, 21 Oktober 2021

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (6)


Sepuluh hari aku harus dirawat di RSU KMRT Wongonegoro. Meski masih agak pusing dan harus belajar menjaga keseimbangan tubuh, dokter sudah mengizinkan aku pulang ke rumah. Seminggu sekali kontrol dan rutin minum obat. Aku harus belajar untuk mengalahkan vertigo ini.

Aku mulai belajar duduk, pelan-pelan bangun sambil berpegangan pada sisi ranjang tidur. Dan belajar berbaring dengan posisi miring dan mata terpejam. Saat akan membaringkan tubuh selalu kepala ini berputar dan berputar. Tapi ini semua mau tidak mau harus kenikmati dan sedikit demi sedikit aku harus mampu menahan mual dan serangan putaran-putaran di kepalaku. Karena aku belum  bisa beraktivitas normal, maka ibu mertua diajak Mas Aro ke rumah, untuk merawat aku dan menjaga  anak-anakku.

Hari-hari kurasakan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Bangun, duduk dan tertatih-tatih belajar berjalan. Namun aku selalu bersyukur akan kehidupan  kedua yang kualami ini. Ya, aku diberi kesempatan hidup yang kedua. Aku mulai belajar sholat dengan duduk, sedikit demi sedikit mencoba berdiri dan ruku, belajar sujud dan bangun dari sujud,meski harus berjuang melawan sakit ini.

Aku ingin sembuh, Aku ingin hidup normal seperti dulu. Aku ingin melayani anak-anak dan suami dengan baik. Aku harus berjuang dan harus sembuh. Kasihan Mas Aro selama tiga bulan ini dia harus puasa karena aku tidak bisa melayaninya. Dan masa cuti sakitku pun telah habis. Aku harus kembali mengajar. karena belum berani naik motor maka aku langganan ojek untuk mengantar dan menjemputku pulang. Dan, Alhamdulillah pihak sekolah memberi keringanan padaku dengan mengajar sampai pukul 10 saja.

Setelah kurang lebih tiga bulan, aku sudah mulai bisa berjalan normal, sudah bisa beraktivitas, sudah bisa melayani suami. Ya, Allah terima kasih, Engkau telah memberi kesempatan aku untuk hidup yang kedua, Engkau memberi aku seorang suami yang penyabar, dan mertua yang baik yang telaten merawat aku dan anak-anak selama aku sakit. Ya, Allah semoga Mas Aro tak berhenti untuk selalu mencintaiku, kami saling mengerti dan saling menyayangi. Masa sakit ini memberi banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kami petik. Ya, Allah Engkau Maha Pemurah, memberi kesempatan kami untuk saling menguji sampai seberapa kesetiaan dan kadar cinta kami. Dan cinta bukan lagi pelampiasan nafsu, tapi cinta  lebih dari menyayangi dan menumbuhkan kasih yang tertanam erat,  menggenggam,  dan akhirnya memberi kekuatan, mengokohkan rumah tangga kami. Ya, Allah semoga ini selamanya. Amin.

bersambung...

Kamis, 07 Oktober 2021

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (5)

 


Minggu ini banyak tugas yang harus aku selesaikan. Setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri, tugas sekolah menanti. mempersiapkan pembelajaran dan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan administrasi laboratorium , yang kebetulan minggu depan akan diadakan supervisi laboratorium IPA. 

Rasa kantuk terasa amat menyerang karena semalam memang kurang tidur yang dikarenakan harus berjaga. Suhu badan Huda 38 derajad yang membuatku khawatir dan terus mengkompres dahinya dengan air dan lap yang setiap saat kuganti bila kering. Merawat anak yang sakit mengakibatkan tubuh juga terasa sangat penat, dan aku harus minum obat sakit kapala agar pusingnya berkurang.    

Hari ini Jumat kebetulan jam mengajar lebih awal, pulang pukul 10.00 WIB sehingga aku bisa segera pulang dan memeriksakan Huda ke dokter. Aku khawatir panasnya belum reda saat tadi pagi kutinggal berangkat ke sekolah.Walau tadi pagi sudah minum obat, rasa pusing ini masih agak terasa. 

Setiba di rumah segera kutemui Huda, dan memang panasnya sudah mereda, meski agak pucat, karena  beberapa hari ini memang susah makan. Huda  kuboncengkan dengan motor, dan dia duduk di depan. Belum jauh kami berjalan, tiba-tiba dunia terasa gelap, Aku sudah tak sadarkan diri.

*****

"Dimana aku..?", tersadar dan kepala terasa sangat pusing.  

"Alhamdulillah..Ibu sudah siuman. Tenang bu..Ibu ada di rumah sakit", kata perawat di sampingku.

"Di rumah sakit? Dimana Huda? Tadi dia bersama aku.." Dan dunia terasa gelap tiba-tiba. Aku pingsan lagi. 

Sayup-sayup kudengar dua orang bercakap-cakap tentang  aku namun aku tak mengenalnya. Dalam bawah sadarku, dua orang ini berdebat mempermasalah bahwa aku belum saatnya bersama mereka. Entah mengapa, dan siapa mereka aku tak melihat wajahnya. Yang aku lihat wajah mereka tertutup hoodie (penutup kepala) jaket yang berwarna hitam. Lalu mereka pergi meninggalkanku dan masih terus berdebat tentang aku.

"Ibu, anak ibu ada di IGD. Tapi tidak apa-apa. Dia hanya luka ringan dan sudah pulang", kata perawat itu lagi.

"Alhamdulillah... Allah masih melindungi Dik Nung. Tadi sekitar pukul 11.00 saat kamu memboncengkan Huda, kamu jatuh dari motor saat melintasi di pertigaan jalan depan Balai Bahasa. Bu Kris yang melihat kamu jatuh dan menabrak seorang pengendara motor. Lalu dia yang membawamu ke sini". jelas Mas Aro.

"Jam sebelas tadi? Ini jam setengah lima. Jadi dari tadi aku pingsan, Mas? Huda betul tidak apa-apa?"

"Betul, Bu. Tadi saat saya mau pergi ke pasar, di perempatan SLB depan Balai Bahasa saya lihat ada kecelakaan. Setelah saya dekati ternyata Ibu sama Huda. Segera saya stop angkot yang lewat, saya suruh bawa kemari. Saya coba cari kontak di HP Ibu, barangkali ada nomor yang bisa saya hubungi. Dan Alhamdulillah saya menemukan nomor kontak Pak Aro", kata Bu Kris. 

"Terima kasih, Bu Kris", kataku lemas. Jadi aku nabrak orang? Siapa, Mas?"

"Tidak Bu. Orang itu tadi saya ajak ke IGD sekalian. Tapi kami berpisah karena dia masuk poliklinik umum, sedangkan Huda masuk poliklinik anak. Tetapi kelihatannya dia hanya luka ringan dan mungkin sudah pulang", jelas Bu Kris.

Bu Kris adalah tetangga kami di kompleks perumahan yang sama. Memang perumahan kami terletak di perbukitan di pinggiran kota. Jalan menuju pusat kota melewati pertigaan Sendangmulyo Raya, Jalan Kedungmundu dan jalan Fatmawati menuju ke arah RSU Ketileng memang terkenal angker. Banyak kejadian aneh terjadi di kawasan pertigaan itu. Maka bila orang melewati kawasan itu dianjurkan membawa doa atau sholawat dan membunyikan klakson. 

Antara percaya dan tidak, tapi kejadian ini benar-benar kualami sendiri. Kata Huda anakku, "Mama tadi naik motornya harusnya di jalur kiri, tapi mama ke kanan dan nabrak orang. Muka mama berdarah-darah. Lalu ada ibu-ibu yang nolongin aku."

bersambung...

Rabu, 06 Oktober 2021

Ku Yakin Prahara Akan Berakhir (4)


Awal mulai kehidupan yang lebih baik dan tertata aku rasakan setelah perjalanan pernikahan kami memasuki usia lima tahun kedua. Nuru Huda sudah berumur  tahun, mulai masuk sekolah TK A waktu itu. Usia dimana masa keemasan dalam mencapai perkembangan otak yang maksimal. 

Anakku tumbuh menjadi anak yang tampan. Garis-garis ketampanan wajahnya mulai kelihatan. Dari hidungnya yang mancung, kulitnya bersih, bola matanya hitam berkilat. Bila bicara wajahnya tersungging senyum. Memang dulu aku menginginkan anak kedua ini perempuan, dengan harapan melengkapi sulungku yang laki-laki. Tapi, saat dianugerahi anak kedua laki-laki, ya tidak mengapa. Laki atau perempuan sama, bagiku laki-laki nanti akan membahagiakan kedua orang tuanya terutama ibunya. Karena dalam ajaran Islam, laki-laki harus berbakti pada kedua orang tuanya.dan kehidupan kedua orang tunya menjadi tanggungan anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan harus berbakti pada suaminya. 

Huda bersekolah di TK Bhayangkara yang terletak di Aspol Ketileng. Dia memang ingin bersekolah di sana, karena di TK tersebut pada hari sabtu memakai seragam khusus yaitu seragam polisi. Inilah yang menarik buat anak-anak, karena TK ini memang punya branding bahwa polisi adalah sahabat anak, dimana satu bulan sekali diajarkan tentang kepolisian, misalnya pengenalan rambu-rambu lalu lintas, tata tertib berkendara, tugas pak polisi sebagai aparat kemanan negara dan lain-lain. Tentu dikemas dalam nuansa pembelajaran yang menyenangkan dan gembira bagi anak-anak. dengan tujuan anak-anak tidak takut dengan polisi. 

Huda saat bersekolah di TK Bhayangkara sangat rajin dan selalu bersemangat setiap hari. Apalagi bila hari sabtu tiba. Selalu ada yang diceritakan pada mamanya tentang pembelajaran hari itu. Dia anak yang pemberani dan pintar. Awal masuk sekolah pertama dia tidak usah ditunggui seperti kebanyakan anak-anak lainnya saat baru pertama kali masuk sekolah. Dia mudah bergaul dan banyak omomg. Ini yang membuatnya cepat menyesuaikan diri di tempat yang baru, dan ini sangat membantu aku, karena aku tak perlu repot harus ijin beberapa hari untuk menjaga anak saat hari pertama masuk sekolah.

Setiap pagi aku mengantar Huda ke sekolah karena kebetulan TK Bhayangkara searah jalan ke tempat mengajarku di SMP Negeri 20. Pulangnya aku langganan mobil anatar jemput yang memang melayani rute sekolah-rumah bagi anak-anak yang berekolah di sana. Pak Man adalah sopir mobil antar jemput di sekolah itu yang aku mintai tolong untuk menjaga dan mengantar pulang Huda, Dia orang sabar dan penyayang anak-anak hingga aku tak perlu khawatir akan keselamatan ankku saat aku bekerja. 


Mampukah Aku Menghadapinya

 Mampukah Aku Menghadapinya Siang itu aku begitu malas untuk mengajar. Hari-hari rasanya begitu aneh. Begitu meresahkan. Menyebalkan. Membua...